Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 103. MUSIM KEDUA


__ADS_3

Suasana ramai di jalan raya. Pikiran penuh dengan tanda tanya. Apa yang sebenarnya Arka lakukan pada Ana? Dan apa yang Ana katakan pada Arka.


Gladys duduk termenung di halaman rumah sakit. Tempat dimana Arka dan Ana dirawat secara bersamaan. Matanya menatap kosong ke depan. Melamun tak berarah, lagi-lagi Gladys tak bisa menahan emosinya.


Bulir bening itu luruh lagi. Apa yang selama ini ia lakukan untuk Arka? Nyatanya lelaki itu tetap memilih Ana. Bahkan Arka rela mempertaruhkan nyawanya. Hanya demi menyelamatkan Ana.


‘Bagaimana jika aku yang ada di dalam situasi bahaya itu, Ka? Apa kamu akan menolongku? Ha ha, aku begitu bodoh mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi’ gumam Gladys dalam hati.


Apa hebatnya Ana? Mengapa Bara dan Arka begitu mencintainya? Mengapa aku tidak mendapatkan banyak cinta seperti Ana? Apa aku bersikap buruk? Gladys terus bertanya-tanya.


Ingin sekali ia menanyakannya langsung pada Arka. Tapi bagaimana mungkin, hubungannya sekarang sudah berakhir. Tak ada lagi harapan.


Cinta memang rumit dan begitu dramatic.


“Hiks... hiks... kenapa, An? Kenapa harus kamu!!!! Kenapa semua orang begitu mencintai kamu?! Bukankah aku juga cantik? Kulitku bahkan tidak jauh berbeda dengan warna kulitmu. Aku bahkan tidak begitu menor dalam bermakeup. Aku sudah mengikuti apa yang kamu pakai dan lakukan. Tapi kenapa?!!! Kenapa Arka tidak mencintaiku?!” Ujar Gladys emosional.


Daun-daun jatuh berguguran mengenai rambut ikal Gladys. Suasana teduh dengan embusan angin yang begitu sejuk menelusuk hingga ke dalam pori-pori kulit. Air mata itu luruh semakin deras dari sudut mata Gladys.


“Gladys!”


Ada yang memanggilnya, Gladys menoleh dengan mata sayu nya.


‘Arka?’ Gladys bertanya dalam hati. Matanya melotot kaget menatap lelaki pujaannya datang menemuinya.


‘Ah, aku tahu, mungkinkah dia ditolak oleh Ana? Makanya, dia datang kesini. Gladys, nama itu memang cocok untukku. Wanita yang tak pernah mendapatkan cinta dan selalu hidup dalam kesepian’ gumam Gladys meringis.


“Maaf, aku seharusnya tidak berkata kasar padamu.” Ujar Arka sembari mendekatkan kursi rodanya. Asisten yang menemaninya pergi menjauh. Memberikan luang untuk Tuan mudanya berbicara empat mata dengan Gladys.


“Tidak apa-apa, Ka. Kamu tidak salah, aku yang seharusnya tahu diri. Kita bukan siapa-siapa. Dan tidak berhak bagiku untuk mengatur hidupmu.” Balas Gladys tanpa menatap pada Arka. Pandangannya lurus ke depan.


“Maaf...” hanya itu yang keluar dari mulut Arka.


Tak ada rasa bersalah? Entahlah, Arka sendiri bingung dengan perasaannya.


“Apa kita bisa berhubungan baik lagi?” sambung Arka lagi.


“Kamu kesini pasti karena ditolak Ana, kan? Ternyata aku berguna hanya sebagai pengganti Ana.” Tutur Gladys.


Arka mendelik kaget seakan tak percaya dengan ucapan Gladys barusan.

__ADS_1


‘Bagaimana dia tahu? Apa dia menguping tadi?’ gumam Arka bertanya dalam hati.


“Simpan saja pertanyaanmu itu, semua orang pun akan mengerti. Tanpa harus menguping dan mencari tahu. Bukankah sebelumnya kamu begitu mencintai Ana? Hingga rela dengan nyawamu sendiri untuk menyelamatkannya?”


Arka menghela napas kasar.


“Kamu... benar..” Arka jujur.


“Cih, setelah ditolak, baru mencariku.”


“Will you marry me?” ucap Arka tanpa pikir lagi. Mungkin dengan menikah dan memulai hidup baru dengan Gladys, rasa cintanya pada Ana akan memudar.


“Kau pikir itu candaan, hah?! Aku bukan boneka, yang bisa kau mainkan sesuka hatimu, Ka!!” Bentak Gladys dengan emosi.


“Aku tidak bercanda, Dys. Aku serius dengan ucapanku barusan.”


“I don’t belived!”


“Baiklah, mungkin yang kamu butuhkan sebuah bukti.”


Gladys diam tak menjawab. Hatinya sudah lelah di permainkan Arka.


Entah sejak kapan ia punya cincin itu. Gladys tercengang menatap ke arah benda bersinar itu. Arka benar-benar serius dengan ucapannya? Atau hanya sekadar berkata? Gladys bimbang.


“Aku akan persiapkan pernikahannya lusa. Itu pun jika kamu mau menerima lamaranku sekarang.”


"Apa kau serius dengan ucapanmu? Bukankah berulang kali kamu mengatakan itu? Tapi pada akhirnya, aku juga yang harus jatuh karena harapan yang kau buat." Gladys menghela napas kasar.


"Aku berjanji, aku akan menikahimu lusa. Tolong, maafkan keegoisanku." Tutur Arka sedu.


Gladys tetap bersikukuh tak menoleh sedikit pun menatap Arka. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Kursi roda yang di duduki Arka bergerak lebih maju. Mendekati Gladys dan sekarang ada di depan gadis itu.


"Gladys, will u marry me?" Ujar Arka. Sembari memakaikan cincin berlian itu di jari manis Gladys.


Wajah Gladys merona, tanpa sadar ia telah mengikuti kata hatinya. Mengangguk pelan dengan ekspresi sedu.


Gladys langsung menghamburkan tubuhnya memeluk Arka dengan sangat erat. Air matanya luruh begitu saja. Merintih tangis dalam pelukan Arka.


'Gladys menangis?' gumam Arka dalam hati. Menyadari rintihan suara Gladys yang pelan.

__ADS_1


Arka baru menyadari, cinta Gladys lebih besar dibandingkan Ana. Yang tak pernah bisa memberikannya cinta maupun kesempatan untuknya. Tanpa sadar, tangan Arka terangkat. Dan mengelus lembut rambut Gladys.


Ada rasa nyaman saat Arka memeluk tubuh Gladys. Rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Bahkan saat dengan Ana, Arka tak pernah bisa menyentuh sedikit pun jemari nya.


Ana begitu menjaga tubuhnya. Hanya Bara, yang beruntung dimata Arka. Bisa lebih dulu mendapatkan hatinya Ana.


Namun, ia juga tak kalah beruntungnya. Bisa memiliki gadis yang begitu mencintainya, Gladys.


"Aku.. merasa bersalah pada Ana." Tutur Gladys seraya mendorong kursi roda Arka. Keduanya berjalan mengitari halaman rumah sakit.


Tangan Arka mengelus pergelangan tangan Gladys. Membuat Gladys menghentikan dorongannya serta langkah kakinya.


"Aku yang bersalah dengan kejadian ini. Aku minta maaf, Gladys. Karena keegoisanku, hubunganmu dengan Ana jadi renggang." Balas Arka.


"Hm... tidak apa-apa, Ka. Semuanya pasti akan berlalu." Arka mengangguk pelan. Gladys kembali mendorong kursi roda itu. Sembari menikmati udara sore kala senja.


.........


Bara menyuapi semangkuk cream soup jagung pada Ana. Arbi yang melihat itu menginginkan di suapi juga. Kepala di dongakan ke atas menatap sang Ayah.


"Aku juga mau, Yah." Ujar Arbi seraya membuka mulutnya.


Ana terkekeh kecil sambil mengusap lembut kepala kecil Arbi.


"Arbi mau juga?" Tanya Ana. Arbi mengangguk cepat. Bara langsung memasukkan sesendok cream soup itu ke dalam mulut Arbi.


"Pria kecil, bagaimana rasanya?" Ucap Bara bertanya.


"Enak.. mau lagi ya, Bunda?" Tutur Arbi membalas. Matanya beralih menatap Ana lagi.


"Ini buat Bunda, kamu nanti Ayah belikan yang baru, ya?" Sambung Bara.


"Nggak apa-apa, buat Arbi aja. Aku juga sudah kenyang, kok." Balas Ana seraya tersenyum tulus. Wajah Arbi berbinar ceria. Dan mengambil cream soup jagung itu. Yang ada di tangan Bara.


"Eh.. pria kecil nakal, ya." Ucap Bara terkekeh kecil.


"Kamu pasti lelah..." Tutur Ana pada Bara. Sembari mengelus lembut wajah tampan nya.


"Nggak apa-apa, kalau lelah nya untuk kamu." Bara menjatuhkan kepala nya di pangkuan Ana. Keduanya tampak tenang dengan keromantisan yang mereka ciptakan.

__ADS_1


Sementara Arbi tengah asyik menyuapi cream soup itu ke dalam mulutnya.


__ADS_2