
Kabar mengenai perpindahan Bara yang tengah berada di Kota Yogyakarta telah di temukan. Dan diketahui oleh asisten John. Orang kepercayaan Tuan besar. Semua itu diketahui sejak pengurusan surat-surat nikah Bara yang di urus ke pencatatan sipil di Ibu Kota Jakarta belum lama ini. Meski bukan Bara yang mengurusnya, namun rupanya hal itu tak bisa disembunyikan lagi.
Asisten John langsung memberitahu pada Tuan besar mengenai hal itu.
“Apa?! Bara sudah mengurus surat nikahnya ke pencatatan sipil negara?” Tuan besar tampak kaget mendengarnya.
“Iya, Tuan.”
“Benar-benar anak itu! Rencanaku gagal lagi untuk menikahkannya dengan anak teman bisnisku.”
“Lalu, bagaimana untuk rencana Tuan selanjutnya?”
“Bagaimana apanya? Ya semuanya gagal total! Namanya sudah terdaftar di pencatatan sipil negara, bersama dengan wanita itu.”
“Mungkin memang baiknya Tuan merestui pernikahan Tuan muda dengan gadis itu. Terlebih lagi, Tuan muda kedua juga masih membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Terutama pada Ibunya.” Ucapan asisten John ada benarnya.
“Tapi latar belakang wanita itu tidaklah setara dengan Kertajaya. Meskipun dia baik untuk Bara, tapi tidak bagiku. Pernikahan adalah bisnis, yang saling menguntungkan. Wanita yang dipilih Bara, tidaklah sama dengan wanita pilihanku. Mungkin sebaiknya menunggu Arbi berumur 4 tahun. Barulah setelah itu, aku akan menjodohkannya dengan anak teman bisnisku.” Ujarnya kekeh terhadap pendiriannya.
“Bagaimana dengan Tuan muda? Kemungkinan besar, ia juga akan kekeh terhadap pendiriannya, Tuan.” Tanya asisten John.
“Kalau Bara tidak bisa dibujuk, maka ada cara lainnya, yang bisa membuatnya luluh. Dan meninggalkan wanita yang dia cintai.”
“Apa itu, Tuan?”
“Lihat saja nanti. Kau juga akan mengetahuinya.”
“...” asisten John diam tanpa merespons.
Sayangnya, Ayahnya sendiri bahkan belum mengetahui. Kehidupan putranya yang sekarang, bersama dengan wanita yang ia benci. Perusahaan baru bernama BARNA Corp belum diketahui olehnya, siapa pendirinya.
............
Di apartemen Bara & Ana.
“Kamu yakin, mau ke kantor? Kalau masih belum enakkan, dirumah aja ya, sayang. Aku juga akan kerja dari sini.” Bara berucap seraya memeluk Ana dari belakang. Yang posisinya Ana tengah berkaca di depan cermin rias.
“Iya, aku udah enakkan, kok. Kamu kenapa, sih? Gak percaya an banget sama aku,” Ana mendengus sebal.
“Bukannya gak percaya, sayang. Fisik kamu tuh lemah. Kamu gak bisa terlalu capek, apalagi banyak pikiran. Aku juga gak mau, kamu sakit lagi kayak waktu itu. Berhari-hari kamu bahkan gak mau ngomong sama aku. Aku gak mau, kejadian itu terulang lagi. Please, aku mohon. Kalau memang masih sakit, dirumah aja. Menurut apa kataku, ya?” Celoteh Bara panjang kali lebar.
Benar, fisik Ana memanglah lemah. Tidak seperti wanita lainnya. Yang mungkin masih terbilang kuat. Ana tidak berbeda dari wanita kebanyakan. Ana mungkin terbilang
spesial.
“Sayang.... maaf,” tutur Ana sedu.
“Enggak, kamu gak salah. Kenapa harus minta maaf? Aku yang salah. Karena gak memperhatikan kondisi kamu yang lemah.”
“Iya. Aku memang lemah. Gara-gara aku, kamu jadi sering capek. Aku memang gak berguna sebagai Istri! Aku gak pantas buat kamu, Bar! Hiks... hiks... hiks...” Ana menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
__ADS_1
Bara tak membalas ucapannya. Ia memeluk Ana dengan sangat erat. Mungkin perkataannya barusan sudah menyakiti hati Ana, tanpa sadar.
“Maaf... aku.... aku gak bermaksud bilang.... kalau kamu..... lemah. Maafkan, aku...” Bara merasa bersalah. Ia bahkan juga ikutan menangis.
Terkadang, orang yang menyakiti, tidak akan pernah sadar. Bahwa dirinya sudah menyakiti orang lain. Entah itu lewat kata-kata, maupun ucapan. Sebisa mungkin, kalau sudah menyadari, baiknya untuk meminta maaf.
Meminta maaf menunjukkan bahwa kita peduli dengan perasaan orang lain. Meminta maaf menunjukkan bahwa kita mampu mengambil tanggung jawab atas tindakan kita. Namun, orang yang memberi maaf, itu lebih mulia dan membahagiakan.
“Maaf... maaf... maaf... maaf... maaf...” ucap Bara berulang kali meminta maaf.
Ana mendongak menatapnya. Menengadahkan kedua tangannya, menyentuh wajah tampan itu. Kepalanya menggeleng pelan. Matanya berkaca-kaca menatap Bara.
“Enggak, kamu juga gak salah. Jangan minta maaf lagi, please! Aku yang memang gak berguna sebagai Istri. Fisikku terlalu lemah dan gak sekuat orang lain. Kalau kamu.... mau nikah lagi... aku... aku gak apa-apa, kok. Aku.... aku... rela.”
JEDAR!
Bara terkejut mendengarnya.
Apa yang Ana pikirkan? Dengan sadar ia meminta Bara untuk menikah lagi. Bara tercengang dengan ucapan Ana barusan.
“Enggak! Kamu ngomong apa sih, An? Kata siapa kamu gak berguna sebagai Istriku? Kamu berguna! Aku gak akan nikah lagi, apa pun itu permasalahannya. Aku gak mau!” Bara menatap nanar Ana. Ia kecewa karena Ana dengan mudahnya menyerah pada pernikahannya.
“Aku lemah, Bar. Aku gak bisa jadi Istri yang baik buat kamu. Aku... aku memang gak berguna. Hiks... hiks... hiks... aku.. aku memang lemah.” Tutur Ana sedu.
Ana tak berani menatap mata Bara begitu lamanya. Ia menjauh dan membelakangi Bara. Kedua tangannya terangkat lagi, untuk menutupi wajah sedihnya. Terdengar embusan napas yang memburu. Dan terasa begitu menyesakkan sampai ke tenggorokan.
Bara memeluk Ana erat. Membawanya ke dalam dekapannya. Tangis Ana semakin pecah. Bara semakin merasa bersalah dengan perkataannya tadi. Padahal ia sendiri tahu, bahwa Ana orang yang mudah terpikirkan. Meski dengan hal-hal kecil sekalipun.
Suasana sedu diantara kedua pasangan itu semakin tercipta. Keduanya diam tanpa bersua. Terlebih lagi, Ana semakin memikirkan ucapan Bara tadi.
“Kamu lemah, An.”
Bayangan itu kembali mengingatkan Ana. Apa dia memang selemah itu kah?
“Aku memang rapuh, tapi... mengapa? Aku bisa serapuh ini. Mengapa juga kamu masih mencintaiku, Bar? Hubungan kita bahkan sedari awal tidak baik-baik saja. Apa aku salah? Untuk melakukan ini dan itu? Kamu selalu melarangku untuk melakukan sesuatu. Aku juga ingin, seperti wanita lainnya. Menjadi seorang Istri yang bisa dalam segala hal. Aku... aku merasa diriku tidaklah berguna bagimu, Bar.. hiks.. hiks.. hiks.. aku.. aku bisa apa?”
Ana berbicara seorang diri. Setelah perginya Bara meninggalkannya sendirian di apartemen. Entah kemana perginya dia.
Ana meragukan dirinya. Juga meragukan hubungannya dengan Bara. Akankah hubungan mereka akan berakhir bahagia? Entahlah, manusia bisa berubah. Bahkan dari waktu ke waktu.
Harapan akan kebahagiaannya pada Bara... tidak lagi sama seperti sebelumnya. Ana merasa terlalu begitu bergantung pada Bara. Ia takut... bila suatu hari hubungannya merenggang. Apa yang harus ia lakukan nantinya?
“Bahkan pernikahan kita pun, hanya berakad dengan sesederhana itu. Tidak ada pesta, atau pun hal berharga lainnya. Nothing special.” Gumam Ana sedu.
-
Bara pergi keluar dari apartemennya, seraya menelepon seseorang sambil berjalan menuju area basemen. Ia sudah melanggar janjinya. Meninggalkan Ana seorang diri tanpa nya.
Tak lama setelah berbicara dibalik telepon. Sebuah mobil Alphard putih datang dari pintu masuk basemen. Pintu mobil itu terbuka, menampakkan seorang wanita yang keluar dari dalam sana.
__ADS_1
“Udah lama nunggu, ya?” ucap wanita itu, dan wajahnya tertutup oleh masker.
“It’s okay, gak lama kok. Baru juga nunggu,” balas Bara terkekeh.
“Gimana kabar, Ana? Udah baikkan?” tanyanya.
“Baik,” Jawab Bara singkat.
“Hm... oke, aku langsung masuk aja berarti, ya?” tanyanya lagi.
“Iya. Gimana hubungan Lo dengan Arka?”
Arka?
Wajah wanita itu masih tertutup dengan masker. Agak susah untuk mengenalinya. Suaranya bahkan terdengar samar-samar.
“Baik, kok baik.”
“Ok, Gue titip Ana. Sekarang dia lagi sensi sama Suaminya. Gue udah ngerusak mood nya.”
“Lo mau kemana?”
“Ke kantor, Arka juga udah nunggu. Mau titip salam gak, Gladys?” tanya Bara.
Jadi, wanita itu ialah Gladys. Sejak kapan ia tiba di Kota ini?
“Thanks, Gue pergi dulu.” Pamit Gladys langsung pergi berjalan masuk ke dalam apartemen.
Sementara Bara langsung masuk ke dalam mobilnya. Dan menancapkan gasnya, perlahan mobilnya menjauh dari area basemen.
Di sisi lain, Gladys telah tiba di depan pintu apartemen yang di tempati oleh Ana dan juga Bara. Gladys menekan tombol bel berulang kali. Dan pintu apartemen terbuka.
“Gladys?” Sapa Ana seraya tercengang melihatnya.
“He he, iya. This is me.” Gladys tersenyum menyeringai.
“Ayo masuk!” Ana mengajaknya masuk ke dalam.
Ana mempersilakan Gladys untuk duduk di ruang tamu. Gladys tampak celingak-celinguk melihat ke segala sisi ruang di apartemen itu.
“Kenapa?” tanya Ana.
“Hm, apartemen sebesar ini, cuma kamu dan Bara aja? Yang tinggal disini.”
“Iya, lalu siapa lagi memangnya?”
“He he, iya sih. Oh iya, gimana kabar kamu? Kata Bara, kamu sakit?” Gladys menyentuh kening Ana sesaat.
“Iya, kemarin sakitnya. Tapi Bara yang terlalu khawatir sama kesehatanku. Menganggapku wanita lemah. He he, memang benar ya? Aku begitu lemah.” Ujar Ana bertanya, dengan suara sedu.
__ADS_1
“Kurang ajar si Bara! Bisa-bisanya dia bilang kamu begitu. An, kamu gak lemah. But you are strong woman. Kamu ingat, kan? Waktu itu, kamu pernah melewati masa-masa tersulit kamu.”