
BAB 46 (20+)
“Eeeeee... eeeeeee..” Bunyi suara bayi terdengar saat tengah malam buta.
Suara bayi tengah malam berasal dari sebuah rumah yang dihuni oleh satu keluarga kecil. Kedengarannya bukan seperti suara tangisan bayi. Memang bukan suara tangisan, melainkan suara bayi merengek. Mungkinkah baby Arbi haus tengah malam ini? Hingga suaranya membangunkan dua orang manusia lainnya.
“Hoam.. Arbi haus ya?” Ucap Ayah dari baby itu. Siapa lagi kalau bukan Bara.
Sementara Ana masih tertidur pulas. Bara melihat wajah Ana yang terlihat lelah sekali. Tidak tega membangunkannya, tapi Arbi juga butuh ASI. Mau tidak mau, Bara membangunkan Ana dengan cara yang berbeda. Dengan memberi banyak kecupan di wajah Ana.
“Sayang... Arbi mau minum.” Bisiknya pada Ana. Ana terlihat menggeliat akibat ulah suaminya.
Samar-samar mata Ana terbuka secara perlahan. Ia mulai sadar, mendengar rengekan suara bayi di dekatnya. Dilihat ke sisinya, rupanya Arbi telah bangun. Ana mengganti posisi tidurnya menjadi duduk dan mengangkat tubuh Arbi. Membawa ke dalam pangkuannya.
“Arbi haus ya, sayang? Hm... maaf-in Bunda ya, sayang.” Tutur Ana seolah mengajak Arbi berbicara, sembari mengecup lembut wajahnya yang mungil.
Bara tersenyum melihat momen itu.
“Aku juga haus nih, sayang.” Ucap Bara seraya memperhatikan Ana.
“Kamu mau minum? Sebentar sayang, aku lagi susu-in Arbi. Air dingin atau biasa?” Tanya Ana pelan. Bara tercengang mendengar penuturan Ana.
Katanya haus, ya sabar atuh. Gak lihat si dedek lagi ngapain? Hiya hiya hiya!
“Bukan.. aku gak pengin minum air putih sayang.” Balas Bara. Ana tampak bingung.
Malam-malam begini pengin minum apa sih, dia? Pikir Ana.
“Terus mau minum apa? Di kulkas kita stok minuman udah habis bukannya?” Tutur Ana berbalik tanya.
“Ih sayang...... bukan pengin minum minuman sayang.... kamu gak peka banget sih?!” Balasnya kesal seolah merengek seperti bayi.
Ana masih bingung dengan permintaannya yang terbilang ambigu. Bara semakin mendekatkan tubuhnya di sisi Ana. Bersandar di bahu Ana, dan memainkan jari-jari kecil Arbi. Sang bayi pun matanya mulai terpejam kembali. Ana pun merebahkan Arbi ke posisi semula.
“Arbi udah tidur, kamu mau minum apa?” Tanya Ana seraya mengelus lembut wajah Bara.
Yang di elus malah merem melek. Eh.
“Mau itu...” Balasnya seraya menunjuk ke arah dua gunung kembar itu.
__ADS_1
Ana mencubit pelan wajah tampan itu. Meskipun masih terlihat agak imut sedikit. Tampan tapi imut jadinya malah amit-amit. Eh.
“Boleh ya? Ya ya ya? Ya sayang ya?” Ucap Bara memohon. Ana mengangguk pasrah.
Mau tidak mau Ana pun luluh. Lagipula suami sendiri, toh memangnya kenapa? Dalam dunia medis pun menyusui suami ada banyak manfaatnya. Kalau mau tahu apa manfaatnya, silakan di searching sendiri di situs pencaharian.
Kali ini keadaannya berbanding terbalik. Kalau tadi, Ana menyusui bayi kecil. Kalau sekarang Ana tengah menyusui bayi besar. Ayah yang tidak mau mengalah pada anaknya yang masih bayi.
Dasar Bara....
“Sayang.... mau ya?” Di sela-sela menyesap kedua p*y*d*r* Ana, Bara berucap tanya.
Mau apalagi sih dia? Hais... Eh.
“Kan udah, sayang.” Tutur Ana sembari memainkan ponselnya. Lebih tepatnya ponsel Bara, yang dijadikan mahar pada saat menikahkannya sewaktu penggerebekan waktu itu.
Kan jadi ke ingat lagi. Eh.
“Mau itu... hm....mau minta jatah. He he he.” Ucap Bara terkekeh.
“Ada Arbi, sayang. Takut dia ke bangun terus lihat kita, gimana? Kamu mau tanggung jawab?”
Dikira memindahkan bayi seperti memindahkan barang? Eh.
“Ya udah, iya. Aku pindahkan dulu Arbi nya ke tempat tidurnya.” Kata Ana pasrah. Sebenarnya ia tak ingin, dan merasa lelah. Tapi kalau menolak, ia akan berdosa. Oh gusti!
Ana mulai menggendong Arbi dan beranjak bangun untuk memindahkan ke tempat tidurnya. Yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari ranjang mereka. Tempat tidur kayu untuk seukuran badannya yang mungil. Entah sejak kapan Bara menyiapkan ini semua. Setelah kepindahan mereka ke rumah ini, semua barang-barang maupun perabotan sudah terpampang rapi dan terpasang.
Seperti sudah di rencanakan dan di persiapkan sejak lama.
Setelah memindahkan Arbi ke tempat tidurnya. Ana kembali ke ranjang tidurnya. Ekspresi wajah Bara tidak berhenti untuk tersenyum menyeringai sembari memperhatikan Ana yang berjalan ke arahnya. Ana yang memakai mini dress bertali satu, membuat Bara memandangi tubuhnya yang tak tertutup hijab.
“Sayang, lingerie kamu udah mulai usang. Nanti aku belikan lagi yang baru, ya?” Usul Bara saat memperhatikan mini dress Ana yang terbilang, seksi. Eh.
“Kamu suka banget kayaknya, mau belikan aku lingerie. Itu aja yang di lemari masih banyak, loh.” Tutur Ana seraya menyenderkan tubuhnya pada tepian ranjang.
Sementara Bara sudah mulai aktif bermain. Eh.
“Iya, aku suka, lihat kamu pakai baju itu, sayang.” Ucapnya sambil mengecup lembut wajah Ana.
__ADS_1
“Ah, Bara... jangan di robek bajunya.” Tutur Ana resah. Bara tidak menghentikan permainannya.
“Gak apa-apa sayang. Kan nanti aku belikan lagi yang baru.”
“Ya kalau begitu sama aja bohong dong. Habis beli terus dipakai, setelah dipakai terus kamu robek semua bajunya.”
“Lagian bajunya juga tipis dan transparan gitu. Aku gemas lihatnya.” Ucap Bara terkekeh.
Hadeuh! Suka-sukamu lah ya. Eh.
Hawa udara semakin panas. Maupun pergumulan mereka yang tengah dilanda gairah asmara pun juga. Dibalik selimut yang tebal, ada sepasang suami istri yang tengah dimabuk cinta. Kecupan demi kecupan diberikan Bara pada Ana. Sebaliknya pun Ana membalas semua kecupan yang diberikan oleh Bara.
Jam dinding menunjukkan sudah pukul dua dini hari. Tapi kedua insan itu masih belum selesai dengan aktivitas mereka. Permainan Bara semakin menggila membuat Ana terkulai lemah tak berdaya. Sampai akhirnya permainan itu pun diakhiri dengan sebuah kecupan lembut di kedua bibir mereka. Ana langsung memejamkan kedua matanya, dan mengeratkan pelukannya pada Bara.
“Selamat tidur, sayang. Maaf, sudah membuatmu lelah.” Ucap Bara seraya mengecup lembut pipi Ana.
.........
Bulan yang indah kala malam hari mulai terbenam. Dan tergantikan oleh terbitnya mentari di pagi hari. Embun pagi yang masih menyisakan hawa udara dingin nan sejuk. Suara tangisan maupun rengekan bayi membuat kedua insan itu terbangun. Sang Ayah dari bayi itu beranjak bangun dan memakai celana boxer yang tergeletak di lantai secara berserakan serta bercampur dengan pakaian Ana.
“Anak ayah udah bangun, ya?” Ucap Bara dengan suara beratnya. Suara khas orang bangun tidur, seraya menggendong Arbi dan memindahkannya ke tepian ranjang di sisi sebelah Ana.
Arbi menggeliat dan mendekatkan tubuhnya pada sang Bunda. Ana paham dengan rengekan Arbi. Sudah pasti sang bayi telah haus kembali. Ia mulai menyusui Arbi sembari mengelus lembut kepalanya yang masih empuk. Sementara Bara lebih dulu ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Tak lama setelah beberapa menit kemudian, Bara kembali dengan keadaan rambut basahnya. Serta handuk putih yang melilit di pinggangnya. Terlihat jelas perutnya yang berbentuk roti sobek begitu menonjol. Ana meneguk saliva, melihatnya begitu intens. Padahal sudah sering ia melihat roti sobek itu, tapi masih saja berdebar tak karuan.
“Terpesona ya? Sama tubuhku. Hayo mengaku!” Tutur Bara terkekeh seakan meledek pada Ana.
Ana gelagapan dan berpura-pura tak melihatnya. Ia bahkan langsung mengalihkan pandangannya pada Arbi.
“Kamu mau tambah lagi, yang semalam? Yuk!” Sambungnya lagi.
Dasar kadal jantan. Masih sempat-sempatnya berkata begitu di depan Arbi. Hiya hiya hiya!
“Kamu kenapa gerangan sih, sayang? Arbi dengar loh. Udah sana, siap-siap ke kantor.” Ucap Ana mengalihkan topik. Bara justru berjalan menghampiri Ana.
“Mau ngapain ih? Aku belum mandi, Bara! Sana ah, hus hus hus!” Usir Ana padanya.
Bukannya pergi tapi malah cengar-cengir tidak jelas. Haih!
__ADS_1
Bersambung....