Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 21


__ADS_3

Ana sadar setelah pingsan selama dua jam lamanya. Melihat sekitar dan bingung mengapa dirinya bisa ada di dalam ruangan rumah sakit. Dan Bara tertidur disampingnya sambil menggenggam erat tangannya.


“Bara!”


Tak lama Bara pun terbangun dengan pandangan yang masih berbayang-bayang efek sehabis tidur tadi.


“Sayang, kamu sudah bangun? Kamu lapar kah? Aku suapi kamu makan ya.” Ucap Bara dengan segudang pertanyaan. Ha ha. Cuman dua pertanyaan doang sih nanya nya.


“Aku kenapa bisa ada disini? Kamu yang bawa aku ya?” Ana bingung.


“Iya, kamu tadi pingsan sayang. Aku langsung bawa kamu kesini sama Arka.”


“Arka? Terus dimana dia? Kok hanya kamu saja yang disini?” Sontak Bara langsung cemburu buta dengan sikap Ana yang malah menanyakan kabar Arka.


“Kamu ngapain nanyain dia? Dia sudah pulang, sekarang hanya ada aku disini sama kamu. Dan calon anak kita.” Ana terkejut dengan ucapan Bara barusan.


“Apa? Calon anak? Apa aku hamil?”


“Iya, kamu hamil cinta.” Sontak Bara langsung memeluk erat Ana dengan bahagia.


“Tapi kenapa aku bisa pingsan ya?”


“Itu karena kamu lemas dan kurang minum vitamin sayang. Maafin aku, yang setiap malam selalu menuntut hakku sebagai Suami. Aku tahu kamu mungkin belum siap untuk jadi Ibu.” Ucap Bara lirih dan menunduk.


“Hei, aku gak apa-apa kok. Aku justru malah senang kalau sebentar lagi akan jadi seorang Ibu.” Ucapan Ana langsung membuat mata Bara berbinar.


“Benarkah?” Tanyanya meyakinkan lagi.


“Iya sayangku.”


“Yeay! Makasih sayang! Aku sayang kakak. Eh. Sayang Isteriku yang cantik he he he.”


“Tapi aku ingin kamu harus segera meresmikan pernikahan kita secepatnya. Kalau perlu besok.” Tegas Ana.


Harus itu An, supaya si nenek lampir gak bisa mengambil Bara begitu saja. Iya siapa lagi kalau bukan Ibu mertuanya yang jahat. Huh!


“Iya sayang, besok akan aku urus. Aku akan minta bantuan sama Arka nanti.”


“Terima kasih sayang, aku mencintaimu.” Ucap Ana lemah.


“Aku lebih mencintaimu, Ana sayang.”


Adegan mesra-mesraan di rumah sakit tidak di ceritakan. Sebab author nya cemburu. Eh.




Selama satu hari penuh Ana dirawat intensif di ruang perawatan. Karena kondisinya yang sangat lemah. Begitu juga dengan janin yang dikandungnya. Dan sekarang, Ana bimbang harus berkata apa pada Ibu dan Bapaknya di kampung. Kalau saat ini anaknya tengah hamil muda dan sudah menikah. Ana takut mereka akan syok nantinya. Tapi mau bagaimana lagi, nasib sudah menjadi bubur. Pernikahan dadakan yang membuat semuanya menjadi rumit.



“Gimana sekarang keadaan kamu? Apa sudah jauh lebih baik sayang?” Tanya Bara pada Ana yang masih terbaring lemah.



“Agak lebih baik, tapi masih lemas.”



“Di rawat inap saja ya cinta? Aku takut kamu kenapa-kenapa kalau langsung balik ke kosan.”



“Iya cintaku.”



“Uh so sweet nya Kakak. Eh cinta maksudnya. He he he.”



“Iya, gak apa-apa. Aku mengerti kalau kamu masih belum move on buat panggil aku Kakak.”



“He he he. Hm... Aku mau ngomong soal rumah aku yang waktu itu pernah aku bilang ke kamu.”



“Ada apa?”



“Rumahnya sudah jadi, dan secepatnya kita pindah ke sana ya cinta? Mama juga gak tahu kalau aku bangun rumah itu. Gak ada yang tahu, hanya kamu saja.”



“Arka juga gak tahu?”



“Enggak. Kamu ngapain bahas si Arka? Aku gak suka ya.” Bara merajuk. Cie buaya muara cemburu. Ahay!



“Gak boleh gitu dong cinta. Dia juga pernah nolong aku waktu itu.”



“Menolong gimana maksudnya? Memang kamu kenapa yang?”



“Waktu aku pulang dari rumah Mamamu, aku bertemu Arka di jalan. Lalu dia dengan senang hati memberiku tumpangan untuk mengantarku pulang ke kosan.”



“Maafkan aku, Kak. Eh. Cinta, maafkan aku. Aku memang laki-laki gak berguna. Seharusnya aku bisa menyusul kamu waktu itu.” Ucap Bara tertunduk lesu. Kayaknya ada yang menyesal nih. Eh.

__ADS_1



“Iya, gak apa-apa sayang. Sini, kamu biasanya juga maunya dekat terus sama aku.”



“Hu hu hu. Kakak!” Bara merengek layaknya seperti adik pada kakaknya. Udah mau jadi Ayah masih aja gak berubah. Hadeuh!



“Uuu sayangnya aku.” Ana memeluk Bara dan mengelus-elus rambutnya. Macam budak kecil dan Ibunya.



“Maafkan aku, Kak. Hu hu hu.” Rengeknya dalam pelukan Ana. Ya ampun si bayi bangkotan. Aya aya wae di dieu teh. Kumaha deui?



“Sudah cup cup cup. Kamu sudah mau jadi Ayah lho, Bar. Tapi masih gak berubah manja nya.” Yang diajak ngomong malah ke enakan sambil di elus-elus kepalanya.



Hadeu! Lama-lama author blender juga nih hp. Eh.



“Memang kalau sudah punya baby gak boleh di manja lagi ya?”



“Boleh kok, mau kamu dimanja kayak gimana juga bakal aku manja in.”



“Ya sudah, aku maunya tetap di manja. Everything and always has been.”



“Iya Bara sayang. Suami yang seperti bayi tapi sebentar lagi juga mau punya bayi.” Bara cengengesan mendengar ucapan Ana.



“Maaf ya Kak, aku selalu banyak permintaan sama Kakak. Eh, maksudnya cintaku.”



“Iya sayang, gak apa-apa. Aku ngerti kok. Hm, aku mau nanya sesuatu sama kamu, boleh?”



“Boleh, tanya apa?”



“Tentang manja nya kamu.”




“Hm, maaf kalau kamu sedikit tersinggung. Memangnya kamu dulu gak pernah di manja sama keluargamu? Terutama sama Mamamu gitu?” Sontak wajah Bara berubah menjadi sendu. Bulir bening tergenang di sudut matanya yang sedikit sipit.



“Maaf, aku gak bermaksud buat kamu sedih. Ya sudah gak perlu dijawab juga gak apa-apa kok.”



“Enggak kok cinta. Kamu kan sudah tanya, berarti aku harus jawab.” Ana tersenyum sesaat sambil mengelus wajah Bara yang tampan. Iya sih tampan, tapi sok imut. Huh!



“Aku dulu gak pernah di manja sama Mama, apalagi sama Papa. Dari kecil aku sudah sering di tinggal-tinggal sama mereka. Aku selalu di urus sama bibi dirumah. Kasih sayang bibi justru lebih besar dari pada kasih sayang mereka padaku. Mereka pun memperlakukanku layaknya seperti anak tiri. Selalu dimarahi, padahal kan aku anak satu-satunya. Apa aku bukan anak kandung mereka ya?”



Mendengar kejujuran Bara, membuat hati Ana terenyuh dan iba. Bulir bening luruh begitu saja dari sudut matanya.



“Maafkan aku Bara, aku gak tahu kisah hidupmu yang sebenarnya. Mungkin saja, orang tuamu begitu karena mencari nafkah untuk kamu juga.”



“Harta mereka tetap ada, meskipun mereka gak bekerja sekalipun. Karena perusahaan yang dijalankan oleh Papa sudah sejak lama di bangun. Sedari kakek saat masih muda dulu.



“Hm, begitu ya. Ya sudah kalo kamu mau manja-manja lagi sama aku, aku gak akan marah sekarang.” Seketika mata Bara berbinar kegirangan.



Author yakin si barbara punya rencana aneh.



“Beneran? Kamu serius cinta? Kamu janji gak akan nolak dan marah lagi?” Tanyanya meyakinkan.



“Iya Bara sayang. Suamiku yang tampan bak oppa korea.” Iya tapi otaknya mesum mulu. Hadeuh!



“Uh, manisnya Istriku yang cantik. Ehehe.” Tutur Bara sambil menampilkan senyum menyeringai.



Tuh kan, pasti pengin minta jatah. Duh jamal, tahu tempat kenapa. Ini rumah sakit ceu.

__ADS_1



“Kamu mau apa? Jangan aneh-aneh disini, Bar. Ini rumah sakit.” Ana sudah lebih dulu mewanti-wanti.



“Emangnya kenapa kalo rumah sakit? Kan bisa dikunci pintunya. Hehehehe.” Ucapnya santai sambil melangkah ke arah pintu dan menguncinya dari dalam.



“Bara! Jangan aneh-aneh kamu ah.”



“Sssstttt, kan tadi kamu bilang gak bakal marah dan nolak kalau aku mau manja-manja sama kamu.”



“Iya, tapi gak begitu juga Bara. Kamu mah gak pernah lihat situasi kalau mau begitu.” Ana mendengus kesal.



“Tapi hasrat kelelakianku gak bisa ditahan sayang. Aku mohon, ya? Ayolah sayang. Please!” Ucap Bara memohon. Semoga Ana gak kabulin permintaanya. Biar tahu rasa dia. Hahay!



“Bara, please! Kali ini aku yang memohon. Tolong jangan seperti itu, aku masih lemah dan ini rumah sakit.”



“Terus gimana ini kak? Aku sudah tidak tahan. Ah, tolong Kak! Aku mohon, lakukan untukku.”



“Aku harus apa Bara? Kamu gak pernah mau mengerti soal begituan.”



“Apa pun itu kak, yang penting hasratku tersalurkan.”



“Ngomong-ngomong soal hasrat, waktu kamu balik ke kosan malam itu dengan penampilan acak-acakan. Kamu melampiaskan hasratmu itu pada Farah kah?”



“Enggak, aku gak apa-apakan dia. Sebenarnya hasratku sudah gak bisa di tahan saat dia dan Mama kasih aku minuman yang udah dikasih obat perangsang. Makanya, aku menjambak-jambak rambut dan bajuku sendiri lalu kabur meloncat lewat jendela.”



“Huh, syukurlah kamu gak nyentuh dia.”



“Tapi aku langsung sentuh kamu kan? Karena efek obatnya masih terasa.”



~



Singkat cerita, pada akhirnya Ana pun terpaksa dibawa pulang oleh Bara. Meskipun kondisinya masih lemah, tapi sudah lebih baik daripada sebelumnya. Dengan terpaksa pula sang dokter menyetujui ide Bara untuk membawanya pulang. Sebab Ana tak ingin menuruti keinginan Bara yang ingin bercinta ditempat yang tak seharusnya. Dengan pilihan lain Bara memutuskan untuk membawanya pulang dan melakukan rawat jalan.



“Kamu memang tega ya, Bar.” Ucap Ana lemah yang sudah berada di dalam taxi online bersama dengan Bara disampingnya.



“Aku gak bisa menahan ini Kak. Aku harus bagaimana jadinya? Kakak mau aku jajan diluar? Tidur dengan wanita lain begitu?” Spontan Ana menampar pipi kanan Bara.



“Kok aku di tampar sih sayang?”



“Kamu tuh yang kenapa?! Aku masih lemah kayak gini tega-teganya kamu ngomong gitu sama aku.”



“Aku...” Ucapan Bara terpotong.



“Kamu mau tidur dengan wanita lain kan? Ayo silakan. Biar kamu bisa puas kan? Hanya itu aja yang ada di otak kamu. Pernah gak kamu mikirin kebahagiaan aku? Aku jauh dari orang tua. Mereka gak ada yang tahu kalau aku sudah menikah dan hamil saat ini. Mana tanggung jawabmu sebagai Suami?” Sontak Bara terkejut dengan ucapan Ana barusan. Ya, dia memang egois. Sudah sering Ana mengalah padanya. Terus terang dia pun juga bingung harus apa.



Bara menunduk lesu dan tak berani menatap Ana yang sedang emosi. Perlahan pandangan Ana melengos ke arah jendela mobil. Terdengar isak tangis kecil dari bibirnya. Bara merasa bersalah dengan ucapan dan tindakannya yang tadi. Sudah membuat Ana mengalami masalah yang rumit begini karena dirinya.


Dengan perasaan kacau Bara memberanikan diri memeluk Ana seerat mungkin. Ana diam tak mengeluarkan sepatah kata pun. Bara mencoba merayu agar Ana mau memaafkannya. Dengan lembut Bara mengecup bibir Ana. Tak peduli dengan sopir taxi online di kursi dengan yang sedari tadi menguping sambil menyetir.



“Ana Istriku, maafkan aku. Maafkan aku cinta, aku sudah salah dengan apa yang aku lakukan tadi. Aku gak bermaksud ingin tidur dengan wanita lain, aku hanya ingin tidur denganmu saja. Aku melakukan itu agar kamu luluh. Kamu gak ngerti masalah lelaki bagaimana jika menahan hasrat. Aku tak bisa tidur, dan selalu merasa gak enak. Baiklah, kalau kamu belum bisa menuruti permintaanku ini. Aku terpaksa harus berpuasa dulu.”



Panjang lebar Bara berucap. Tetap saja, Ana hanya diam membisu. Sesekali ia menyeka air matanya. Entahlah apa yang sedang dipikirkannya. Author pun tak tahu. Heuheu!



Di sepanjang perjalanan menuju tempat peristirahatan mereka. Lebih tepatnya kosan. Mereka hanya diam membisu. Tak ada yang memulai obrolan sedikit pun salah satu dari mereka. Terlebih lagi Bara yang terus merasa bersalah pada Ana. Tak sedikit pun ia melepas genggaman tangannya pada Ana. Tetap saja Ana tak merespons apa pun.



Duh sedih nyeu. Author ikutan mewek hu hu hu. Siapa suruh pikirannya nganu mulu si Bara. Eh.

__ADS_1


__ADS_2