
"Apa ini apartemen yang kau tinggali bersama dengan putraku?" Tanya Nyonya Kertajaya pada Ana. Setelah memasuki ke dalam apartemen milik Ana dan juga Bara.
"Iya, kami sudah lama tinggal di apartemen ini. Dan sekarang, Arbi juga akan tinggal disini bersama kami." Jawab Ana seraya tersenyum kecil.
"Hm, memang sudah sepantasnya Arbi tinggal ikut dengan Ayah dan Ibunya. Maafkan atas sikapku dan Suamiku selama ini padamu, Nak. Kami begitu jahat pada menantu baik sepertimu." Ucap Nyonya Kertajaya seraya tertunduk sedu. Ana mengusap pundaknya.
"Ma, aku kan sudah katakan, aku sudah memaafkan Mama dan Ayah mertua. Mama tidak perlu begini juga, kan? Aku jadi tidak enak." Balas Ana dengan wajah gelisahnya. Nyonya Kertajaya tersenyum kecil, lalu mengangguk paham.
"Ayo, Ma, kita duduk sebentar. Mama mau minum apa? Biar aku buatkan sebentar."
"Eh, tidak usah Nak. Kamu kan sedang hamil, jangan melakukan apa-apa. Sudah kamu disini saja. Biar Mama sendiri yang buatkan. Kamu juga sekalian? Mau Mama buatkan apa?"
"Eh, M-mama tidak perlu, a-aku tidak haus juga, Ma." Ana merasa tidak enak.
'Duh, kok jadi begini sih? Aku kan jadi tidak enak. Mama kan tamu, disini. Seharusnya aku yang membuatkan minuman dan makanan untuknya' gumam Ana dalam hati.
"Bunda, Nenek kapan sih, pulangnya?" Bisik Arbi pada Ana.
"Arbi, gak boleh gitu." Jawab Ana pelan. Takut bila perkataan Arbi di dengar oleh Ibu mertuanya. Karena baru saja, ia bisa menjalin hubungan baik dengan Nyonya Kertajaya. Ana tidak ingin merusak suasana bahagia ini.
"Maaf, Bunda." Ujar Arbi seraya tertunduk sedu.
"Maaf kenapa sayang? Arbi berbuat salah?" Tanya Nyonya Kertajaya yang tiba-tiba datang dari arah dapur sambil membawa sebuah nampan yang berisi minuman, serta camilan di kedua tangannya.
"Eh, ti-tidak, Ma. Arbi tadi ingin meminta sesuatu. Tapi aku rasa itu tidak begitu penting. Jadi, aku menolak permintaannya." Balas Ana beralasan.
"Oalah, Arbi mau minta sesuatu? Arbi mau apa? Biar Nenek belikan. Ayo sini, dekat Nenek!" Ucapnya sembari melambai-lambaikan tangannya. Mengisyaratkan Arbi agar menghampirinya.
Pandangan Arbi beralih menatap Ana. Mengisyaratkan apakah boleh? Ana mengangguk cepat seraya tersenyum mengembang. Dan mengelus lembut wajah mungilnya. Sontak wajah Arbi berubah ceria seketika.
Pelan-pelan langkah kaki kecilnya berjalan menghampiri sang Nenek.
"Arbi mau apa? Nenek akan penuhi permintaan Arbi. Ayo coba, katakan semuanya pada Nenek." Mata Arbi lagi-lagi melihat Ana. Mungkinkah anak itu merasa bersalah. Dengan ucapannya tadi.
"Arbi mau jalan-jalan, lalu makan ice cream cokelat." Tutur Arbi. Wajah Ana sumringah mendengarnya.
'Syukurlah, Arbi bisa mengerti situasi ini. Sebaiknya aku harus membuat Arbi agar merubah pandangannya terhadap Neneknya. Karena sepertinya, Ibu mertua begitu menyayangi Arbi' gumam Ana dalam hati.
__ADS_1
"Arbi mau jalan-jalan? Kemana? Nenek akan siapkan tiketnya untuk Arbi." Ujar Nyonya Kertajaya. Mata Arbi terlihat berbinar mendengarnya. Tampak antusias dan tidak sabar.
Meskipun awalnya, Ana hanya beralasan. Tapi rupanya Arbi tidak main-main dengan permintaannya. Ana terharu melihat kedekatan antara Arbi dengan sang Nenek. Yang sudah kembali membaik. Karena yang Ana ingin, selalu berhubungan baik dengan semuanya.
.........
"Tante darimana? Kenapa baru pulang sekarang? Lalu, bagaimana 0pembicaraannya dengan wanita penggoda itu?!" Tanya Sofie tiba-tiba pada Nyonya Kertajaya. Yang baru saja pulang dari apartemen Ana. Dengan wajah sumringahnya. Karena dari tadi, Nyonya Kertajaya tampak tidak berhenti tersenyum serta tertawa kecil. Hal itu justru malah membuat Sofie curiga padanya.
"Eh, aku habis bertemu dengan cucuku. Wanita penggoda? Siapa yang kamu maksud? Ana?" Jawab Nyonya Kertajaya bingung.
"Ya, siapa lagi memangnya? Gara-gara dia, pertunanganku gagal dengan Bara!" Geram Sofie.
"Aih, kamu memangnya mau apalagi Sofie? Bara sudah berkeluarga. Kamu kan masih muda dan cantik. Lelaki mana yang tidak mau padamu?"
"Bara! Bara tidak mau padaku!"
"Nak, Bara sudah berkeluarga. Wajar kalau dia menolak. Lagipula, Istrinya sekarang kan sedang hamil. Kamu tahu itu kan?"
"Oh, jadi sekarang Tante membela wanita itu?! Iya?! Apa Tante lupa? Siapa aku ini? Aku, Sofie Arsena! Aku bisa melakukan apapun yang aku mau! Bahkan aku juga bisa menghancurkan Kertajaya Group, meski dalam sekejap mata." Ujar Sofie mengancam. Mendadak Nyonya Kertajaya memegang dadanya. Matanya tercengang kaget, saat mendengar ancaman yang di lontarkan Sofie padanya.
"S-Sofie, k-kamu?!" Tutur Nyonya Kertajaya terbata.
"A-aku t-tidak bisa, Nak. Bara dan Ana itu sudah berkeluarga. Itu sama saja aku menghancurkan keluarga mereka. Terlebih lagi pada cucuku, Arbi. Memang, Kertajaya sudah banyak berhutang jasa pada keluargamu, Arsena Group. Tapi tidakkah ada cara lain, untuk membalasnya?"
"Tidak! Aku hanya menginginkan Bara untuk jadi Suamiku! Tidak ada yang lain!
"Soal itu, maaf, aku tidak bisa membantumu Sofie. Aku takut bila Bara jadi semakin membenciku. Karena hanya dia yang aku punya sekarang." Jawaban Nyonya Kertajaya justru menambah Sofie murka. Dengan berani, ia mengambil sebuah guci yang terpajang di ruangan itu.
PRANG!
Hal itu sontak membuat semua pelayan datang. Karena mendengar suara pecahan yang dibuat oleh Sofie. Suasana di rumah utama menjadi kacau. Nyonya Kertajaya jatuh duduk dan pingsan.
Semua pelayan yang datang tercengang kaget. Saat melihat Nyonya besar mereka sudah terjatuh dan tak sadarkan diri. Sofie justru pergi begitu saja. Tidak peduli pada wanita paruh baya itu.
"Astaga, Nyonya besar! Cepat bantu angkat!"
"Hey ayo telepon asisten John!"
__ADS_1
"Eh ini bawa dulu Nyonya besar ke rumah sakit."
"Tidak, tidak, Nyonya dirawat dirumah saja. Aku akan menghubungi asisten John. Untuk memanggil dokter pribadi keluarga."
Di kantor Kertajaya Group, Bara dan Pak John tengah berada di dalam ruang rapat penting. Yang sudah ada beberapa investor. Serta para pimpinan direksi.
DRRT.. DRRT.. DRRT
Suara ponsel Pak John berdering. Membuat rapat penting mereka saat ini jadi agak terganggu.
"Maaf semuanya, saya permisi untuk angkat telepon sebentar." Ucap Pak John.
Detik kemudian, Pak John masuk lagi dengan napas yang tergesa-gesa.
"Tuan muda, Nyonya besar jatuh pingsan!" Bisik Pak John pada Bara. Hal itu sontak membuat Bara kaget.
"Rapat ditunda, saya permisi!" Ujar Bara sembari berdiri dan pamit pergi pada semua orang yang ada di dalam ruangan rapat itu.
"Maaf semuanya, rapat akan dilanjutkan kembali besok." Pak John berujar.
"Loh, kok begini?!"
"Apa-apaan ini?"
"Dasar tidak konsisten!"
"Huuu! Buang-buang waktu saja!"
Dan masih banyak lagi yang tidak setuju dengan keputusan Bara. Sebagai direktur utama sekaligus pimpinan dari Kertajaya Group.
Bara dan Pak John pergi ke rumah utama. Setelah menunda rapat penting mereka. Pak John juga sudah menghubungi dokter pribadi keluarga. Untuk bisa langsung memeriksa kondisi kesehatan Nyonya besar.
"Bagaimana ceritanya? Kenapa Mama tiba-tiba pingsan?" Tanya Bara saat sudah berada di perjalanan bersama dengan Pak John yang tengah fokus menyetir mobil.
"Saya belum tahu pasti Tuan muda. Para pelayan dirumah belum menjelaskan semuanya. Hanya memberitahu bahwa Nyonya besar pingsan, dan meminta saya untuk menelepon dokter pribadi keluarga."
"Dimana wanita itu? Apa dia masih tinggal dirumah utama?"
__ADS_1
"Nona Sofie maksud Tuan?"
"Lalu? Siapa lagi? Bukankah dia yang tinggal disana juga? Pasti ada hubungannya dengan dia." Gumam Bara. Sementara Pak John tak menjawab lagi. Ia harus berfokus pada setir mobil yang sedang ia pegang sekarang.