Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 50


__ADS_3

Pertemuan Tuan Besar dengan Ana


Setelah menyelesaikan makannya, Tuan besar kembali ke ruang kerjanya. Ia memanggil pengawal utusannya untuk segera menghadapnya. Menceritakan setiap kejadian detailnya sampai bisa menemukan putranya, seperti sekarang ini.


Entah apa yang dilakukan istrinya, ia tak peduli. Yang ia pedulikan saat ini hanyalah Bara. Putra tunggalnya sekaligus pewaris bagi keturunan Kertajaya Group.


"Tuan, anda memanggil saya?" Tanya ketua pengawal itu pada majikannya.


"Ya. Jelaskan kejadian detailnya!" Jawab Tuan besar tegas.


"Jadi begini, Tuan ........"


Setelah beberapa menit menjelaskan.


"Bayi?" Tanya Tuan besar.


Ia mengernyit sebentar.


"Ya, Tuan. Saya mendengar suara bayi di rumah itu. Dan Tuan muda bilang, kalau itu adalah bayinya."


"Jadi.. putraku sudah punya anak?" Tanyanya lagi meyakinkan.


"Benar, Tuan. Istrinya bahkan juga ada disana."


"Dia sudah menikah? Kenapa tidak memberitahuku?! Kalau begitu aku tidak perlu merayakan pesta pernikahan dengan Farah waktu itu. Membuatku malu saja!"


"Tapi Tuan, wanita yang dinikahi Tuan muda sepertinya... bukan dari golongan yang sama seperti Tuan." Sambung pengawal itu.


"Kalau begitu, persiapkan segala sesuatunya. Besok pagi aku akan pergi menemuinya." Ucap Tuan besar memerintahkan.


"Baik, Tuan." Jawab pengawal itu dan pergi meninggalkan ruangan.


Yang tersisa hanyalah Tuan besar sendiri


di ruangan itu.


"Siapa sebenarnya wanita itu? Hm." Gumam Tuan besar.


...-...


Masih di kediaman rumah utama Kertajaya.


__ADS_1


Bara merasa bosan, karena terlalu lama menghabiskan waktu di dalam kamarnya. Lebih tepatnya lagi seorang diri. Tak ada Ana di sisinya maupun Arbi. Hanya ada bayang-bayang wajah Ana yang selalu datang menghantui. Rasa bersalah, disertai rasa penyesalan semakin besar menggelora.


"Argh! Ini semua gara-gara aku. Ana jadi begini karena aku!" Ucap Bara.


Tangannnya tidak berhenti memukuli tembok pembatas dinding kamarnya. Ia bingung harus melakukan apa sekarang. Hanya pasrah dengan keadaan, yang sudah di atur oleh keputusan Ayahnya.


Tiba-tiba terlintas dipikirannya. Ia ingin kabur sebentar. Pergi dan melihat kondisi Ana, juga Arbi. Bara bahkan sudah berjanji pada Ana. Bahwa ia akan kembali.


"Ana... maafkan aku. Seharusnya dari awal kita bertemu, aku sudah tahu. Apa yang akan terjadi. Kalau aku tetap memaksa pada hubungan ini." Gumamnya sambil menatap langit-langit kamar.


...............


Hari ini, Tuan besar akan pergi menemui Ana. Para pengawal dan asisten setianya juga tak lupa mengawalnya. Bagaikan sorang raja yang selalu di kawal oleh para pengawal. Di segani, dan di hormati oleh setiap kalangan. Itulah Kertajaya, namanya bahkan terkenal di dunia perbisnisan.


Berkisar tiga mobil yang berangkat pagi ini. Mereka semua sudah pergi dan sedang dalam perjalanan. Bara tidak mengetahui, kalau Ayahnya akan bertemu dengan Ana hari ini. Tidak ada yang memberitahunya. Karena semua orang yang ada di rumah utama harus merahasiakannya dari Bara.


-


Sudah satu jam lebih di perjalanan, mereka pun tiba di kediaman rumah Ana. Tuan besar tampak mengernyit memperhatikan rumahnya. Suasana asri dan nyaman. Pantas saja, putranya sangat betah berada disini. Tak berapa lama, ia pun berjalan menghampiri pintu rumah itu.


Semua pengawal beserta asistennya turut mengawal di belakang. Sangat sepi, dan seperti tak berpenghuni. Tuan besar agak ragu memasuki rumah itu.


"Apa kau yakin ini rumahnya?" Tanya Tuan besar.


Tok


Tok


Tok


Pintu itu di ketuk beberapa kali, namun tidak ada yang menyahut. Sampai ke sekian kalinya di ketuk.


Krek....


Pintu itu terbuka, terlihat seorang wanita muda mengenakan mukenah berwarna hitam. Sambil menggendong bayi yang masih berusia dua bulanan. Wajah ayu dan cantik, tapi tampak sedu. Matanya sembab, seperti sudah menangis selama berjam-jam.


Tuan besar terkagum melihatnya. Ia bahkan melihat kesederhanaan dalam diri wanita itu. Benar yang dikatakan oleh pengawalnya. Wanita itu memang bukan dari golongan yang sama sepertinya.


"Ehm... Perkenalkan, saya Ayahnya Bara." Ucapnya tanpa mengulurkan tangannya.


"Maaf, ada perlu apa Tuan kesini?" Tanya Ana hati-hati.


"Aku ingin melihat cucu ku. Memangnya tidak boleh?"

__ADS_1


Ana gugup, bahkan ia takut. Kalau Arbi akan di ambil darinya.


"B-boleh, Tuan." Jawab Ana gugup.


Tuan besar mengambil alih Arbi untuk menggendongnya. Ana tampak pasrah untuk menyerahkan Arbi padanya. Keluarga kaya memang selalu memandang harta dan tahta. Tak lama setelah mengambil Arbi dari Ibunya. Semua pengawal tampak menahan Ana agar tidak memberontak.


"Siapkan mobil, kita pergi sekarang!" Perintah Tuan besar seraya membalikkan badannya dan pergi membawa Arbi.


Ana tercengang menatapnya. Ia tidak terima, Arbi diambil olehnya. Bayi yang selama sembilan bulan ia kandung. Dan dilahirkan, namun kini di ambil oleh orang lain. Meskipun itu Kakeknya sendiri.


Ia tidak rela menyerahkannya begitu saja.


"Tidak! Kalian tidak boleh pergi membawa anakku! Dia anakku! Tunggu!!" Tutur Ana berteriak mengejarnya.


"Maaf, nona. Anda tidak berhak mengambil anak itu." Tutur pengawal.


"Tidak berhak apanya ha?! Dia anakku! Aku yang melahirkannya! Aku juga yang mengandungnya selama sembilan bulan penuh! A... aku juga.. yang hampir mati karena pendarahan... Apa kalian tidak punya hati?! Datang-datang kerumahku dan pergi mengambil anakku?! Hiks... Hiks... Hiks..." Ucap Ana tersedu-sedu.


Mereka semua tampak tidak peduli dengan keluhan Ana. Sebelum menutup pintu mobil, Tuan besar tampak melihat Ana sekilas


dan mengatakan:


"Bayi ini adalah penerus bagi Kertajaya Group. Dia yang akan mewariskan seluruh harta keluarga kami. Dan aku adalah Kakeknya. Kamu bisa melupakan putraku, dan memulai hidup seperti biasanya. Kamu juga bisa menikah dengan lelaki lain. Lupakanlah Bara!" Jelas Tuan Kertajaya pada Ana.


Tidak punya hati!


"Tidak! Dia anakku! Kalian tidak boleh mengambilnya!!! Kalian tidak boleh pergi!" Tutur Ana tak berdaya.


Sayangnya mobil yang mereka tumpangi sudah pergi meninggalkan halaman. Semakin jauh dan tak terlihat. Sekarang hanya ada Ana seorang diri. Sebagian dari hidupnya telah pergi. Bahkan sebelumnya, separuh hatinya pun juga telah


pergi.


Tangisnya pecah, ia terjatuh duduk di atas rerumputan hijau. Derasnya bulir bening semakin luruh terjatuh. Membasahi kain yang ia kenakan. Ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan kedepannya. Hidupnya bahkan sudah hancur berantakan sekarang.


Apa yang harus ia jelaskan pada kedua orang tuanya di kampung? Bagaimana dengan kuliahnya? Bahkan biaya yang dikeluarkan untuk membayar semester pun, Bara yang membiayakan. Namun sekarang, Bara sudah lebih dulu pergi. Dan setelah itu, Arbi juga pergi meninggalkannya


seorang diri.


"Hiks... Hiks... Hiks... kalian semua jahat! Kalian jahat!" Ucap Ana sedu.


Sudah lebih dari satu jam ia menangis. Terduduk lemah di atas rerumputan hijau. Bahkan kesadarannya pun buyar. Matanya mulai meremang dan ia pun jatuh tergetak begitu saja. Ana pingsan dan tak sadarkan diri.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2