Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 117


__ADS_3

Bara mengangkat sebelah tangannya. Mengisyaratkan pada kedua pelayan lelaki yang ada di belakangnya. Dan kedua pria itu langsung mendekati Bara. Seakan tahu, tindakan apa yang harus mereka lakukan.


“Maaf, Nona Ana tidak bisa diganggu. Mari Tuan muda, Nona!”


Arya terdiam seketika. Namun kedua matanya tak bisa beralih. Dan terus menatap memperhatikan Ana.


Bara dan Ana kembali melanjutkan langkah kakinya berjalan menuju area basemen. Diikuti kedua pelayan pria tadi. Mengekor di belakang sembari membawa semua belanjaan. Dan itu hanya sebagian yang mereka bawa. Sementara sisanya, sudah masuk ke dalam bagasi mobil.


Selama berjalan, wajah Bara terlihat gusar dan tak tenang. Setelah bertemu dengan Arya lagi. Keduanya tampak saling diam sekarang. Baik Ana maupun Bara.


Beberapa menit kemudian, mereka sampai di basemen. Ana langsung masuk ke dalam mobil. Sementara Bara ikut membantu kedua pelayan suruhannya memasukkan barang-barang belanjaan. Setelahnya, kedua pelayan itu juga kembali ke mobilnya.


BRAK


Bara menutup pintu mobil, setelah masuk ke dalamnya. Mulutnya masih membisu dan tak bersua. Wajahnya bahkan semakin terlihat kusut. Seperti tak ada gairah dalam hidupnya.


Cemburunya Bara agak menakutkan juga, ya.


“Sayang...” panggil Ana lembut. Tangannya meraih sebelah tangan Bara. Tapi Bara langsung menepis dan menjalankan mesin mobilnya.


Selama di perjalanan menuju apartemen, keduanya diam tak bergeming. Bara hanya terfokus pada setir mobilnya sembari memperhatikan situasi jalan raya. Dan Ana, mengalihkan pandangannya melihat ke arah jendela. Sambil sesekali mengelus-elus perut besarnya.


Walau saling berdiam-an, Bara tampaknya sesekali memperhatikan Ana dari kaca spion. Mungkin yang di inginkan Bara saat ini menenangkan pikirannya sesaat. Berbicara dengan Ana, takut bila akan menyakitinya.


Tapi, diammu itu tidak bisa mendamaikan suasana juga, Bara!


SET


Mobil yang di kendarai Bara sampai di basemen apartemen. Kemungkinan, mobil kedua orang suruhan tadi juga sudah sampai. Dan benar saja, mereka langsung berjalan mendekati mobil yang Bara tumpangi.


“Tuan muda.” Ucap mereka memanggil Bara.


Kriek!


Bara langsung keluar dari dalam mobilnya. Lalu berlari ke samping. Untuk membukakan pintu mobil Ana. Meskipun diam, sikap Bara masih tetap hangat pada Ana.


Ana keluar dengan hati-hati. Kedua tangannya di pegangi oleh Bara. Ana menatap ke wajah Suaminya. Namun, Bara sepertinya tidak ingin melihatnya. Hal itu membuat Ana menjadi sedu tak menentu.


‘Kamu kenapa sih, Bara?’ Gumam Ana dalam hati bertanya.


Setelah di luar mobil, keduanya berjalan berdampingan menuju apartemen mereka. Dan kedua orang suruhan itu membawa barang-barang belanjaan tadi. Ana berusaha menggenggam jari jemari Bara.

__ADS_1


“Sayang... kamu kenapa? Ngomong dong, sayang.” Bisik Ana pelan. Bara diam tak bergeming.


Sesampainya di dalam apartemen...


“Tuan muda, semua barang-barang sudah di masukkan ke dalam apartemen. Apa masih ada yang perlu di bantu?” Bara menggeleng pelan.


“Tidak ada. Kalian boleh kembali.” Balas Bara. Kedua orang itu mengangguk, lalu pergi.


BRUK


Pintu apartemen tertutup. Hanya ada Bara dan Ana sekarang. Tapi Ana sepertinya sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar. Bara memilih untuk membereskan semua barang-barang belanjaannya.


Satu persatu di susun dan memasukkannya ke tempatnya masing-masing. Tersisa tinggal peralatan mandi, skincare, dan makeup milik Ana. Bara menghela napas panjang. Apa semelelahkan itu, kah? Hanya membereskan barang-barang belanjaan.


Bara lalu berjalan masuk ke dalam kamar. Melihat keadaan Ana, apakah ia sudah terlelap atau belum. Sembari membawa peralatan mandi dan kebutuhan skincare serta makeup kepunyaan Ana.


Kriek!


Bara membuka pintu kamar itu. Namun, lampu kamar sudah gelap gulita. Entah mengapa tiba-tiba Bara merasa panik dan khawatir dengan Ana.


“Ana? Kamu matikan lampu kamar, ya?” ujar Bara memanggil. Tapi tak ada sahutan dari Ana.


SET


Sebuah tangan bergelayut mesra menyentuh punggung Bara. Seketika bulu kuduk lelaki itu mendadak merinding seketika. Entah itu Ana atau bukan, Bara begitu ketakutan sekarang.


“Ana... i-itu... kamu, kan?” tanya Bara dengan suara gemetar.


Bara terus meraba-raba benda yang ada di sekitarnya. Mencari remote control, untuk menyalakan lampu kamar itu. Dan...


KLAP


Lampu kamar kembali menyala. Bara langsung mencari-cari Ana dari pandangannya. Tapi orang yang dicari ternyata...


“Kamu cari aku?” suara Ana terdengar dari belakang Bara. Sontak Bara memutar tubuhnya.


Kedua mata Bara tercengang seketika. Pupil matanya bahkan juga ikut membesar. Melihat Ana dengan saksama. Serasa ada yang berbeda dari biasanya.


Itu karena Ana memakai lingerie terbaru. Pemberian Gladys, saat wanita itu main dan masuk ke dalam kamar Ana. Di mata Bara, Ana yang saat ini ada di hadapan nya terlihat lebih


Seksi.

__ADS_1


“Sayang... kamu marah, ya? Dari tadi di parkiran diam terus.” Gumam Ana lembut. Tangannya meraba-raba dada bidang Bara yang terlapis baju hitam.


HAP!


Ana memeluk Bara, menenggelamkan kepalanya di dada bidang Bara.


Cup!


Satu kecupan manis di daratkan di wajah tampan Bara. Ana tak tahan melihat Bara yang mendiamkannya. Karena itulah, ia melakukan pergerakan lebih dulu.


“Sayang... aku nggak suka di diamin begitu sama kamu. Ayo dong, ngomong.” Ucap Ana lembut.


Bara menuntun Ana, membawanya duduk ke tepian ranjang.


“Aku... nggak akan pernah bisa marah ke kamu, An.” Tutur Bara mencoba bersuara lebih dulu.


“Bohong, tadi buktinya kamu diamin aku. Waktu di mobil, kamu acuh-in aku. Aku nggak ada apa pun sama Arya. Aku kan....” Celoteh Ana terpotong, saat ia mencoba untuk menjelaskan semuanya.


“Sayang, cukup. Aku nggak mau dengar nama pria lain yang kamu sebut. Hanya aku saja, Bara. Aku yang selalu menghangatkan kamu, An. Aku juga yang menjagamu. Bukan dia, atau pria mana pun. Apalagi bila itu Arka. Aku nggak suka, An.” Ujar Bara berkata, mengatakan segala isi hatinya.


Mendengar itu, Ana langsung memeluk Bara erat. Menjatuhkan tubuh di pelukan Bara.


“Udah dong, cemburunya. Aku juga nggak suka, bila ada wanita lain yang melihatmu, Bara.” Balas Ana lembut. Seraya mengelus-elus dada bidang Bara, yang tertutup baju.


Cup!


Bara mengecup lembut kening Ana. Kedua tangannya menyentuh pundak Ana. Dan kini keduanya saling berhadapan serta bertatap-tatapan. Bara memandangi wajah cantik Ana. Lalu sebelah tangannya terangkat merapikan anak rambut yang menutupi wajah cantik Istrinya.


“Cantik! Aku bersyukur, Tuhan mempertemukanku dengan kamu, An.” Puji Bara.


“Tapi pertemuan kita begitu abstrak, sayang. Aku juga sempat acuh-in kamu waktu itu.” Balas Ana.


“Yang penting sekarang, kita udah jadi Suami Istri ‘kan?” kata Bara dengan senyum menyeringai.


HAP!


Ana memeluk Bara lagi. Rasanya masih tidak menyangka. Ternyata sudah lima tahun. Usia pernikahan mereka sekarang. Padahal seperti baru kemarin, keduanya menikah akibat penggerebekan warga kos kosan.


Ya, itu karena fitnah dan kesalahpahaman. Benar, ya. Fitnah memang kejam. Semoga kita semua dijauhkan dari fitnah keji dunia.


Aamiin.

__ADS_1


__ADS_2