
Arka datang lagi ke apartemen Ana. Setelah menyelesaikan urusannya, membeli beberapa buku serta makanan dan minuman. Wajahnya tampak semringah sekarang. Mungkinkah, ia sudah tak sabar dengan buku yang ia beli tadi?
Ting nong!
Bel apartemen Ana di tekan Arka. Beberapa detik kemudian, muncul sang empu dari dalam. Membukakan pintu untuknya.
“Lo dari mana? Gladys udah menunggu lama tuh, di dalam.” Ujar Bara seraya mempersilakan Arka untuk masuk ke dalam. Sekilas, Arka tersenyum kecil. Setelah mendapat pertanyaan dari Bara tadi.
“Gue habis ke suatu tempat. Nih, Gue belikan makanan dan minuman sekalian.” Jawab Arka.
“Mau cari perhatian Ana? Udah nikah juga. Ingat, Gladys!” Bara memulai lagi. Berprasangka buruk pada niat baik Arka.
Itu karena, di masa lalu, Arka memang sering berlaku demikian. Yang membuat Bara menjadi jenuh dengan keadaan. Untuk tak menggubris setiap niat baik Arka. Walau kenyataan ada maksud terselubung juga di dalam hatinya.
“Terus aja berburuk sangka. Gue beli ini karena Gladys yang minta. Makanya, sekalian aja Gue beli banyak buat kita berempat. Soal Ana, kayaknya Lo juga tahu. Sikap apa yang harus Gue ambil ke depannya. Nih, Gue beli buku yang Lo rekomendasikan tadi. Jadi nggak sabar, mau baca dirumah nanti.” Balas Arka disertai tawa kecil. Mendengar itu, sontak membuat Bara mendelik tak percaya.
“Hah? Jadi, Lo tadi pergi ke toko buku? Wah, gila ya! Benar-benar, nih anak. Tapi, mantap juga, sih. Udah langsung gerak cepat gitu. Gladys juga kayaknya udah nggak sabar.” Sambung Bara.
“Nggak sabar? Maksudnya?” tanya Arka penasaran. Bara lantas berubah ekspresi menjadi datar.
“Susah kalau ngomong sama, Lo. Udah, ayo masuk!” ajak Bara. Sembari berjalan masuk ke dalam apartemen. Diikuti Arka yang mengekor di belakangnya.
BRAK!
Bara menutup pintu apartemen itu agak keras sedikit. Dan menimbulkan suara yang terdengar sampai ke telinga Gladys dan Ana. Arka bergegas mencari keberadaan Gladys di semua ruangan apartemen Ana.
“Arka!!!” panggil Gladys heboh, seraya memeluk erat Arka. Saat melihat Suaminya datang lagi. Sesuai dengan janjinya tadi, Gladys melihat dua bungkusan pepper bag di tangan Arka.
“Ada apa?” Tanya Arka bingung. Menatap Gladys yang tak ingin melepas pelukannya. Bak seperti orang yang habis ditinggal pergi jauh.
“Ish, kamu tuh, Ka! Nggak peka banget, sih?! Aku tuh nunggu kamu lama banget, tahu! Jenuh banget, harus ngelihatin keromantisan mereka berdua.” Celoteh Gladys sembari memandang ke arah Ana dan Bara. Yang sedang duduk mesra di ruang keluarga.
Televisi menyala, suhu AC begitu dingin terasa. Arka menatap keduanya sejenak. Lalu beralih lagi melihat ke wajah Gladys. Tangannya terangkat menyentuh kening itu.
“Iya, ya. Pantas aja kamu kesal gitu di chat, tadi. Tapi kan, sekarang aku udah kembali.” Balas Arka sambil menampilkan senyum manisnya.
Uh, tampannya Arka! Eh.
“Ih, sayang! Aku juga mau kayak mereka!” tutur Gladys menggerutu seraya mengerucutkan bibirnya ke depan.
Arka terkekeh kecil memperhatikan tingkah Gladys yang begitu menggemaskan.
“Iya, nanti, ya. Dirumah aja.” Ucap Arka membalas perkataan Gladys barusan.
“Ah, kamu nanti malah diam aja. Ujung-ujungnya aku juga. Yang mulai sendiri.” Ujar Gladys acuh tak acuh sembari membuang muka ke arah lain.
Di sisi lain, Bara tampaknya tidak peduli. Dengan keberadaan orang lain yang ada di sekitarnya. Enggan malu, menciumi Ana di depan Arka dan Gladys. Tidak tahu bagaimana lagi dengan wajah Ana yang bak seperti buah cherry. Merah merona, dan siap untuk dipetik.
“Sayang.. nggak enak sama Gladys dan Arka.” Gumam Ana berbisik di telinga Bara.
__ADS_1
“Memangnya kenapa? Biarkan saja. Supaya Arka jadi tahu. Begini caranya menyentuh wanita.” Jawaban Bara justru menohok. Membuat Ana tak kuasa menagan malu.
Tapi, ada benarnya juga. Karena tingkah Bara yang agresif, Arka jadi terus memperhatikan ke arah mereka berdua. Bahkan Gladys pun di acuhkan. Saat Arka diajak bicara oleh Istrinya itu.
Sepertinya babang Arka memang butuh pencerahan, kawan!
Eh.
“ARKA!!!” teriak Gladys pada Arka. Membuat lelaki muda itu terkejut seketika.
“E-eh, i-iya. Maafkan aku, Dys. Hm, kayaknya kita nggak jadi makan disini. Tapi, kamu pindahkan dulu setengahnya dari makanan ini ke wadah milik Ana. Sisanya lagi, dibiarkan saja di bungkusannya untuk kita.” Ujar Arka terbata. Setelah sadar dari lamunannya yang kerap kali memperhatikan kemesraan Ana dan Bara di depan matanya.
Gladys tampak mengernyitkan dahi.
“Loh, kita mau langsung pulang?” tanya Gladys bingung. Arka mengangguk pelan.
“Ya udah, aku izin dulu ke Ana. Mau ambil piring ke dapurnya.” Balas Gladys semringah. Arka tersenyum kecil seraya menyerahkan satu bungkusan yang ada di tangannya pada Gladys.
“Ana, aku izin ke dapurmu ya, An?” tutur Gladys berkata pada Ana.
“Iya, Dys.” Jawab Ana ramah.
Beberapa detik kemudian, Gladys kembali dari dapur. Membawa sebuah piring besar ditangannya. Lalu memindahkan beberapa ayam, kentang, dan burger ke dalam wadah piring itu. Juga dua minuman ia taruh di atas meja itu.
Ana terlihat memperhatikan semua makanan dan minuman yang ada di hadapannya sekarang. Begitu tak sabar untuk mencicipinya. Bara menyadari hal itu. Lelaki itu tak malu, langsung mengambil satu ayam dan memakannya.
“Nyam... nyam... nyam...” Bara mengunyah paha ayam itu. Dan menyuapinya ke mulut Ana.
“Udah belum, Dys? Kalau udah, yuk balik!” ucap Arka mengajak Gladys. Wanita itu tampaknya sudah selesai. Menyusun beberapa makanan dan minuman untuk Ana dan juga Bara. Ia lalu beranjak bangun dan berdiri. Seraya berpamitan pada kedua pasangan itu.
“An, Bar, aku dan Arka pamit, ya. Lain kali kita main lagi kesini. Kamu jaga kesehatan ya, An. Baik-baik sama dedek bayinya. Aku nggak sabar, buat menyambut kelahiran kedua kamu.” Ujar Gladys pada Ana sembari mengelus lembut perut besar Ana.
“Iya, makasih ya, Dys. Kamu udah berkunjung kesini. Terima kasih juga, untuk makanan dan minumannya.” Balas Ana lembut. Gladys mengangguk pelan.
“Kalau gitu, aku pamit. Ayo, Ka!” ajak Gladys. Bara mengikuti dari belakang.
Arka dan Gladys lebih dulu berjalan untuk sampai ke pintu masuk apartemen. Sementara Ana, memilih untuk diam dan duduk di ruang keluarga tadi. Karena perutnya yang sudah begitu besar. Menyebabkan Ana kesulitan untuk bangun dan berjalan. Makanya, Bara yang berinisiatif untuk mengantar kedua pasangan itu sampai ke keluar dari apartemen ini.
“Jangan lupa, bukunya dibaca!” Bara berucap pada Arka. Gladys sontak menoleh ke belakang. Menatap Arka dalam-dalam.
“Baca? Kamu mau baca apa, Ka?” pertanyaan Gladys seakan menginterogasi Suaminya. Arka tampak gugup untuk menjawab.
“Eh, i-itu, Dys. Biasa, b-buku bisnis.” Balas Arka terbata. Gladys memagutkan kepalanya pelan.
“Oh, yang tadi kamu pergi itu, ya? Kamu tadi ke kantor, kan?” lanjut Gladys bertanya.
“Pffttt!” Bara tertawa lepas. Saat tahu bahwa Arka izin pergi ke kantor tadi. Padahal bukan ke kantor. Melainkan ke toko buku. Untuk membeli buku yang ia rekomendasikan padanya.
‘Sialan si Bara!’ gumam Arka menggerutu dalam hati. Tatapannya tajam menatap Bara.
__ADS_1
“Ada apa sih? Kayaknya ada yang di sembunyi-in dari aku. Ada apa, Ka? Cerita coba!” Gladys bertanya-tanya seraya menggoyang-goyangkan lengan Arka.
“E-eh, nggak ada apa-apa kok, Dys. Benar, tadi aku memang ke kantor. Lagian, kamu ngapain curiga in aku? Jangan lihat ke Bara! Dia emang gitu orangnya. Slenge-an.” Celoteh Arka berusaha menjelaskan pada Gladys.
“Benaran? Kamu nggak lagi bohong, kan?” tanya Gladys lagi, memastikan. Arka mengangguk pelan.
“Ya udah sana, pulang! Dari tadi nggak kelar-kelar ngomongnya. Gue capek tahu, berdiri disini.” Keluh Bara sembari memutar kedua matanya.
“Iya, iya. Gue balik! Sekalian, titip Kak Ana juga. Awas kalau sampai dia kenapa-kenapa.” Tutur Arka serius.
“Soal itu, tenang aja. Gue kan, Suaminya. Yang lebih paham semua tugas-tugasnya.” Sanggah Bara. Arka tampak menganggukkan kepalanya.
“Bagus, kita pamit dulu. Bye!” pamit Arka.
“Jangan lupa di habiskan, makanannya!” Kali ini Gladys yang berucap dengan hebohnya.
Kalau lagi heboh, Gladys seakan menghilangkan jejak profesinya sebagai anak kedokteran. Maklum, namanya juga cwk! Sifatnya memang berubah-ubah.
“Itu pasti.” Balas Bara seraya menutup pintu apartemennya.
Kini tinggallah ia sendiri. Dan kembali masuk lagu ke dalam. Menghampiri Ana yang tengah asyik memakan di ruang keluarga tadi.
“Sayang... asyik aja sendirian. Aku nggak dibagi?” Bara berucap sembari mendekati Ana. Lalu duduk di sampingnya.
Cup!
Satu kecupan di daratkan pada wajah kanan Ana. Bara menatapnya dalam-dalam. Tampak gemas dengan ekspresi wajah Ana yang sedang mengunyah ayam itu.
“Mau dong? Ayamnya.” Pinta Bara. Ana menatapnya.
“Ini masih ada lagi di piring. Kamu ambil aja.” Balas Ana. Lelaki itu menggeleng pelan.
“Aku maunya ayam yang habis dimakan kamu.” Tutur Bara.
Jurus jitu buayanya mulai lagi. Eh!
“Ih, sayang. Ini kan, punyaku!” Ana menolak dengan cepat.
“Memangnya kenapa, kalau punya kamu? Kamu kan, punyaku. Berarti apa yang kamu makan, juga punyaku. Milikku. Kamu milikku, An.” Ucap Bara nyeleneh.
Antara ayam dan Ana, keduanya tak berhubungan, Bara!
Eh.
Ana menaruh ayam yang ada di genggamannya ke dalam piring itu. Lalu tangannya menyentuh wajah Bara lembut. Di tatapnya dengan penuh cinta. Seakan mengajaknya berbicara dari hati ke hati.
“Kamu masih seperti Bara-Ku yang dulu. Maknanya, ingatan kamu benar-benar pulih sepenuhnya, Bar.” Ujar Ana lembut. Seraya mengelus lembut wajah tampan Bara.
“Aku memang Bara-Mu yang dulu, An. Memangnya kamu ingin aku yang seperti apa?” gumam Bara berbisik. Wajahnya kian di dekatkan pada wajah Ana. Dan membuat hidung keduanya bersentuhan. Satu sama lainnya.
__ADS_1
“Yang selalu berlaku romantis setiap harinya. Dan...”
Bersambung...