Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 65


__ADS_3

BAB 65


“kok rapi banget, sih? Ini terlalu cantik buat dilihat sama Arka.” Gerutu Bara.


“Rapi apanya sih, Bar? Aku pake daster doang-an loh, ini. Bukan pake dress atau baju kayak tadi.”


“Ih... pokoknya sama aja. Pake mukena aja, seperti biasa kayak kamu ambil pesanan paket dari abang-abang kurir dan driver Go-Food.”


Kang ngatur.


“Serba salah kamu tuh.” Ana cemberut seraya mengerucutkan bibirnya. Bara terkekeh melihat perubahan mimik wajah Ana.


“Ya udah, ya udah. Begini aja, gak apa-apa. Tapi...... jangan dekat-dekat Arka!”


“Ya enggak dong, sayang..... dia kan juga udah ada Gladys. Kenapa juga dia harus berharap lagi sama aku?”


“Hm..... iya sih, tapi pokoknya jangan dekat-dekat. Arka nya udah tunggu kita di sofa. Yuk!”


Ana menggeleng pelan dengan tingkah Suaminya.


Setelah selesai dalam perdebatan sepele tadi, Bara dan Ana keluar kamar untuk menemui Arka yang sudah sekian abad menunggu. Terlihat Arka yang berpenampilan lebih rapi dari biasanya. Ada perubahan dalam diri Arka sekarang. Bentuk sisiran rambutnya pun juga berubah tidak seperti dulu yang berponi.


Apa Arka sedang jatuh cinta? Mungkin saja, pada dokter wanita cantik itu, Gladys.


“Ehem.” Bara berdehem cukup keras, hingga menimbulkan suara getaran dari dalam ruangan.


Emosi banget, si babang. Eh.


“Sayang..” bisik Ana pelan pada Bara seraya mencubit kecil lengannya.


“Iya, iya. Maaf....” balas Bara tak kalah pelannya.


“Eh, ada Arka. Maaf ya, Ka. Jadi lama menunggu, aku tadi belum rapi-rapi he he he.” Ujar Ana terlebih dulu berkata.


“Iya, Kak. Gak apa-apa kok, akunya juga gak bilang lagi kalau benaran mau kesini. Oh iya, ini ada sedikit bingkisan buat Kak Ana. Mohon di terima, he he.” Arka memberi dua hampers bag pada Ana. Isinya, pembaca sudah tahu, kan?


“Apa ini, Ka? Repot banget, aku jadi gak enak nih.”


“Hm.. buka aja, Kak. Semoga suka, ya!”


“Eh, buat Gua mana?” tanya Bara bingung.


“Buat Lo gak ada. Kan yang sakit Kak Ana.” Ucap Arka meledek sababatnya.


“Sue, Lo Ka! Tahu gitu tadi Gua gak suruh masuk aja.” Gerutu Bara.


“Udah, udah. Kalian kalau udah ketemu, kayaknya gak pernah ada akurnya, deh. Ini isinya juga banyak kok, nanti kita makan berdua.” Ujar Ana mengalihkan.


Arka terus memandangi Ana seraya cengar-cengir tidak jelas. Apa yang dia pikirkan? Bara, tidak perlu ditanya, dia bahkan menatap tajam Arka sedari tadi. Sambil menenggelamkan kepala Ana di bawah ketiaknya.


Dasar Baraaaaaa!


“Bara lepas ih, kamu apa-apaan sih?!” tutur Ana kesal.


Arka yang melihat adegan itu pura-pura tidak peduli. Dan mengambil ponselnya dari saku celana nya. Padahal dalam hatinya, masih ada rasa kesal karena kecemburuan tak beralasan itu.


“Eh, Ka, maaf. Kamu mau minum apa?” tanya Ana setelah lepas dari jeratan Bara.


“Apa aja deh, Kak. Kalau Kakak yang buat, pasti enak.” Ucap Arka tak berdosanya. Wajah Bara berubah dingin.


“Iya, tunggu ya!” balas Ana.


Selama Ana membuatkan minuman untuk Arka. Bara terus memperhatikan gerak-gerik sahabatnya.


“Lo ngapain sih? Pake dandan rapi begitu. Merhatiin Istri Gua mulu lagi. Mau Lo apa sih, Ka?!” Umpat Bara langsung to the point.


“Huh! Kenapa sih, Bar? Gue udah ikhlas kok, sama Kak Ana. Takut banget Istrinya bakal Gue rebut, elah. Gue Cuma kagum aja sama, Kak Ana. Gak lebih dari itu.” Arka beralasan. Masa?


“Gak usah sok paling benar deh Lo, kalau beralasan!”


“Iya, iya sorry. Gue memang masih ada rasa sedikit. Se-di-kit, sama Kak Ana. Gak kayak waktu dulu, tenang aja.”


“Ngelunjak ya, nih anak!”

__ADS_1


“Tenang dulu kenapa. Gue menganggap Kak Ana sebagai Kakak perempuan Gue. Udah, gak lebih dari itu, kok. Tenang aja! Lagian bentar lagi juga Gue bakal nikah sama Gladys.”


“SERIUS LO?!” Bara tercengang dengan penuturan Arka barusan. Ana yang baru saja datang sembari membawa satu minuman dan camilan dari dapur juga ikut penasaran.


“Serius kenapa? Ada apa sih? Kok gak ajak-ajak aku, nih.” Sambung Ana kepingin tahu.


“Itu..... si Arka, katanya mau nikah sama Gladys,” balas Bara seraya memangku Ana di pangkuannya.


Arka berdehem kecil melihat adegan itu.


Cie, cemburay! Eh, cemburu maksudnya.


“Serius? Bagus dong, Ka kalau begitu.” Kata Ana.


“Eh.... i.... iya, Kak. Doa in aja, ya. He he he.” Arka gugup.


“Pasti dong, Ka. Semoga lancar ya, sampai hari H nya,” ucap Ana.


Bara tiba-tiba main cium Ana di depan Arka. Pemandangan yang cukup membagongkan untuk dilihat para jomblo. Arka membuang wajahnya ke arah lain. Dan kemudian meminum minuman yang dibuatkan Ana tadi. Tak berapa lama, Arka lalu pamit untuk kembali ke kantor.


Mungkin juga ia jenuh, eh.


“Kalau begitu, aku pamit dulu ya Kak. Semoga cepat sembuh dan bisa kembali lagi ke kantor.” Ujar Arka pamit.


“Tenang aja, ada Suaminya yang tampan ini. Keadaan Ana, inshaa Allah everything’s okay!” Balas Bara tak mau kalah.


ASHIAP!


Kepulangan Arka membuat Bara jadi lega sekarang. Dia pikir saingannya sudah pergi. Saatnya untuk memanjakan sang Istri. Sepertinya Bara memang ingin menantikan kehamilan Ana yang kedua. Dirinya bahkan berharap kalau Ana hamil anak perempuan. Karena kalau laki-laki, pastinya akan ada campur tangan lagi bagi keluarga Kertajaya.


Bara takut akan bayinya yang kedua diambil lagi seperti Arbi. Ia tak ingin Ana merasakan kesedihan yang kedua kali. Penerus Kertajaya Group memang menantikan keturunan laki-laki. Entah apa yang membuat pola pikir keluarga itu. Hingga terlalu memandang rendah kaum wanita.


Padahal kedudukan wanita dengan laki-laki itu sama. Bahkan di era globalisasi saat ini, sudah banyak kaum wanita yang menjadikan dirinya layak menjadi seorang pemimpin. Wanita juga memiliki hak untuk menjadi pemimpin dan berkontribusi untuk terjun pada karier nya.


Wanita dalam Islam adalah kedudukannya sama tingginya dengan kaum laki-laki. Karena wanita memiliki keistimewaan yang lebih dari pada laki-laki. Namun apabila wanita itu sudah berkeluarga, maka kedudukannya 3 kali lebih tinggi dari pada kedudukan ayah.


Terlepas dari itu semua, Bara tetap ingin mempertahankan bayinya kali ini, apabila Ana hamil lagi. Bara ingin membuktikan pada Ayahnya, kalau wanita juga bisa menjadi pemimpin bagi perusahaan.


“Sayang... kok melamun aja?” tanya Ana di sela-sela ia yang tengah menyantap camilan dan jus yang dibawakan Arka tadi.


“Eh.... aku.. melamun ya?”


“Iya.. kamu mikirin apaan sih?”


“Oh.. Hm.. enggak, gak ada mikirin apa-apa kok.”


“Benaran sayang... believe me honey!” Bara menampilkan mata polos nya berkaca-kaca.


Berpura-pura polos kali, ah. Eh.


“Iya, iya. Kamu... mau makan apa? Aku masak in sekarang,” ujar Ana bertanya.


“Jangan... gak usah. Aku nanti kalau lapar bisa masak sendiri, kok. Kamu kan lagi sakit, aku gak mau kalau kamu nya ke capek an lagi. Gimana kita bisa punya anak lagi kalau kamu capek terus?”


“Kamu kayaknya pengin banget kalau aku hamil lagi.” Ana berkata seraya mengelus lembut wajah tampan itu.


“Iya dong, aku pengin banget punya anak perempuan.”


“Kalau ternyata laki-laki lagi, gimana? Kamu bakal kecewa nantinya.”


“Hm... enggak, apa pun itu aku terima. Tapi... kalau boleh... perempuan please! He he he.”


“Ih! Sama aja kalau gitu. Ngeselin kamu tuh!” Ana mencubit hidung Bara yang mancung bak pinokio. Eh.


“Sakit.. sayang. Kamu suka banget nyubit-nyubit ya? Kayak kepiting ha ha ha.”


Ana tak menggubris, ia justru pergi meninggalkan Bara yang saat ini menonton acara tv di kamarnya. Ana diam-diam pergi memasak di dapur. Sudah lama ia tidak memasak. Selama ini, Bara lah yang sering memasak untuknya. Memasak makanan, menyiapkan sarapan, membawa cucian kotor ke tempat laundry, bahkan saking capek nya, Bara membeli alat pencuci piring.


Meskipun daya listriknya yang cukup tinggi, ia tak peduli. Yang terpenting adalah, Ana tidak merasa capek dan kesulitan. Karena selama ini, ia sendiri bahkan tak pernah melihat Ibunya melakukan pekerjaan rumah. Bara tak ingin Istrinya melakukan pekerjaan rumah hingga lupa untuk merawat dirinya sendiri.


Mencintai Suami itu penting, tapi mencintai diri sendiri juga tak kalah pentingnya. Merawat diri, sebagai bentuk apresiasi terhadap diri sendiri. Bahwa kita sebagai wanita juga berhak untuk bahagia. Tidak ada salahnya untuk melakukan pekerjaan rumah. Terlebih lagi, seorang wanita. Karena wanita memang harus terbiasa mandiri sejak kecil.


Karena ketika sudah berumah tangga, ia tak akan kaget lagi dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah. Namun, mindset Bara ternyata berbeda pemahaman. Bara beranggapan bahwa, wanita hanya berhak untuk di cintai dan di bahagiakan. Bukan untuk dijadikan seperti pembantu di rumahnya sendiri.

__ADS_1


Kodrat wanita hanya ada 4. Menstruasi, mengandung, lalu melahirkan serta menyusui. Melakukan pekerjaan rumah, itu bukan kodrat. Melainkan basic skill. Lelaki juga bisa dan mampu melakukan hal itu. Lebih jelasnya, tanyakan pada anak kos kosan, mereka bahkan lebih memahami. He he he!


Sebagai Suami, tentunya ia tak ingin hal itu terjadi. Semua akan ia lakukan demi kebahagiaannya Ana. Karena demi dirinya, Ana bahkan rela pergi jauh dari kedua orang tuanya. Berawal menikah tanpa restu dari kedua orang tua. Lalu hamil di perantauan, yang juga ia sendiri bahkan meninggalkannya selama berbulan-bulan.


Berbagai terpaan maupun ujian telah dialaminya. Bara tak ingin Ana mengulang kembali masa-masa sulitnya. Sebisa mungkin, ia akan membahagiakan Ana. Meski dengan caranya sendiri.


Setelah bermenit-menit di dapur, Ana kembali ke kamar menemui Bara. Yang di cari rupanya telah tertidur pulas. Mungkinkah Bara terlalu lelah seharian ini. Karena sudah melakukan berbagai aktivitas, meskipun tidak pergi ke kantor.


Ana membawakan sup ayam dan bakwan jagung, serta telur balado. Resep menu baru, yang ia lihat dari buku masakan. Di taruhnya makanan yang baru saja ia masak tadi di meja samping ranjang.


Ana menghampiri Bara yang matanya masih terpejam.


“Sayang... bangun... kamu belum makan kan? Yuk, makan dulu.” Ujar Ana berucap seraya membangunkan Bara.


Di elusnya wajah tampannya, di tepuk pelan pun tak ada respons yang signifikan. Ana mencoba membangunkan dengan cara mendaratkan kecupan manis di bibir Bara.


CUP!


Krek... mata Bara terbuka lebar. Wajahnya langsung semringah di sertai senyumnya yang mengembang.


“Kamu.. romantis juga. He he he.” Ucap Bara lembut.


“Ih, aku kira kamu belum bangun. Rupanya ngerjain aku, nih.” Ana mendorong dada bidang itu.


Roti sobeknya kelihatan jelas. Bara memang jarang menggunakan baju ketika berada di rumah. Mentang-mentang punya roti sobek, jadi di pamerkan deh. Huh!


“He he he. Iya, iya, maaf sayang. Jangan mengambek lagi dong?”


Ana bersikap acuh tak acuh.


“Sini... cium lagi. Tadi kamu kan yang cium aku?"


“Ya karena kamu nya gak bangun-bangun... sayang! Gimana, sih?!” Ana menghela napas panjang.


“Iya deh, maaf. Eh... kamu... masak ini semua?” tanya Bara. Ana mengangguk.


“Ih... so sweet, deh. Tapi... besok-besok jangan masak lagi ya, sayang. Aku gak mau kamu capek.” Bara memasang ekspresi wajah sedu.


Sebegitu posesif nya dia, tapi author suka. Eh.


“Aku gak apa-apa kok, sayang. Ih kamu tuh, posesif pisan.” Ana mengerucutkan bibirnya.


Bara beranjak bangun dari ranjang. Di kecupnya kening Ana. Lalu ia mengambil makanan yang di taruh Ana samping ranjangnya. Menu masakan yang terlihat begitu menggoda. Perutnya bahkan tidak bisa berbohong lagi.


Satu suapan ia makan. Sontak ekspresi wajahnya langsung berubah diam.


“Kenapa? Gak enak ya? Masakannya.” Tanya Ana agak kecewa melihat ekspresi wajah Bara.


“Kata siapa gak enak? Ini.... ENAK BANGET! Ini benaran kamu yang masak, sayang?” jawab Bara semangat dan kembali makan dengan suapan kedua.


Ana tidak percaya, ia langsung mengambil piring yang di pegang oleh Bara. Di cobanya langsung masakan yang ia masak tadi. Rasanya.... memang benar enak rupanya.


Fiuh! Hampir saja.


“Ya kan? Enak banget. Hm... kalau begini.. kayaknya aku membolehkan kamu masak, deh.” Ucap Bara sambil mengunyah.


“Kalau lagi makan, gak boleh sambil ngomong. Di telan dulu makanannya sayang.”


“He he iya, iya. Maaf.”


“Hm... tadi katamu, aku gak boleh masak? Betul tidak?” Ana mengingat kembali ucapan Bara sebelumnya yang tidak memperbolehkan Ana untuk melakukan apa-apa, apalagi untuk memasak.


“He he he he, iya, betul.” Bara terkekeh sendiri.


“Terus, sekarang kenapa aku di bolehkan memasak?”


“Masakan kamu.... enak. Aku ketagihan jadinya, he he he. Boleh ya sayang? Nanti aku bantu deh, masaknya. Jadi kamu gak begitu capek banget nantinya.”


“Ah enggak ah. Aku gak mau masak lagi.” Ana berpura-pura merajuk.


Padahal sebenarnya ia mau memasak lagi.


“Ah... kok gitu sih sayang? Mau ya? Please! Aku mohon... masakan kamu enak banget. Lebih enak daripada masakan aku.” Cie gombal. Eh.

__ADS_1


“Huh! Ya udah, iya. Aku mau masak lagi, demi kamu.”


Bersambung....


__ADS_2