
Bara, Pak John, beserta pengawal lainnya berlarian ke apartemen Ana. Betapa terkejutnya mereka dengan apa yang dilihat. Sepuluh orang pengawal sudah tergeletak di depan pintu apartemen. Pintu pun terbuka dengan paksa. Bara tercengang kaget melihatnya.
"Ana!!!" Panggilnya dengan suara lantang. Bara masuk ke dalam apartemen. Mencari keberadaan Ana serta Arbi.
Tibalah ia di depan pintu kamar mereka. Kamar yang menjadi saksi bisu. Antara hubungan cinta dirinya dengan Ana. Bahkan pintu kamar itu pun terbuka, dengan keadaan yang sudah
hancur.
"PAK JOHN!!!! PAK JOHN!!!" Teriak Bara memanggil Pak John yang ada di luar. Suara langkah kaki Pak John terdengar berlarian menghampiri Tuan mudanya.
"I-iya, Tuan muda? Bagaimana dengan Ny..." ucapan Pak John terhenti. Ia pun tak kalah terkejutnya. Melihat pintu kamar yang sudah terbuka. Bahkan pintu itu rusak seperti habis di bobol oleh penjahat.
Tak ada Ana maupun Arbi di dalam sana. Bara tetap memasuki dirinya ke kamar itu. Dengan wajah yang gusar. Dan penuh air mata kekecewaan.
Yang tak mungkin bisa mengobati luka dihatinya. Karena rasa penyesalan, akibat lalai dalam penjagaan pada Ana dan Arbi.
Bara kehilangan motivasi saat ini. Ia duduk di tepian kasur. Mencari sesuatu yang mungkin saja ditinggalkan Ana. Untuk bisa dijadikan sebagai petunjuk. Sementara Pak John masuk ke dalam toilet.
"Tu-Tuan muda, di toilet!" Ujar Pak John berteriak. Bara menghampiri dengan langkah cepat. Pak John menemukan sebuah ponsel milik Ana. Yang tergeletak di atas lantai toilet kamarnya.
'Aku menyesal, telah meninggalkanmu. Kamu dimana, sayang?' gumam Bara dalam hati.
"Cari Ana dan anakku sampai ketemu!!" Perintah Bara pada Pak John dan pengawal yang ia bawa.
"Ba-baik, Tuan muda. Kami akan berusaha untuk menyelidiki ini sampai ketemu. Sekali lagi, mohon maaf atas keteledoran saya atas kejadian ini. Saya pantas dihukum, Tuan muda." Tutur Pak John menjawabnya. Seraya tertunduk sedu, ia juga tak kalah menyesalnya.
"Ya, kau memang pantas untuk dihukum! Kalau Ana dan Arbi tidak juga ditemukan, kalian semua tahu, kan? Hukuman apa yang pantas untuk kalian?!" Ujar Bara penuh penekanan.
Pak John dan semua pengawal pergi. Tersisa hanya Bara yang masih berdiam diri di dalam sana. Bara terduduk lemas di tepian ranjang. Matanya berkaca-kaca, air matanya luruh. Meski pun tanpa suara.
"Sayang... kamu dimana?" Lirih Bara berucap sembari meremas sprei kasur. Yang ia tempati bersama dengan Ana.
'Arka' pikirnya tiba-tiba mengingat nama itu. Nama yang sering di ucap oleh Ana. Bara tidak mengingat apapun mengenai Arka di masalalu. Ia hanya ingat pada namanya.
Bara mengambil ponsel di kantong jas hitamnya. Mencari nama Pak John. Menanyakan apakah ia mengetahui tentang Arka atau tidak.
~ Menelepon Pak John
DRRTT... DRRTT... DRRTT
Tersambung!
[Iya Tuan muda? Kami dan lainnya sedang dalam masa pencarian] -Pak John
[Aku ingin bertanya mengenai Arka. Apa kau tahu siapa Arka?] -Bara
[Arka? Apa itu Arka Buana?] -Pak John
__ADS_1
[Aku tidak tahu, yang jelas namanya Arka] -Bara
[Kalau begitu memang benar, Arka Buana] -Pak John
[Berikan aku nomor teleponnya] -Bara
[Ba-baik, Tuan muda. Nomornya akan saya kirimkan sekarang melalui pesan singkat] -Pak John
[Cepat, jangan pakai lama! Aku tidak suka menunggu] -Bara
TUT!
Panggilan diputuskan sepihak oleh Bara. Beberapa detik kemudian...
《Arka Buana》♧ kontak
Dengan cepat, Bara langsung menghubungi Arka ke nomor yang dikirim oleh Pak John barusan.
[Kenapa, Bar? Apa Kak Ana baik-baik, aja?] -Arka
'Darimana dia tahu nomorku?' gumam Bara dalam hati.
[*E... Ana.. Ana di culik] -Bara
[Apa?! Kak Ana diculik? Bercanda aja, Lo!] -Arka*
[Tapi ini kenyataannya, kalau tidak percaya datang kesini langsung ke apartemen. Ku tunggu sekarang juga!] -Bara
TUT!
Bara langsung memutuskan panggilannya. Dan terduduk lemah tak berdaya. Rambutnya di acak-acak kasar. Pandangannya kosong bak tak ada harapan.
Merutuki diri atas penyesalan yang terjadi pada Ana. Harusnya ia tak pergi ke kantor. Dan harusnya juga, ia terus mengaktifkan teleponnya. Saat Ana menelepon, bahkan dirinya tidak tahu. Kalau Istrinya sedang dalam situasi sulit.
"ARGH!!!!" Keluh Bara seraya melihat riwayat panggilan di ponselnya. Ada sepuluh panggilan telepon tak terjawab dari Ana. Dan panggilan video yang juga tak ia jawab sebelumnya.
Tangis Bara pecah, meski begitu, tak ada seorang pun yang mendengarnya.
.........
*Pov Arka
Gila, benaran nggak sih? Bilang Kak Ana hilang. Ini pasti ulah wanita ular itu.
"Lacak lokasi Sofie sekarang, bawa beberapa pengawal yang bisa diandalkan!" Pinta Arka pada asistennya.
"Sesuai perintah, saya permisi."
__ADS_1
Kalau sampai Kak Ana kenapa-napa, Sofie, Lo nggak bakalan bisa kabur ke negara Lo!
Kak Ana, harusnya Kakak pilih aku waktu itu. Mungkin Kakak nggak akan mengalami kesulitan berulang kali. Mungkin Kakak juga akan hidup tenang dan damai. Hidup dengan Bara, memang banyak cobaannya. Kalau dari awal sudah nggak di restui, kedepannya pasti bakalan rumit.
Pov berakhir*
Arka membawa laptop dan peralatan lainnya. Yang biasa ia bawa sehari-hari untuk bekerja pada perusahaan BARNA. Juga mengelola perusahaan Buana.
"Apartemen central city" ujar Arka pada sopir pribadinya.
"Baik, Tuan muda."
Mobil hitam yang ditumpangi Arka berjalan ke arah apartemen Bara.
"Bisa dipercepat?" Pinta Arka.
"Bisa, Tuan."
"Tambahi kecepatannya!"
"Sesuai perintah."
Mobil semakin melaju kencang. Arka sudah tak bisa lagi menahan sabar. Dengan situasi sekarang yang tidak lagi memungkinkan.
Beberapa menit kemudian...
Arka berlari memasuki ke dalam gedung apartemen. Sembari membawa tas nya. Dengan langkah tergesa-gesa dan wajah paniknya.
Betapa kagetnya Arka melihat pintu apartemen Ana sudah terbuka lebar. Rusak dan berantakan. Arka gemetar memasuki dirinya ke dalam sana. Pintu kamar yang biasa Ana masuki juga terbuka. Bahkan keadaan pintunya lebih rusak. Seperti habis di buka paksa.
Pandangan Arka tertuju pada sosok lelaki yang tengah duduk di tepian ranjang kamar Ana.
"Brengsek!!! Lo kenapa baru bilang sekarang, hah?! Udah begini Lo baru ingat, Gue?! Sialan!!! Nggak berguna Lo jadi Suami!! Harusnya Gue yang nikah sama Kak Ana! Bukan Lo!" Arka memukuli Bara dengan mendaratkan beberapa bogeman di wajahnya.
Bara tak membalasnya, ia justru semakin di rundungi rasa penyesalan yang tiada tara. Keduanya saling diam beberapa saat. Lalu Arka mengeluarkan laptop miliknya dari dalam tasnya.
Arka mulai melacak lokasi terakhir Ana.
"Ketemu!!" Ucap Arka dengan suara lantang. Membuat Bara tergelak kaget dan ikut penasaran.
"D-dimana?" Tanya Bara ragu-ragu. Akibat perkelahian tadi dengan Arka.
"Buat apa juga Lo peduli?! Seharusnya waktu itu Gue nggak membiarkan Kak Ana balik lagi sama Lo!" Arka acuh.
Bara terdiam kaku, tiba-tiba ponselnya bergetar. Bara membuka layar ponselnya. Terkejut dengan nama kontak yang meneleponnya.
"SOFIE!!"
__ADS_1
Bersambung...