Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 67


__ADS_3

Ana mulai berpikir, dan mencerna perkataan Gladys. Bayangan di otaknya kembali mengingatkan kejadian lalu. Semua memori itu seketika terbayang begitu jelas. Saat ia terpuruk dalam kesedihan yang begitu menggetarkan jiwanya. Saat dimana, Ayahnya Bara mengambil Arbi darinya, dan menyuruhnya untuk pergi meninggalkan putranya, Bara.


“An, kamu itu kuat. Gak ada wanita yang lemah, An. Semua wanita itu kuat. Buktinya, wanita bisa sekuat itu mengandung, melahirkan, serta membesarkan anak. Bahkan ada banyak, wanita yang mengalami itu seorang diri, tanpa di dampingi oleh Suaminya."


“Kenapa? Kenapa dengan Suaminya,” tanya Ana bingung.


“Karena mereka bercerai. Atau juga, Suaminya yang pergi meninggalkan mereka. And your so luck enough, Ana.” Tutur Gladys.


“Kamu cukup beruntung, mempunyai Suami yang selalu siaga terhadap Istrinya. Bara begitu menyayangimu, hingga terlalu banyak kekhawatiran di pikirannya mengenai kesehatan kamu, An. Dia mungkin sebenarnya gak bermaksud mengatakan itu. Jadi, please, jangan terlalu di pikirkan lagi, ya.” Sambung Gladys seraya mengusap lembut tengkuk telapak tangan Ana.


Ana mengangguk paham, dan menampilkan senyumnya yang mengembang.


“Nah gitu, senyum dong. You are so beauty! Kalau murung terus, nanti cantiknya hilang dong?” Gladys terkekeh sendiri mendengar ucapannya barusan.


Ana tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya pelan.


“Kamu udah makan?” tanya Gladys lagi. Ana menggeleng.


“Ya udah, kalau gitu, hari ini aku masak-in spesial buat kamu. Dapur nya dimana?” celoteh Gladys heboh.


Mereka bercengkerama dengan penuh ceria. Ana sudah tak lagi memikirkan ucapan Bara. Berkat Gladys, semangatnya kembali bangkit.


Tidak salah, Bara mengundang Gladys ke apartemennya untuk menemui Ana.


...........


Di perusahaan BARNA.


“Kusut amat tuh muka, what happened?” tanya Arka seraya meminum secangkir kopi hangatnya.


Beberapa berkas di meja kerja Bara tampak berserakan. Arka tak tinggal diam. Ia menyuruh petugas kebersihan merapikan semuanya. Terlebih lagi, ruang kerja mereka menjadi satu ruangan. Maka dari itu, Arka bisa leluasa melihat kinerja Bara pada perusahaannya berdiri.


Bukan tidak percaya, Arka mengawasinya agar Bara terus meningkatkan kualitas skill nya pada perusahaan. Arka ingin, perusahaan BARNA bisa menyaingi perusahaan Kertajaya. Semua itu ia lakukan supaya, Ana tidak lagi dianggap rendah oleh keluarganya Bara.


Arka sudah menganggap Ana sebagai Kakak perempuannya. Karena nya, ia melakukan semua itu demi Ana. Demi kebahagiaannya.


“Coba cerita, kenapa sih? Lo berantem sama Ana?” tanya Arka kepo.


Kepo adalah singkatan dari, kepingin tahu.


“Hm...” gumam Bara tanpa menoleh sedikit pun tatapannya dari layar monitor laptop yang ada di depannya.


“HEH! Ngomong yang benar, kenapa?! Lo buat ulah lagi?” kali ini suara Arka terdengar lebih keras.


“Iya, iya. Elah, gitu aja emosi.” Bara menutup layar laptopnya.


Arka tak menggubris ucapannya. Ia justru menatap tajam ke arah Bara.


“Sebegitu benci nya, Lo ke Gua. Hanya karena masalah pribadi rumah tangga Gua sama Ana,” ujar Bara.


“Bukan benci, Lo tahu kan? Kak Ana udah Gue anggap seperti Kakak perempuan Gue sendiri. Apa pun itu yang terjadi sama dia, pasti gak jauh kaitannya dari Lo. Atau keluarga Lo.”


“Hm... iya tahu. Gua gak sengaja ngomong sesuatu ke dia.”


“Ngomong apaan?”


“Lo tahu kan? Ana itu memang lemah. Memangnya Gua salah? Kalau Gua ngelarang dia ngelakuin ini itu? Gua Cuma pengin dia gak jatuh sakit lagi.”


Mendengar jawaban itu dari Bara langsung, sontak Arka langsung mendaratkan satu pukulan ke wajahnya.

__ADS_1


BUGH!


“Brengsek!!! Lo sadar, apa yang Lo ucap ke dia? Kata-kata Lo terlalu menyakiti hatinya! Ya, Gue juga tahu kalau dia lemah. Gue gak menyangka, Lo bisa setega itu sama Ana. Gue kecewa sama Lo, Bara!” Arka langsung pergi begitu saja. Meninggalkan Bara, tanpa berkata lagi.


Tinggallah Bara seorang diri di ruang kerjanya. Mencerna perkataan Arka barusan. Seraya memegang sebelah wajahnya yang memar. Akibat pukulan yang di daratkan oleh Arka.


“Lo benar, Ka. Gua memang brengsek,” gumam Bara dalam hati. Pandangannya tertuju pada sebuah bingkai foto. Yang berdiri tegak di sisi mejanya. Tergambar foto Ana yang ia cetak ke dalam bingkai.


Tangannya terangkat menyentuh bingkai foto itu. Menatapnya dalam-dalam, dengan ekspresi wajah yang penuh dengan penyesalan.


“Maafkan aku, An. Maafkan, aku.” Tutur sedunya.


Di sisi lain, Arka dengan begitu gagahnya berjalan cepat. Keluar dari dalam perusahaan dan pergi ke area parkir. Dengan cepat, ia bergegas masuk ke dalam mobilnya.


“Semoga Kak Ana baik-baik aja.” Gumamnya dalam hati.


Arka pergi menuju apartemen Ana. Dengan kecepatan penuh, Arka menancapkan gas mobilnya. Arka benar-benar khawatir pada Ana. Cinta yang tak bisa ia dapatkan. Tapi berkali-kali terluka, karena cinta yang ia pilih.


Mungkinkah, Arka masih mencintai Ana diam-diam?


-


Singkat cerita, Arka sampai di apartemen Ana. Di tekannya tombol bel berulang kali. Sampai akhirnya pintu apartemen terbuka. Namun, yang membukanya bukan Ana. Tapi, Gladys.


“Loh, Gladys? Kamu kapan kesini? Kok gak kasih kabar?” tanya Arka kaget.


“Aku tadinya mau kasih surprise ke kamu. Kamu nya udah tahu deh. Huh! Eh, kok kamu kesini? Bara kemana?” Gladys celingak-celinguk mencari keberadaan Bara.


“Dia masih di kantor. Kok malah nyari dia sih? Bukannya aku."


“Ya aneh aja, masa kamu kesini sendirian.”


Gladys agak mencemburui sikapnya Arka terhadap Ana. Ia tahu, alasan apa yang membuat Arka datang seorang diri kesini. Arka pasti sudah mengetahui semuanya.


“Ya udah, ayo masuk!” pinta Gladys menyuruh Arka masuk ke dalam.


“Kak Ana dimana?” tanya Arka sesudah berada di dalam apartemen.


“Di kamarnya, kenapa? Mau ngomong sama dia?”


“Iya, tolong panggil ya, Gladys sayang.” Ucap Arka mencoba menggombal pada Gladys. Ia tahu, Gladys pasti cemburu pada Ana. Karena itu, ia ingin memberikan perhatian kecil padanya.


Wajah Gladys tiba-tiba berubah merah merona.


“Ih, gombal!” ujar Gladys seraya pergi ke kamar Ana. Hatinya berubah hangat sekarang.


Sementara itu, Arka menunggu di ruang santai. Seraya duduk dan menonton acara serial tv.


Tak berapa lama Gladys keluar, bersama Ana yang sudah rapi dengan baju dress panjangnya. Dengan hijab instan yang ia kenakan.


“Arka, udah lama nunggu nya?” sapa Ana dan bertanya.


“Enggak kok, Kak. Baru aja datang. Kak Ana, apa kabar?” tanya Arka seraya tersenyum menatapnya.


Gladys tampak memperhatikan wajah Arka, yang menatap Ana. Dengan senyum manisnya.


Ih, Arka! Genit banget, sih! ~ gumam Gladys dalam hati.


“Alhamdulillah, aku baik. Kamu? Eh, kok kamu gak ke kantor? Memangnya udah gak ada kerjaan lagi, disana?”

__ADS_1


“Aku mah santai aja, Kak. Kan yang mengurus perusahaan banyak, bukan Cuma aku. Bara juga ada kok, Kakak tenang aja. He he he.” Arka terkekeh.


Tiba-tiba wajah Ana kembali sedu. Mendengar nama Bara di sebut oleh Arka barusan. Arka menyadari perubahan mimik wajah Ana yang berubah drastis. Ketika mendengar nama Bara tadi.


“Kak, are u okay?” tanya Arka khawatir.


“I’m okay, don’t worry.” Ana tersenyum kecil.


“Kalau ada apa-apa, cerita aja sama Gladys. Kalau Kakak enggan mau cerita sama aku.”


“Iya, thanks ya Ka. Udah perhatian.” Ana terenyuh mendengar penuturan Arka.


“No. Aku juga sudah menganggap Kak Ana seperti Kakakku sendiri. Jadi, kalau ada apa-apa, cerita aja. Oke?”


“Hm.. oke.”


Keduanya saling tersenyum canggung. Gladys memperhatikan keduanya. Ia cemburu lagi, melihat perlakuan Arka pada Ana. Yang terbilang cukup perhatian. Bahkan lebih perhatian padanya.


“Sabar Gladys, Ana pantas mendapatkan banyak perhatian. She's a special women.” Gumam Gladys dalam hatinya.


...…...


Mungkin yang dirasakan Ana saat ini ialah, keraguan pada cintanya. Cinta dan keraguan tidak pernah saling berbicara. Pernikahan ibarat sandal jepit. Tidak selalu berjalan bersama, namun harus selalu ada bersamaan.


“Aku ingin seperti sepasang sendal jepit. Meski telah usang, tapi selalu bersama-sama. Dalam suka maupun duka, tidak akan pernah terpisahkan,” -Ana.


Sempurnanya pernikahan bukan karena pasangan yang sempurna. Namun yang mampu menyempurnakan keduanya. Mungkin sekarang, Bara sedang dalam tahap proses pendewasaan diri. Masih banyak kurang nya.


Tapi sejauh ini, ia juga mampu membuat keadaan berubah dengan waktu yang terbilang singkat. Berawal dari tinggal berdua di kos kosan sempit, bersama Ana. Lalu tinggal di rumah yang lama mereka tempati. Dan sekarang, tinggal di apartemen yang lebih mewah dan lebih besar.


Dan juga, sukses mendirikan perusahaan. Tanpa perlu bekerja lagi pada perusahaan orang lain. Tidak menutup kemungkinan, karena semua itu bukan hanya kerja kerasnya sendiri. Tanpa Ana dan Arka, ia bukanlah Apa-apa. Tanpa doa kuasa dari Tuhan, pun ia juga bukan apa-apa.


Mungkin yang kurang darinya ialah, lupa mengucap syukur. Karena itu, dirinya tidak merasakan puas dan bahagia.


**


Setelah kepulangan Arka dan Gladys dari apartemennya. Ana berusaha menyibukkan dirinya dengan melakukan ibadah. Tatkala ia juga membaca buku, berusaha menenangkan pikirannya. Sudah sesore ini, Bara belum juga kembali. Ana terus menunggu dan menunggu.


Ana memberanikan diri untuk menelepon Bara. Namun, nomor yang ia hubungi tidak aktif. Ana lalu mengirimkan pesan pada Arka. Menanyakan dimana keberadaan Bara.


[Arka, maaf ganggu. Bara masih ada di kantor, gak?] -Ana Via whatsapp.


1 menit kemudian.


[Gak ada, Kak. Dia udah pulang. Memangnya belum sampai rumah?] -Arka.


[Belum. Udah dari kapan dia pulang?] -Ana.


[1 jam yang lalu.] -Arka.


Ana tercengang membaca pesan dari Arka. Lalu, kemana perginya Bara? Ana merasa kesepian. Ia juga merasa bersalah dengan kejadian tadi pagi.


Kalau saja, ia tak memperdebatkan ucapan Bara. Semua itu tidak akan terjadi.


Bersambung....


************************


BAB 68 UP nanti malam! Terimakasih, sahabat literasi semua. Semoga lancar dan berkah ya, puasanya. Bagi yang menjalankannya.

__ADS_1


__ADS_2