
Hari ini Ana pergi menemui Gladys. Di salah satu restoran yang ada di Ibu Kota ini. Gladys sengaja izin untuk cuti hari ini. Ia ingin menemani Ana sekaligus menghiburnya. Apalagi yang ia ketahui bahwa Ana sedang hamil muda.
Di restoran inilah mereka bertemu.
Ana pergi menggunakan taxi online. Ia tidak ingin merepotkan siapa pun. Walau sebenarnya Gladys sudah mencoba membujuk Ana agar menjemputnya. Tetap saja, Ana menolak tawaran itu. Bagi Ana, selagi bisa sendiri, mengapa harus melibatkan orang lain.
Sesampainya di dalam restoran. Ana mencari keberadaan Gladys. Dan ketemulah mereka, Ana menampilkan senyum cerianya. Berusaha untuk tidak bersikap menyedihkan hari ini. Tidak ingin jadi Ana yang lemah lagi, seperti yang terjadi di masa lalu.
“Ana, sini!” ujar Gladys memanggil.
“Udah lama, tunggunya?” tanya Ana tidak enak.
“Eh, enggak kok, baru lima menit.” Jawab Gladys terkekeh.
“Hm, sama aja berarti. Aku telat lima menit.”
“Enggak, kamu gak telat. Aku yang kecepatan kesini nya.” Ana mengangguk paham.
“Oh ya, gimana ceritanya Bara bisa gak pulang semalam?” tanya Gladys penasaran.
Ana berusaha untuk tidak sedih. Apalagi menampilkan ekspresi sedu nya di depan Gladys. Meski sekuat apa pun ia tutupi. Tetap saja, Gladys mengetahuinya. Gladys selain dokter, ia juga pernah belajar mengenai psikologi. Makanya, ia bisa membaca semua itu dengan mudahnya.
“Aku juga gak tahu, dia bilang mau pergi sama Arka. Setelah selesai mengantar Arbi ke rumah utama. Tapi nyatanya memang dia pergi ke sana.” Jelas Ana.
“Maksudnya gimana? Bara mau pergi sama Arka? Terus ke rumah utama, jadi dia berbohong gitu?”
“Iya, dia bohong. Aku sebenarnya udah dengar semuanya. Sewaktu dia menelepon seseorang di dapur. Aku tahu itu bukan Arka yang menelepon. Tapi dari pihak keluarganya.” Jawab Ana.
“Aih, aku gak menyangka. Lelaki romantis macam dia bisa berbohong juga, ya.” Ujar Gladys geram mendengarnya. Ia tidak sabar untuk mencabik-cabik wajah tampan Bara.
“Hm.. entahlah, aku kira dia percaya sama aku.” Suara Ana mulai terdengar sedu.
“An.. kalau kamu mau menangis, gak apa-apa kok. Nangis aja, aku juga paham kok dengan kondisi kamu sekarang. Kadang, berpura-pura tegar juga gak enak.” Tutur Gladys.
Benar saja, beberapa detik kemudian. Tangis Ana luruh begitu saja. Menangis tanpa suara, tandanya memang benar-benar sakit. Apa yang kali ini ia rasakan.
Detik kemudian, Gladys berpindah tempat duduk. Dan saat ini, ia tengah berada di sebelah Ana. Mengusap lembut punggungnya. Serta memeluknya untuk menenangkan meski hanya sesaat.
.........
Kabar mengenai Arka, sudah mendapatkan beberapa informasi mengenai Bara. Ia bingung, harus memberitahu atau tidak pada Ana. Karena informasi yang ia dapatkan. Bara mengalami kecelakaan mobil semalam. Arka takut akan membahayakan kondisi kehamilan Ana.
__ADS_1
Mengingat lagi kejadian lalu, saat Ana menderita gangguan pada psikologisnya. Arka takut semua itu akan terjadi lagi. Lebih baik jika ia simpan saja dulu untuk sekarang. Sambil menunggu Bara sadar dari masa kritisnya.
Arka dan asisten beserta pengawalnya pergi ke rumah sakit. Tempat dimana Bara di rawat. Sengaja ia membawa beberapa pasukannya. Karena tahu, kalau keluarga Kertajaya ada disana juga. Begitu ketatnya pengawalan menjaga Bara. Maka dari itu, Arka mengajak beberapa pengawal beserta asistennya kesana.
Sesampainya di rumah sakit, Arka langsung bergegas menuju ruangan inap yang Bara tempati. Betapa terkejutnya ia melihat keberadaan Sofie, yang juga ada disana.
‘Sofie? Mau apa dia disini?’ gumam Arka dalam hati.
“Semuanya, biarkan mereka lebih dulu melihat. Sebaiknya kita disini saja dulu. Tunggu mereka pergi, barulah kita kesana.
“Baik, Tuan muda.” Jawab asisten Arka.
Arka mengenal Sofie, model seksi yang dia ingat pernah terlibat dalam skandal pada Arya. Ya, Kakaknya Arka. Tidak pernah ada beritanya. Karena itu termasuk aib dalam keluarga Buana. Maupun bagi keluarga Arsena. Itu sebabnya tidak pernah muncul berita mengenai skandal itu.
Dulunya, Arya pernah berhubungan dengan Sofie. Mereka berpacaran selama kurang lebih satu tahun. Arya begitu mencintai wanita itu. Namun, Sofie hanya memanfaatkan situasi untuk membuatnya semakin tenar. Karena dulu, Arya memimpin sebagai direktur Buana Group di negara A.
Begitu terkenalnya Buana Group hingga Sofie merencanakan sesuatu. Agar ketenarannya semakin melonjak naik. Sofie menjebak Arya dengan memberikan anggur. Yang sudah terisi dengan obat perangsang. Agar rencana nya berhasil dan bisa menikahi Arya.
Namun, kebenarannya terungkap bahwa ternyata, bukan Arya yang akan menjadi pewaris Buana Group. Melainkan Arka, yang akan menggantikan posisi Arya. Jadi Arya hanyalah direktur untuk sementara. Karena kemampuan Arya berbeda dengan kemampuan yang dimiliki oleh Arka.
Sejak mengetahui semua itu, Sofie tidak muncul lagi pada kehidupan Arya. Hingga membuat Arya stres dan hidup tanpa tujuan. Pada akhirnya Arya dibawa kembali pulang ke tanah air tercinta. Oleh sang keluarganya, dan memulai hidup baru. Serta mendirikan perusahaan kecil yang sekarang ini tengah bersaing dengan BARNA Corp.
Betapa liciknya wanita itu, juga sangat berbahaya. Tapi sekarang, dia mengincar Bara untuk jadi yang selanjutnya.
Setelah pihak dari Kertajaya pergi. Arka dan pasukannya menghampiri ke ruangan Bara. Ia melihat Bara yang saat ini sudah siuman. Dengan tatapan kosong dan seakan tidak mengenalinya.
“Bara, Lo udah siuman? Gimana ceritanya, Lo bisa kecelakaan? Ana khawatir banget sama Lo sekarang.” Celoteh Arka.
“Anda siapa? Maaf, saya tidak kenal.” Ujar Bara.
DUAR!
Betapa terkejutnya Arka mendengarnya. Apakah Bara mengalami amnesia? Lalu bagaimana ia harus menjelaskan semuanya pada Ana?
“Bar, nama Lo Bara! Bara Kertajaya Muhammad.” Jelas Arka.
“Udah tahu.” Jawab Bara dingin.
‘Ya Tuhan, tolong sahabatku yang idiot ini. Aku mohon, kabulkanlah.’ Gumam Arka dalam hatinya.
“Terus? Lo kenapa gak kenal sama Gue? Gue sahabat Lo, Arka. Arka Buana, putra Buana Group.”
__ADS_1
“Gak kenal.”
“Terus yang Lo kenal siapa? Jangan bikin Gue jadi emosi!” Arka hampir tersulur emosi.
“Sofie.” Jawab Bara. Singkat, padat, jelas.
Meski bukan Ana yang mendengar. Tapi Arka bisa merasakan sakit di bagian hatinya. Bara sama sekali tidak mengingat Ana.
“Hanya itu, yang Lo ingat? Kalau Arbi?” tanya Arka sekali lagi.
“Arbi? Siapa Arbi?”
‘Ya Tuhan, kenapa jadi begini?’ gumam Arka tampak berputus asa.
Arka mengangkat satu tangannya. Melambaikannya sebagai isyarat memanggil asistennya.
“Iya, Tuan?” tanya asisten Arka.
“Panggil dokter yang menangani pasien bernama Bara Kertajaya Muhammad sekarang!” perintah Arka.
“Baik, Tuan muda.” Jawabnya.
Beberapa menit kemudian, dokter itu muncul.
“Bisa Anda jelaskan, dokter? Mengenai penyakit Bara.” Ujar Arka langsung pada inti nya.
“Pasien mengalami amnesia, bukankah tadi sudah saya jelaskan. Kepada keluarga pasien.”
“Belum, saya belum tahu hal ini. Anda mungkin menjelaskan kepada pihak lain.” Arka tidak terima.
“Lalu, Anda siapanya pasien ini?” tanya dokter kepo.
“Saya sahabatnya. Mengapa dia hanya mengingat nama Sofie? Sementara dengan saya pun tidak ingat.”
“Anda hanya sahabatnya, tidak berhak untuk ikut campur pada masalah keluarga pasien.” Dokter itu rupanya belum tahu siapa Arka.
Arka langsung melambaikan satu tangannya. Asistennya maju dan menjelaskan siapa Tuan mudanya kepada sang dokter.
“Baik, saya minta maaf untuk itu. Atas kelancangan saya pada Anda, Tuan muda.”
“Cih, tadi bukannya ingin mengusir saya dari sini?” tanya Arka geram.
__ADS_1
“T-tidak, Tuan muda. S-saya mana berani.” Jawabnya terkekeh.