
Kedua bola mata indah milik Ana, begitu dalam di tatap Bara. Sejenak, ucapannya terhenti. Debaran hati keduanya samar-samar terdengar. Di indra pendengaran masing-masing. Terlebih, Bara menatapnya dengan penuh cinta. Kulit putih Ana begitu transparan, memperlihatkan merah merona pada pipi chubby miliknya.
“Dan apa?” tanya Bara, namun pandangannya tak beralih sama sekali.
“Dan... tidak menggangguku saat makan.” Balas Ana seolah meledek lelaki itu. Sembari mendaratkan satu kecupan di wajah tampannya.
Cup!
Lalu menjulurkan lidahnya keluar. Dan kembali mengambil sepotong paha ayam. Yang ada di dalam piring. Ana melanjutkan makannya, seraya mengunyah fried chicken itu.
Bara tercengang dibuatnya.
‘gemas banget sih, sayang’ gumam Bara dalam hati.
Tanpa sadar, gurat senyumnya terukir begitu saja. Wajahnya ikut merona. Seperti yang terjadi pada Ana tadi.
“Nyam... nyam... nyam...” suara kunyahan Ana. Saat mengunyai paha ayam itu.
Bara semakin gemas dibuatnya. Tersenyum menyeringai, memperlihatkan gigi putihnya. Kedua matanya memperhatikan pergerakan Ana. Yang tengah memakan potongan paha ayam itu. Hingga sang wanitanya menyadari, dan menoleh. Berbalik tatap satu sama lain.
“Mau?” tutur Ana dengan pipi yang penuh. Menawari Bara paha ayam miliknya. Sontak Bara mengangguk pelan. Dengan senyum mengembang, lalu berubah menyeringai.
Cup!
Bara mengecup pipi chubby Ana. Rona merah muda samar-samar terlihat di wajah putihnya.
“Kamu suka banget, ya. Memainkan hati orang.” Ujar Bara lembut. Sambil mengelus wajah cantik Ana.
“Aku? Kenapa?” tanya Ana bingung. Setelah menelan kunyahan yang ada di dalam mulutnya.
“Iya, kamu. Dari tadi mengenin aku terus.” Jawab Bara. Ana lalu mengernyitkan dahi sesaat.
“Kan ayam masih banyak, sayang. Kamu bisa ambil sesukamu juga.” Sambung Ana. Bara menggeleng pelan.
“Kamu masih nggak peka juga, ya. Aku maunya kamu yang suapi aku, Ana sayang.” Gumam Bara beralasan.
Tiba-tiba sebelah tangan Ana terangkat memegangi dagu Bara. Dan sebelahnya lagi mengambil paha ayam yang sisa satu di dalam piring itu. Bara tampak terkekeh kecil. Melihat tingkah Ana yang langsung mengambil tindakan dengan cepat.
“Ayo... a... sayang..” ucap Ana lembut, seraya menyuapi dan memasukkan paha ayam yang masih utuh. Ke dalam mulut Bara.
Lelaki itu begitu menurut. Saat Ana menyuapinya. Lama-lama makanan yang ada di dalam piring, semuanya habis tanpa sisa. Ana lalu berniat meminum minuman yang diberikan Gladys tadi. Bara lantas menepis dan mengambilnya. Seraya menggeleng pelan.
“Minum air mineral aja, sayang. Lebih bagus, untuk Ibu hamil.” Tutur Bara lembut. Ana menurut, dan mengangguk pelan.
__ADS_1
“Kamu benar, nanti dedeknya bisa kenapa-kenapa.” Balas Ana sembari mengelus lembut perut besarnya.
Cup!
Bara mengecup kening Ana lembut.
“Iya, kamu paham. Tapi, mau sampai kapan? Kamu pakai baju tertutup begini? Nggak gerah, sayang?” sambung Bara berucap.
Benar juga, sejak kedatangan Gladys, Ana langsung berganti baju. Ke yang lebih tertutup dari pakaian yang biasa ia kenakan saat di kamar dengan Bara. Tapi, rupanya sampai sekarang pun masih ia pakai.
“Hm... setelah kita belanja perlengkapan buat baby. Gimana, sayang?” kata Ana lembut. Membujuk Bara dengan perlakuan manisnya. Lelaki itu mengangguk cepat sambil menampilkan senyumnya yang mengembang.
...
Singkat cerita, Bara dan Ana telah sampai di marketplace Mall yang tidak begitu jauh dari apartemen mereka. Bara sangat berhati-hati memapah Ana keluar dari dalam mobil. Lalu berjalan bergandengan bak seperti pasangan yang sedang kasmaran.
“Ayo sayang, aku udah nggak sabar. Mau lihat mini t-shirt buat baby twins kita.” Ujar Ana antusias.
“Pelan-pelan, sayang.” Bara berusaha menahan Ana, agar tidak jalan terburu-buru. Lantaran karena ketidak sabar-an nya itu.
“Tapi aku udah nggak sabar, Bara.” Rengek Ana manja.
“Iya, iya. Sayangnya aku nggak sabar, aku juga. Tapi kita jalannya santai aja ya, sayang. Yang penting sampai. Gimana?” tutur Bara lembut. Sembari mengecup lembut kening Ana. Akhirnya, sang wanita mengangguk pasrah.
“Aku juga. Nggak terasa ya, udah lima tahun aja. Seusia Arbi sekarang.” Sambung Bara. Ana lantas menoleh cepat.
“Arbi lima tahun? Sekarang tanggal berapa sayang?” tanya Ana.
“Tanggal 5 Agustus, sayang.” Jawab Bara.
“Dua hari lagi Arbi ulang tahun. Kamu... mau nggak? Kalau kita merayakan ulang tahun untuk Arbi? Dia pasti senang banget. Kalau ada perayaan pesta untuknya.” Pinta Ana. Tanpa pikir panjang, Bara langsung menyetujui, dan mengangguk dengan cepat. Seraya tersenyum tulus menatap mata Ana.
“Iya, apa pun keputusan kamu, aku setuju aja. Yang penting kamu bahagia.”
Mendengar Bara mengatakan itu, hati Ana terenyuh seketika. Kedua matanya begitu sedu. Menatap nanar Bara dengan tatapan lembut.
Cup!
Ana mengecup lembut wajah tampan Bara tanpa malu. Yang sedang berada di basemen, parkiran Mall. Keduanya terlihat semakin mengeratkan genggaman tangan mereka. Bara juga, merangkul Ana dengan eratnya. Tak ingin Ana berjauhan sedikit pun darinya.
Dasar Bara! Eh.
“Thank you, sayang! I love u, Bara!” gumam Ana berbisik di indra pendengaran Bara.
__ADS_1
Menimbulkan debaran di hati lelaki itu. Detak jantungnya terdengar dirasakan oleh Ana.
“Cie, deg degan nih, sayangnya aku.” Ledek Ana.
“Uh, kamu nakal ya, sekarang.” Balas Bara sambil mencubit hidung Ana.
“Biar-in, wle!” Ana menjulurkan lidahnya seraya menutup kedua matanya.
“Dangsin-eun gwiyeobda.” Tutur Bara lembut. Yang artinya ‘kamu lucu’. Ana lantas tersenyum mengembang. Setelah mendengar kata-kata manis keluar dari mulut Bara. Terlebih lagi dengan bahasa Korea. Karena Ana amat menyukai apa pun yang berbau Korea.
“Anata wa hansamudesu, Bara sayang.” Puji Ana, memakai bahasa Jepang. Yang artinya 'kamu tampan'. Bara sontak tergelak kaget.
“Kamu... bisa bahasa Jepang?” tanya Bara penasaran.
“Sedikit, he he.” Kekeh Ana membalas.
“Wah, kamu diam-diam wibu juga, ternyata.” Ujar Bara seraya tertawa kecil.
“Ih, apaan sih! Aku bukan wibu, Bara! Eh, kamu... wibu? Ish, kamu wibu! Ngeselin!” Ana tiba-tiba merajuk. Saat tahu, bahwa Suaminya adalah wibu.
Wibu, adalah seseorang yang memiliki obsesi tidak sehat terhadap budaya Jepang. Orang-orang ini cenderung mengabaikan identitas mereka sendiri. Kata weeaboo sendiri pertama kali digunakan dalam sebuah forum bernama 4chan. Untuk menggantikan kata wapanese yang sudah diblokir oleh forum tersebut. Mereka dianggap aneh dan susah untuk diajak bicara. Hal ini dapat terjadi karena kata wibu itu sendiri, sudah terlanjur berkonotasi negatif di masyarakat, sehingga siapapun yang suka hal-hal berbau Jepang dianggap jelek.
Namun, tidak semua orang yang menyukai budaya jepang, itu bisa dianggap sebagai wibu. Bisa saja mereka menyukai kebudayaan Jepang, sebagai bentuk pembelajaran. Seperti halnya belajar bahasa. Terutama bagi para pertukaran pelajar, dengan sekolah maupun Universitas yang ada di jepang.
Tentunya mereka semua mau tidak mau, harus bisa berbahasa Jepang, bukan?
Tapi sepertinya Ana keburu merajuk. Wanita itu terlihat berjalan mendahului Bara. Sambil memegangi perutnya yang membesar.
"Sayang, tunggu!" Panggil Bara seraya mengejar Ana.
SET!
Bara berhasil meraih tubuh Ana ke dalam dekapannya.
"Kamu kenapa sih, sayang? Kok, marah? Karena aku wibu?" Tanya Bara, berusaha mengambil hati Ana. Agar keduanya bisa kembali berbaikan lagi. Ana diam tak menjawab. Tapi bibirnya mengerucut ke depan. Seolah seperti anak kecil yang mengambek pada Ibunya.
"Sayang... aku wibu nya masih positif, kok. Nggak yang aneh-aneh. Aku cuma menyukai anime seperti Naruto, ramen, komik. Udah, gitu doang kok, sayang. Kamu jangan marah lagi, dong." Celoteh Bara beralasan.
"Kamu tahu nggak? Wibu itu biasanya suka sama cewek yang memakai cosplay baju Jepang. Dan itu biasanya dilakukan oleh cewek-cewek seksi! Kamu ngerti nggak sih, Bara?! Aku kecewa sama kamu!" Ana mendesis sebal. Bara tergelak kaget tak menyangka.
'Rasanya gini, ya. Cinta dan punya Istri yang suka baca. Apa pun dia tahu. Astaga, Ana. Untung aku sayang.' Gumam Bara dalam hati meringis.
Bersambung...
__ADS_1