
"Dasar tidak berguna! Menjaga satu orang saja kalian tidak bisa! Apa kalian sudah bosan hidup?! Cepat cari dia sampai ketemu!" umpat Tuan besar.
Para pengawal serta pelayan di kediaman Kertajaya, semuanya kena kemarahannya. Tak ada yang berani berbicara satu orang pun. Semuanya tampak diam dan menjalankan tugasnya masing-masing.
Farah yang berada di rumah itu merasa murka. Ia muak dengan kelakuan Bara. Sudah dua kali dia lagi-lagi gagal menikah dengan pujaan hatinya. Lebih tepatnya sang mantan kekasih.
Dirinya seperti kena tipuan oleh keluarga Kertajaya. Pertama, dia tertipu karena ternyata yang dia nikahi bukanlah Bara. Melainkan Ali, pengawal setianya Bara. Dan sekarang, ia tertipu karena gagal lagi pada pernikahan keduanya. Bara kabur dan melarikan diri dari rumah.
Semua orang di rumah utama dilanda kepanikan. Kabur nya Bara dari rumah membuat seisi rumah itu menjadi tak tentram seperti sebelumnya. Pernikahan yang sudah di rencanakan sedemikian rupa, berada di ambang kegagalan.
"Mau di taruh dimana wajahku?! Kalau pernikahan ini gagal lagi. Yang mereka semua tahu, Bara telah menikah dengan Farah. Kalau ternyata pernikahan mereka gagal, bisa-bisa bisnisku bisa hancur berantakan!" ujar Tuan Kertajaya berkata pada dirinya.
Kabur nya Bara dari rumah. Membuat semua orang enggan mendekati Tuan besar mereka. Tuan Kertajaya pun juga tidak berkeinginan untuk keluar dari ruang kerja nya. Menghabiskan waktu berjam-jam di ruang kerja. Sebagai pelampiasan rasa kesalnya terhadap putranya yang melarikan diri dari rumah.
_________________
Singkat cerita, berbulan-bulan sudah. Kabar mengenai Bara belum juga dapat ditemukan oleh Keluarganya. Arka sengaja menutup akses informasi mengenai keberadaan Bara. Baik itu di media, maupun secara terang-terangan. Bara sengaja pindah ke luar kota. Untuk melakukan bisnisnya bersama dengan Arka.
Sekarang bahkan sudah berdiri, kantor yang di bangun Bara selama beberapa bulan belakangan. Sudah ada beberapa karyawan yang menangani nya juga. Semua di atur atas perintah dari Arka. Ya, Arka yang membantu Bara semuanya.
Perusahaan bernama BARNA Corp yang di buat oleh Bara maupun Arka. Nama BARNA di ambil dari perpaduan antara nama Bara, dan juga Ana. Perusahaan yang menjual bisnis product kecantikan. Semua itu ide dari Ana juga.
Bisnis mereka tidak disangka bisa berkembang begitu pesat. Product yang tidak hanya di jual di dalam negeri. Tapi juga di ekspor ke beberapa negara lainnya. Seperti Vietnam, Singapore, Hongkong, Thailand, dan beberapa negara Asia lainnya.
Dan sekarang, Bara telah berhasil menjadi seorang Direktur. Sekaligus juga menjadi CEO dan Founder dari BARNA Corp. Dan Ana, menjadi wakil dari CEO nya. Itu semua juga berkat bantuan dari Arka. Yang memajukan bisnis mereka.
Selama Ana dan Bara sibuk dengan masalah perusahaan. Ana mengajukan cuti dalam waktu kurang lebih setahun. Karena bagaimana pun, ia tak bisa melakukan kuliah lewat daring lagi. Sementara dirinya juga tak bisa berjauhan lagi dengan Bara. Jadi kemana pun Bara pergi, Ana juga ikut menemaninya.
Ke luar kota, bahkan hingga melakukan perjalanan ke luar negeri, Ana juga setia menemaninya. Sementara Gladys kembali menjadi dokter di salah satu rumah sakit besar yang ada di Ibu Kota. Pekerjaannya semakin sibuk tak terhingga. Hubungannya dengan Arka jadi semakin dekat. Tak sungkan, Arka mendatanginya ke rumah sakit di sela-sela kesibukannya.
"Sayang, bagaimana kalau kita menjodohkan Arka dengan Gladys?" tanya Ana pada Bara.
Yang saat ini mereka sedang makan siang di kantornya.
__ADS_1
"Hm, boleh. Tapi ada syaratnya."
"Syarat?" Ana mengernyit sesaat. Memperhatikan Bara yang sedang tersenyum menyeringai menatapnya.
"Iya. Gimana?"
"Iya, apa syaratnya? Tapi jangan aneh-aneh."
"Kesini dulu dong, jangan jauh-jauh. Aku gak bisa bisikinnya." ujar Bara.
Ana menurut apa maunya. Jaraknya sekarang hanya satu jengkal. Bara tampak cengar-cengir tidak jelas. Entah apa yang ada di pikirannya. Ana menggeleng pelan memperhatikan Suaminya yang
aneh.
"Apa sih? Kamu gerak-geriknya mencurigakan tahu," ucap Ana.
"Syaratnya... nambah baby lagi." Bisiknya lembut pada Ana.
Ana mencubit wajahnya pelan.
"Aduh! Sakit, sayang." Keluh Bara manja.
Cuma di cubit pelan, padahal. Manja nya mulai kambuh lagi, deh.
"Sakit ya? Maaf," tutur Ana seraya mengelus wajah tampan Bara dengan lembut.
Acara makan siang manja ala mereka berdua rupanya telah membuat bisik-bisik tetangga. Eh, maksudnya, para karyawan yang melihatnya merasa iri dengan keromantisan yang mereka tampakkan. Sebenarnya Ana sudah menyarankan. Agar makan siang di ruang kerja. Namun Bara tetap bersikukuh untuk makan siang bersama di kantin.
"Udah yuk! Balik ke atas." Ajakan Ana pada Bara.
Mungkin Ana merasa risih, pada karyawan yang mulai memperhatikan mereka.
"Yuk! Terus pembicaraan kita yang tadi, gimana jawabannya?" tanya Bara.
__ADS_1
"Nanti aja, kalau udah di atas. Di apartement juga bisa kok, di omongin lagi. Ini masih di kantor, sayang." Ujar Ana.
"Kalau di apartement, aku gak akan sungkan kalau gitu," balas Bara seraya mengedipkan sebelah matanya.
Ih, kok genit sih? Eh.
"Jangan sembarangan genit! Nanti kalau karyawan lain yang baper gimana?"
"Kan genitnya cuma sama kamu doang, sayang. Kenapa juga, mereka harus baper? Kan aku cuma punya kamu." Bara tak menyadari kehadiran Arka, yang sekarang sudah berada di belakang mereka.
"Ehm! Makan siang sudah selesai. Waktunya kembali bekerja!" ujar Arka yang tiba-tiba berkata.
"Tuh kan, apa aku bilang. Arka dengar gak ya?" Bisik Ana pada Bara.
"Ya, gak-apa kalau dia dengar." Balas Bara dengan suara yang pelan.
"Ya udah, ayo! Arka udah nunggu tuh, di belakang."
Ana beranjak bangun dari tempat duduknya. Begitu pun dengan Bara. Arka terenyuh melihat kebucinan diantara mereka. Tiba-tiba Arka teringat dengan Gladys. Mungkinkah, Arka sudah membuka hatinya untuk gadis itu?
..........
Suasana malam di Kota Yogyakarta. Tempat dimana Bara, Arka, dan Ana berada. Arka sengaja memilih Kota Jogja, sebagai tempat pembangunan bisnisnya dengan Bara. Terlebih lagi, letaknya yang begitu jauh dari Ibu Kota Jakarta. Karena nya, pengawal utusan dari keluarga Kertajaya sulit menemukan Tuan muda mereka.
Ana juga betah, tinggal disini. Bahkan mereka berdua berkeinginan untuk membeli sebuah rumah disini. Dan rumah yang pernah mereka tempati dulu, kemungkinan besar akan di jual. Meskipun dengan berat hati. Tapi memang sebaiknya di jual saja. Karena rumah itu sudah tidak aman untuk ditempati.
Keluarga Bara sudah mengetahui lokasi rumah yang lama. Arya pun sama halnya. Entah bagaimana kabarnya di Ibu Kota sana. Arka sendiri pun tidak peduli padanya. Karena hubungan kedua Adik Kakak itu memang tidak cukup baik.
Entah sampai kapan, mereka akan terus begitu. Ana berharap, Arka bisa memaafkan Arya. Melupakan kejadian masa kecilnya. Daripada menyimpan dendam yang tak berarah. Dan memperburuk tali persaudaraan diantara keduanya.
Bersambung...
__ADS_1