Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 134


__ADS_3

Bara berjalan mendekati alat musik itu. Lalu menarik sebuah kursi kecil. Yang ada di dalam piano tersebut. Bara lantas mendudukinya, dan jari jemarinya mulai memainkan setiap not balok pada piano nya.


Lagu love is gone. Yang dipopulerkan oleh Slander. Jari lentiknya memainkan dengan sangat lihai. Ana memandangi Bara dalam-dalam. Menatapnya dari atas seraya berdiri dan bersandar pada piano itu.


I'm sorry, don't leave me, I want you here with me


I know that your love is gone


I can't breathe, I'm so weak, I know this isn't easy


Don't tell me that your love is gone


Ana mendekati Bara, kedua tangannya terangkat menyentuh dada bidang itu. Di sentuhnya dengan lembut. Beberapa kecupan, di daratkan Ana. Dan berakhir dengan pelukan mesra.


“Aku nggak akan pergi kemana-mana, sayang.” Ucap Ana lembut.


“Aku sebenarnya lemah, An. Tanpa kamu, aku lemah.” Balas Bara sedu.


Bara mencium lembut tengkuk leher Ana. Napasnya terdengar memburu disana. Sedikit gemetar, apakah Bara setakut itu?


“Sayang... I’m here, with you. Gak akan ada yang pergi, Bara.” Lanjut Ana berucap. Seraya mengelus lembut rambut hitam Bara.


“Engh... sayang kamu, Ana.” Tutur Bara meracau. Di dalam dekapan Ana.


Pelukannya semakin mengerat satu sama lain. Kecupan demi kecupan di daratkan Bara. Pada setiap lekuk tubuh Ana. Suasana pagi kala itu, berubah panas nan menggelora. Bagi sepasang Suami Istri yang tengah dimabuk asmaraloka.


Sesayang itu, cinta Bara untuk Ana. Tak sedikit pun, ia memberi celah pada Ana. Tidak membiarkan Ana berjauhan dengannya. Kedua napas mereka bahkan semakin memburu. Sampai terjadi pelepasan terakhir.


“Aku cinta kamu, sayang.” Bisik Bara lembut, di telinga Ana. Sembari memberikan gigitan kecil disana. Membuat telinga Ana memerah.


“Aku juga cinta sayangku, Bara.” Balas Ana lembut.


Keduanya saling menautkan bibir. Sentuhan lembut itu membuat Bara semakin candu. Dan tak ingin lepas dengan cepat.


Tok tok tok


Sedang asyiknya menikmati kemesraan keduanya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. Bara lantas mendengus sebal. Dan membuang napasnya kasar.


“Huh, siapa?!” sahut Bara kesal.


“Sayang... sabar...” tutur Ana menenangkan. Sembari mengelus lembut dada bidang Bara.


Bara lantas mengangguk pelan.


“Tuan muda, ada seseorang mencari Nona muda di luar.” Teriaknya dari luar.


Mendengar itu, Bara lalu beralih menatap Ana.


“Aku nggak tahu, sayang. Gak pernah ada janji temu dengan siapa pun. Lagi pula, aku ‘kan hanya berteman sama Gladys.” Ujar Ana jujur.


Bara sontak mengangguk pelan. Dan mengecup lembut kening Ana.


“Kamu pakai baju, ya. Aku mau cek keluar sebentar.” Pinta Bara. Ana mengangguk, sembari menyelimuti dirinya dengan selimut tebal.


__


Sesampainya di luar, Bara melihat ada seorang pria. Yang berdiri di dekat pintu utama. Pria itu menunggu sembari membelakangi tubuhnya.

__ADS_1


“Ehm!” dehem Bara.


Pria itu lantas berbalik dan menoleh. Betapa terkejutnya Bara, saat melihat wajah dari pria itu.


Yang ternyata, lelaki itu adalah...


“Maaf, saya mengganggu, ya?” ucapnya pada Bara.


Entah sudah bagaimana ekspresi Bara saat ini. Wajahnya berubah kesal seratus persen drastis. Mimik datar tak ramah. Pada tamu yang datang tanpa memberi pesan.


Dan orang itu adalah, Arya.


“Sudah tahu ganggu malah bertanya. Ada apa?” tanya Bara spontan.


“Saya ingin memberikan ini pada Ana. Dengar-dengar, dia sudah melahirkan.” Katanya. Sembari memberikan sebuah buket bunga mawar. Dan kotak hadiah berukuran agak besar.


Bara diam tak bergeming. Bahkan hadiah dan bunga pemberian Arya pun, tidak diambil olehnya. Tatapan Bara semakin tajam menatap Arya.


“Saya tidak bermaksud apa-apa. Hanya ingin memberikan ini saja, dan kata-kata selamat untuk Ana.” Sanggahnya lagi.


“Terima kasih, tapi sebaiknya Anda simpan saja kata-kata itu.” Cetus Bara.


“Tolong, terimalah. Saya tulus memberikan ini untuk Ana. Sebagai permintaan maaf.”


“Tulus? Memberikan hadiah pada Istri orang? Cih, munafik!” Bara mendengus sebal.


Arya berubah diam tak bergeming. Ia lalu menaruh semua hadiah itu di bawah. Dan pergi begitu saja, tanpa berkata apa-apa lagi.


Entah apa maksudnya? Memaksa memberikan semua itu pada Ana. Bara memandanginya beberapa saat. Lalu kembali masuk ke dalam rumah.


“Mbak, mau hadiah, nggak?” tawar Bara, pada seorang pelayan dirumah nya. Setelah berada di dalam ruang utama.


“Hadiah? Mau, Tuan muda.”


“Di luar, ada hadiah buat Mbak. Ambil saja semuanya!”


Setelah mengatakan itu, Bara melenggang pergi. Dan kembali lagi memasuki kamarnya. Yang tidak jauh dari ruang utama. Sementara pelayan tadi, tampak antusias mengambil hadiah yang dimaksud Tuan mudanya.


“Eh, kok, hadiahnya begini? Bunga? Yang di dalam kotak ini... waduh, baju bayi sama cokelat.” Gumam pelayan itu sembari membuka semua hadiahnya.


“Bukankah ini untuk Nona muda? Kenapa dikasih ke saya? Tuan muda ini ada-ada saja, ya.” Lanjutnya lagi seraya menggeleng pelan.


___


Kriek!


Bara memutar knop pintu kamarnya. Berjalan mendekati Ana, yang tengah menonton acara drama Korea. Sembari memakan sesuatu di tangannya.


“Sayangku sudah pakai baju, ya?” bisik Bara. Seraya mengendus lekuk tubuh Ana.


“Sayang... aku lagi menonton, ih.” Gerutu Ana sebal. Bibirnya lantas berubah mengerucut ke depan.


“Kamu... pernah ada rasa, tidak? Sama Arya.” Tanya Bara tiba-tiba.


Ana lalu menghentikan kunyahannya yang tengah memakan camilan. Pandangannya beralih menatap Bara.


“Arya?”

__ADS_1


Bara mengangguk pelan.


“Nggak ada. Memang kenapa, sayang? Kok, jadi bahas dia, sih?” Ana tak suka, topiknya malah membicarakan tentang orang lain.


“Kamu tahu, tidak? Siapa yang tadi pagi bertamu.” Ujar Bara bertanya.


Ana menggeleng tidak tahu.


“Tamu itu... Arya.” Sanggah Bara berucap.


“Dia memberikan hadiah buat kamu. Tapi sudah ku kasih pada pelayan di rumah ini.” Lanjutnya lagi berkata.


Ana membulatkan kedua matanya.


“Kamu nggak membuka hadiahnya?” tanya Ana penasaran.


“Nggak, aku gak suka. Kenapa? Kamu tidak rela, ya? Aku membuang hadiah itu.”


“Bukan begitu, sayang. Tapi... apa salahnya kalau kita berprasangka baik dulu? Siapa tahu dia memang hanya memberikan itu saja. Tidak ada niat lainnya.”


Bara berubah cemberut.


“Jadi, kamu mau memakai barang pemberiannya?” tutur Bara tak suka.


Ana lantas menggeleng pelan.


“Enggak, aku gak akan memakainya.”


“Gunanya kamu ambil hadiah itu, untuk apa? Kalau kamu sendiri gak mau memakainya. Argh, kamu bikin aku ambigu, An.” Keluh Bara seraya mengusap rambutnya kasar.


“Sayang... tenang dulu. Aku mau menceritakan satu hal.” Tutur Ana lembut. Sembari mengelus wajah tampan Bara.


“Cerita apa?”


“Ada seorang rakyat jelata, yang jatuh cinta kepada pangeran. Lalu rakyat jelata itu, memberikan sebuah hadiah pada pangeran itu. Pangeran lantas mengambilnya. Meski tidak memakai atau pun menyentuh benda pemberian dari sang rakyat jelata tadi. Pangeran hanya melihatnya sebentar. Memandangi, lalu menganggukkan kepalanya agak sedikit menunduk. Sebagai bentuk ucapan terima kasih padanya. Pangeran tidak bisa memakainya, karena orang-orang di istana begitu melindungi serta menjaga pangeran dengan sangat ketat. Agar tidak ada orang-orang yang menyakitinya. Sang rakyat jelata itu pun tersenyum. Hadiahnya bisa diterima dengan baik oleh pangeran. Meskipun tidak disentuh apalagi di pakai oleh pangeran. Lalu, apa yang bisa kamu petik dari cerita itu?” celoteh Ana bercerita.


“Belajar untuk menghargai?” Balas Bara bingung.


“Iya, menghargai apa pun pemberian dari orang lain. Setidaknya, kamu mengambilnya dengan baik. Meskipun tidak mau memakainya. Begitu, sayang.” Lanjut Ana.


“Berarti, yang aku lakukan tadi itu... tidak baik, namanya?” ucap Bara sedu.


Ana lantas menyentuh lembut dagu Bara.


“Kamu baik, kok. Kamu hanya sedikit emosional saja tadi.” Balas Ana lembut.


“Kamu benar, aku tadi memang sedang emosi. Bagaimana tidak, pagi-pagi begini ad...” perkataan Bara terpotong.


“Sssttt... tenang, sayang.” Bisik Ana. Seraya menyentuh bibir Bara dengan jarinya.


Hal itu membuat Bara mematung seketika. Detak jantungnya bisa terdengar dan dirasakan oleh Ana. Kedua mata mereka bertemu.


“Aku ini... milikmu... sayang. Nggak akan ada yang bisa mengambilku. Kecuali... kamu, Bara.” Tutur Ana manja.


Daebak!


Ana berubah agresif, ya.

__ADS_1


Eh.


__ADS_2