Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 154


__ADS_3

Esok harinya...


"Yeay, akhirnya aku bisa makan roti seperti di kartun itu, Bunda." Ujar Arbi bersemangat ceria. Kedua tangan kecilnya terangkat ke atas. Tubuh nya di sandarkan pada kursi mobil yang ia duduki sekarang.


Di samping kanan kirinya, Bara dan Ana duduk dengan wajah semringah. Tersenyum kecil melihat Arbi yang begitu ceria pagi ini. Karena mereka semua tengah berangkat menuju toko roti yang di inginkan Arbi.


"Jadi, karena tontonan kartun? Ayah pikir kamu sudah tidak suka ice cream lagi." Balas Bara sambil mengelus lembut pucuk kepala kecil Arbi.


Anak itu menggeleng pelan.


"Ice cream tetap number one!" Gumam Arbi.


"Pintar, anak Bunda." Ucap Ana. Seraya mengecup lembut wajah mungil Arbi.


Pak John yang memegang kendali setir mobil melihat Arbi melalui kaca spion. Gurat senyumnya mengukir kecil. Menatap Arbi sekilas.


Arbi memang membawa pengaruh baik untuk semua orang disekitar nya. Senyum dan suara imutnya seperti menghinoptis. Bagi siapa saja yang melihat serta mendengar rengekan. Atau pula tawa kecil nya.


Beberapa menit kemudian, mereka sampai di sebuah toko roti. Tempat yang terlihat aesthetic dari luar. Nuansa tema berwarna pink. Serta ada beberapa gambar unicorn menempel pada dinding toko itu.


"Ayo, Yah, Bunda!" Ajak Arbi bersemangat.


Ana dan Bara tampak mengangguk pelan. Bara menggendong nya sambil menggenggam sebelah tangan Ana. Mereka berjalan memasuki toko roti itu. Setelah keluar dari dalam mobil. Diikuti Pak John yang mengekor di belakang.


Ada banyak menu roti, juga beberapa dessert box yang bisa di pilih sesuai dengan selera kita. Tidak hanya itu, beberapa makanan lainnya pun ada. Arbi terlihat senang saat melihat-lihat semuanya. Kedua matanya begitu berbinar.


"Aku mau roti yang itu, Ayah!" Pinta Arbi. Menunjuk ke sebuah roti berbentuk bulat. Namun di tengah-tengahnya terbelah menjadi beberapa bagian.


Rupanya roti itu, yang di inginkan Arbi. Namanya garlic bread cheese Korean, atau bisa di sebut dengan roti bawang putih. Arbi mengambil satu, dan memakannya sedikit demi sedikit. Lama kelamaan, suapannya semakin banyak. Hingga tak sadar, mulut kecilnya sudah memakan habis semuanya.


"Yah, rotinya sudah habis, Ayah." Gumam Arbi yang berada di gendongan Bara.


"Ambil lagi sepuas kamu. Mumpung kita sekarang sedang berada disini. Ayo, borong semuanya!" Usul Bara nyeleneh.


"Sayang... yang berlebihan itu tidak baik, loh. Arbi, ambil secukupnya saja ya, Nak." Balas Ana. Sambil menggelengkan kepalanya menatap Bara.


"I-iya, iya, maaf. Padahal kan, kamu juga pernah memborong sewaktu belanja di Paris." Ucap Bara menggerutu kecil.


"Aku masih dengar loh, sayang. Gerutu-an kamu barusan." Sambung Ana.


Wajah Bara langsung berubah pias. Tangannya menggenggam kuat pergelangan tangan Ana.


"M-maafkan aku s-sayang. A-aku tidak bermaksud menggerutu." Tutur Bara. Suaranya terdengar lesuh.


"Aku kan, borong semua itu bukan hanya untukku sendiri. Tapi juga di bagi-bagi pada yang lainnya." Celoteh Ana. Wajahnya melengos ke arah lain.


Cie, ngambek!


"Apa aku harus mencium kamu disini? Supaya kamu mau menatap lagi ke wajahku, An." Gumam Bara sedu.


Di tengah perdebatan kecil mereka, pandangan Arbi beralih pada seseorang yang ia kenal juga berada di toko roti itu. Kedua matanya tampak terkejut kaget. Sekaligus berbinar kegirangan dengan kehadiran nya.


Siapakah dia?


"Om, Om penyelamat!" Panggil Arbi.

__ADS_1


Orang itu mendengar teriakan suara Arbi. Dan menoleh ke arahnya.


"Hei, kamu disini juga?" Sahutnya bertanya. Arbi berlari memeluknya. Setelah turun dari genggaman Ayahnya, Bara.


"Kamu sama siapa kesini?" Tanyanya lagi.


Arbi lantas menunjuk ke arah Ana dan Bara.


"Ah, aku sudah mengira." Lanjutnya berucap.


Dia langsung berjalan mendekati kedua pasangan itu. Sambil berjalan menuntun Arbi.


"Ayah, Bunda!" Ucap Arbi memanggil Ana serta Bara. Spontan mereka menoleh.


"Arka? Kamu disini juga?" Tanya Ana tiba-tiba. Saat melihat Arka yang berada disana juga.


Arka tersenyum kecil mengembang.


"Iya, aku memang sering datang kesini." Balas Arka ramah.


"Gladys tidak ikut?" Sambung Ana, bertanya lagi.


Spontan, Arka menggeleng pelan.


"Dia sedang manja sekarang. Tidak mau bekerja, dan tidak mau kemana-mana." Tutur Arka.


Ana memagut-magutkan kepalanya pelan. Berbeda dengan Bara yang terfokus pada sesuatu lainnya.


"Kayak lagi janjian, datang kesini nya." Ujar Bara. Pandangannya menatap ke arah lain.


"Janjian? Bukannya kalian duluan yang datang kesini?" Balas Arka.


Kedua mata Arka langsung membulat lebar.


"Kakak Gue?"


"Siapa lagi memangnya? Kalau bukan mantan bos Gue dulu. Eh, tapi dia datang kesini sama siapa?"


Arka sontak menoleh ke belakang.


Terlihat sosok Arya berjalan bersama seorang wanita. Keduanya tampak memilah-milih makanan yang ada di sekitarnya. Wajah Arka langsung berubah malas. Saat tahu, Arya berada disana juga.


"Kayaknya Gue nggak bisa disini lama-lama. Kak, aku pamit ya." Ucap Arka pada Ana dan Bara.


"Loh, kenapa? Kan, kamu juga baru datang kesini." Sanggah Ana.


"Mau sampai kapan? Lo terus menghindar dari dia? Kenapa sih? Nggak baikkan aja. Kayak tikus tahu, nggak. Umpet-umpetan melulu." Tukas Bara.


Arka memutar kedua bola matanya malas.


"Jangan ikut campur, Bar. Ini masalah Gue sama orang itu." Ujar Arka.


Belum sampai pergi, dan tiba pada masa nya. Arya dan wanita yang ia gandeng itu berjalan mendekati mereka semua.


"Arka!" Panggil Arya pada adik lelakinya.

__ADS_1


Arka diam tak bergeming.


"Ana, apa kabar?" Sapa Arya lalu beralih pada Ana.


"Ana baik." Balas Bara. Menyanggah ucapan Ana yang baru saja ingin membalas perkataan Arya. Namun keburu di sanggah oleh nya.


"Syukurlah, saya senang mendengarnya." Sambung Arya.


"Gue cabut, Bar." Pamit Arka, langsung berbalik badan.


"Arka, tunggu!" Sergah Arya menahan Arka.


"Apaan si?! Lepas!" Arka menepis tangan Arya.


"Ka, kita perlu bicara." Gumam Arya berkata.


"Bicara? Nggak salah?" Ujar Arka sinis.


"B-bagaimana kalau kita semua duduk dulu?" Sanggah Ana. Merasa tidak enak dengan kehadiran customer yang semakin banyak berdatangan.


Arbi kecil memiliki inisiatif tersendiri. Kedua tangan nya menggenggam tangan Arya dan Arka secara bersamaan. Mengajak mereka berjalan mendekati kursi yang baru saja di tunjuk oleh Ana.


"E-eh... adik kecil? Kamu pintar, ya." Puji Arya pada Arbi.


"Nah, sekarang Om-om semua bisa mengobrol bebas disini." Ucap Arbi pada kedua saudara itu.


"Astaga, Arbi. Wajahku lebih muda dari orang ini. Panggil aku, Kakak. Mengerti?" Sergah Arka. Menolak panggilan Om yang di ucapkan Arbi.


Cipung kecil terlihat tertawa menyeringai menatap keduanya. Dan wanita yang bersama Arya sekarang sedang berdiri di sebelah Ana. Sementara Bara, ikut mendekati kedua saudara itu.


Arbi menggeleng pelan.


"Aku sudah memberikan panggilan untuk Om penyelamat." Gumam Arbi pada Arka.


"Apa? Om penyelamat?" Tanya Bara tiba-tiba. Ikut nimbrung pada obrolan itu.


"Iya, Om penyelamat. Karena Om penyelamat sudah menolong aku dan Bunda sewaktu lalu." Tutur Arbi.


Bara terlihat tertunduk lesuh. Merasa tertampar dengan penuturan Arbi barusan. Seharusnya ia yang menolong mereka. Bukan Arka, atau pula lainnya.


"Tapi mulai sekarang, panggil Om Arka. Karena main penyelamat-penyelamat nya sudah selesai." Balas Arka pada Arbi.


"Jadi... aku akan memanggil Om Arka? Bukan Om penyelamat?" Tanya Arbi.


Arya terlihat terkekeh seraya menahan gelak tawa di wajahnya.


"Jangan ketawa! Gak ada yang lucu, lagian." Sinis Arka pada Kakak nya.


"Masih aja, kayak Tom and Jerry. Gak pernah ada akurnya." Sindir Bara. Kedua matanya memicing pada Arbi. Anak itu paham dengan kode kecil yang diberikan Bara.


Arbi menyatukan kedua tangan Arka dan Arya. Namun sayangnya, Arka lagi-lagi menepis itu semua.


"Arbi..." ucap Arka sambil menggeleng menatap Arbi.


Wajah imut Arbi berubah sedu.

__ADS_1


Apakah cipung kecil itu tengah berakting sekarang?


Eh.


__ADS_2