Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 151


__ADS_3

Arbi mengambil kado yang diberikan Tasya padanya. Kedua mata Arbi nanar melihat bungkusan dari kado itu.


"Terima kasih!" Ucap Arbi pada Tasya.


"Sama-sama. Kamu mau buka kado nya sekarang?" Balas Tasya.


Arbi lantas menggeleng pelan.


"Kenapa?"


"Aku belum memberitahu ini pada Bunda."


"Ya sudah, terserah kamu saja." Ujar Tasya. Yang tampaknya kecewa setelah mendengar jawaban dari Arbi.


Ya, namanya juga anak kecil. Pastilah kalau ada apa-apa, akan memberitahu pada Bunda nya lebih dulu.


Setelah menerima kado dari Tasya, Arbi juga di hujani kado oleh teman-teman nya. Terlihat, seorang pelayan wanita tengah mendorong box besar yang berisi banyak kado di dalam nya. Kedua mata Arbi tampak berbinar ceria.


"Wuaaah! Ada banyak kado! Ayah, apakah kado itu untukku?" Ucap Arbi bertanya pada Bara.


Bara mengangguk paham seraya tersenyum mengembang menatap cipung kecil nya.


"Iya, kamu suka?" Jawab Bara. Arbi mengangguk cepat sembari berlari dan memeluk semua kado-kado itu.


"Sayang, hati-hati, Nak!" Sanggah Ana mengingatkan pada Arbi.


"Arbi baik-baik saja, sayang. Kamu harusnya mengkhawatirkan aku." Tukas Bara.


Ana mengernyitkan dahi nya sesaat.


"Kamu? Kenapa?" Tanya Ana bingung.


"Aku ingin makan sesuatu." Sambung Bara berucap.


Makan tinggal makan, Bar.


Estegeh!


"Kamu mau makan? Sebentar, aku ambilkan dulu." Balas Ana seraya pergi ke bagian meja yang berisi banyak makanan.


Menu makanan yang di sediakan ada banyak sekali macam-macam nya. Pizza, burger, blueberry cheesecake, lasagna, hokben, kentang goreng, sampai dengan ayam tepung goreng.

__ADS_1


Beberapa minumannya hanya ada jus buah seperti alpukat, jambu, mangga, dan melon. Tidak ada minuman yang mengandung soda. Karena tidak baik untuk anak-anak. Bara sangat memperhatikan kesehatan semuanya.


Setelah mengisi beberapa makanan ke dalam warah piring yang dibawa, Ana lalu kembali berjalan menghampiri Bara.


"Banyak banget, makanan nya." Ucap Bara terkejut. Saat melihat porsi makanan yang Ana bawa. Seperti untuk dua orang dalam sekali makan.


"Sekalian untukku juga." Jawab Ana.


Bara memagut-magutkan kepalanya pelan.


Semuanya terlihat sedang sibuk makan juga. Arbi tampak menikmati burger dan jus alpukat yang ia genggam di kedua tangan nya. Bersamaan dengan itu, sepertinya mereka semua tengah kedatangan tamu.


"Hai, An! Bara!" Sapa Gladys dan Arka. Yang baru saja datang ke acara pesta itu.


"Gladys, Arka! Apa kabar? Wah, kalian telat nih." Sahut Ana.


"Ehem! Enak banget, ya. Lagi main suap-suapan." Dehem Arka sekaligus menyindir Bara. Yang sedang asyik sendiri dengan Ana.


"Iri? Bilang bos!" Balas Bara meledek Arka.


Memang agak-agak nih, si Bara!


"Sayang..." bisik Ana seraya menggeleng pelan pada Bara. Bermaksud untuk tidak bersikap demikian pada Arka dan Gladys. Karena bagaimana pun, mereka sudah menyempatkan diri untuk mendatangi acara pesta ulang tahun Arbi.


"Iya, maaf." Gumam Bara pelan. Sambil mengerucutkan bibirnya ke depan.


"Wah, ada Tasya juga disini?" Tanya Gladys tiba-tiba. Saat pandangan matanya tak sengaja beralih menatap seorang gadis kecil di depan sana. Yang tengah makan burger bersebelahan dengan Arbi.


"Iya, kan Tasya teman sekelasnya Arbi." Jawab Ana.


Gladys lantas memagut-magutkan kepalanya pelan.


"Oh iya, Dys. Hubunganmu dengan Tasya itu apa, ya? Kok, kamu bisa kenal dengan Tasya?" Ana bertanya.


"Tasya itu keponakanku, An. Mama nya dia, adalah Kakak ku." Balas Gladys.


"Pantas, kalian berdua tampak begitu akrab. Aku kira, hanya sekadar kebetulan saja." Lanjut Ana berkata.


"Sayang, aku mau ke Arbi dulu." Ucap Bara tiba-tiba. Meminta izin pada Ana. Seraya pergi dan mengajak Arka untuk mengikutinya mendekati si cipung kecil itu.


Ana hanya mengangguk pelan. Seraya tersenyum kecil menatap Bara.

__ADS_1


"He he, tidak An. Mama nya Tasya Kakak perempuanku satu-satunya. Ya, kami hanya dua bersaudara. Dia berprofesi sebagai dokter, sama sepertiku juga." Celoteh Gladys berkata.


"Wah, hebat! Kakak beradik dokter. Hm, kalau aku hanya sebagai Ibu rumah tangga. Ya... beginilah. Di rumah saja, mengurus Suami dan anak-anak." Sambung Ana.


"Loh, bukannya kamu bekerja di perusahaan sebelumnya? BARNA Corp itu bagaimana?"


"Itu dulu, waktu aku dan Bara masih berada di Jogja. Sekarang hanya Bara dan Arka saja yang mengurus perusahaan itu. Aku hanya akan sibuk untuk urusan di rumah dan anak-anak." Balas Ana.


"Wow, itu nggak kalah hebatnya dengan dokter, An. Justru penghasilan kamu lebih besar daripada Aku." Tutur Gladys.


"He he, bisa aja kamu, Dys." Ana terkekeh.


Benar juga, karena omset perusahaan BARNA dalam satu hari saja mencapai 1 Milyar. Bila di hitung sampai satu bulan, bukankah cukup besar?


Apa yang BARNA Corp jual? Produk kecantikan. Seperti kosmetik dan skincare. Yang di ekspor ke beberapa negara Asia dan Eropa.


"Oh iya, Arka juga pernah bilang waktu itu ke aku. Dia sibuk mengurus dua perusahaan, katanya. Ternyata perusahaan kamu yang dia maksud." Tukas Gladys berucap lagi.


Ana tampak cengar-cengir menatap Ibu hamil itu. Meskipun belum terlihat besar sekarang. Walau bagaimana pun, Gladys tetaplah Ibu hamil, kan.


"Iya, itu perusahaan kami. Arka sangat teliti dan pekerja keras. Saat Bara mengalami kecelakaan itu, dia semua yang mengurusnya. Bahkan hingga sekarang ini juga masih. Saham nya Arka pun ada 35% di BARNA Corp." Jelas Ana.


"Aku pikir, hanya waktu itu saja. Dia membantu mengurus perusahaan kalian berdua. Ternyata sampai sekarang pun juga masih, ya. Arka... Arka. Pantas saja, dia sibuk banget. Waktu kami berdua bahkan hanya ada saat malam saja." Celoteh Gladys menggerutu. Seraya mengerucutkan bibirnya ke depan.


"Sabar, yang penting kan, Arka sekarang sudah cinta sama kamu." Gumam Ana menyemangati Gladys.


"Iya, kamu benar An. Arka sekarang tuh, jadi bucin banget sama aku. Apalagi sejak aku hamil. Perhatian dia mendadak berubah lebih protektif gitu."


"Namanya juga sayang, Dys. Bara pun begitu, sewaktu aku hamil Ara dan Arez."


"Ah, iya ya. Bara protektif nya kebangetan. Semuanya di larang-larang, kalau aku perhatikan ya."


"He he, iya. Tapi itu semua untuk kebaikan ku juga, kan." Ucap Ana. Seraya melihat ke arah Bara dan Arbi di depan sana. Yang tengah melakukan seseruan bersama teman-teman sekelas Arbi.


"Kamu beruntung, An. Bara sayang banget loh, ke kamu. Arka juga pernah begitu." Gumam Gladys sedu.


"Hush, nggak usah bahas yang lalu. Nggak baik untuk kita semua. Arka kan, juga sudah sayang banget ke kamu. Lihat, dia sepertinya menyukai anak kecil. Bakalan jadi Suami siaga banget nih, Arka." Sanggah Ana, mengalihkan topik.


Gladys rupanya masih membanding-bandingkan antara Arka dengan Bara. Padahal, Arka yang sekarang sudah berubah. Dan bukan lagi Arka yang dulu.


Masalalu biarlah menjadi masalalu. Tidak perlu di bahas lagi. Atau pula mengingat-ngingatnya kembali. Karena yang terpenting adalah, masa kini. Masa yang sedang di hadapi saat ini.

__ADS_1


__ADS_2