Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 87


__ADS_3

Malam menyapa, bulan bersinar menggantikan cahaya matahari. Yang datang kala senja, hingga pagi. Sepasang Suami Istri, yang kini bersemi kembali. Ada di sebuah ruang, yang saling membelakangi.


Suhu udara semakin rendah, bila malam semakin larut. Wanita yang berdiam diri. Membelakangi tanpa berani memejamkan kedua matanya.


Ana, rupanya ia berpura-pura tertidur. Sementara Bara, ia memang tidak bisa tidur. Sejak melihat postur tubuh Ana yang begitu jelas terpampang nyata.


Padahal sebelum lupa ingatan juga udah sering lihat, ya. Eh.


SET


Bara membalikkan posisi tubuhnya. Yang sekarang, tepat menghadap ke belakang tubuh Ana. Rambut cokelat bergelombang keemasan milik Ana. Menutupi sebagian tubuhnya yang hanya memakai pakaian tipis.


'Ana... apa udah tidur ya?' Gumam Bara dalam hati bertanya.


Dengan gejolak penasaran yang menggebu. Bara mencoba memberanikan diri menyentuh rambut curly Ana. Menyingkirkannya dari punggungnya. Terlihat jelas punggung mulus Ana.


'Damn, kenapa mulus banget si!' Gumamnya dalam hati.


'Jangan salahkan aku, ya. Kalau aku benaran menyentuh kamu. Kamu milikku sekarang, Ana.' Lagi, Bara bergumam dalam hati nya.


SET


Pergerakan tangan Bara, diketahui oleh Ana. Ana merasakan tangan itu terus menyentuh punggungnya. Lambat laun, bukan hanya tangan. Tapi...


Cup


Bara mengecupnya.


'Bara... d-dia... m-mau ngapain?' Tanya Ana dalam hati.


Semakin lama dibiarkan, Bara semakin aktif. Tubuhnya yang saat ini hanya berjarak 1 inci. Tangannya menelusuri tubuh Ana yang lain. Sementara bibirnya terus memberikan kecupan di punggung. Serta telungkup leher jenjang Ana.


Lama-kelamaan, Ana tidak bisa menahan permainan Bara. Dengan cepat, ia membalikkan tubuhnya. Yang langsung menghadap ke tubuh Bara.


Bara gelagapan seolah kaget. Wajahnya merona menatap Ana.


"K-kamu.. udah b-bangun?" tanya Bara khawatir Ana akan marah.


Ana mengangguk pelan. Jantungnya berdegub begitu cepat. Wajahnya ia tundukkan ke bawah. Tak berani menatap Bara begitu lama.


Tangan Bara terangkat menyentuh dagu Ana. Mendekatkanya pada wajah tampannya. Dan...


Cup


Bara mengecup lembut bibir itu. Ana memejamkan kedua matanya. Lambat laun, kecupan itu berubah menjadi lum*atan. Bara semakin agresif pada permainannya. Dan tangan Ana terangkat menyentuh wajah Bara.

__ADS_1


Keduanya saling mendekap, dan mengeratkan pelukannya. Bara semakin agresif menurunkan sebelah tali lingerie milik Ana. Mengecup ke seluruh wajah Ana. Lalu turun ke bawah leher jenjang Ana.


Sampai akhirnya, baju tipis itu terhempas jauh entah kemana. Hanya menyisakkan selimut tebal yang saat ini. Menutupi seluruh bagian tubuh Ana.


Keduanya masuk ke dalam selimut tebal itu. Dan...


"Sayang... aku.. gak bisa napas.." keluh Ana dibalik selimut tebal itu.


"Hah? Kamu kenapa?" tanya Bara khawatir.


Kaga bisa napas, bang. Eh buset srepet.. tet.. tet.. tet.


Ana tak bisa menahan lebih lama lagi. Bersembunyi di balik selimut tebal itu. Ia akhirnya menyelibak selimut itu dan menyembulkan kepalanya keluar.


"Kamu kok keluar?" tanya Bara, yang juga ikut keluar dari persembunyian.


Keduanya saling bertatapan, dan terkekeh pelan. Wajah itu di dekatkan keduanya. Dan cup, diakhiri dengan satu kecupan manis di antara kedua bibir itu.


"Aku.. gak bisa bernapas, tadi." Jawab Ana seraya mengelus lembut wajah tampan itu.


Bara semakin melekatkan tubuhnya pada Ana. Menyenderkan bahunya di pundak Ana. Tangannya di eratkan mendekat tubuh Ana.


"Maaf, aku nggak dengar tadi." Ucap Bara seraya memainkan jari jemari kiri Ana.


"Gak apa-apa." Ana mengusap lembut rambut hitam Bara. Seolah tengah memberikan rasa nyaman padanya.


.........


Pagi menjelang, Ana terbangun. Matanya mencari sosok yang ada di sebelahnya. Namun tak ada siapa-siapa. Hanya ada dirinya seorang. Yang masih berbalut kain selimut putih.


'Bara, kemana? Kok gak bangunin aku, sih?' Gumamnya bertanya dalam hati.


Ana celingukan mencari lelaki itu. Tak juga menemukan di dalam kamar. Ana berniat untuk mandi, dan membersihkan diri. Baru saja ia menapakkan kedua kakinya ke lantai. Tiba-tiba...


Krek


Knop pintu kamar terbuka. Bara datang sambil membawa sarapan di kedua tangannya. Tampaknya ia sudah mandi dan berganti baju. Ana tersipu malu, dikarenakan dia sendiri masih belum bersih dan rapi.


"Kamu udah bangun?" tanya Bara sambil berjalan mendekat ke tepian ranjang. Ana menjawab dengan anggukan.


"Aku buatkan kamu sarapan, dimakan, ya." Ucapnya lagi, seraya menaruh sarapan itu di sisi meja sebelah ranjang. Lalu ia ikut duduk di samping Ana.


"Thank u, sayang!" Balas Ana sembari memeluknya. Sementara Bara mendaratkan beberapa kecupan ke kening Ana.


"Kamu mau di suapin, gak?" tanya Bara.

__ADS_1


"Boleh." Jawab Ana seraya mengangguk.


Bara mulai menyuapi sesuap demi sesuap bubur ayam. Ke dalam mulut Ana. Bubur instan yang bisa di masak kapan pun. Serta segelas susu untuk Ibu hamil rasa strawberry.


"Kamu.. gak ke kantor? Arka pasti udah nunggu." Tanya Ana setelah menelan makanan yang ia kunyah dari suapan Bara.


"Aku akan bekerja di perusahaan keluargaku."


"Terus, gimana dengan perusahaan BARNA?"


"Memangnya aku pernah bekerja disana?" Bara tampak linglung. Tak mengingat apa pun mengenai perusahaan yang Ana sebut tadi.


'Pernah, itu kantor pertama yang kita bangun bersama. Sayangnya kamu gak mengingatnya.' Gumam Ana dalam hati.


"Hm... kamu benaran gak ingat apa-apa?" tanya Ana. Bara menggeleng pelan. Sambil menyuapi Ana pada suapan terakhir.


"Aku mau mandi." Ana beralih topik. Mencoba tak lagi memaksa Bara agar ingat pada semuanya.


Mau di paksa kayak gimana pun, kalau dasarnya udah lupa. Bisa apa?


"Aku bantu ya?" Ujar Bara.


"Bantu apa?" Ana bingung.


"Bantu mandikan kamu."


"Eh.. i-ini.. ng-nggak perlu. Aku bisa kok, sendiri." Ana gelagapan menjawab.


Ana bukan bayi, bwang. Eh.


Aduh buset srepet.. tet.. tet.


"Kan kamu lagi hamil, takutnya susah buat bangun dari bathtub. Aku bantu, ya?"


"Iya, tapi kehamilanku belum besar, sayang."


"Tetap aja, intinya kamu lagi hamil."


"Kan belum ada 5 bulan, belum besar."


"Sama aja, intinya kamu hamil. Kalau nantinya terjadi sesuatu, gimana?" Bara mulai menakuti. Ana jadi berpikir lagi dan merasa cemas.


"Kamu kok ngomongnya gitu, sih? Kamu memangnya mau? Aku kenapa-kenapa."


"Ya enggak, kan kalau mandinya ada aku. Jadinya aman, gak ada yang perlu di khawatirkan. Udah yuk, aku temani." Bara langsung menggendong Ana tanpa meminta persetujuan dari sang Istri.

__ADS_1


Ana tergelak kaget, tubuhnya tiba-tiba diangkat oleh Bara. Di gendong ala bridal style. Mau tidak mau, Ana menurut. Mengalungkan tanggannya memeluk leher Bara. Yang berjalan ke kamar mandi, sambil menggendongnya.


Bersambung...


__ADS_2