
Sejak mendengar kabar tentang kondisi Ana yang berubah. Arka jadi merasa iba padanya. Ia bahkan dengan sigapnya menyelidiki keberadaan Bara. Melihat keadaannya yang tiba-tiba kembali tinggal dirumah keluarganya. Beberapa orang suruhan Arka tengah diam-diam mengintai di setiap sudut luar rumah kediaman Kertajaya.
Mereka memperhatikan dengan seksama. Sepertinya akan ada acara besar yang akan dilakukan oleh keluarga Bara. Namun tak ada tanda-tanda kemunculan Bara di sana. Hanya para pelayan serta beberapa pengawal yang sedang mempersiapkan sesuatu di rumah besar itu.
[Lapor, Tuan muda. Tidak ada tanda-tanda kabar mengenai Tuan Bara. Apakah saya dan yang lainnya sudah boleh pergi, Tuan? Situasi disini semakin ramai. Takutnya para pelayan itu akan mencurigai kami.] Pesan yang dikirimkan oleh orang pesuruh Arka.
[Ya sudah. Kalian boleh pergi. Tapi kalau sudah menemukan info mengenai Bara, secepatnya melaporkan langsung padaku. Paham?!] Balas Arka.
[Paham, Tuan muda.]
Arka menghela napasnya. Ia tampak berpikir sejenak. Pikirannya penuh teka-teki mengenai gerak-gerik yang dilakukan oleh keluarga itu. Rencana apa yang sudah di buat oleh Ayahnya Bara.
"Huh! Bara... Bara... Kalau Lo gak bisa bertindak apa-apa, setidaknya Lo kasih tahu Gue, kampret! Lo mungkin lupa, kalau Gue putra dari keluarga Buana Group." Gerutu Arka sambil menggerakkan jari-jarinya mengetik sesuatu di laptopnya.
Buana Group adalah salah satu perusahaan terbesar yang hampir setara dengan Kertajaya Group. Bahkan bisa dibilang, Buana Group berada di posisi 3% saham di atas Kertajaya Group. Jadi kesimpulannya, Buana Group lebih unggul dan lebih tinggi posisinya.
Kesempatan ini tak bisa di sia-siakan Arka untuk menolong sahabatnya. Meskipun sudah banyak perubahan yang terjadi diantara mereka berdua. Tapi sejak melihat kondisi Ana, hati Arka tiba-tiba luluh dan menjadi iba.
Arka sudah mantap untuk melupakan perasaannya terhadap Ana. Bahkan ia bersikukuh ingin membantu Bara untuk kembali bersama dengan Ana. Arka sadar, kalau hati Ana hanya untuk Bara. Mau selama apa pun di kejar, kalau hatinya bukan untuknya semua hanya akan jadi percuma. Karena sejatinya perasaan memang tidak bisa di paksakan.
"Kalau memang susah mencari informasi mengenainya. Apalah daya, aku yang harus turun tangan untuk datang langsung ke rumahnya. Bukankah keluarga Kertajaya sangat menghargaiku? Saham Buana Group bahkan naik 3% diatas saham milik Kertajaya Group. Posisi saham milik keluargaku lebih tinggi sekarang. Ha ha ha. Pintar juga ya, Gue." Pikir Arka dalam hati.
Setelah selesai menyelesaikan urusannya di sebuah kedai kopi. Arka bergegas pergi dari sana. Tujuannya adalah pergi ke kediaman
Kertajaya.
......-......
Setelah menempuh perjalanan yang kurang lebih sekitar empat puluh lima menitan. Arka tiba di kediaman Kertajaya. Ia bahkan memarkirkan mobilnya di sembarang tempat.
Dasar Arka.
Saat sampai di sana, Arka disambut hangat oleh para pelayan serta para pengawal. Asisten dari Tuan Kertajaya pun langsung turun tangan ikut menyambut kedatangannya.
Sia-sia menyuruh para pengintai untuk datang kesini, pikir Arka.
Arka memasuki ke dalam rumah utama Kertajaya. Ia sebenarnya muak untuk berhadapan dengan keluarga itu. Kalau bukan karena Bara, ia pun tak ingin datang kesana. Arka membenci orang-orang yang bersikap angkuh yang terlalu meninggi-ninggikan dirinya. Padahal Kertajaya Group bukan apa-apa dibandingkan dengan Buana Group.
"Halo, Nak Arka. Apa kabar? Bagaimana kabar keluargamu?" Tanya Tuan Kertajaya menyambut kedatangan Arka.
__ADS_1
"Halo, Om. Ya beginilah, Om. He he, kabar baik pastinya. Mama Papa juga baik kabarnya. Hm, sangat baik malah. He he he." Jawab Arka terkekeh.
Tuan Kertajaya tampak mengernyit. Ia mengetahui kalau Buana Group posisinya saat ini lebih unggul darinya. Ada rasa kewaspadaannya terhadap Arka.
"Oh ya, Om. Dimana Bara? Sudah lama aku tidak bertemu dengannya." Ucap Arka menanyakan.
"Bara? Oh dia... ada di kamarnya. Biasa, anak itu memang susah di atur." Jawabnya.
"Ya udah, Om. Kalau begitu, saya mau langsung ketemu Bara aja. Udah lama gak ketemu dia. He he." Tutur Arka asal.
"Ya sudah, silakan silakan. Kalau ada perlu apa-apa, panggil saja pelayan. Atau bisa panggil asisten ku disana." Ucap Tuan besar menunjuk ke arah asistennya. Yang tengah berjaga di depan pintu kamar Bara.
Gawat, sepertinya memang ada sesuatu. Buktinya, para pengawal serta pelayan dan asisten Ayahnya sampai perlu sigap berjaga di depan pintu kamar Bara.
Ada apa sebenarnya?
Tak membuang banyak massa, Arka langsung bergegas masuk ke dalam kamar Bara. Betapa terkejutnya ia melihat Bara dengan kondisi yang menyedihkan. Wajah kusut dengan mata panda nya. Badannya pun semakin terlihat kurus. Rambut yang acak-acakan.
Dan ia tengah duduk di atas jendela kamarnya.
"Mau bunuh diri Lo, Bar?" Tanya Arka yang tiba-tiba datang menghampirinya.
"Huh! Lo masih aja marah sama Gue. Asal Lo tahu, Gue udah lupain Kak Ana. Lagian juga percuma kalau Gue terus terusan ngejar dia. Udahlah, yang udah lalu ya udah. Ayolah, kita jalan-jalan. Kemana kek." Celoteh Arka ingin mengajak sahabatnya refreshing.
Lagi-lagi Bara hanya diam tak menjawab.
"Hm.. Bar, Gue kangen masa-masa kecil kita dulu. Biasanya kalau udah sore begini, kita main basket di lapangan rumah Gue. Terus makan ice cream sambil nonton Avengers di kamar Gue. Sampai gak pingin pulang dan akhirnya Lo nginap di kamar Gue. Pagi nya Nyokap Gue bikinin kita sarapan roti bakar isi keju. Makanan kesukaan Lo." Tutur Arka mengungkapkan isi hatinya.
Bara termenung sesaat.
Iya juga, sudah lama ia tak lagi merasakan hal itu bersama Arka. Karena cinta, dirinya bahkan berubah begitu cepat. Bahkan persahabatannya dengan Arka kian menjauh. Hingga menjaga jarak diantara keduanya.
Tiba-tiba senyuman di wajah Bara muncul. Tersenyum tanpa sebab. Sungguh kacau perasaannya.
"Tuh kan, Lo juga kangen. Ha ha ha. Gengsi banget Lo buat mengaku." Sambung Arka seraya mendekatkan dirinya pada Bara.
Sontak Arka menepuk keras pundak Bara.
"Lo juga gak kangen apa, sama Kak Ana? Gak mau tahu Lo kondisinya sekarang kayak gimana? Tega banget Lo kam*pret! Jangan bikin malu Gue, dimana sikap ke lelakian Lo? Lemah banget Lo ah!" Gerutu Arka.
__ADS_1
Bara tercecang saat mendengar kata Ana.
"Ana? Lo tahu dia dimana?" Tanya Bara yang tiba-tiba bersuara.
"Ya tahu lah. Dia masih tinggal di rumah yang Lo tempati sama dia. Tega banget Lo, orang di tinggal sendirian. Oh ya, anak Lo kemana? Gue gak lihat ada bayi sewaktu ke rumahnya. Hanya ada Kak Ana sendiri disana. Beruntung ada Gue, coba kalo enggak."
Bara kaget mendengar penuturan Arka barusan.
"Ana masih disana? Bukannya dia pergi? Terus dia kenapa?" Tanya Bara bingung.
"Pergi mata Lo pergi ke Ciamis. Ya dia masih disana lah. Menurut Lo Kak Ana bakal pergi, begitu?"
"Kata Nyokap, dia pergi. Dan memutuskan buat putus hubungan sama Gua. Sambil menyerahkan Arbi pada pelayan di rumah ini." Ucap Bara sedu. Pandangannya kosong dan terlihat murung.
"Mau aja Lo di tipu sama Nyokap Lo. Kak Ana gak pergi kemana-mana. Justru malah Lo yang pergi sama bayi Lo terus tinggalin dia sendiri. Eh, by the way, anak Lo namanya Arbi? Ha ha ha, cocok ya, kalau Ayahnya itu Gue. Ana, Arka, dan Arbi. Ha ha ha ha." Tutur Arka terkekeh.
"Sialan Lo. Kebanyakan halu, awas jadi gila." Balas Bara seraya kembali ke tepian kasurnya. Dan merebahkan dirinya sambil menatap atap langit kamarnya.
Arka melakukan hal yang dilakukan oleh Bara. Ia jadi rindu dengan kenangannya bersama sahabatnya.
"Hm, jadi sebenarnya Ana gak pergi? Terus kenapa dia bisa menyerahkan Arbi sama Bokap Gua?" Tanya Bara penasaran.
"Lo mau tahu kebenarannya?" Jawab Arka berbalik tanya.
Bara mengangguk dengan antusiasnya.
"Oke, kalau begitu Gue jelaskan yang se jelas jelasnya. Dengerin!"
"Iya bawel!" Gerutu Bara.
"Jadi sebenarnya Kak Ana gak pernah menyerahkan Arbi ke Bokap Lo. Justru Bokap Lo yang ambil Arbi dari Kak Ana. Dia datang ke rumah Kak Ana bersama dengan para pengawalnya. Awalnya Kak Ana mengira kalau Bokap Lo cuma mau lihat cucu nya. Dia bilang pingin gendong Arbi. Tapi begitu Ana memberikan Arbi sama Bokap Lo, Kak Ana langsung di tahan sama para pengawal Bokap Lo. Gila ya! Jahat banget Bokap Lo an*jir! Eh, anjayani. Takut kena pasal UU Gue ha ha ha." Jelas Arka.
Bara mengernyit, seakan tak percaya dengan kebenarannya. Ia tidak menyangka kalau Ayahnya akan melakukan hal sekeji itu.
"Udah gitu doang?" Tanya Bara. Ia masih ingin mendengar kelanjutannya.
"Gitu doang gitu doang. Gue getok juga kepala Lu nih. Respons Lo juga cuma gitu doang malih. Sialan Lo! Udah jauh-jauh Gue datangin Lo ke sini. Gak ada niatan Lo buat ketemu sama Kak Ana hah?!" Jawab Arka kesal.
"Iya iya sorry. Maksud Gua, ada lanjutannya gak? Cerita Lo baru setengah kam*pret!" Ucap Bara.
__ADS_1
Bersambung...