
Di Aussie
“Dimana anak itu?” Tanya Tn. Kertajaya pada dua anak buahnya.
“Di apartemen ***** Nomor 108 tuan.” Jawab mereka berdua serentak.
“Bawa dia kesini! Sudah berapa banyak kerugian uang perusahaan karena dia.” Perintah tuan besar.
“Bagaimana dengan Istrinya tuan?”
“Bawa dia sekalian!” Gertak tuan besar.
Kedua anak buah itu pun bergegas pergi ke apartemen yang ditempati oleh Ali dan juga Farah. Sementara mereka berdua tidak mengetahui tentang penyergapan yang dilakukan oleh anak buah tuan besar. Untuk membawa ke hadapannya.
Di apartemen, tempat Farah dan Ali berada.
“Sayang... aku mau ngomong sesuatu.” Ucap Farah pada Ali yang tengah asyik bergelayut manja dan menonton film berdua.
“Ngomong aja sayang.” Balas Ali seraya mengecup lembut kening Farah.
“Hm..... tapi kamu harus jujur.” Kali ini Ali bersitegang mendengar penuturan Farah padanya.
“I-iya iya. Mau ngomong apa sih?”
“Sebenarnya wajah kamu kenapa sih?” Tanya Farah membuat Ali tercengang.
“K-kenapa a-apanya maksud kamu?” Jawab Ali gugup.
“Iya, wajah kamu sering beda-beda gitu. Kadang aku lihat kayak lebih tua dan kerutan. Kadang juga mulus banget. Kamu pake apaan sih?” Gawat, Farah benaran curiga.
Siapa suruh teledor memakai topeng kulitnya. Toh nanti juga bakal ketahuan.
Bersiaplah Ali, sebentar lagi akan kehilangan Farah dan juga semua fasilitas ini. Gumam Ali dalam hati.
“Hm... m-masa sih?” Tutur Ali berpura-pura.
“Iya sayang. Kamu jujur aja, aku bisa bawa kamu ke klinik kecantikan. Kalau kamu mau melakukan perawatan wajah.”
“Huft! Aku gak suka perawatan. Gimana kalau kamu aja yang perawatan?” Usul Ali beralih topik.
“Hm.... a..” Sambungan ucapan Ali terpotong ketika mendengar suara gebrakan pintu yang berasal dari luar apartemen.
“Kamu ada janji sama orang?” Tanya Farah memastikan.
__ADS_1
“Enggak, aku gak pernah janji apa-apa.”
“Lalu itu siapa?”
“Sebentar, aku lihat dulu ke depan. Kamu tunggu disini!”
Ali berjalan menghampiri ke arah sumber suara itu. Pelan-pelan ia mengendap-endap dan mengintip ke lubang kecil yang ada di tengah pintu apartemen. Terlihat ada beberapa orang lelaki yang memakai baju hitam. Dan suara gebrakan pintu terdengar kembali. Mereka secara serentak menggebrak pintu apartemen dengan keras.
'
“Tuan Bara! Harap buka pintunya! Ini perintah langsung dari tuan besar!”
Gawat! Apa tuan besar sudah melakukan mutasi keuangan perusahaan? Tutur Ali bertanya-tanya dalam hati.
“Tuan Bara! Mohon kerja samanya. Jangan sampai kami bersikap sungkan pada Anda.”
Mau tidak mau, Ali pun menyerahkan dirinya. Karena dia sudah dikepung oleh para pengawal itu. Dan tak bisa melarikan diri kemana pun.
Ali membuka pintu secara perlahan. Dan bersikap seolah-olah tenang.
“Ada apa ya?” Tanya Ali bersikap seolah tidak tahu apa-apa.
“Tuan besar ingin bertemu dengan Anda.” Ucap salah seorang pengawal itu. Ia juga memberikan arahan kepada teman-temannya melalui matanya.
Tangan Ali di cekal kuat oleh mereka semua. Sementara sisanya menerobos masuk ke dalam untuk membawa Farah dengan paksa juga.
Ali hanya pasrah dengan keadaan ini. Mungkin sudah saatnya ia kembali ke kehidupan asalnya.
“Maaf nona, tapi tuan besar yang mengutus kami kesini.” Ucap salah seorang pengawal.
“Sialan! Berani beraninya kamu membawa-bawa papa mertua! Kalian semua akan aku tuntut! Kalian tahu siapa papaku ha?!” Umpat Farah yang terus berontak.
“Kami tidak peduli siapa orang tua Anda. Kami hanya menjalankan tugas yang diperintah langsung dari tuan besar. Bawa mereka berdua!” Perintah pengawal itu pada bawahannya.
“Brengsek! Lepas! Lepas-in gue! Bara ini gimana sih? Kamu malah diam aja! Kita di keroyok begini kamu gak melakukan apa pun?” Ali sama sekali tak menggubris perkataan Farah.
Mereka berdua pun akhirnya dibawa paksa oleh para pengawal Tn. Kertajaya ke hadapannya. Kali ini Ali tak bisa berbuat banyak. Menurut dan pasrah, mungkin satu-satunya jalan terakhir. Pernikahan palsu ini mungkin berakhir hanya sampai disini.
Harapannya saat ini hanya,
Tuan besar tidak menghukumnya.
In Australian Penthouse. Tempat tuan besar tinggal bersama dengan istrinya.
Wajah kejam tanpa ekspresi, dipenuhi amarah serta kebencian. Sedang menunggu kedatangan seseorang.
__ADS_1
Tiba-tiba datang para pasukan pengawal membawa Bara palsu, bersama dengan Istrinya Farah. Aura yang seram memenuhi ruangan itu.
“Tuan besar, kami sudah menyelesaikan tugas perintah Anda dengan baik. Apa masih ada tugas lain untuk kami?”
“Cukup! Kalian semua boleh pergi. Tinggalkan mereka disini.” Ucap tuan besar pada para pengawal itu.
Para pengawal itu pergi, tinggallah Ali dan juga Farah. Yang sudah pucat pasi serta bercampur dengan keringat dingin.
“Kamu sudah tahu apa kesalahanmu?” Kali ini tuan besar lebih dulu yang mengeluarkan suara. Ali hanya menggeleng lemah.
Begitu juga dengan Farah. Ia hanya tertunduk lesu. Baru kali ini ia melihat mertuanya bersikap kejam. Tidak seperti di hari pernikahan itu.
“Tidak tahu? Atau perlu saya yang beritahu kamu? Apa mungkin kamu berpura-pura tidak tahu?!” Ucap tuan besar.
“JAWAB!” Sambungnya lagi.
“Pah, sudah cukup! Kasihan Bara. Dia itu putramu!” Sanggah nyonya besar. Menahan kemarahan suaminya.
“Putra? Putraku tidak mungkin mau mengambil uang perusahaan secara diam-diam! Siapa kamu sebenarnya?” Tanya Tn. Kertajaya
Gawat, ternyata benar. Penyamaran Ali sudah diketahui oleh tuan besar.
Matilah aku! Gumam Ali dalam hati.
“A.. aku Bara, pah. M-memangnya papa pikir aku siapa?” Jawab Ali gugup.
“Bara? Aku tahu betul siapa Bara. Dia bahkan tak pernah takut ketika berbicara langsung di hadapanku.” Ucap Tuan besar ketus.
Suasana semakin tegang. Farah benar-benar diam kali ini. Ia mencerna segala ucapan mertuanya. Apa yang ia perhatikan dari gerak gerik Bara memang beda. Jangan-jangan benar, kalau itu bukan Bara.
Lalu siapa?
“Apa maksudnya om bilang kalai suamiku bukan Bara? Jelas-jelas dia memang Bara.” Sanggah Farah yang tiba-tiba buka suara.
Tak ada balasan dari Tn. Kertajaya padanya.
“Pengawal!!” Panggil tuan besar pada para pengawal. Suaranya bahkan hampir memenuhi ruangan.
Para pengawal itu datang lagi secara beriringan. Mereka tidak benar-benar pergi rupanya. Tapi tetap sedia berjaga di luar ruangan.
“Periksa semua tubuhnya! Jangan sampai ada yang terlewatkan sedikit pun!” Perintahnya pada para pengawal itu.
“Baik, tuan.”
Dimulai dari wajah hingga ke bagian leher belakang. Mereka dapat dengan mudah menemukan lipatan kulit yang terlihat keriput. Tamatlah sudah riwayat Ali kali ini. Para pengawal itu menariknya dengan keras.
Krek.....
__ADS_1
Bersambung...