Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 149


__ADS_3

Liburan ke Paris telah selesai. Tepat sudah lewat dua hari yang lalu. Ana dan Bara kembali ke tanah air tercinta. Membawa segudang oleh-oleh yang telah di borong Ana.


Bukan hanya itu, namun juga beberapa memories yang menjadi kesan terindah bagi keluarga kecil mereka. Yang selalu membangun chemistry tersendiri. Agar kian harmonis serta hangat.


Untuk menjadi keluarga cemara seutuhnya.


Ana hampir melupakan pesta ulang tahun Arbi yang sempat gagal untuk di rayakan. Karena prosesi melahirkan, serta sibuknya mengurus Ara dan Arez. Membuatnya lalai terhadap janjinya pada malaikat kecil itu.


Suasana sore di halaman belakang, rumah utama. Ana dan Bara tengah menikmati keindahan senja. Duduk di sebuah tempat santai. Sambil meminum secangkir teh hangat serta beberapa camilan disana.


Terlihat, Ana tengah menggenggam sesuatu di kedua tangan nya. Seperti sebuah note kecil dan bolpen.


"Tidak biasanya, kamu bawa note kecil begini, sayang." Ujar Bara saat menyadari Ana memegangi benda itu di tangan nya. "Mau menulis apa, memangnya?" Tanya nya lagi.


"Journal masa depan kita." Jawab Ana.


"Journal masa depan kita?" Bara mengulangi perkataan Ana.


Ana lantas mengangguk pelan.


"Bagaimana dengan kisah kita selanjutnya, lalu dengan sekolah Arbi, dan Ara, Arez. Kemudian bisnis perusahaan BARNA Corp. Ke depan nya harus bagaimana dan seperti apa. Aku sempat bingung untuk memikirkan semua itu. Makanya, aku bawa ini. Dan meminta pendapat kamu untuk itu. Oh, satu lagi. Ulang tahun Arbi! Aku hampir melupakan itu, sayang." Celoteh Ana menjelaskan satu persatu rencana nya pada Bara.


Bara terlihat memandangi wajah Ana dengan senyum menyeringai nya. Entah dia mendengarkan atau tidak. Tapi sepertinya tidak.


"Sayang, kamu dengar aku tidak, sih?" Tanya Ana sembari mendengus sebal.


Bara justru terkekeh melihat Ana yang sedang marah.


"Iya, dengar sayang. Aku dengar semuanya." Tutur Bara lembut.


"Coba di jelaskan lagi! Semua yang aku katakan tadi." Pinta Ana.


"Ulang tahun Arbi. Kamu mau buat party untuk nya, kan?"


"Itu di bagian terakhir. Yang atasnya, kamu ingat tidak?"


"Kisah cinta kita selanjutnya? Iya, kan?" Gumam Bara. Suaranya terdengar berbeda dengan yang sebelumnya.


Wajah Ana sontak berubah memerah. Ia tampak mengalihkan pandangan nya. Tak berani menatap Bara seperti tadi.


"Kok tidak berani menatapku? Kesini, sayang." Ucap Bara seraya menyentuh dagu Ana. Memutarnya menjadi menatapnya nanar.


"Wajah kamu merah, kamu sakit?" Ujar Bara bertanya lagi. Tangan nya terangkat menyentuh dahi Ana.


Ana menggeleng pelan.


"A-aku baik kok, sayang." Jawab Ana.


"Agak hangat. Ayo, aku gendong!" Ucap Bara tiba-tiba. Membungkukkan tubuhnya.


Esetegeh, si Bara.


"Aku nggak apa-apa, Bara. Kamu ngapain kayak begitu?" Gumam Ana bertanya.

__ADS_1


"Mau gendong kamu. Udah, ayo naik! Aku hitung sampai tiga. Satu... dua..." tutur Bara seraya mulai menghitung.


"Nanti kalau dilihat sama Pak John dan pelayan yang lain, bagaimana? Mereka pasti akan berpikir yang tidak-tidak, Bara." Keluh Ana.


"Nggak akan, sayang. Mereka kan, aku yang menggaji. Kalau mereka berani bergosip tentangmu, akan ku pecat."


"Ya jangan, kasihan kan mereka. Sudah bekerja lama di rumah ini."


"Kalau begitu ayo, naik. Kita main gendong-gendongan. Kan, aku belum pernah gendong kamu kayak aku gendong Arbi." Ajak Bara. Tubuhnya sudah siap untuk membawa Ana diatas punggung nya.


"Sayang..." gumam Ana ragu.


"Apa boleh buat. Kamu nggak mau naik ke punggung aku. Jadi aku..." ujar Bara terpotong. Tangannya langsung mengangkat tubuh Ana. Menggendong nya ala bridal style.


"Kyaaaaa! Bara! Turunkan aku! Malu ih, Bara! Aku mau turun!" Gerutu Ana berteriak kecil.


Bara tidak menggubris perkataan Ana. Kaki nya terus berjalan cepat memasuki ke dalam rumah utama.


"Kamu gendong aku tapi jalan nya cepat banget. Memangnya aku tidak berat, ya?" Tanya Ana bingung.


"Berat. Makanya aku lari, kan."


PLAK!


Ana memukul dada bidang Bara pelan.


"Awh, sakit sayang." Keluh Bara.


"Kamu bilang aku berat. Makanya aku pukul!" Gerutu Ana mendengus sebal.


Karena itu Bara, berhati-hatilah!


Eh.


"Aku kan belum selesai, ngomong nya. Maksud aku... berat cinta nya." Ujar Bara sembari menurunkan Ana ke ranjang size milik nya.


Baru beberapa detik menggendong dari taman belakang, sekarang sudah sampai di kamar.


"Alasan aja kamu tuh." Gumam Ana.


"Buktinya aku gendong kamu cepat kan? Sampai ke kamar nya."


Ana lantas mengerucutkan bibir nya ke depan. Wajahnya berpaling dan enggan menatap lelaki yang ada di hadapan nya sekarang.


Cup!


Sebuah kecupan di daratkan Bara pada kening Ana.


"Maaf, aku tidak bermaksud untuk menyakiti hati kamu, An." Tutur Bara lagi. Sambil mengelus lembut wajah cantik Ana.


Tiba-tiba Ana mengubah ekspresi wajahnya menjadi menyeringai.


"Eh, udah baikkan? Aku di maafin?"

__ADS_1


"Siapa yang marah? Aku nggak marah, kok." Gumam Ana.


Loh tadi?


"Barusan kamu..." ucap Bara terpotong.


"Sssttt... malam ini Arbi tidur sama kita, ya. Ah, tubuhku mulai gerah. Mau mandi dulu. Kamu jaga Ara dan Arez dulu." Ucap Ana tiba-tiba.


Mendengar Ana berkata begitu, Bara seperti tak terima. Seketika tangannya menahan Ana untuk pergi beranjak dari ranjang itu.


HAP!


Bara mendekapnya dari belakang. Kedua tangan nya melingkar memeluk Ana.


"Sayang... aku janji nggak akan mengatakan berat badanmu lagi. Tolong, urungkan semua kata-katamu barusan." Ujar Bara memohon.


"Kenapa? Arbi kan, sudah jarang sekali tidur bertiga sama kita. Kamu seharusnya mengalah, dong."


"Iya, aku akan mengalah. Tapi... aku harus ikut kamu juga." Kata Bara.


"Kemana? Aku nggak pergi kemana-mana." Tanya Ana kebingungan.


Ucapan Bara seperti berada di dalam labirin.


Penuh teka-teki!


"Ke sana." Jawab Bara seraya menunjuk ke arah kamar mandi.


"Jangan menjauh dariku, An. Aku tidak tahu kalau kamu se-sensitif itu mengenai berat badan. Maafkan aku, sayang." Tutur Bara sedu.


Di balik tubuh Ana yang membelakangi Bara. Gurat senyum Ana tampak mengukir kecil. Seperti orang yang tengah menahan tawa.


"Aku nggak lagi marah, deh. Kamu kenapa minta maaf melulu sih?" Gumam Ana.


"Bohong! Aku tahu kalau kamu diam nya kamu tuh, tandanya marah sama aku."


Bara semakin mengeratkan pelukannya. Tidak membiarkan Ana pergi. Sebelum dirinya mendapatkan maaf dari peri angel nya.


"Peka juga ya, kamu." Ana terkekeh kecil. Seraya membalikkan tubuhnya menghadap Bara.


"Aku tidak marah, sayang." Lanjut Ana berucap. Sembari mengelus lembut wajah Bara.


"Terus, kalau bukan marah, apa?" Balas Bara sambil menenggelamkan kepalanya di pelukan Ana.


"Manja nya kamu tetap nggak berubah, ya. Masih sama seperti dulu. Saat empat tahun yang lalu." Gumam Ana.


"Kalau bukan kamu, aku manja nya ke siapa? Ke Istri orang?"


"Apaan, sih! Nggak ada Istri orang! Aku Istri nya!" Sensi Ana. Sambil mengeratkan dekapan nya memeluk Bara. Hingga membuat lelaki itu hampir tidak bisa bernapas lega.


"S-sayang... n-napasku!"


Mental kocheng oyen. Di luar sok galak. Tapi ketika sama Istri berubah manja.

__ADS_1


Eh, buset srepet... pet... pet.


__ADS_2