Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 133


__ADS_3

Kata orang, rumah tangga itu akan berubah. Setelah hadirnya anak kedua. Suasana harmonis antara kedua pasangan juga memudar.


Tapi kenyataan nya hal itu tidak berlaku pada Ana maupun Bara. Cinta mereka abadi. Tak terhitung jumlahnya. Karena perasaan mereka akan terus bertambah, dan selalu.


Bosan dan jenuh, itu wajar. Bila hal itu terjadi pada setiap pasangan yang sudah lama menikah. Tapi bukan berarti bisa melampiaskan nya pada orang lain. Dan memilih selingkuh, sebagai jalan keluar.


Salah, itu salah!


Bukan pula mencari celah, agar tidak diketahui oleh pasangan sendiri karena telah bermain api. Karena dalam bentuk apa pun, serta alasan apa pun, perselingkuhan itu tidak dibenarkan.


Membuat perencanaan baru mengenai masa depan selanjutnya. Dan berusaha meningkatkan rasa cinta diantara keduanya. Bukankah seharusnya seperti itu?


Dari Bara, kita belajar. Untuk jadi orang yang konsisten dan komitmen terhadap suatu hal. Jatuh cinta, menikah, dan setia. Bukan perkara yang mudah untuk dilakukan setiap orang.


Berbagai rintangan yang dilakukan Bara. Demi mempertahankan rumah tangganya pada Ana. Darinya, kita tentu belajar banyak hal. Seorang lelaki berusia belia. Tapi punya segudang ilmu dan pemahaman yang luar biasa.


Bagaimana cara memuliakan wanita, dan membahagiakan wanita. Bara punya caranya tersendiri. Mencintai Ana dengan seluruh jiwa serta raga nya.


Kedua mata dan hatinya, hanya untuk Ana seorang. Tak ada yang kedua, atau pula lainnya. Karena cintanya, adalah cinta yang sebenarnya.


Cinta sejati.


________


Sinar mentari kala pagi ini, berhasil masuk melalui celah jendela. Ke salah satu kamar di rumah utama. Cahayanya begitu bersinar. Mengenai wajah putih cantik Ana.


Seseorang lainnya menatapnya dengan penuh cinta. Dalam-dalam, ia memandanginya secara keseluruhan. Rambut panjang Ana yang berwarna cokelat keemasan tergerai cantik. Di atas bantal itu.


Kedua mata yang masih terpejam, tak sadar akan dua mata lain. Yang tengah memperhatikan.


“Sayang... kamu cantik banget, sih.” Gumam Bara lembut.


Sebelah tangannya terangkat, mengelus wajah cantik Ana. Namun, peri cantik itu masih berada dalam alam bawah sadarnya.


“Beruntungnya aku, yang lebih dulu menemukanmu. Kalau tidak, kemungkinan juga aku bakalan seperti Arka. Yang nggak pernah sadar dan terus mengejar kamu.” Ucapnya lagi, dengan samar-samar berbisik pelan.


“Aku nggak tahu kenapa, An. Aku bisa sesayang itu ke kamu. Sayang...... banget. Bukan karena cantik wajahmu juga. Mungkin karena hati kamu, yang terlalu baik. Makanya, aku jadi cinta banget.” Lanjut Bara, berujar.


Cup!


Bara mengecupi keseluruhan wajah Ana diam-diam. Namun, Ana tak juga bergeming. Respons dari tubuhnya hanya sedikit menggeliat. Kedua mata Ana terpejam begitu kuat.


Kemungkinan besar, Ana begitu kelelahan. Hingga tak ada waktu lain lagi selain tidur.


“Sayang... Ana sayang... kamu dengar suaraku, tidak?” bisik Bara di telinga Ana.


“Engh... sa... yang..”


Ana mengigau.


“Kamu mengigau ya, sayang? Kok gemas, sih! Sayangku ini...” tutur Bara lembut. Tangannya menyeka anak rambut yang berantakan di dahi Ana.


Samar-samar, mata Ana perlahan terbuka. Mendapati sosok Bara di atas wajahnya. Gurat senyum Ana terukir manis pada bibirnya. Melihat Suaminya ada bersamanya sekarang.

__ADS_1


Tangan putihnya terangkat, menyentuh wajah tampan Bara. Apakah ia nyata atau tidak.


“Ini... kamu, kan? Sayang...” tanya Ana spontan.


Bara mengangguk seraya menangkup pergelangan tangan Ana. Mengecupnya beberapa kali kecupan. Dan di letakkan ke wajah tampan milknya.


“Iya... ini aku, sayang. Memangnya kamu kira aku siapa? Arka?” gerutu Bara, mendengus sebal.


Sontak, Ana langsung mengubah posisinya menjadi duduk. Dan saling berhadap-hadapan satu sama lainnya.


“Enggak, maksud aku... kamu nggak kerja? Ini sudah 40 hari lewat loh, sayang.”


“Baru juga lewa 2 hari, kok. Kamu nggak suka, ya? Kalau aku di dekatmu terus-menerus?” Bara mengerucutkan bibirnya ke depan.


“Itu kan, kamu yang bilang. Aku senang, kok. Tapi... perusahaan keluargamu sekarang membutuhkan kamu, sayang.” Balas Ana sembari memeluk Bara.


Cup!


Sebuah kecupan di daratkan Bara pada kening Ana. Keduanya tampak memeluk mesra satu sama lain. Dan kini, malah Bara yang berbaring di pangkuan Ana.


“Aku masih betah berada disini, sama kamu. Kalau aku sudah kembali ke perusahaan, aku jadi jarang melihatmu begini... sayang.” Ujar Bara sedu.


Elusan tangan halus Ana mengusap rambut hitam Bara. Membuat sang empu merasakan kenyamanan dan ingin berlama-lama bersama dengan Ana.


“Masih bisa, kok. Pagi, sore, dan malam. Kamu bisa sepuasnya melihatku dirumah.”


“Kamu sepertinya mulai betah, ya? Tinggal dirumah utama. Aku senang, deh.” Sanggah Bara. Sembari menampilkan senyum nya yang mengembang.


“Iya, senang. Disini tempatnya lebih luas dibandingkan apartemen kita. Aku bisa piknik juga di halaman depan, atau pun belakang. Ada kolam ikan, Arbi jadi suka bermain air sekarang. Banyak para pelayan, yang buat suasana rumah ini jadi begitu ramai. Kalau di apartemen, aku sendirian.” Celoteh Ana.


“Hm... mau, sih. Tapi, kedua orang tuaku ingin menjenguk kesini. Apa sebaiknya kita kembali saja, ke apartemen? Bapak sama Ibu rindu sama Arbi.” Tutur Ana memberitahu Bara.


Setiap bulan, Ana selalu menyempatkan dirinya untuk menghubungi kedua Bu Ayu dan Pak Ali yang berada di kampung. Yakni di provinsi kota Jawa Timur. Tak lupa, mengirimkan uang juga untuk mereka.


Dengan berbaik hati, Bara mengizinkan itu. Namun, Bara juga membatasi nya.


“Boleh, kamu mau mengirimkan uang untuk mereka. Tapi, lebih utamakan diri kamu dulu. Kebutuhan kamu juga.”


Ucap Bara kala itu.


“Mereka mau kesini kapan?” tanya Bara. Kembali pada topik yang tadi.


“Minggu ini.”


“Lima hari lagi, berarti.”


Ana lantas mengangguk pelan.


“Boleh, mereka boleh kesini. Sekalian juga berkenalan dengan Mamaku.” Bara menyetujui.


Wajah Ana sontak berbinar ceria.


“Benaran, boleh? Nanti, kalau Mama kamu nggak suka orang tuaku, bagaimana? Aku jadi khawatir.” Ekspresi Ana berubah sedu lagi.

__ADS_1


“Nggak akan ada apa-apa kok, sayang. Mamaku juga gak akan ikut campur lagi masalah rumah tangga kita.” Bara berusaha menenangkan.


Bara lantas mengubah posisinya menjadi duduk. Tangan kekarnya menyentuh wajah cantik Ana. Dan...


Cup!


Bara mengecup lembut bibir manis Ana. Perlahan lalu berubah menjadi sebuah ******* kecil.


“Kamu dan aku, sudah jadi kita. Mama mau memisahkan dengan cara apa pun, itu nggak akan mempan, sayang. Pak John mendukungku. Ada Arka juga. Jadi, kamu gak perlu khawatirkan apa-apa lagi, ya?” sambung Bara.


Ana lantas mengangguk pelan. Gurat senyumnya mengukir di bibir nya. Memandang itu, Bara jadi tersenyum menyeringai.


“Loh, kamu ternyata nggak pakai baju ya, sayang?” Ana baru sadar, setelah melihat roti sobek di perut Bara yang berbentuk itu


“He he, kamu baru sadar, ya? Aku memang begini kalau tidur, sayang. Gerah, soalnya.” Jawab Bara.


“Se panas itu kah, sayang? Padahal disini pakai AC, loh.”


“Iya, lebih berasa AC nya. Kalau aku nggak pakai baju.”


Ana lalu celingukan melihat suasana kamar Bara. Baru ini, Ana memperhatikan ruangan kamar yang ia tempati se intens ini.


“Kamar kamu... luas juga ya, ternyata. Ada alat musik juga. Kamu suka main piano?” Tanya Ana penasaran. Setelah pandangannya beralih pada sebuah piano. Yang berdiri di dekat rak buku-buku itu.


“Huh, lagi-lagi kamu baru sadar, ya?” Bara mendengus sebal. Lantaran, Ana tidak begitu peka.


“Maaf...” tutur Ana sedu.


“Kenapa minta maaf? Sayangku ini kan, tidak salah.” Sanggah Bara. Seraya mengecup lembut pergelangan tangan Ana.


HAP!


Ana memeluk Bara dengan sangat erat. Hingga tak ingin melepaskannya begitu saja.


“Kamu mau coba main piano lagi kah, sayang?” tanya Ana tiba-tiba.


“Mau dengar?”


Ana lantas mengangguk cepat.




Apakah permainan piano Bara bisa membuat Ana terpukau?



Bermain saja belum, bagaimana terpukau  nya?



Eh.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2