Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 72


__ADS_3

Sesampainya di area kampus, mereka semua berjalan ke arah gedung auditorium. Sayangnya, seharusnya Bara juga ikut dalam wisuda kali ini. Karena keadaan yang memaksanya dulu untuk bekerja keras. Demi memenuhi kebutuhan Ana serta bayi yang dikandungnya dulu. Ia rela bekerja di perusahaan Arya. Dan meninggalkan kehidupan kampusnya.


Ana tiba-tiba terpikirkan dengan kejadian lalu. Ia menoleh ke arah Bara, menatap dalam-dalam wajah Suaminya. Ia bisa merasakan kesedihan di wajah Bara. Ana menyadari itu, ia menggenggam erat jari jemari Bara. Dan mengatakan suatu hal padanya.


“Sayang... don’t be sad!” Ana mengelus lembut wajah tampan itu. Tak peduli dengan orang-orang yang ada di belakangnya memperhatikan mereka.


“Peluk aku!” balas Bara. Suaranya terdengar sedu.


Dengan sigap, Ana langsung memeluknya. Bara tersentuh dengan sikap perhatian Ana.


“Kamu mau kuliah lagi? Bilang aja gak perlu sungkan. Aku janji akan bantu kamu. Supaya cepat lulus nantinya," tanya Ana seraya memberi usul.


“Enggak, kamu aja. Aku lihat kamu udah wisuda aja udah senang. Kenapa juga aku harus kembali ke kampus ini?”


“Kenapa? Kamu benaran gak mau? Mendapat gelar sarjana?”


“Enggak. Buat apa? Kan aku udah jadi CEO sekaligus Founder di BARNA Corporation.” Ucap Bara dengan bangganya.


Ana terkekeh sendiri mendengarnya.


“Uh, Suamiku bisa aja nih.” Ana mencubit hidung mancung Bara.


“Cium dong, masa di cubit aja sih?!”


“Disini banyak orang,” Ana menolak halus permintaan Bara.


“Ya udah, kalau begitu nanti di mobil.”


“Enggak, ada Arka.”


“Ya udah dirumah.”


“Iya.. Suamiku.” Ana tersenyum lebar menatap Bara. Yang di tatap malah salting. Eh.


-


Tiba pada masanya, nama Ana yang kemudian mendapat giliran di panggil maju ke depan. Bara dengan sigap memfoto nya saat Ana diberikan medali oleh rektor disana. Bara tersenyum bahagia melihatnya. Ikut senang dengan hari bahagianya Ana saat ini.


Entah dimana Arka, yang jelas, tempat duduk mereka terpisah. Karena Arka bukan satu departemen fakultas yang sama dengan Ana.


“Cie, udah pensiun nih.” Ledek Bara, saat Ana kembali duduk di sebelahnya.


“Pensiun? Maksudnya?”


“Iya, pensiun jadi mahasiswa. Ha ha ha!” Bara terkekeh seraya mengusap kepala Ana yang memakai topi toga di atasnya.


“Stop, don’t touch it!” Ana menahan lengan Bara.


“Iya, iya Istriku. He he he!” suaranya terdengar jahil ya, emang. Eh.


“Arka dimana? Acaranya udah selesai nih, kita foto-foto dulu yuk!” seru Ana mengajak kedua sahabat itu untuk berfoto bersama.


“Nanti juga dia muncul. Kamu mau foto dimana?”


“Di pelataran kampus, banyak yang berfoto disana juga.” Bara lalu mengangguk paham. Ia menggandeng tangan Ana sambil berjalan keluar dari aula gedung auditorium.


Semua orang tampak bahagia. Ada yang berfoto lengkap dengan keluarganya. Ada juga yang hanya di dampingi oleh seorang sahabatnya. Ada juga yang.... hanya datang sendirian. Namun, tiap-tiap orang punya bahagianya masing-masing. Orang yang sendirian, bukan berarti ia tidak bisa bahagia.


Kita tidak pernah tahu, pengalaman hidup apa yang orang lain alami. Kita hanya tahu dan melihat dari sisi luarnya saja. Tentang bagaimana cara kita menyikapi hal-hal yang terjadi diluar kendali kita. Takdir tak ada yang bisa menebaknya. Sendirian bukan berarti menandakan bahwa orang itu buruk, dan tidak punya lingkup sosial yang bagus.


Namun, tiada satu pun yang menginginkan kesendirian.

__ADS_1


“Sayang, ayo katanya mau foto. Ngapain sih? Ngelihatin orang melulu.” Bara menyadari pandangan Ana yang sedari tadi melihat dan memperhatikan ke satu orang. Yang berpose selfie sendirian sambil memegang bunga di tangannya.


“Hm... dia hebat ya.” Gumam Ana.


“Siapa yang hebat? Kamu memuji dia? Kamu kenal cowok itu? Tega kamu ya, An!” celoteh Bara tiada ampun.


Orang cemburu memang berbahaya, layaknya seperti bom atom. Di senggol meledak, gak di senggol juga meledak. DOR!


“Apaan sih kamu! Aku gak kenal dia, kita aja baru datang kesini. Masa iya, aku kenal dia?! Dasar kekanakan!” gerutu Ana kesal.


“Ya habisnya, kamu dari tadi ngelihatin dia melulu. Ganteng-an mana dia sama aku?”


“Ah tahu ah!”


“Ya udah iya. Maaf. Aku salah!” Bara pasrah dengan raut wajah yang kusut, bagai tak bunga yang layu.


Eh.


Di tengah-tengah perdebatan yang terjadi antara keduanya. Arka datang menyusul, diikuti Gladys yang tiba-tiba juga hadir.


“Gladys? Kapan datang?” tanya Ana penasaran.


“Baru aja kok. Maaf ya, aku telat datangnya.”


“Gak apa-apa, kita juga baru kelar acaranya. Yuk foto bareng!” ajak Ana tampak antusias dengan hari bahagianya.


Di tengah-tengah asyiknya berfoto, namun tiba-tiba....


BRUK!


“ANA!!!” teriak Bara yang panik melihat Ana terjatuh pingsan.


Semua orang yang ada disana juga ikut khawatir melihat kejadian langsung. Arka apalagi yang tak kalah paniknya. Dengan cepat, Bara menggendongnya dan membawa masuk ke dalam mobil. Gladys mencoba memeriksa urat nadinya.


“Dia baik-baik aja, kayaknya Cuma kelelahan aja. Tapi tadi udah sarapan belum?” ujar Gladys.


“B-belum sih.. dia antusias banget pagi tadi. Jadi gak sempat sarapan dulu.” Tutur Bara tertunduk sedu.


“Terus Lo diam aja gitu? Dia gak mau sarapan? Dasar idiot! Kalau dia sampai kenapa-kenapa gimana?! Huh! Gila, ya!” celoteh Arka memaki Bara.


“Ya udah bawa aja ke rumah sakit. Gua takut Ana kenapa-kenapa.” Usul Bara khawatir.


“Iya, tenang aja. Dia tetap harus di cek juga ke RS. Takutnya juga ada magh atau asam lambung di perutnya. Perlu di cek juga secara keseluruhan, supaya tahu penyebabnya apa.” Ucap Gladys.


“Iya benar, kamu kan dokter, kamu aja deh yang periksa.” Sambung Arka menyarankan.


“Eh, hari ini aku lagi gak ada jadwal praktik, Ka. Kan aku udah minta cuti separuh hari, buat datang ke wisuda kamu dan Ana.”


“Oh iya, ya.”


“Ya udah si Ka, kalau dia gak bisa meriksa, BURUAN JALAN KAM*PRET!” Bara berteriak karena kesal.


Arka langsung menancapkan gas mobilnya. Menuju ke rumah sakit terdekat. Yang tidak begitu jauh dari lokasi kampus mereka. Sepanjang perjalanan, Bara tak berhenti berdoa untuk keselamatan Ana. Tangannya tak terlepas menggenggam jari jemari Ana. Yang saat ini, Ana berada di pangkuannya.


“Ana... jangan kenapa-kenapa ya. Aku takut kalau kamu sakit.” Gumam Bara dalam hati seraya mendaratkan beberapa kecupan di wajahnya.


Ana masih tak sadarkan diri. Tak ada tanda-tanda pergerakan di tubuhnya.


“Berapa lama lagi sampainya?” tanya Bara tak sabar.


“Ini udah mau sampai, Bar. Lima menit lagi,” jawab Arka.

__ADS_1


“Kebut Ka! Ana masih belum sadar juga. Gua takut dia kenapa-kenapa.”


Panic attack melanda, Bara semakin risau tak karuan.


“Iya, iya. Pegangan ya!” ujar Arka seraya menambah kecepatan gas mobilnya.


-


Beberapa saat kemudian, mereka semua tiba di depan gedung rumah sakit umum. Dengan keadaan panik, Bara langsung menggendong Ana masuk ke dalam. Diikuti Gladys beserta Arka di belakangnya. Yang ikut berlarian mengejar Bara.


Dua orang suster datang dan ikut membantu. Membawa Ana langsung masuk ke ruangan IGD. Hanya Bara yang boleh ikut masuk ke dalam. Sementara Gladys dan Arka setia menunggu di luar.


Bara tak melepaskan pergelangan tangan Ana dari genggamannya. Kepanikan yang melanda begitu sulit untuk dihilangkan. Kecuali jika Ana bangun dan sadarkan diri.


“Maaf ya, Kak. Saya periksa dulu denyut jantungnya.” Ucap dokter lelaki yang memeriksa Ana.


“Jangan pegang-pegang, dok!” ujar Bara menekankan.


“Loh, terus? Saya periksanya gimana?” dokter lelaki itu tampak kebingungan.


“Ya pegangnya pake alat itu aja. Jangan di sentuh kesana-kesini!” Bara mencoba menahan emosinya yang tak stabil.


“Oh maaf kalau gitu.”


“Saya lihat loh, dok.” Bara seolah tidak percaya pada dokternya.


“Dokternya ganteng segala lagi, kamp*pret!” gumam Bara dalam hatinya.


Beberapa saat kemudian...


“Hm... oke, saya jelaskan ya, Kak. Pasien ini mengalami dehidrasi, kekurangan cairan. Dan juga kelelahan. Karena di dalam tubuhnya ada..” ucap dokter lelaki itu terpotong.


“Penyakit? Ana gak pernah bilang kalau dia punya penyakit.” Tutur Bara memotong perkataan dokternya. Ia justru malah punya pemikiran sendiri bahwa Ana punya penyakit lain.


Raut wajah Bara berubah kusut memikirkan penyakit Ana.


“Hm.. bukan.. bukan penyakit, Kak. Pasien ini kelelahan karena ada sesuatu di dalam tubuhnya.” Dokternya tampak ragu-ragu menjelaskan.


BRAK!


“Dokter nih lama-lama bikin saya emosi. Dari tadi bertele-tele menjelaskan!” Bara menggebrak meja di depannya dengan satu tangannya.


Dokternya tercengang kaget mendengarnya.


“Baik.. baik... saya katakan kalau.. pasien ini sebenarnya ... hamil.”


Bara diam terpaku, ia mengulangi ucapan dokternya di dalam otaknya.


(Hamil! Ana hamil! Ana hamil!) Yang ada di otak Bara.


“S-serius, dok?!” tanya Bara memastikan.


“Ya, hamil. Sudah jalan dua bulan. Mau di pastikan lagi? Biar nanti di USG sekalian.” Tutur dokternya menyarankan.


“Boleh, tapi jangan dokter yang periksa. Ganti orang! Saya gak mau Istri saya perut nya di lihat sama lelaki lain.”


Dokternya menahan tawa karena tak menyangka dengan ucapan Bara barusan. Ia berpikir kalau pasien itu adalah Kakaknya. Dari segi wajah dan usia, memang mudah terbaca. Kalau usia Ana beda dengan usianya Bara.


“Baik, nanti akan di periksa oleh perawat yang ada disini. Kalau begitu, saya hanya akan memberikan beberapa resep obatnya saja ya, Kak. Ini ada beberapa vitamin juga, minumnya jangan di barengi saat meminum susu hamil, ya!” jelas dokternya, lalu pergi ke bagian pasien lain untuk kembali memeriksa.


Bara hanya memagutkan kepalanya. Tak berapa lama, seorang perawat wanita datang. Ia membawa beberapa alat pemeriksaan USG untuk memeriksa Ana. Bata tampak antusias dan tak sabar melihatnya. Seperti apa bentuk rupa bayinya.

__ADS_1


Yang jelas, masih belum berbentuk bayi lah Bara! Gimana sih, hadeuh!


Eh.


__ADS_2