Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 145


__ADS_3

Sudah tiga hari, keluarga cemara itu menikmati liburan mereka selama berada di Paris. Ana apalagi, seketika jiwa perempuannya yang hobi berbelanja mendadak muncul di waktu yang bersamaan. Saat mereka mengunjungi pusat perbelanjaan yang terletak di jantung kota Paris.


Galeries Lafayette, namanya. Ada hingga 3.500 merek terkenal dunia di sini. Bahkan design yang di tampilkan begitu membuat siapa saja kagum melihatnya. Dengan keindahan nuansa klasik dan romantis yang di tawarkannya.


Pantas saja, Ana begitu antusias memborong banyak belanjaan disana. Bara hanya bisa pasrah dengan wajah lesuh nya. Karena kelelahan mengikuti Ana. Sembari mendorong keranjang bayi yang dinaiki oleh Arbi.


Sementara para pengawal serta pelayan yang dibawa Bara, sibuk membawa barang belanjaan milik Ana. Bahkan kelihatannya mereka semua tampak kewalahan.


"Sayang, kamu beli ini semua untuk kamu sendiri, kan?" Tanya Bara hati-hati. Tidak enak bila ia menyinggung Istrinya dengan perkataan nya.


Ana lantas menggeleng pelan. Melihat itu membuat Bara bertambah kebingungan.


"Loh, aku tidak paham." Balas Bara.


"Ini bukan hanya untukku saja, sayang. Tapi untuk para pelayan dirumah utama, pengawal, serta Mama. Oh, aku juga membelikan untuk Ibu dan Bapak. Nanti bisa dikirimkan melalui paket." Celoteh Ana menjelaskan.


Tiba-tiba saja, Bara menggenggam erat jari jemari Ana.


"Kamu selalu saja, begitu. Memikirkan perasaan orang lain. Tanpa peduli pada diri sendiri. Lalu, buat aku mana?" Tutur Bara.


Aih! Menceramahi, tapi dia pun sama. Bara... Bara...


"Untuk kamu juga ada. Tenang, aku sudah persiapkan semuanya." Ucap Ana lembut.


"Kalau untukku, tidak perlu banyak kok. Aku juga punya sesuatu untukmu." Sambung Bara.


"Kamu beli sesuatu? Kok, aku tidak tahu ya?" Ana bingung.


Jelas-jelas, sedari awal berbelanja, Bara terlihat hanya mendorong Arbi saja. Bahkan yang lebih antusias berbelanja itu Ana.


"Iya, dong. Aku beli sesuatu. Kamu pasti suka." Ujar Bara seraya tersenyum menyeringai.


"Aku selalu menyukai apa saja pemberian darimu, sayang." Balas Ana, sembari mengelus lembut wajah Bara.


"Kalau begitu, persiapkan diri kamu untuk nanti malam. Aku jadi semakin tidak sabar. Ana-ku sayang." Tutur Bara nyeleneh. Terlebih dengan kata-kata terakhirnya, terdengar merinding di indra pendengaran Ana.


"Ayah, Bunda?! Apakah kita masih lama di tempat ini? Aku ingin makan ice cream!" Panggil Arbi tiba-tiba. Suara kecilnya terdengar dari dalam keranjang dorong yang di pegang oleh Bara.


Ana dan Bara lantas saling pandang satu sama lain.


"Sayang, kita belum makan ya?" Tanya Ana. Bara menggeleng pelan, menampilkan wajah kusutnya.


"Kamu dari tadi kan, hanya sibuk berbelanja. Mana mungkin aku mengajak Arbi makan tanpa mengajakmu kesana." Ucap Bara sedu.


"Oh, ya ampun! Maafkan aku, sayang. Aku refleks melihat barang-barang bagus disini." Tutur Ana dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


"Tidak apa-apa, aku memaklumi jiwa wanitamu. Tapi... aku harus diberikan hadiah." Ujar Bara.


Tadi bilangnya tidak apa. Sekarang berubah meminta hadiah? Aih, bagaimana jadinya?


"Hadiah?" Tanya Ana.

__ADS_1


Bara memagutkan kepalanya pelan.


"Sesuatu hal menakjubkan untuk kita lakukan nanti malam." Bara berbisik di telinga Ana.


SET


Ana lantas mencubit wajah Bara.


"Awh... sakit... sayang." Rengek Bara manja.


"AYAH, BUNDA, AYO!? KATANYA KITA MAU MAKAN?"


Ditengah-tengah candaan kedua pasangan itu, tiba-tiba mendengar suara teriakan Arbi. Wajah imutnya berubah masam dan cemberut.


"Eh, sayang? M-maaf, Bunda hampir saja lupa. Kalau begitu, yuk!" Balas Ana. Yang sadar dengan ingatan putra nya.


Bara kembali mendorong keranjang dorong Arbi. Diikuti para pengawal serta pelayan nya. Yang berjalan mengekor di belakang.


~ ~ ~


Singkat cerita, malam pun tiba. Puas berbelanja dan menikmati jajanan kuliner di Paris, keluarga cemara kembali beristirahat di dalam hotel.


Ada banyak barang belanjaan, serta beberapa makanan yang dibeli Ana sewaktu sore tadi. Arbi tengah sibuk menyusun satu persatu mainan baru miliknya. Sementara Ana dan Bara, sedang membereskan semua barang-barang milik mereka. Termasuk hadiah yang sempat dibeli oleh Ana.


Semuanya dibungkus dan di pisah secara merata. Tinggallah satu barang yang masih belum di kemas.


"Sayang, yang itu belum di bungkus." Ucap Ana pada Bara.


"Yang itu tidak perlu dibungkus, sayang." Sergah Bara menolak.


"Loh, kenapa?"


"Itu untuk kamu." Jawab Bara seraya menyeringai.


"Aku?"


Bara lalu memagutkan kepalanya pelan. Tangannya terangkat menyentuh dagu Ana. Di dekatkat wajahnya pada tengkuk leher jenjang Ana yang terbuka. Yang sudah berganti baju.


Cup!


Sebuah kecupan di daratkan pada lekukan tubuh Ana.


"S-sayang... kamu mau... apa?" Tanya Ana gugup.


"Menurut kamu?" Jawaban Bara justru malah berbalik tanya.


Wajah Ana sontak berubah merah merona.


"Arbi belum tidur..." bisik Ana pelan.


Pandangan mata Bara langsung beralih ke arah malaikat kecil itu. Kedua bola matanya tampak memutar malas. Dan kembali menatap wajah cantik Ana.

__ADS_1


"Sebentar, sayang." Ujar Bara lembut, seraya mengecup kening Ana.


Ana mengedipkan kedua matanya berulang kali. Tak paham dengan maksud Bara tadi.


'Sebentar? Maksudnya sebentar tuh apa, Bara?' Gumam Ana bertanya dalam hati.


Bara terlihat berjalan menghampiri Arbi. Tiba-tiba saja dia membopong tubuh kecil itu. Mengangkat serta menggendongnya.


"Kita mau kemana, Yah?" Tanya Arbi polos.


"Mau berpetualang." Jawab Bara ambigu.


Petualang? Si bolang kali, ah.


Eh.


"Petualang kemana, Yah? Bunda bagaimana? Kok, tidak ikut kita?" Celoteh Arbi bertanya panjang lebar.


"Ke dunia mimpi kamu." Ucap Bara menjawab.


HAP!


Bara meletakkan tubuh Arbi diatas kasur empuk itu. Benar saja, kedua tangan Arbi refleks memeluk boneka beruang miliknya. Kedua mata kecilnya pun mulai terpejam secara perlahan. Ditambah dengan suhu ruang dingin karena pendingin udara yang sedari tadi sudah di nyalakan.


Membuat siapa saja yang berada di kamar itu cepat terlelap dengan sendirinya.


"Tuh kan, kamu pasti lelah. Tidur yang nyenyang ya." Tutur Bara lembut. Sembari mengecup lembut kening dan wajah imut Arbi.


Pelan-pelan, Bara menuruni ranjang besar itu. Berjalan menghampiri Ana yang berada di dekat ruang santai. Terpisahkan jarak antara kamar dengan ruangan itu.


Bara berjalan mengendap-endap tanpa suara. Kakinya melangkah pelan-pelan mendekati Ana. Yang terlihat sedang sibuk dengan barang-barang belanjaan tadi. Tiba-tiba...


"Sayang..." gumam Bara seraya mendekap tubuh Ana dari belakang. Tangannya bergelayut manja memeluk Ana. Di kecupnya leher jenjang putih itu berulang kali.


"Arbi kemana? Kok, nggak ada suaranya?" Tanya Ana keheranan.


"Malaikat kecil sudah memasuki alam mimpi. Sekarang hanya ada kita berdua. Yang juga memasuki dunia fantasi kita." Bisik Bara di telinga Ana.


"Kalau Arbi terbangun, bagaimana?" Ujar Ana bertanya. Khawatir bila sang malaikat kecil tiba-tiba memergoki mereka.


"Pintu kamarnya sudah ku kunci. Kamu tenang saja..." gumam Bara yang sudah mabuk dengan aroma tubuh Ana.


Di kecupnya setiap lekuk tubuh Ana. Bara tampaknya sudah terbuai akan asmaraloka mereka berdua. Sudah lama, Bara tidak menikmati masa-masa saat berduaan dengan Ana. Dan masa-masa ini, adalah kesempatan emas untuknya.


Untuk memasuki alam dunia cintanya bersama Ana.


"Sayang Bara..." gumam Ana.


"Aku lebih sayang kamu, sayang." Balas Bara yang mulai meracau dengan pikiran liar nya.


Waktunya bersembunyi, menepi dari kedua pasangan itu.

__ADS_1


Eh.


__ADS_2