
Satu minggu kemudian...
Untuk pertama kalinya bagi Ana. Bisa berkesempatan menaiki pesawat terbang. Ada rasa cemas dan gugup yang tak karuan. Muncul saat dirinya dan kedua orang tersayang nya sudah berada di dalam pesawat saat ini. Tak lupa, Bara juga membawa beberapa orang pengawal serta dua orang pelayan di belakang. Menaiki pesawat jet pribadi milik Kertajaya Group.
Sekaya itu kah, keluarga Kertajaya? Bisa jadi.
Bahkan kekayaannya hampir menyamakan harta keluarga Buana.
“Yeay, aku bisa menaiki pesawat terbang!” ujar Arbi bersemangat. Kedua tangan kecilnya terangkat ke atas. Duduk di tengah-tengah Ayah serta Bunda nya.
Bara tersenyum kecil menatap Arbi. Lalu beralih menatap dalam Ana. Sebelah tangan nya menyentuh pergelangan tangan Ana.
“Jangan takut, aku disini sayang.” Ucap Bara lembut pada Ana. Ia tahu bahwa saat ini Ana tengah gugup.
Ana lantas menoleh menatap Bara. Kepalanya di sandarkan pada bahu kekar itu.
“Aku belum pernah naik pesawat sebelumnya. Maaf, aku jadi buat kamu malu.” Tutur Ana sedu.
Bara mengelus lembut wajah cantik Ana. Di kecupnya beberapa kening itu.
“Aku nggak malu, kok. Kenapa harus malu? Istriku kan, tidak berbuat aneh-aneh.” Balas Bara lembut.
Ana lalu mengangguk pelan.
“Kamu pasti sudah terbiasa naik pesawat, ya?” tanya Ana penasaran.
“Iya, sudah bosan banget. Dari kecil, aku sering bolak balik keluar negara. Tidak jelas, tempat tinggal yang sebenarnya dimana.” Jawab Bara jujur.
“Suamiku hebat, ya.” Puji Ana serata mengelus lembut wajah tampan Bara.
Wajah Bara tampak berubah merona seketika.
Cie, malu!
Eh.
“H-hebatnya dimana?” tanya Bara lagi.
“Dari kecil, tapi sudah punya banyak pengalaman bepergian keluar negara. Kalau aku, tahu nya Cuma kota Jawa Timur saja.” Sambung Ana berucap.
“Tapi sekarang sudah tidak lagi, kan?”
“Iya, berkat kamu juga.” Ucap Ana lembut.
Keduanya saling mengeratkan genggaman tangan mereka. Tak berapa lama, keempat mata mereka mulai terpejam. Begitu juga dengan Arbi. Yang sudah sejak tadi tertidur pulas. Sambil memeluk sebuah boneka beruang besar kepunyaan nya.
Beberapa saat kemudian...
Pesawat jet pribadi milik Kertajaya Group mendarat di Bandar Udara Charles de Gaulle Paris. Sepasang mata terbangun lebih dulu. Lalu membangunkan kedua orang di sebelahnya.
"Ayah! Bunda! Kita sudah sampai di Paris!" Panggil Arbi heboh. Kedua tangan kecilnya menggoyangkan tubuh Ana serta Bara.
Samar-samar, mata Ana terbuka secara perlahan. Tiba-tiba Arbi memeluknya. Dan menaiki tubuh Bunda nya.
__ADS_1
"E-eh, sayang? Kamu sudah bangun lebih dulu, ya?" Ujar Ana terkejut. Saat malaikat kecilnya menggerayangi tubuhnya.
Arbi kecil mengangguk pelan. Seraya tersenyum menyeringai. Kepalanya ia sandarkan di dada Ana. Tapi kelamaan, Arbi justru tertidur lagi.
Aih, si Arbi demen tidur ya?
Eh.
Kedua mata Bara membelalak kaget. Saat melihat putra kecilnya tidak ada di tempat duduknya. Pandangannya langsung beralih menatap Ana.
"Oh, ya Ampun! Ku kira si kecil ini hilang." Gumam Bara seraya menghela napas panjang.
"Sayang..." ucap Ana lembut pada Bara. Sambil mengelus wajah tampan itu. Menyapa kesayangannya yang baru saja terbangun dari tidur lelapnya.
"Arbi menang banyak, ya." Tutur Bara mendengus sebal. Saat melihat posisi tidur Arbi diatas tubuh Ana.
Pfffttt!
"Arbi sedang manja sekarang.." balas Ana disertai tawa kecil. Sembari mengelus lembut pucuk kepala kecilnya.
'Aku juga mau, An.' Gumam Bara pelan.
Sesampainya mereka di bandara, Bara, Arbi, Ana, dan para pengawal serta pelayannya turun dari dalam pesawat itu. Berjalan menuruni anak tangga yang terpasang di pintu keluar masuknya pesawat.
Arbi berada dalam gendongan sang Ayah. Bara mengambil alih Arbi pada Ana. Tidak tega, melihat Istrinya kelelahan karena harus menggendong tubuh kecil yang mulai berubah berat. Ya, Arbi semakin bertambah berat badannya. Sementara Ana, justru turun drastis setelah melahirkan baby twins.
"Kita mau kemana, Yah?" Tanya Arbi yang sudah terbangun lagi dalam gendongan Ayahnya.
Anak itu lantas mengangguk pelan.
Cup!
"Kamu sudah besar ya, sekarang." Puji Bara pada Arbi, seraya mengecup lembut kening halus nya.
Arbi semakin mengeratkan pelukannya pada sang Ayah. Di sisi lain, tangan kanan Bara menggandeng erat jari jemari Ana. Sembari berjalan menuju mobil. Yang sudah menunggu mereka semua di depan area bandara.
Ada dua mobil hitam, yang rupanya sudah terparkir disana. Beberapa pengawal Bara langsung membantu memasukkan semua koper bawaan. Di mobil yang di naiki Bara, Ana dan Arbi. Sementara para pengawal dan pelayan menaiki mobil yang satunya lagi.
Sepertinya Kertajaya Group sudah dikenal luas oleh berbagai negara. Bukti kuat bahwa Bara begitu dihargai orang-orang disini. Ana tampaknya agak sedikit kikuk. Karena baru perta kalinya, kakinya menginjak di tanah asing. Yang bukan dari tanah kelahirannya sendiri.
Tidak berapa lama kemudian...
Mereka semua sampai di depan hotel bintang lima. Yang ada di kota Paris. Bara langsung memesan tiga kamar. Satu kamar untuknya dan Ana serta Arbi. Sementara dua dan tiganya untuk pelawan wanita serta pengawal.
"Itu apa, Yah?" Tanya Arbi penasaran. Saat Bara mengeluarkan sebuah kartu hitam dan saku jas nya.
"Ini kartu ATM tanpa batas." Jawab Bara.
"Bunda juga punya tidak, Yah?" Lanjut Arbi bertanya lagi.
"Punya, tapi kalau yang ini punya Ayah." Sambung Bara membalas.
Bara memberikan black card miliknya pada petugas resepsionis di hotel itu. Untuk membayar semua kamar yang akan ia pesan sekarang.
__ADS_1
"Bunda punyanya juga warna hitam kah, Yah?" Ujar Arbi bertanya lagi.
"Punya Bunda warna gold." Kata Bara.
Keduanya mengobrol sembari berjalan memasuki diri ke dalam lift. Ana tampaknya begitu kelelahan. Karena sedari tadi hanya berdiam diri tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Bara semakin mengeratkan genggaman tangannya memegang pergelangan tangan Ana. Seakan tidak membiarkan wanita itu tak pergi kemana-mana.
Ting!
Pintu lift terbuka, dan berhenti di lantai tujuh. Bara dan Ana langsung memasuki diri mereka ke dalam kamar hotel yang sudah di pesan tadi. Diikuti pengawal serta pelayan yang berjalan di belakangnya. Seraya membantu membawakan barang-barang bawaan. Termasuk koper serta tas, dan boneka beruang milik Arbi.
KRIEK!
Bara membuka kamar hotel itu. Arbi langsung turun dari gendongan Ayahnya. Dan berlari dengan antusiasnya menaiki ranjang besar di sana.
"Hiya! Aku liburan! Akhirnya aku bisa berlibur ke disneyland paris! Yeay!" Sorak Arbi heboh. Seraya melompat-lompat diatas kasur empuk itu.
"Arbi, sayang. Nanti kasurnya jebol, Nak. Ayo, turun!" Ucap Ana tiba-tiba. Wajahnya terlihat memucat.
"Baik, Bunda." Jawab Arbi sedu.
"Bunda lagi capek, kamu duduk temani Bunda ya?!" Pinta Bara pada anak kecil itu.
Arbi lantas mengangguk pelan, dan menemani Bundanya duduk di kasur itu. Tangan kecil Arbi terangkat menyentuh wajah lesuh Ana. Di elusnya berulang kali. Terasa lembut dan halus. Mata Arbi berkaca-kaca melihat Ibu peri nya.
"Bunda... jangan sakit, Nda." Rengek Arbi tiba-tiba. Sambil menjatuhkan tubuh kecilnya memeluk Ana.
"Bunda tidak sakit, sayang. Bunda hanya kelelahan." Tutur Ana lembut. Seraya mengelus lembut pucuk kepala kecilnya.
Bara berjalan menghampiri kedua orang kesayangannya. Setelah selesai mengangkat telepon dari Pak John mengenai kabar mereka yang baru sampai di Paris.
Semua orang tampaknya kelelahan. Bahkan para pelayan serta pengawal yang dibawa oleh Bara dari rumah utama pun, langsung beristirahaf di kamar mereka.
Bara menyandarkan kepalanya di sisi sebelah Ana.
"Mau makan sekarang?" Tawar Bara.
Ana lantas mengangguk pelan.
"Disini ada makanan halal tidak, sayang?" Tanya Ana polos.
"Ada dong, sayang. Bisa di buatkan menu halal oleh chef disini." Jawab Bara, seraya terkekeh mendengar pertanyaan Ana yang polos.
Cup!
Sebuah kecupan di daratkan Bara pada kening Ana.
"Kita nggak perlu makan keluar. Nanti biar mereka saja yang mengantarkannya kesini." Lanjut Bara berucap.
Perasaan Bara begitu peka melihat wanitanya membutuhkan waktu istirahat saat ini. Bahkan ia sendiri pun juga lelah. Dan ikut beristirahat barang sejenak menemani Ana serta malaikat kecilnya.
Liburan pertama mereka, seperti orang yang tengah berbulan madu. Dan hampir melupakan Ara serta Arez. Yang ditinggal di rumah utama. Bersama dengan Nyonya Kertajaya dan para pelayan serta para pengawal lainnya. Yang tidak ikut bersama mereka.
__ADS_1