Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 85


__ADS_3

Dengan terpaksa, Nyonya Kertajaya membiarkan putranya ikut pulang bersama Ana. Bara ikut masuk ke dalam mobil Arka. Yang di dalamnya ada Gladys, serta Ana. Kali ini Arka yang menyetir.


Sementara asisten dan para pengawalnya ada di mobil satunya lagi. Yang juga mengawalnya dari belakang serta depan. Jadi ada dua mobil mengawal mobil yang dikendarai oleh Arka.


Benar-benar seorang Tuan muda. Eh.


Hilangnya memori pada ingatannya Bara, membuat sikapnya juga berubah dari Bara yang biasanya. Lelaki genit dan tukang gombal. Berubah jadi dingin dan kurang romantis. Karena gegar otak yang membuat Bara mengalami amnesia.


Di dalam mobil, Ana sesekali memperhatikan Bara diam-diam dari arah samping. Wajah tampan yang suka merengek kala itu. Sudah tak seperti biasanya. Yang suka bermanja dan berkeluh kesah padanya.


Sampai akhirnya, gerak-gerik Ana diketahui oleh Bara sendiri. Ana langsung mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Tak ingin Bara salah paham padanya. Namun diluar dugaan, tiba-tiba tangan Bara menyentuh jemari Ana. Kepalanya juga ikut menyender pada bahu Ana.


Seolah bahu Ana ialah pengganti bantal untuknya.


Aduh buset srepet tet.. tet.. tet.. Eh.


“Tangan kamu, hangat.” Ujar Bara sambil memainkan jari jemari Ana.


“I.. iya.” Balas Ana gugup.


Tiba-tiba tangannya terangkat memindahkan telapak tangan Ana untuk mengelus wajahnya. Sontak membuat Ana refleks mencium wajahnya tanpa sadar. Mengingat kebiasaan mereka sebelum-sebelumnya selalu begitu.


“Eh.. m-maaf, Bara. A-aku refleks barusan.” Ucap Ana beringsut menjauhkan tubuhnya dari Bara.


Cie malu, xixixixi.


Bukannya marah, Bara justru menarik lagi tangan Ana. Memosisikan nya seperti tadi.


“Kenapa? Aku suka kok.” Bara berkata seolah tidak terjadi apa-apa.


“Eh.. k-kamu gak marah?” Ana bertanya gugup.


Gugup melulu sih, An. Kan udah jadi suami. Depok bercerita, Ana kenapa kah? Eh.


Bara menggeleng pelan.


“Lagi dong, kayak tadi.” Gumam Bara seraya tersenyum menyeringai. Menampilkan gigi putihnya.


Ana mengangguk menurut.


“Kamu udah makan?” tanya Bara. Sembari menenggelamkan kepalanya di pangkuan Ana.


“Belum.”

__ADS_1


Mendengar penuturan Ana, sontak Bara langsung bangun.


“Pak sopir, tolong berhenti di depan restoran dekat sini, ya.” Ujar Bara meneriaki Arka yang tengah menyetir di depan.


“HEH, Gue bukan sopir, kam*pret!” Jawab Arka kesal.


“Arka... ssssttt, udah biar in aja.” Bisik Gladys disampingnya seraya mengusap lembut wajah Arka.


Hal itu membuat wajah Arka memerah seketika menahan malu.


‘Ya Tuhan, ini Gladys kenapa jadi begini, sih?! Dys, kayaknya kita harus cepat-cepat menikah.’ Gumam Arka dalam hati. Sementara tangannya gemetar sambil memutar setir mobil.


Aduh buset srepet.. tet.. tet.. tet.


Mobil yang dikendarai Arka berhenti tepat di depan rumah makan padang. Hanya itu yang mereka temui disana. Karena jarak untuk sampai ke apartemen Ana, masih 1,5 kilo meter lagi. Arka pun tidak tega membuat Ana menunggu dan menahan lapar lebih lama lagi. Sementara di dalam perutnya ada dua kehidupan yang tertanam disana.


“Yeay, kita udah sampai! Ana, ayo!” ajak Gladys pada Ana. Kepalanya menoleh ke jok bagian belakang. Tapi ternyata...


‘Oh Gusti, mataku ternodai! Kenapa gak bilang-bilang sih, kalau mau cium-ciuman.’ Gumam Gladys dalam hati. Dengan cepat, kepalanya menoleh lagi ke depan.


“Kamu kenapa? Kak Ana tidur ya?” bisik Arka bertanya pada Gladys. Baru saja kepalanya ingin melihat ke belakang. Namun langsung di tahan oleh tangan Gladys.


“Eh.. Ka, kita turun duluan aja deh. Gak enak bangun-in Ibu hamil. Kita pesan dulu aja, gimana?” Gladys beralih topik.


“Hm, iya juga sih. Ya udah, yuk!” Arka mengangguk menyetujui.


Arka dan Gladys sudah turun dari dalam mobil. Perlahan bayangannya menghilang dibalik pintu masuk restoran padang. Ya, mereka sudah masuk ke dalam. Tapi Ana dan Bara?


“Ana, bangun. Kita udah sampai.” Ucap Bara membangunkan Ana seraya menepuk lembut wajahnya, yang terlelap di bahu Bara.


Rupanya Gladys salah paham, ternyata. Aih, Gladys, kamu melihat kemana barusan? Eh.


Mungkin karena jarak antara wajah Bara dengan Ana. Yang begitu dekat dan hanya berjarak 1 inci. Itu sebabnya Gladys jadi salah paham.


Ana membuka kedua matanya secara perlahan. Kepalanya ia angkat dan membenarkan posisi duduknya.


"Kita udah sampai, ya?" tanya Ana linglung.


"Iya, yuk turun!" Ajak Bara.


"Gladys sama Arka dimana?"


"Mereka udah duluan masuk."

__ADS_1


"Hah? Udah dari kapan?"


"10 menit yang lalu." Jawaban Bara sontak membuat Ana terkejut.


"Gak apa-apa, kok. Mereka juga pasti ngerti. Yuk! Kamu udah lapar, kan?" Bara menengadahkan tangannya pada Ana.


Tampak malu-malu, Ana meraih tangan itu. Senyum kecilnya mengembang menatap wajah Bara. Keduanya saling bertatap-tatapan. Wajah mereka kian mendekat, dan...


Cup!


Sentuhan lembut diantara kedua bibir itu. Ana memejamkan kedua matanya. Napasnya terengah-engah, begitu sesudah melepaskannya.


"Hah!" Ana menghela napas panjang.


"Maaf, aku begitu tergesa-gesa." Ujar Bara, wajahnya agak merona.


Ana diam terpaku, wajahnya tertunduk malu. Wajah merahnya ia tutupi kebawah. Tidak berani memperlihatkannya pada Bara.


"Ng-nggak apa-apa. Eh, k-kita turun yuk! K-kayaknya mereka u-udah menunggu lama." Ucap Ana terbata.


Cie, gugup. Ahay!


"Eh.. Iya, yuk! Kamu pasti udah lapar juga, kan?" tanya Bara. Ana menjawab dengan anggukan.


.........


Singkat cerita, Ana dan Bara memasuki ke dalam restoran itu. Terlihat dari kejauhan, Arka dan Gladys melambai-lambaikan tangan. Mengisyaratkan agar menghampiri ke tempat duduk mereka.


Sesampainya di meja...


"Lama banget, ngapain aja sih?" tanya Arka.


"Eh... i-itu a-aku tadi ketiduran, Ka. Maaf, kalian jadi lama menunggu." Jawab Ana gugup.


"Memangnya kenapa kalau lama? Kalau gak mau nunggu ya udah, kita bisa makan di tempat lain." Bara tampak tidak senang dengan perkataan Arka tadi.


"Bara, jangan gitu ah. Ini kan aku yang salah." Bisik Ana di telinga Bara.


"Kan kamu ketiduran, jadi gak salah, dong?!" Bara mengelak bila Ana salah.


"Oh, Kak Ana ketiduran, ya? Ya udah, gak apa-apa, Kak. Ayo, duduk. Dimakan ya, makanan nya." Arka tidak ingin memperpanjang masalah itu dengan Bara.


'Demen banget suka nyari gara-gara nih anak, heran.' Gumam Arka dalam hati memaki Bara.

__ADS_1


Ana dan Bara duduk dengan posisi berhadap-hadapan dengan Gladys serta Arka. Bara di samping sisi Ana. Sementara Gladys di samping sisi Arka.


Jadinya bukan makan bersama. Melainkan double date. Aih!


__ADS_2