
“Arbi... m-mau Bunda cium?” kata Ana bertanya. Arbi langsung mengangguk dengan cepat.
“Seperti Ayah tadi, yang mencium bibir Bunda.” Lanjut Arbi berucap.
‘Hanya anak kecil, kan? Arbi juga belum paham, kan?’ Gumam Ana dalam hati bertanya-tanya.
Cup!
Ana mengecup bibir mungil Arbi. Lelaki kecil itu tampak tersenyum semringah.
“Lagi, Bunda.” Pinta Arbi lagi.
“Arbi banyak maunya, ya. Sudah ciumnya, sekarang Arbi makan siang dulu.” Tutur Ana lembut. Anak itu mengangguk menurut.
“Ini Nyonya, jus strawberry nya.” Sergah pelayan wanita itu datang. Sembari membawa nampan yang berisi dua gelas jus.
“Oh, terima kasih, Mbak.” Balas Ana. Pelayan itu hanya tersenyum mengangguk paham.
“Yang satu lagi minumannya untuk siapa, Nda?” tanya Arbi pada Ana.
“Untuk kamu, sayang. Nih, di minum, ya!” Ujar Ana seraya memberikan satu gelas jus itu pada Arbi.
“Wow, jus strawberry!” kata Arbi heboh. Ana tersenyum senang melihatnya.
“Arbi suka?” anak itu mengangguk cepat.
“Di rumah Nenek, aku sering dibuatkan jus ini.” Sahut Arbi.
“Arbi mau makan apa, Nak? Biar di buatkan sama Mbak nya sekarang. Kita makan sama-sama, ya?” sambung Ana.
“Aku suka semua makanan. Asalkan Bunda yang menyuapkan,” manja Arbi.
Cup!
Ana mengecup lembut wajah kecilnya yang imut.
“Oke, tapi harus habis makan nya. Gimana?”
“Oke, Bunda!” jawab Arbi semangat.
Pelayan wanita itu kembali berkutik di dapur apartemen Ana. Menyiapkan makan siang untuk Ana, Arbi, dan untuknya. Memasak dari bahan pokok yang sudah ada di dapur.
Saat Mbak pelayan itu tengah menyiapkan makanan. Dan Ana yang tengah membaca buku cerita, tiba-tiba mendengar suara bel apartemen berbunyi. Wajah Ana begitu semringah. Seperti tak sabar ingin menyambut kedatangan Bara.
__ADS_1
Ana berjalan gontai dan berhati-hati sembari memegangi perut besarnya. Mendekati pintu apartemen itu. Kedua matanya melihat ke lubang kecil yang ada di balik pintu.
‘Itu.. Bara bukan, ya? Kok bawa bunga? Tumben, banget.’ Gumam Ana dalam hati.
“Siapa, Bunda? Ayah?” suara Arbi terdengar, menghilangkan konsentrasi An. Yang tengah fokus memperhatikan seseorang di depan pintu apartemen mereka. Pria kecil itu datang mengikuti Ana dari belakang, rupanya.
“Arbi sayang, coba kamu ambil kursi itu! Dorong dan bawa kesini.” Pinta Ana memerintah Arbi. Anak itu mengangguk cepat.
“Sekarang Arbi naik ke kursi ini. Coba lihat, yang di luar sana, Ayah atau bukan?” perintah Ana, setelah Arbi meletakkan kursi itu tepat berada di belakang pintunya.
HAP!
Arbi menaiki kursi itu. Kedua matanya tampak menyipit. Memperhatikan ke arah lubang kecil yang ada di balik pintu. Agak lama, Arbi melihatnya.
“Sepertinya bukan Ayah, Bunda.” Ujar Arbi. Ana lantas membelalakkan kedua matanya.
“Bukan Ayah? Orangnya sendirian, kan?” tanya Ana lagi. Arbi mengangguk cepat.
Ana lalu menghindari pintu itu. Dan mengajak Arbi untuk kembali lagi ke dalam. Masalah tamu yang tak di undang, Ana serahkan kepada pelayan tadi.
Wajah Ana begitu tegang dan gugup. Lagi-lagi ia teringat akan kejadian lalu. Yang menimpanya dan Arbi. Saat Sofie mendobrak pintu itu dan nekat menculik seorang anak kecil serta Ibunya.
Ana menggelengkan kepalanya pelan. Berusaha untuk tidak mengingat kejadian itu lagi. Tapi sayangnya, peristiwa kebakaran serta penculikan yang terjadi waktu lalu, memberikan trauma mendalam bagi Ana.
Arbi, anak sekecil usianya begitu peka. Ia memperhatikan Ana dengan saksama. Lelaki kecil itu tampak berlari mendekati pintu itu lagi. Pelan-pelan, dia menaiki kursi tadi. Mencoba memastikan, apakah orang di depan sana masih ada atau tidak.
HAP!
Arbi kecil berlarian, kembali menghampiri sang Bunda. Yang tengah melamun, dengan ekspresi sedu nya. Wajah Ana kembali pucat. Tatapan nya seperti saat lalu. Sewaktu ia mengalami gangguan pada psikologis serta mentalnya.
“Bunda... Bunda kenapa? Katanya kita mau makan sama-sama? Ayo, Bunda. Kita makan. Mbak pelayan sudah selesai memasaknya,” ujar Arbi seraya menggoyangkan lengan Ana.
“Kamu makan sama Mbak dulu ya, sayang. Bunda masih belum lapar.” Balas Ana tak bernafsu. Ia bahkan tak menatap ke wajah putranya.
“Tadi Bunda bilang, katanya mau makan sama Arbi? Bunda udah nggak sayang lagi, ya? Sama Arbi.” Sambung Arbi kecewa, sembari mengerucutkan bibirnya ke depan.
Mendengar rengekan Arbi yang hampir menangis, Ana langsung tersadar lagi. Kedua bola matanya membelalak kaget. Saat melihat Arbi dengan mata berkaca-kaca.
“Loh, Arbi kok, nangis?” tanya Ana bingung.
“Bunda udah nggak sayang lagi sama Arbi!” gerutu Arbi tersedu-sedu menjawab.
“Siapa yang bilang begitu? Bunda sayang.... banget, sama Arbi.” Tukas Ana.
__ADS_1
Cup!
Ana mengecup kening Arbi. Wajah mungil nan halus itu, di elus berulang kali. Rambut tipis lelaki imut itu pun juga mendapat usapan lembut dari sang Bunda.
“Bunda sayang Arbi. Udah, nangis nya? Apa masih mau nangis? Bunda tunggu-in.” Lanjut Ana berucap tanya.
“Belum, Arbi masih mau nangis.” Tutur Arbi sedu.
Mbak pelayan tadi kembali. Setelah lama berkutik di dapur. Ia lalu menaruh beberapa menu makanan di meja yang ada di ruang keluarga itu.
Arbi yang menangis sesenggukan, langsung terdiam. Saat pandangannya mencium bau masakan di depannya.
“Arbi kenapa, Nyonya muda?” tanya pelayan itu.
“Tidak apa-apa, Mbak. Hm, Mbak coba tolong lihat ke depan. Sepertinya ada tamu.” Sahut Ana. Pelayan itu mengangguk paham. Dan langsung pergi mendekati pintu apartemen.
Beberapa detik kemudian, pelayan wanita itu kembali. Namun di kedua tangannya membawa sebuket bunga. Serta ada kotak berukuran sedang berwarna merah.
“Apa itu, Mbak?” sanggah Ana bertanya.
“Di luar tidak ada siapa-siapa, Nyonya muda. Tapi mungkin, orang itu meninggalkan ini. Tertulis untuk, Anda.”
Ana tak mau mengambilnya. Melainkan, ia menyuruh pelayan itu. Untuk membukanya langsung.
“Mbak saja yang membukanya.” Lanjut Ana berkata. Pelayan itu menjawab dengan anggukan.
Arbi yang tadinya merengek manja. Tiba-tiba ikut penasaran. Dengan isi pada kotak hadiah itu. Begitu pula dengan Ana. Yang bertanya-tanya, siapa pengirimnya.
SRRRKKK... SRRRKKK
Kado itu terbuka, dan terlihat ada sebuah surat di dalamnya. Juga cokelat, serta cincin berlian. Pelayan wanita tadi mulai membacakan suratnya di depan Ana. Arbi pun ikut mendengar.
[Teruntuk Ana,
Hai, apa kabar, Ana? Aku harap kamu selalu dalam keadaan baik. Sepertinya memang baik. Beberapa hari yang lalu, kita bertemu lagi. Sudah lama sekali, ya. Bertahun-tahun lamanya. Aku tidak mengharapkan apa pun darimu. Aku mengirimkan surat ini, karena tidak tahu kontakmu. Ya, sebenarnya bisa saja aku memintanya pada Arka. Tapi hubunganku dengannya masih belum baik. Entah sampai kapan dia membenci Kakaknya sendiri. Kelihatannya, kamu begitu bahagia dengan pernikahanmu. Dan kulihat juga, perutmu agak membesar. Apa kamu hamil lagi? Semoga kita bertemu lagi, Ana.
Tertulis, Arya]
Ana mendengar itu sontak langsung terdiam. Bagaimana mungkin, Arya bisa mengetahui apartemennya? Mungkin saja, Arya sempat mencari tahu keberadaan Ana dan Bara. Bisa jadi dari lokasi terakhirnya Arka. Itu karena Arka sering datang ke apartemen mereka.
Tapi Ana tak sedikit pun marah. Hanya saja, agak menyedihkan untuk Arya sendiri. Mantan tunangannya pernah menculik Ana. Dan hampir membunuhnya serta Arbi. Anak kecil yang tak berdosa. Juga bayi yang berada di dalam perut Ana.
Sofie di amankan serta dibawa ke penjara. Oleh orang suruhan Arka. Tapi sayangnya, penahanan Sofie tidak berlangsung lama. Melainkan hanya dua minggu lamanya. Itu karena, pihak dari keluarga Arsena tidak menerima tuntutan itu.
__ADS_1
Sofie Arsena, yang punya hubungan dekat dengan Kertajaya Group. Namun kini, kekerabatan diantara keduanya sudah tak lagi akrab seperti dulu. Kertajaya Group melepas kekerabatan pada Arsena Group. Dan hal itu juga berada di bawah kekuasaan Buana Group, yakni Arka Buana.
Ya—Arka yang ikut membantu memisahkan hubungan kekerabatan. Antara Kertajaya dengan Arsena. Agar kedepannya, Sofie tak lagi bisa memanfaatkan keadaan itu. Melalui ancaman-ancamannya yang tak lagi berguna.