Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 141


__ADS_3

“Arbi sayang... nggak boleh begitu, Nak.” Tutur Ana pada Arbi, seraya mengelus lembut pucuk kepala kecilnya. Arbi malah semakin memeluk Ana dengan sangat erat. Sementara Tasya, berdiri di sebelahnya sembari tertunduk sedu.


“Bunda tidak pernah mengajarkan Arbi bersikap begitu. Kan, Arbi sudah berbaikan dengan Tasya. Waktu itu Tasya bukannya sudah meminta maaf, ya kan?” Ujar Ana pada Arbi. Anak itu lantas mengangguk pelan.


Entah mengapa, sikap Arbi semakin manja. Sedikit-sedikit merajuk dan mudah mengambek tidak jelas. Hal itu biasa terjadi pada anak-anak. Karena emosional mereka sangat mudah terpengaruh pada hal-hal kecil. Terutama pada sesuatu yang mengganggu, atau pula membuatnya risih.


Mungkin, Arbi risih dengan kehadiran Tasya. Yang terus menerus mencoba mendekatinya. Padahal, awal perkenalan mereka pun Arbi sendiri yang menawarkan ice cream cup untuk Tasya.


Hati manusia memang susah ditebak. Dan mudah untuk berbalik. Dari yang suka, berubah benci. Dan yang berawal tidak menyukai, menjadi terus mengejar lalu mendekati.


“Arbi kenapa diam saja, sayang? Bagaimana kalau kita bertiga makan ice cream? Tasya mau?” ucap Ana menawarkan pada Tasya. Gadis itu malu-malu mengangguk mau.


Akhirnya, Ana mencoba menengahi keduanya. Menuntun serta menggandeng Arbi dan Tasya. Berjalan keluar dari dalam sekolah itu.


Dari depan gerbang sekolah, Ana melihat ke seberang jalan. Ada sebuah restoran cepat saji. Yang menyajikan ayam, burger, dan juga menu lainnya.


“Anak-anak, kita makan disana yuk! Di restoran itu juga ada ice cream. Sekalian makan siang, karena sekarang sudah pukul 11. Yuk!”


Arbi dan Tasya hanya diam. Namun keduanya tampak merespons Ana dengan anggukan kecil. Ana menggandeng mereka begitu kuat. Saat ingin menyeberangi jalan raya itu. Namun tiba-tuba...


Sebuah tangan kekar menahan Ana.


“Tunggu, kalian mau kemana?”


Ana, Arbi, dan Tasya seketika menghentikan langkah kaki mereka. Dan menoleh ke arah lelaki itu.


“Kakak!” panggil Tasya. Gadis itu menghamburkan tubuhnya memeluk sosok lelaki yang sempat menepis tangan Ana.


“Tasya, kalian mau kemana? Kok tidak menunggu Kakak dulu?” ujarnya lagi bertanya pada Tasya.


“Kakak masih ingat, tidak? Ini Bunda nya Arbi. Yang waktu itu bertemu kita di taman kota.” Sanggah Tasya.


“Iya, Kakak ingat. Tapi kalian mau kemana?”

__ADS_1


“Maaf, tadi saya ingin mengajak Tasya untuk makan bersama kami di restoran itu. Kebetulan sekali sudah jam makan siang. Jadi sekalian saja mengajak Tasya kesana.” Sambung Ana menjawab.


Masih ingat dengan Zeon? Kakak lelakinya Tasya. Yang sewaktu itu menjemputnya di taman kota. Ya, ternyata mereka bertemu lagi di sekolah barunya Arbi.


Takdir memang selalu di pertemukan pada tempat yang tidak terduga.


“Oh, saya pikir kalian mau pergi kemana.” Sahut Zeon membalas perkataan Ana.


“Boleh ya, Kak? Aku juga lapar sekali. Bunda Ana ingin mengajakku makan ice cream juga katanya.” Pinta Tasya memohon pada Zeon.


Tanpa berpikir lagi, Zeon lantas mengangguk pelan. Seraya tersenyum ramah menatap adik perempuannya. Lalu beralih menatap Ana serta Arbi.


Sosok lelaki muda, dengan postur tinggi 185 sentimeter. Mempunyai skin tone yang putih bersih seperti Bara. Bedanya, Zeon memiliki ciri alis tebal dan lebat.


“Baiklah, tapi tidak lama, ya?” balas Zeon pada Tasya.


“Asyik! Terima kasih Kakak!” ucap Tasya bersorak ria.


Mereka berempat berjalan menyeberangi jalan raya itu. Dan berhentilah di sebuah restoran cepat saji berbahan dasar ayam. Tempat makan yang biasa di gemari anak-anak.


“Kakak, aku mau yang rasa strawberry!” Tasya tak mau kalah pada Arbi. Mengatakannya pada Zeon.


“Arbi harus makan nasi juga ya, sayang.” Bisik Ana pada Arbi. Anak itu lantas mengangguk pelan.


“Tapi ice cream nya dua ya, Bunda?” balas Arbi berbisik di telinga Ana.


Ana terkekeh geli dengan tingkah imut Arbi yang meniru sikapnya barusan.


“Arbi dan Bunda Ana bisik-bisikan apa?” tanya Tasya tiba-tiba.


Tampaknya, gadis kecil itu menyadari gerak-gerik Ana dan Arbi.


“Kenapa? Ini rahasiaku dan Bundaku saja yang boleh tahu.” Cerca Arbi tak suka, bila Tasya ikut campur.

__ADS_1


“Tasya... lain kali tidak boleh begitu, ya.” Tukas Zeon seraya mengelus rambut Tasya.


“Itu namanya tidak sopan. Kamu paham kan, sekarang?” ujarnya lagi. Akhirnya, Tasya mengangguk pelan. Dengan wajah cemberut dan bibir yang mengerucut ke depan.


Mereka berempat makan di satu meja yang sama. Arbi begitu lahap di suapi Ana. Seraya sesekali menyuapi ice cream ke dalam mulutnya. Sementara Tasya makan sendiri dengan jari jemari kecilnya. Sesekali, gadis itu melihat Arbi yang tampak manja pada Ana.


Dalam hati, mungkin saja Tasha juga menginginkan hal itu.


“Tasya juga mau? Bunda Ana suapi.” Ujar Ana menawarkan.


Rasa peka Ana pada hal-ha kecil begitu mudah dirasakannya. Melalui bahasa tubuh, yang orang lain tampakkan. Atau pula dari raut serta ekspresi wajah. Seperti yang di perlihatkan Tasya padanya.


Gadis kecil itu lantas mengangguk cepat, dengan wajah berbinar ceria. Menatap Ana begitu suka cita. Karena menawarkan untuk menyuapinya makan. Sama halnya yang Arbi lakukan pada Bunda nya.


Tasya begitu lahap mengunyah nasi dan Ayam yang di suapi dari tangan Ana langsung. Tanpa sadar, mata Arbi menatap tajam Tasya. Tidak suka bila Tasya juga mendapat perhatian dari Bunda nya.


"Bunda kenapa menyuapi dia juga? Cukup aku saja yang Bunda suapi! Apa Bunda mengerti?" Tukas Arbi tak suka.


Zeon yang melihat itu lantas menggeleng pelan, seraya tersenyum kecil menatap Arbi dan Tasya secara bersamaan.


"Maaf ya, Kak. Tasya bertindak berlebihan hari ini. Jadi membuat Arbi merasa tidak nyaman atas kehadiran kami disini." Tutur Zeon tak enak pada Arbi.


"Eh, t-tidak apa-apa. Tasya juga tidak salah, kok. Aku hanya menyuapinya saja sebentar. Tapi ternyata Arbi kurang menyukai itu." Balas Ana.


"Tasya memang tidak pernah disuapi Mama nya saat makan. Dia terbiasa makan sendirian sejak balita. Mungkin dia jadi penasaran, karena melihat Arbi yang masih di suapi oleh Bunda nya." Celoteh Zeon menceritakan kisah Tasya.


Dibalik keceriaan di wajah imut Tasya, rupanya menyimpan banyak hal yang tidak terduga-duga. Tasya yang di kira begitu manja pada orang tuanya, ternyata dia anak kecil yang punya kemandirian cukup tinggi. Hati Ana seketika terenyuh mendengar cerita itu dari Zeon, Kakak lelakinya sendiri.


"Sebenarnya, Arbi pun juga mandiri. Kami pernah berpisah dengan waktu yang cukup lama saat itu. Makanya, saya ingin memanjakan Arbi begitu dalam lagi. Agar ia bisa menikmati kebersamaan ini bersama Bunda nya." Tutur Ana. Teringat akan perpisahannya pada Arbi. Sewaktu belum lama ia melahirka malaikat kecil itu. Tuan Brama lalu datang membawa Arbi dengan paksa. Setelah menculik Bara darinya.


Bukankah, setiap orang punya kisahnya tersendiri? Baik Arbi, maupun Tasya. Ternyata mereka hampir sama. Bedanya, mungkin saja Tasya tidak mengalami hal seberat Arbi saat lalu.


Karena nya, pria kecil itu sangat manja pada Ana dan Bara.

__ADS_1


Arbi, hebat!


__ADS_2