Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 61


__ADS_3

Kehidupan Arbi yang tinggal bersama Nenek dan Kakeknya tidak membuat ia kekurangan apa pun. Arbi bahkan sudah tumbuh besar sekarang. Perkembangannya cukup baik. Mulai dari makanan, pakaian, serta pengajaran atau edukasi yang keluarga Kertajaya berikan pada Arbi. Semua terbilang cukup dan bahkan lebih daripada itu.


Mereka semua begitu menyayangi Arbi. Usianya kini tengah berumur satu tahun. Badannya cukup gemuk dan berisi. Sangat menggemaskan seperti balita pada umumnya. Arbi mungkin belum paham tentang kedua orang tuanya yang tak ada di sisinya. Tapi ia selalu berucap kata yang tidak terdengar jelas.


Mungkin nanti, saat usianya sudah memasuki empat tahun. Arbi barulah mengerti.


Kerinduan Ana pada Arbi, tidak dapat dipungkiri. Ana juga hanya lah manusia biasa. Seorang wanita, dan juga seorang Ibu. Hati seorang wanita bahkan lebih mudah rapuh dan lemah. Namun, dengan kekuatannya, ia bahkan dapat berdiri dengan tegarnya.


Ana juga rindu pada Arbi. Namun apa yang bisa ia perbuat saat ini? Satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah. Meresmikan pernikahannya dengan Bara ke jalur hukum. Dengan begitu, ia bisa mendapat hak asuh Arbi dengan leluasa sebagai Ibunya.


Tapi yang di inginkan Bara ialah, hubungan keluarganya dengan Ana bisa menjadi akrab satu sama lainnya. Tanpa perlu memperebutkan hak asuh antara cucu dengan anak. Bara sudah muak dengan aturan keluarganya. Terlebih lagi sekarang, ia sudah mendirikan perusahaan baru. Dan tidak perlu lagi bergantung pada Kertajaya Group.


Di Apartemen Bara & Ana.



"Sayang, aku rindu Arbi," ujar Ana pada Bara.


Ana menyenderkan kepalanya di bahu Bara. Namun pikirannya kemana-mana. Apalagi kalau bukan memikirkan Arbi yang tengah berada jauh disana. Ana merindukan sosok makhluk kecil itu. Rindu dengan sentuhan jari jemari kecilnya yang mungil.


Rindu juga akan belaian tangan mini nya yang menyentuh wajah sang Bunda. Rindu akan tangisnya terbilang rewel, itu. Rindu semuanya, tentang Arbi.


Bara mengelus rambut Ana. Dan memberikan kecupan lembut di keningnya.


"Aku juga," tutur Bara menjawab ucapan Ana.


Mereka sama-sama terhanyut dalam pikiran yang sama. Merindukan sosok bayi kecil. Yang selama ini sudah begitu lama terpisah dari sang empunya.


Dikira barang kali, ya. Eh.


"Kapan kita akan kembali ke Ibu Kota? Aku udah gak sabar, buat peluk cium Arbi," Ana makin mengeratkan dekapannya pada Suami bocil nya.


Sebenarnya Bara sudah berubah, dan tidak jadi sosok bocah kecil lagi yang tengil. Melainkan menjadi sosok pria dewasa yang genit pada Istrinya.


Eh.


"Aku gimana? Kamu gak mau? Peluk cium aku." Bara cemburu terhadap bayi kecil.


Seorang Ayah yang bersaing pada Anak bayi, nya. Hadeuh!


"Ih, apaan sih kamu?! Jangan mulai lagi, dong, sayang. Aku benaran rindu sama Arbi," Ana mencubit kecil lengan Bara.


"Awh! Sakit, sayang! Kamu kayaknya suka banget, deh. Main cubit-cubitan."


"Kamunya yang minta di cubit, kan?" ujar Ana tak ingin di salahkan.

__ADS_1


"Ya udah, iya, aku yang salah." Bara meringkuk membelakangi Ana.


Apa dia merajuk?


"Sayang... kamu marah?" bujuk Ana seraya memeluknya dari belakang.


Suara kekehan Bara terdengar. Apa dia sengaja? Berpura-pura mempermainkan Ana.


"Kamu lupa sama obrolan kita yang tadi siang. Aku gak mau ngomong lagi sama kamu." Gerutu Bara.


Obrolan yang mana? Ana berpikir sejenak. Mengingat-ngingat obrolan sewaktu tadi siang.


"Aku lupa, memangnya obrolan apa?" tanya Ana.


"Tuh kan, kamu lupa. Hm...."


"Iya, memangnya apa? Kamu makanya ngomong dong, sayang."


"Hm...... itu.... kamu... gak mau? Kalau misalnya kita punya baby lagi," ujar Bara bertanya, seraya membalikkan tubuhnya menjadi saling berhadapan dengan Ana.


"Baby?" Ana mengernyit.


"Iya, baby. Aku kangen sama perutmu yang buncit," ujar Bara seraya mengelus rambut Ana lembut.


"Kamu.. sebenarnya sayang gak sih? Sama Arbi," ucap Ana pelan.


"Arbi masih butuh kasing sayang dari kita." Ana gelisah memikirkan Arbi.


"Arbi baik-baik aja, kok. Kamu gak perlu khawatir berlebihan gitu, dong. Papa dan Mamaku merawatnya dengan sangat baik. Jadi Arbi gak akan kekurangan apa pun disana, apalagi kasih sayang."


"Hm... Iya juga, sih. Tapi aku rindu sama, Arbi." Ana tertunduk sedu.


Bara menyentuh dagu ana, mendongaknya ke atas. Agar Ana menatap nya secara intens.


"Tatap aku, An." ucap Bara.


Ana mendongakan wajahnya.


"Aku tahu, kok. Kamu khawatir tentang Arbi. Aku juga gak kalah khawatirnya sama bayi kecil itu. Aku, kamu, Arbi, kita adalah keluarga. Kalau keluarga kita bertambah satu, atau lainnya pun, gak akan mengurangi kasih sayang diantara semuanya. Aku tetap sayang sama Arbi. Meskipun kamu hamil lagi, aku juga tetap sayang sama Arbi. Bagiku, Arbi adalah segalanya. Kamu ingat, kan? Perjuangan kita dulu, sewaktu kamu hamil pertama. Bahkan aku hampir terjebak di Negara lain, karena pernikahan kita yang tidak direstui oleh kedua orang tuaku." jelasnya seraya memeluk erat Ana.


"Maaf, aku dulu terlalu kekanakan. Dan karena ulahku, kamu jadi banyak menanggung beban." sambungnya.


Ana tertegun mendengarnya.


"Aku gak apa-apa, kok. Mungkin memang sudah jalannya, begini. Aku rasa, Tuhan memang sudah merangcang kisah ini sedemikian rupa. Kalau tidak, mengapa juga kita bisa di pertemukan saat itu?" ujar Ana.

__ADS_1


"Tandanya, kita itu berjodoh. Mau sebanyak apa pun ujiannya, kalau pada akhirnya akan tetap bersama. Itu namanya jodoh, sayang. Jadi, kamu itu adalah jodohku." sambung Ana lagi. Seraya mengelus lembut pundak Bara.


Ya... seperti seorang Ibu, yang sedang mengeloni anaknya.


Hm..


Bara merenggangkan dekapannya pada Ana. Menatap kedua mata indah itu. Memperhatikannya dalam-dalam.


Dan pandangannya semakin mendekat. Lampu tidur yang meremang, semakin menambah suasana romantis diantara keduanya. Ana terhanyut dalam buaian tatapan mesra dari Bara.


"Aku mencintaimu, sayang." tutur Bara, seraya mencium lembut b*b*r itu.


Perlahan, ciuman itu berubah menjadi l*m*t*n. Dan terjadilah, apa yang seharusnya terjadi. Diantara hubungan suami dengan istri.


"Aku sudah memikirkannya." ujar Ana.


"Lalu apa? Jawabannya." tanya Bara.


"Hm..... aku...... aku siap."


"Siap, apa? Aku gak ngerti." Bara berpura-pura tak memahami ucapan Ana.


"Aku siap, kalau Tuhan memberikan satu kehidupan lagi, di dalam sini." Ana menunjuk ke arah perut nya.


Bara langsung menghujani wajahnya dengan kecupan. Tak disangka, Ana akhirnya setuju. Pada keinginan Bara yang satu itu.


Kali ini, Bara ingin menebus semua kesalahannya di masa lalu. Ia ingin memberikan perhatian serta pelayanan yang ekstrak, untuk Ana. Tidak seperti dulu, saat Ana hamil pertama. Mengandung Arbi, Ana bahkan banyak mengalami masalah.


Hingga melibatkan Arka pada saat kelahirannya tiba. Bara banyak berhutang budi, pada Arka. Ia juga ingin memperbaiki hubungannya dengan Arka.


Agar persahabatannya, kian mengerat,


seperti dulu.


Bersambung.....


___________________________


Terimakasih, telah membaca.


Bagaimana kabarnya? Semoga dalam keadaan baik dan sehat, ya. Maaf, karena aku baru bisa update lagi. Kondisi yang mungkin belum sepenuhnya pulih, karena seminggu yang lalu, telah positif covid. Jadi, mohon maaf. Karena belum bisa memuaskan para pembaca.


Semoga esok hari, dan seterusnya bisa lebih giat lagi dalam up per 3bab perharinya.


Salam sehat, semuanya!

__ADS_1


Tetap jaga kesehatan, dan patuhi 3M juga. Memakai masker, Menjaga jarak, serta Mencuci tangan dengan menggunakan sabun.


Semoga kita semua sehat selalu, lancar terus rezekinya, dan di mudahkan segala urusan-urusannya. Aamiin. 😇🙏🙏


__ADS_2