Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 73


__ADS_3

“Maaf ya, Kak. Saya mulai pemeriksaannya.” Ucap perawat itu pada Bara.


“Ok.” Jawab Bara singkat.


Ana sedari tadi masih belum sadarkan diri. Meski tangannya sudah berbalut infusan. Masih belum ada tanda-tanda pergerakan dari tubuhnya.


“Bayinya kembar ya, Kak. Kondisinya juga stabil dan sehat.” Ujar perawat.


Bara kembali tercengang mendengarnya. Gurat senyum di wajahnya terukir di bibir. Matanya kian berbinar menatap Ana. Dengan tidak tahu malunya, ia mencium Ana di depan perawat.


“An... bayi kita kembar! Kamu kok gak bangun-bangun, sih?” tutur Bara seraya memeluk Ana.


Sang perawat itu tersenyum simpul memperhatikan kedua pasangan itu.


“Sebentar lagi juga bangun kok. Keadaannya belum begitu pulih, mungkin efek dari pengaruh bayi nya juga.” Sambung perawat.


Bara hanya memagut-magut kepalanya. Setelah selesai memeriksa, Ana dipindahkan ke ruangan intensif perawatan. Untuk dirawat beberapa jam ke depan. Mungkin tidak sampai satu hari. Atau juga hanya setengah hari.


Arka dan Gladys ikut melihat keadaan Ana. Yang sudah di pindahkan ke ruangan lain. Keduanya ikut senang dan bahagia dengan kabar Ana. Yang hamil kedua dengan bayi kembar. Tidak berapa lama mereka menjenguk keadaannya.


Arka dan Gladys kembali lebih dulu. Arka masih harus mengurusi urusan perusahaan. Sementara Gladys, ia kembali ke rumah sakit lain. Yang jadwal cutinya telah habis sebentar lagi. Arka kembali ke Kota Jogja. Membeli tiket penerbangan yang tercepat.


Mau bagaimana lagi, perusahaan BARNA memang didirikan di Kota Jogja. Mungkin ke depannya, akan ada perpindahan ke Kota ini. Karena tidak memungkinkan untuk Arka maupun Bara. Yang harus bolak-balik keluar Kota.


“Bar... Bara...” panggil Ana membangunkan Bara. Yang menjaganya sampai ikut tertidur pulas.


“Hm... kenapa? Eh, kamu udah bangun?” Bara bangun sembari mengucek-ngucek kedua matanya.


“Iya, aku kenapa? Kok kita ada disini?” tanya Ana bingung.


“Kamu tadi pingsan, sewaktu di Kampus tadi.” Bara berkata demikian.


Tangannya terangkat mengusap lembut wajah Ana. Baju kebaya yang ia kenakan tadi sudah terganti dengan baju rumah sakit. Hanya hijab yang ia kenakan, tidak ikut dilepaskan.


“Bara, aku lapar.” Ucap Ana.


“Ini, ada makanan rumah sakit. Gak apa-apa ya? Makan ini dulu.” Ana mengangguk paham.


Bara menyuapi makanan itu ke mulut Ana. Menu masakan yang kurang enak dirasa. Namanya juga makanan rumah sakit. Mana ada yang enak? He he he.


“Udah..” tolak Ana saat Bara hendak ingin menyuapi lagi.


“Ya udah, diminum dulu teh nya.” Bara meminumkan teh hangat yang disediakan oleh rumah sakit pada Ana.


“Hm... An.. kamu... gak ada rasa mual-mual gitu kah?” tanya Bara hati-hati.


“Enggak, memangnya kenapa?” Ana berbalik tanya. Bingung dengan yang ditanyakan oleh Bara.


“Oh.. eh, enggak. Aku Cuma tanya aja, he he he!” ucap Bara berbohong dan masih menutupi kehamilan Ana.


Ana mengangguk paham, sambil memperhatikan ke sekeliling. Ruangan VVIP yang ia tempati. Terbilang agak berlebihan, hanya untuk dirawat setengah hari. Memang, suasana nya lebih nyaman dari ruangan biasa.


“Kamu pesan kamar nya kok yang ini? Memangnya aku di bakal rawat inap sampai beberapa hari disini?” tanya Ana.


“Enggak, nanti udah boleh pulang kok. Aku yang memilih supaya kamu di ruangan ini.”

__ADS_1


“Loh, kok? Buang-buang uang sayang... kalau begitu, lebih baik yang di ruangan biasa aja.”


“Gak apa-apa, demi kamu. He he he!” Bara masih belum berkata jujur pada Ana. Mengenai kehamilannya.


.........


Setelah kepulangan Ana dari rumah sakit. Bara bersikap semakin manis padanya. Semakin perhatian dan cenderung protektif. Ana bahkan tidak dibolehkan untuk banyak bergerak.


“Kamu kenapa sih? Aku dilarang ini itu. Gerak dikit gak boleh. Ke toilet aja harus di antar. Di tungguin pula ke dalam. Aku sebenarnya kenapa sih?” Ana mulai kesal dengan sikap Bara. Yang agak berlebihan.


“Maaf.. aku gak kasih tahu kamu dari awal. Tapi kamu jangan marah ya? Please! Ya sayang.. ya?” Bara memohon sambil menggenggam erat telapak tangan Ana.


“Tergantung.”


“Tergantung apanya?”


“Tergantung seberapa besar kebohongan yang kamu tutupi dari aku.” Bara langsung memucat wajahnya. Ia terduduk lemas, takut Ana akan benaran kecewa padanya.


“Kamu kenapa?” tanya Ana tampak khawatir dengan perubahan raut wajah Bara.


“Aku gak apa-apa. Kamu yang kenapa-kenapa, An. Kamu.. kamu hamil!”


Akhirnya yang ditunggu-tunggu. Bara berani berkata jujur pada Ana.


“K-kamu serius?” tanya Ana seolah tidak percaya.


“Serius! Kamu hamil, bayinya kembar. Maaf, aku tadi gak se....” ucap Bara terpotong.


Ana langsung memeluknya dengan sangat erat. Betapa bahagianya perasaannya sekarang. Hari wisudanya berbarengan dengan kabar kehamilannya.


“Aku terharu! Hu hu hu!” tutur Ana sedu disertai isak tangis bahagia.


Bertemu hanya beberapa kali dalam sebulan. Beruntung berkat bantuan Arka yang meminta bantuan pada teman bisnis keluarga Buana. Tuan Kertajaya tidak lagi mempermasalahkan soal anak pada Ana. Mengenai Arbi, ia memperbolehkan kedua orang tuanya bertemu sesekali dalam satu bulan.


Kehadiran Arbi di kediaman Kertajaya, membuat suasana disana berubah ramai. Kasih sayang mereka sebagai Kakek dan Nenek nya Arbi pun lebih daripada mereka menyayangi putranya sendiri. Dulu, bahkan Bara sering ditinggal pergi keluar Kota maupun luar negeri. Demi urusan bisnis, Bara dititipkan pada pengasuh kepercayaan keluarga mereka.


Ibunda Ali, yang sewaktu itu jadi orang suruhan Bara. Berpura-pura menjadi dirinya dan menikah dengan Farah. Bara bahkan menganggap Ibunya Ali seperti Ibunya sendiri. Karena itu, Bara tak pernah memihak pada keluarganya. Ia lebih memilih Ana, dibanding memilih keluarganya sendiri.


Sudah banyak pengorbanan yang ia lakukan. Demi mencapai kebahagiaannya bersama Ana.


“Kamu gak kangen sama Arbi?” tanya Bara. Tangannya menyentuh perut Ana yang masih rata.


“Kangen.. udah satu bulan ini kita belum bertemu.” Tutur Ana sedu.


“Nanti aku coba bujuk Papaku supaya Arbi main kesini. Dia belum pernah main ke apartemen kita.” Ujar Bara pada Ana. Sontak wajah Ana berubah senang.


Mata cokelatnya berbinar menatap Bara.


“Serius?” tanya Ana memastikan. Bara mengangguk paham.


“Yeay! Aku senang, kalau Arbi benaran mau kesini. Biasanya kita bertemunya di sekolahnya. Papamu terlalu mengekang Arbi. Aku gak suka dengan peraturannya. Arbi kan anak kita, bukan anaknya. Terlebih lagi, aku Ibunya. Aku yang melahirkannya ke dunia ini.” Celoteh Ana p × l.


Panjang kali lebar. Eh!


“Sabar... Papaku mungkin merasa bersalah dengan sikapnya di masa lalu. Makanya, dia terlalu mengekang Arbi. Karena Arbi akan jadi pewaris Kertajaya Group di masa depan.” Bara mengusap rambut Ana lembut.

__ADS_1


“Memangnya di masa lalunya kenapa?” tanya Ana polos.


“Dulu, mereka gak pernah peduli sama anaknya. Mereka tahunya Cuma kasih pendidikan yang layak, dan mengirimkan uang tiap bulan buat kebutuhanku.” Tutur Bara.


Ana merasa iba dengan kehidupan Bara. Pantas saja, Ayahnya begitu memaksa Arbi untuk tinggal bersama mereka. Tapi bukan berarti ia bebas mengekang Arbi semau mereka. Apalagi membatasi waktu Arbi saat bertemu kedua orang tuanya.


“Aku... pengin Arbi tinggal bareng kita lagi.” Tiba-tiba Ana teringat bayangan lalu. Saat Arbi masih berusia beberapa bulan dan tinggal bertiga di rumah yang lama.


Moment itu, membuat Ana rindu semuanya. Rindu rumah pemberian Bara, yang mungkin sekarang sudah di tempati oleh pemilik baru. Atau juga sudah di renovasi oleh mereka.


“Sabar ya sayang... pasti ada waktunya nanti kok. Kedua orang tuaku juga udah gak lagi muda. Usia mereka bahkan sudah mau memasuki kepala enam. Kalau mereka udah gak ada, Arbi pasti akan tinggal sama kita lagi kok.” Ujar Bara.


Maksudnya, dia menyumpahi orang tuanya cepat meninggal? Gitu? Aih, anak durhaka! Eh.


“Kok kamu ngomongnya gitu? Kamu gak pengin kedua orang tuamu berumur panjang?”


“Ya.. percuma juga umurnya panjang. Kalau bikin anaknya sengsara. Ya kan?”


Ana tak berani menjawab. Ada benarnya, ada sedihnya juga. Bimbang!


“Kenapa diam? Benar kan, aku?” tanyanya lagi pada Ana.


“Hm... ya udah iya.” Ana mencubit hidung bangir Bara.


“Jahil ya.. kamu.” Bara terkekeh dan hendak mau mencium bibir Ana. Sayangnya Ana langsung menolehkan kepalanya ke arah lain.


“Sayang... aku.. kepingin makan makanan yang manis.” Pinta Ana.


“Manis? Tumben, biasanya kamu maunya rujak buah.” Tahu aja si Bapak. Eh.


“Itu kan dulu, sayang. Sekarang kan beda lagi keinginannya.”


“Eh, iya juga sih. Kamu sekarang kan hamilnya kembar ya?” Bara tampak berpikir sesaat.


Pake mikir dulu ya, Paksu. Pak Suami maksudnya, eh.


“Nah, itu tahu.”


“Ya udah, aku pesan lewat Go-Food aja ya?” usul Bara.


“Tumben gak keluar rumah?”


“Kan kamu hamil, nanti kalau kenapa-kenapa gimana? Kamu sendirian, gak ada orang. Aku juga yang menyesal.” Celoteh Bara.


“Ya udah iya, iya. Pesan sekarang, tunggu apa lagi?” Ana tak sabaran.


“Iya sayang.. cium dulu tapi.” Pinta Bara nyeleneh.


“Enggak! Pesan dulu, makanan datang, terus makan, baru boleh.”


Wajah datar terpampang di raut wajah Bara.


“Cie mengambek, ha ha!” ledek Ana. Dan mendaratkan satu kecupan manis di bibir Bara.


“Berani ya kamu, memainkan hati orang.” Bara mendengus sebal. Namun disertai senyum semringah di wajahnya.

__ADS_1


Dasar pasangan bucin, budak cinta. Eh.


Bersambung....


__ADS_2