Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 77


__ADS_3

“Aku tidak ingat. Tolong jangan katakan apa pun lagi mengenai itu!” ucap Bara dingin.


“Baiklah, kalau memang keinginanmu tidak ingin berbasa-basi. Aku akan katakan sekarang. Kau dan Sofie akan bertunangan minggu depan. Cepat atau lambat kalian berdua akan segera menikah. Setelah selesai acara pertunangannya.” Ujar Tuan Kertajaya.


Bara yang mendengar itu sontak membanting sendok yang ada di piringnya.


BRAK!


“Bara! Jaga sikapmu!” tutur Nyonya besar.


“Aku tidak setuju! Kalian tidak bisa membuat keputusan tanpa seizin dariku! Apa kalian pikir, aku akan menyetujuinya? Mimpi!” ucap Bara dan langsung pergi meninggalkan ruang makan.


“Bara, tunggu!” cegah Sofie berusaha mengejarnya.


SET!


Tangan Bara ditahan oleh Sofie, saat ia sampai di depan pintu utama. Namun, buru Bara melepaskan pergelangan tangannya dari wanita itu.


“Lepas! Lo gak berhak menyentuh Gua!” ujar Bara kasar.


“Bara, kamu lupa? Aku Sofie! Teman kecilmu, kita dulu sangat akrab. Kamu yakin? Gak mau menerima perjodohan ini? Aku pikir, aku begitu cantik dan menarik untukmu.” Sofie berkata seakan membanggakan pesonanya pada Bara.


“Hah? Teman? Ha ha ha! Temanku hanya Arka. Dan lagi, sampai kapan pun, Gua gak akan sudi nikah sama Lo! Lo pikir Lo cantik, hah?! Mimpi!” balas Bara.


Perkataannya berhasil menoreh luka di hati Sofie. Dengan cepat, ia pergi meninggalkan Sofie. Yang masih terpaku menatap kepergiannya.


‘Sial! Bara, jangan harap kamu bisa lolos dari jeratan ku! Lihat saja nanti, kamu bahkan akan mengemis dan memohon padaku! Cih!’ gumam Sofie dalam hati.


Matanya menatap tajam ke depan. Membayangkan wajah Bara yang baru saja berdebat dengannya. Sofie memang cantik, terlebih lagi dia dari keluarga bukan sembarang. Sofie juga berprofesi sebagai modeling. Berkat tubuhnya yang proporsional serta wajah cantiknya. Ia berhasil masuk dunia Entertainment.


Beberapa film telah dilakoninya. Meski awalnya hanya sebagai pemain cadangan. Namun sekarang, ia telah jadi pemeran utama. Dalam film romance yang baru-baru ini ditayangkan di negara A. Ketenaran Sofie semakin menjulang tinggi.


Begitu banyak lelaki yang tergila-gila padanya, akan pesona nya. Namun Bara, lelaki yang satu-satunya berani menolak Sofie.


... ......


Sepanjang perjalanan, Bara terus membanting setir mobilnya. Merasa menyesal karena sudah meninggalkan Ana seorang diri dalam keadaan hamil. Juga telah membohonginya, menutupi kejadian hari ini.


Pikirannya langsung tertuju pada Ana. Tidak sabar untuk segera sampai ke apartemen. Bara menerobos lampu merah. Dengan kecepatan penuh Bara melewati mobil yang ada di depannya.

__ADS_1


Sampai tidak sadar bahwa di depannya ada mobil yang berlawanan datang ke arahnya. Dan...


BRAK!


Mobil yang dikendarai Bara mengalami kecelakaan. Banyak yang datang menolong. Beberapa menit kemudian, mobil pertolongan datang. Begitu banyak bercak darah yang keluar dari kepala Bara. Ia tidak sadarkan diri.


Petugas keamanan mengurus semuanya. Ia mengambil ponsel yang ada di saku celana Bara. Menelepon nomor terakhir yang dihubungi oleh Bara. Tertulis nama asisten John disana.


Di sisi lain, Ana yang sudah tertidur lelap. Tiba-tiba terbangun dengan keringat bercucur di sekujur tubuhnya.


“Bara...” ucap Ana. Pikirannya teringat pada Bara.


Ia masih belum mengetahui keadaan Bara saat ini. Karena yang dihubungi oleh petugas keamanan tadi. Ialah pada pihak keluarga Kertajaya. Asisten John memberitahu semuanya. Tuan besar, beserta Istrinya dan Sofie. Yang juga tinggal disana langsung bergegas pergi ke rumah sakit.


Hanya Arbi dan Ana yang tidak diberitahu. Entah dengan Arka, akankah Arka mengetahuinya?


.........


Di rumah sakit.


Semua keluarga Kertajaya datang dan menunggu di depan ruangan tempat Bara di rawat. Tidak menyangka, kecelakaan Bara begitu membuat semua orang khawatir. Termasuk pada Sofie, yang baru saja ia temui tadi.


“Dok, bagaimana dengan putraku? Apa dia baik-baik saja?” tanya Nyonya besar panik.


“Pasien mengalami pendarahan di bagian kepalanya. Karena itu, harus segera melakukan tindakan operasi.” Jawab dokter.


“Lakukan, apa pun itu lakukan yang terbaik. Beri putraku perawatan dengan kualitas tinggi. Selamatkan nyawanya, dok. Hiks.. hiks.. putraku tidak boleh meninggal.. hiks.. hiks..” pecah tangis Nyonya besar.


Sofie berusaha menenangkan, begitu juga dengan Tuan besar. Yang tidak menyangka kejadian buruk ini menimpa putranya.


“John, apa kejadian ini, wanita itu tahu?” tanya Tuan besar pada asistennya John.


“Tidak, Tuan. Wanita itu belum mengetahui semuanya.”


“Bagus, tetap rahasiakan ini darinya. Bahkan setelah Bara pulih, ia tetap tidak boleh mengetahui semuanya. Pertunangan Sofie dan Bara tetap akan dilaksanakan. Apa pun keadaannya.” Perintahnya pada asisten kepercayaannya John.


“Baik, Tuan.”


Singkat cerita, Bara telah berhasil menjalani operasi di kepalanya. Semua orang kembali ke rumah utama. Hanya beberapa pengawal yang ditugaskan oleh Tuan besar. Untuk menunggu dan menjaga Bara sampai ia sadarkan diri dari masa koma nya.

__ADS_1


-


Hari semakin larut, Ana masih terpikirkan tentang Bara. Sudah semalam ini, ia masih belum pulang juga. Firasatnya mengatakan kalau terjadi sesuatu pada Bara. Dengan rasa khawatir yang begitu menggebu. Ana langsung menghubungi Arka, untuk menanyakan keberadaan Bara padanya.


‘Mungkin saja Arka tahu dimana Bara’ gumam Ana.


[Arka?] -Ana


[Iya, Kak? Tumben menelepon selarut ini. Ada apa?] -Arka


[Bara.. B-Bara, Ka.] -Ana


[Bara kenapa, Kak?] -Arka


[Bara belum pulang juga sampai sekarang. Aku takut terjadi sesuatu padanya, Ka.] -Ana


Mendengar itu, Arka sontak kaget tak percaya. Namun ia berusaha tetap tenang. Agar Ana tidak lagi khawatir memikirkannya. Arka takut jika Ana begitu panik, akan berpengaruh pada kesehatan janin yang ada di dalam kandungannya.


[Kak Ana tenang aja, gak perlu panik lagi, oke? Aku akan bantu mencari keberadaan Bara. Sekarang Kakak istirahat aja, tidur yang tenang. Dan berdoa, agar Bara baik-baik aja.] -Arka


[Iya, Ka. Terima kasih, kamu udah mau bantu aku.] -Ana


[Sama-sama, Kak. Ini juga sudah jadi kewajibanku untuk membantu. Kakak sudah aku anggap seperti Kakakku sendiri. Hm, aku tutup dulu ya Kak, teleponnya. Selamat malam, Kak.] -Arka


[Malam, Arka.] -Ana


Panggilan terputus.


Mendapat kabar dari Ana, Arka langsung mengerahkan semua pengawalnya. Untuk mencari keberadaan Bara. Sementara Ana, ia jadi tidak bisa tidur lagi. Ana memilih untuk beribadah dan berdoa. Agar Bara bisa kembali dengan selamat.


.........


Terik mentari memancarkan sinarnya. Hari sudah pagi, Ana terbangun dari tidurnya. Dengan keadaan yang masih berbalut dengan mukena di tubuhnya. Bekas semalam yang sehabis beribadah, tak sempat untuk melepasnya. Dan malah tertidur pulas diatas sajadah.


“Bara.. kamu dimana? Mengapa sampai sekarang belum pulang juga?” ucap Ana sedu. Bertanya pada dirinya sendiri.


Suasana di apartemen begitu sepi dan sunyi. Tanpa kehadiran Bara di sisinya. Ana tidak ingin khawatir terlalu jauh memikirkan Bara. Ia mencoba menghubungi Gladys. Untuk pergi menemuinya, agar bisa menghilangkan pikiran buruk mengenai Bara.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2