Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 89


__ADS_3

Hari berikutnya, untuk pertamakalinya bagi Bara kembali bekerja pada Kertajaya Group. Mewarisi semua harta kekayaan yang ditinggali oleh Tuan Brama. Menjadi Presdir pengganti dari sang Ayah. Sudah keinginan Bara sejak dulu, sebenarnya.


Dapat memimpin Kertajaya Group di kantor pusat. Yakni yang terletak ditengah-tengah Ibu kota Jakarta. Mengenai BARNA Corp, ia sama sekali tidak mengingat apa pun. Ia hanya mengingat memori pada masa lalu. Masa dimana, ia dan Ana belum pernah terlibat dalam hubungan pernikahan ini.


Ting!


Suara bel apartemen Ana dan Bara berbunyi. Tampaknya ada yang datang untuk bertamu.


"Kamu ada janji sama Arka?" tanya Ana pada Bara seraya mengaduk susu formula ibu hamilnya. Untuk sarapan pagi ini.


"Enggak, aku gak ada ngomong apa-apa sama orang itu." Jawab Bara yang sudah rapi dengan setelan kemeja putih dan jas hitamnya.


"Terus, siapa dong?" tanya Ana lagi.


"Entah, aku lihat dulu."


Bara melangkahkan kakinya mendekati pintu. Dan...


Krek


"Selamat pagi, Tuan muda!" Sapa Sekretaris John.


"Pagi, Pak John." Jawab Bara.


"Saya datang untuk menjemput Tuan muda. Apakah sudah siap?" Tanyanya lagi.


"Ya, dimana mobilnya? Saya ingin menyetir sendirian."


"Maaf, Tuan muda. Tapi mulai sekarang, saya yang akan menjadi sopir pribadi sekaligus sekretaris Tuan muda."


Ana penasaran, siapa orang yang bertamu ke apartemennya sepagi itu. Kalau pun Arka, sudah pasti akan masuk dulu, kan.


"Siapa sayang?" Ujar Ana bertanya. Seraya berjalan mendekati Bara.


"Ini, Pak John. Asisten Papaku dulu, sekarang beliau yang menjadi sekretaris-ku. Tapi masa iya, harus jadi sopir juga?" Celoteh Bara.


"Sayang, kamu lupa? Sebelumnya kamu mengalami kecelakaan. Dan karena itu juga, kamu menjadi amnesia. Ada baiknya memang kamu di antar jemput oleh, Pak John." Gumam Ana seraya mengelus lembut wajah Bara.


"Kamu benar." Balas Bara sambil tersenyum mengembang menatap Ana.


Cup


Bara mendaratkan kecupan di kening Ana. Sang wanitanya begitu tersipu malu. Merasa tidak enak dengan Pak John yang juga ada disana. Melihat kemesraan Tuan mudanya dengan sang Istri.


"Sayang ih, ada Pak John disini." Bisik Ana pada Bara.


"Gak apa-apa, Pak John juga pasti mengerti. Ya kan, Pak John?" Ujar Bara seraya mengalihkan pandangnya pada Pak John.


"Betul Nona, anggap saja saya tidak ada." Pak John terkekeh kecil menahan tawa.


Sontak Ana mencubit lengan Bara.

__ADS_1


"Awh, sakit sayang." Keluh Bara.


"Ih, kamu lagian. Aku kan jadi malu." Ana bersembunyi di belakang tubuh Bara.


"Ngapain kamu ngumpet? Pak John juga udah lihat kok, tadi." Bara terkekeh sendiri melihat kelakuan Istrinya.


"Ih Bara!! Udah sana buruan ke kantor. Pak John udah kamu nunggu dari tadi."


"Kamunya yang bikin aku lama, sih."


"Kok aku? Kamu nyalahin aku?" Ana cemberut kecewa.


"Iya kamu, yang bikin aku jadi betah berlama-lama disini. He he he!"


Dasar gombal!


"Ba-ra!" Rengek Ana sambil menghentakkan kedua kakinya.


Ana semenjak hamil kembar, manja nya jadi gak ketulungan, ya. Eh.


"Iya sayang, iya." Bara mengelus lembut perut Ana yang belum buncit.


"Ayah berangkat dulu, ya. Kamu jangan bikin Bunda sakit. Cup!" Sambung Bara lagi. Berucap seraya mendaratkan kecupan di perut Ana yang tertutup baju gamis panjang.


Detik berikutnya...


Cup


Aih! Pak John nakal, ya! Ngintip-ngintip, Eh.


"Jangan lama-lama ya, pulangnya." Tutur Ana sembari mengelus wajah tampan Bara.


"Kamu gak mau jauh-jauh dari aku, ya?" Ledek Bara menyeringai.


"Gak perlu dijawab pun, kamu udah tahu jawabannya."


"Iya, aku gak akan lama kok."


Drama Suami Istrinya berakhir. Bara dan Pak John pamit pergi. Sementara Ana kembali ke kamarnya. Ya, sejak hamil, Ana memang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam apartemen.


Makan, tidur, mandi, beres-beres kecil, ibadah, menyambut pulang Suami. Lalu menonton film drama korea, memasak, baca buku, dan menulis. Mungkin kedengarannya membosankan. Tapi, bagi anak rumahan, kegiatan itu seperti sebuah kesenangan.


Terutama bagi introvert seperti Ana.


.........


Di kantor KG, Kertajaya Group.


"Eh, itu siapa? Bukannya itu tunangannya Presdir kita." Bisik orang-orang di kantor KG.


"Iya, itu dulu. Kan gak jadi tunangannya."

__ADS_1


"Hah? Serius? Terus, dia ngapain kesini?"


"Mau balik lagi, mungkin. Ya siapa sih, yang bisa lepasin Tuan muda kayak Presdir baru kita."


"Iya juga sih, aku juga naksir berat sama Bara. Eh, Tuan muda Bara maksudnya."


"Ada-ada aja kamu tuh, dia udah punya Istri."


"Siapa yang udah punya Istri?" Mendadak Sofie datang dan ikut nimbrung dengan pergosipan karyawan di kantor KG.


Semua karyawan disana berubah diam. Tak ada yang berani membalas.


"Dengar semuanya! Aku yang sebenarnya Istri dari Tuan muda kalian! Aku Istrinya Bara!" Ujar Sofie dengan suara lantang.


"Wah, mengada-ngada nih orang." Bisik-bisik karyawan di kantor.


"Iya nih, bikin rusuh kantor aja!"


"Eh, dia bukannya artis kan ya? Masa iya artis mempermalukan dirinya sendiri di depan umum."


"Ha ha ha, iya ya. Maklum, yang jadi bahan rebutan itu seorang Tuan muda. Wajarlah dia begitu."


Para karyawan yang melihatnya. Sontak mendadak mengerubungi Sofie. Pak John yang mendengar adanya kerusuhan di kantor KG. Mendadak tiba-tiba turun ke lantai dasar. Tempat dimana Sofie berada bersama dengan para pegawai KG.


Pak John datang dari dalam lift. Bersama dengan dua orang pengawal.


"Tangkap dia! Jangan biarkan dia membuat kerusuhan di kantor ini." Perintah Pak John pada dua pengawal itu.


"Baik, Tuan."


Sofie tidak menyadari kehadiran dua pengawal yang akan menangkap dirinya. Ia sendiri justru masih tebar pesona. Memamerkan bahwa dirinyalah wanitanya Bara. Membuat pernyataan palsu agar semua orang mempercayainya.


Tiba-tiba...


"Maaf Nona, anda harus keluar dari kantor ini!" Ucap dua orang pengawal itu seraya memegang kedua tangan Sofie dengan kuat.


"Apa-apaan kalian?! Lepaskan aku! Berani-beraninya kalian mengusirku dari sini, hah?! Aku akan mengadukannya pada Bara! Kalian tahu tidak, siapa itu Bara?! Tuan muda kalian, bodoh! Lepaskan aku!" Umpat Sofie memaki kedua pengawal itu. Memberontak untuk bisa lepas dari jerat lelaki kekar.


"Aih, kasihan sekali ya."


"Iya, halu nya ketinggian sih."


"Benar, orang sudah beristri masih ingin di rebut."


"Dasar wanita penggoda!"


Gosip-gosip pegawai KG mengomentari. Bara sebetulnya sudah mengetahui hal ini. Namun, semuanya ia serahkan kepada Pak John.


Baginya, tidak ada hal yang penting selain cintanya kepada Ana. Sofie bukanlah siapa-siapa. Jadi, untuk apa dirinya menemui wanita itu?


"Sialan! Bisa-bisanya mereka mengusir Gue dari sana. Ini semua gara-gara wanita penggoda itu! Awas kamu, Ana!" Ucap Sofie sesudah keluar dari dalam kantor KG.

__ADS_1


Ia sepertinya ingin membuat rencana pada Ana. Entah apa yang ia rencanakan. Semoga saja, tidak ada hal yang membahayakan bagi Ana, maupun Bara.


__ADS_2