Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 52


__ADS_3

Rencana Tuan Besar


Di rumah utama, kediaman keluarga Kertajaya. Dimana ada Bara beserta Arbi di dalamnya. Tapi tidak dengan Ana. Karena Ana sama sekali tidak di anggap keberadaannya. Sungguh naas hidup Ana.


"Kali ini semuanya harus berjalan sesuai dengan rencana. Aku tidak mau ada drama-drama lagi seperti sebelumnya. Kalau sampai kali ini gagal lagi, mau di taruh kemana wajah keluarga ini?" Ucap Tuan besar pada asisten nya.


"Tapi kalau Tuan muda menolak, bahkan memberontak bagaimana Tuan?" Tanya asisten.


"Biarkan saja. Lagi pula, apa yang bisa dia lakukan? Hidupnya masih bergantung padaku. Aku yakin dia tidak bisa berkutik lagi sekarang. Wanita itu juga tidak akan mampu melawanku. Apalagi mencoba untuk datang ke tempat ini." Jawab Tuan besar.


Siapa wanita yang dimaksud? Rencana apa yang akan mereka lakukan pada Bara? Berharap, ada sedikit pencerahan untuk hidup Ana maupun juga Bara. Cukup sudah atas ujian pernikahan yang telah mereka alami. Apakah mereka tak pantas untuk hidup bahagia?


"Baik, Tuan. Semuanya akan kami persiapkan dalam dua hari ini. Sesuai dengan perintah Tuan."


"Ya. Kalau begitu, pergilah!" Jawaban dari Tuan besar yang terkesan seperti mengusir asistennya.


.........


Di kediaman rumah Bara dan juga Ana. Hanya ada satu manusia yang masih tinggal di dalamnya. Tengah menatap sedu ke arah jendela kamarnya. Di iringi dengan cuaca yang teduh. Rintik hujan mulai turun membasahi dedaunan serta rerumputan.


Dilihatnya dari sudut matanya yang sembab. Semuanya tampak ikut serta dalam kesedihan Ana yang mendalam. Setetes demi setetes rintikan air hujan semakin deras tak terhingga. Tangis Ana semakin pecah, meski tak terdengar di indera pendengaran. Karena di barengi dengan suara derasnya hujan.


Masa muda yang sudah ia korbankan. Hanya demi sebuah pernikahannya dengan Bara. Kini selesai begitu saja. Tak ada kata-kata perpisahan apa pun diantara mereka berdua. Meskipun sebelumnya, Bara tengah berjanji padanya. Untuk segera kembali pada Ana.


Namun apa yang terjadi sekarang? Dia bahkan tidak datang lagi. Janjinya hanya sebuah omong kosong. Bayi mungil yang telah ia lahirkan dengan susah payah. Pun juga ikut pergi, karena diambil paksa oleh Kakeknya. Ayahnya Bara, orang yang dianggap terpandang dan dihormati oleh semua kalangan.


Bisa-bisanya Orang tua itu berbuat keji pada anaknya sendiri. Merusak rumah tangga anaknya. Hanya demi menjaga nama baik keluarganya serta nama besarnya.

__ADS_1


"Kalau pada akhirnya akan begini, lebih baik kamu tidak perlu mengganggu hidupku, Bar! Kamu tidak perlu terus mengggodaku! Apalagi sampai mengikutiku pergi ke kosan ku! Semua ini gak akan terjadi, kalau kamu gak datang di kehidupanku! Aku benci kamu Bara! Aku benci!! Hiks... hiks... hiks..." Ucap Ana memaki Bara dengan tersedu-sedu.


"Bapak.... Ibu... Ana rindu..." Gumam Ana dalam hati.


Kini hati dan pikirannya hanya tertuju pada kedua orang tuanya. Rindu, satu kata berjuta makna. Ada banyak hal yang perlu ia ceritakan pada mereka. Namun rasanya tak tega, bila mereka tahu keadaan Ana yang sekarang sudah berubah.


Bukan hanya menantu yang sudah mereka anggap seperti anak lelakinya sendiri. Bahkan cucu kesayangan mereka pun juga ikut pergi.


Apa yang harus ia katakan pada mereka nanti?


Hari ini seharusnya Ana pergi ke kantor Arya. Untuk bekerja menggantikan posisi Bara di perusahaannya. Namun apalah daya, hatinya masih belum siap.


drrrttt.... drrtttt.... drrttt


Suara getaran dari ponsel Ana. Walau sebenarnya itu adalah ponselnya Bara. Yang ia berikan pada Ana sebagai mahar pada saat menikahinya waktu itu. Terlihat ada satu notifikasi pesan dari seseorang. Tak ada nama dari sang pengirim.


[Ana, bagaimana kabarmu? Kok tidak pergi ke kantorku hari ini? Kenapa?] Tulis sang pengirim.


"Hm, rupanya Arya masih berharap aku bekerja di kantornya." Gumam Ana.


Ana kira sebelumnya bahwa itu adalah pesan dari Bara. Ia berharap Bara memberikan kabar padanya. Tapi harapan itu seketika sirna. Karena bukanlah Bara, orang yang mengirimkan pesan itu. Melainkan adalah Arya.


Ana hanya membaca pesan itu. Tak ada niat sedikit pun untuk membalasnya. Feelingnya berkata bahwa Arya sebenarnya tengah mengambil kesempatan pada kondisi Ana saat ini. Sungguh miris, masih sempat-sempatnya menggoda wanita yang statusnya bahkan masih istri orang lain. Meskipun keadaannya berada di ambang ke putus asa an.


Hari bahkan sudah hampir gelap. Ana kembali menutup jendela kamarnya. Ia turun ke bawah untuk melihat bahan makanan yang masih tersedia di dapur. Perutnya sudah kosong seharian ini. Nafsu makannya memang berkurang, sejak kejadian tempo hari.


Namun, kalau terus-menerus meratapi semua ke galau an ini. Tak ada guna nya bila sepanjang hari mengumpat dalam kesedihan. Kalau tak makan, bisa jatuh sakit. Dan kalau sudah sakit, tak ada yang merawatnya. Karena Ana sudah tinggal seorang diri sekarang.

__ADS_1


Tak ada suami yang menemani. Tak ada juga buah hati yang juga ia cintai. Yang seharusnya memberi semangat dalam hidupnya. Justru kini satu persatu pergi meninggalkan luka. Luka yang tak membekas, namun masih bisa di rasa.


.........


Arya masih berada di dalam ruangannya. Hanya asistennya yang masih setia menemaninya. Para pegawai di kantornya semua sudah kembali pulang ke rumah sejak sore tadi. Ia terus memperhatikan ke sebuah ponselnya. Mungkinkah ia masih menunggu balasan dari Ana.


"Kenapa Ana gak balas pesanku ya? Hm... sia-sia aku meminta nomornya pada Arka. Sikapnya masih saja dingin padaku. Huh!" Tutur Arya seraya menaruh kembali ponselnya di atas meja.


Ia tidak semangat untuk kembali ke apartemen nya. Hari pun semakin gelap, namun derasnya hujan masih belum kunjung reda. Asistennya bahkan sudah mulai bosan berada di dalam kantor itu. Ingin segera pulang ke rumahnya, tapi Arya masih tak ingin kembali ke apartemennya. Meskipun Arya tidak membutuhkannya, tapi tak enak harus meninggalkan Arya, yang berstatus sebagai Bos nya sendirian di kantor ini.


"Huh! Bos, bos. Kalau patah hati gak harus sebegitunya juga kan? Pakai acara nginap segala lagi di kantor. Kalau ada apa-apa, saya juga yang susah." Keluh Reno dalam hati, sambil menatap ke arah Bos nya yang sejak tadi enggan berpaling memperhatikan ponselnya.


Reno hanya menggelengkan kepalanya. Sambil menyeruput segelas kopi, yang sudah tak lagi hangat.


...-...


Sementara di Kedai kopi sana. Seorang pemuda yang tengah sibuk mengerjakan tugas kuliahnya sambil memasang earphone di telinga nya. Siapa lagi kalau bukan Arka nama nya. Arka sering datang ke kafe itu, yang letaknya tak jauh dari kampusnya. Bahkan itu juga adalah kafe tempat biasanya mereka menghabiskan waktunya untuk nongkrong dan berbincang bersama.


Iya, Bara dan juga Arka.


Semuanya bak hanya tinggal kenangan. Sahabat karibnya sudah banyak berubah. Semenjak Bara mengenal Ana. Apalagi sekarang ini, sudah lebih banyak menghindari kontak dengan Arka. Rasa rindu itu seketika datang menyeruak pikirannya.


Kenangan masa kecilnya bersama Bara. Candaan hingga perdebatan yang mereka alami saat dulu. Semuanya tinggal kenangan. Arka merindukan sahabatnya, Bara. Sebenarnya apa yang di sembunyikan pada darinya? Kalau hanya sekadar memperebutkan Ana, Arka bahkan sudah ikhlas melepas rasanya.


Rupanya Bara benar-benar menganggap hal itu dengan serius. Sampai harus melepas persahabatannya dengan dirinya.


Benar kata pepatah. Cinta bisa merubah segalanya. Karena cinta, kita bisa bahagia. Karena cinta, orang juga bisa berubah. Dan karena cinta, kita bisa jadi terluka.

__ADS_1


Maka cintailah sewajarnya, agar kamu tidak akan terluka.


Bersambung....


__ADS_2