Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 29


__ADS_3

Keadaan Ana sudah lebih baik dari sebelumnya yang murung dan tak pernah lagi untuk tersenyum. Namun setelah kembalinya Bara, wajah ceria itu hidup kembali. Pagi yang cerah, Ana tetap memaksakan diri untuk pergi ke kampus dengan jalan tergopoh-gopoh dibantu oleh Bara. Saat mereka baru saja sampai di depan pintu gerbang kampus, terlihat mobil Arka terparkir masuk ke dalam. Tak lama kemudian, Arka keluar dari dalam mobil dan menghampiri Ana dan juga Bara yang sedang berjalan menuju ruang kelas Ana.


“Tunggu, Kak Ana!” Ucap Arka berteriak kecil. Sontak keduanya pun menoleh.


“Iya, Ar? Ada apa?” Tanya Ana. Arka menatap wajah Bara dengan tatapan tidak suka. Siapa orang ini? Kenapa bisa sedekat itu dengan Ana? Gumamnya dalam hati.


“Hm, Kakak kenapa? Kakinya sakit ya? Mau aku bantu juga?” Ucap Arka dengan beberapa pertanyaan mengenai kondisinya.


“Eh, enggak kenapa-kenapa kok, Ar. Ini udah dibantu sama Bara.” Arka terkejut, sama sekali tak mengenali bahwa lelaki yang bersama Ana adalah Bara.


“Ha? Bara? Kakak serius?” Tanya Arka. Bara sudah mulai emosi dengan wajah yang masam dan dingin menatap Arka.


“Iya, serius. Aku duluan ke kelas ya, Ar.” Ucap Ana mengakhiri perbincangannya dengan Arka. Sementara Arka masih diam di tempat seraya memandangi mereka berjalan semakin jauh dari pandangannya.


“Punya nyali juga Lo, Bar! Setelah lima bulan menghilang, tiba-tiba datang dengan penampilan yang berubah. Lo pikir Gue bakal menyerah gitu aja? Buat mendapatkan hati Ana. Ha ha, jangan harap!” Gumam Arka dalam hati.


Tak lama setelah Ana dan menghilang dari pandangan Arka, Ia pun juga pergi menuju kelasnya. Masih terlintas di pikiran Arka untuk mendapatkan cintanya Ana. Meskipun kenyataannya Bara telah kembali, tidak menutup kemungkinan untuknya untuk merebut Ana dari pelukan Bara. Sahabat karibnya yang sejak kecil bersama, namun kini telah menjadi musuh dan bersaing hanya karena satu wanita. Seorang Ana, gadis biasa dan bukan dari golongan mereka.


~~


“Kamu hati-hati ya, jaga kandungannya baik-baik selama aku gak ada disisimu.” Ucap Bara berbisik di samping Ana, yang saat ini sudah berada di depan kelas Ana.


Semua mata tertuju pada mereka berdua, bahkan tak segan para teman wanita di kelas Ana berani menyenggolnya dengan sengaja. Pun juga ada yang melontarkan kata-kata pedas yang mengatakan bahwa Ana wanita murahan. Tidak ada satu pun diantara mereka semua yang mengenali Bara dengan penampilan yang berbeda saat ini. Bara pun tak gegabah dalam menghadapi itu semua. Bukan tak ingin membela, namun Ia takut penyamarannya terbongkar dan malah berakibat pada permasalahan yang akan muncul lagi nantinya.


“Aku gak apa-apa kok, Bar. Kamu tenang aja, aku kan kuat.” Ucap Ana dengan tatapan sendu. Tak kuasa melihat wajah Ana dengan ekspresi seperti itu, Bara mengusap pipi Ana sekilas.


Tumben, biasanya langsung nyosor aja ya bund. Eh.


“Aku jadi gak tega buat ninggalin kamu sendirian disini, An. Aku takut kamu kenapa-kenapa.” Ana tersenyum kecil menatap mata indah itu. Duh, senangnya punya Suami. Eh.


“Aku gak kenapa-kenapa sayang. Udah, gak usah pikirkan aku. Kamu fokus aja sama lamaran kamu ke perusahaan yang baru. Buat masa depan kita juga, dan anak kita.” Ucap Ana sambil mengelus kecil perutnya. Bahkan semua orang tak menyadari itu.


“Kamu memang paling bisa bikin suasana jadi adem lagi.” Ana terkekeh.


“Aku masuk ya.” Pamit Ana.


“Salim dulu.”


“Disini banyak orang sayang.” Ucap Ana berbisik kecil. Sementara Bara celingukan melihat situasi terkini. Sampai akhirnya Bara yang justru mencium tangan Ana, dan langsung pergi begitu saja. Mvrit, ngeselin juga ya.


“Bara, Bara. Hati-hati Suamiku, semoga bisa mendapatkan pekerjaan secepatnya. Aamiin.” Gumam Ana dalam hati.

__ADS_1


Setelah kepergian Bara dari pandangannya, Ana bergegas masuk ke dalam kelas untuk mengikuti perkuliahan hari ini. Semua mata tertuju padanya, namun Ana tetap bersikap biasa saja. Ana duduk di kursi bagian depan. Beberapa sindiran terlontar begitu saja keluar dari mulut mereka. Rasanya ingin sekali Ana cepat menyelesaikan mata kuliahnya dikelas ini.


“Gak tahu malu ya dia, kemarin dekat sama Arka. Sekarang sama cowok asing tampang kayak om-om. Ewh, dasar murahan. Pake kerudung tapi kelakuan ******.”


“Iya ha ha. Pake aja gamis, udah kayak ustadzah. Malu kali sama penampilan.”


Beruntung Ana siaga sudah memakai earphone saat masuk kelas tadi, jadi tak sedikit pun Ana mendengar sindiran dari mereka semua. Saat mereka masih terus mengeluarkan beberapa sindiran yang lebih tajam lagi, tertiba ada satu orang teman sekelasnya Ana yang berusaha untuk membelanya. Dia Irfan, ketua kelas di kelas Ana. Entah apa tujuannya untuk membela Ana. Dekat saja pun tidak, apalagi tak pernah ada percakapan diantara keduanya.


“Sudah diam! Lo semua pada kenapa sih? Lo sindir Ana? Dan Lo juga? Ini kelas, bukan lapangan! Gue harap Lo semua pada punya otak, biar mikir! Kita udah bukan anak SMA lagi, apa-apa main sindiran. Lihat orang yang Lo semua pada sindir, marah gak? Diam aja kan dia. Harusnya Lo semua malu! Ini kelas, bukan ajang buat sindir menyindir orang. Apalagi Lo semua belum tahu permasalahannya seperti apa. Tahunya main sindir aja.”


Dan mereka semua pun terdiam seketika. Tak ada lagi suara yang terdengar dari mulut mereka. Pun Ana juga masih asyik sendiri mendengarkan musik di handphone nya. Tak lama kemudian, datang dosen yang akan mengajar mata kuliah di kelas ini. Semua langsung diam tanpa suara, maupun Ana yang peka dan langsung membuka earphone nya.


~~


Sementara disana, Bara tengah berada di dalam angkutan umum untuk segera sampai di tempat yang Ia tuju. Perusahaan yang terletak di tengah-tengah kota. Jarak yang Ia tempuh dari kampus Ana sekitar satu jam tiga puluh menitan. Sampai akhirnya Ia pun sampai di sebuah gedung bertingkat. Perusahaan swasta yang telah dibangun cukup lama, sama seperti halnya perusahaan keluarga Kertajaya.


Bara turun dari dalam angkutan umum, dan berjalan mendekat ke arah pintu masuk. Disana sudah ada penjaga yang menjaga keamanan bagian pintu depan perusahaan. Tak ada ketakutan ataupun gugup dimata Bara, justru Ia dengan santainya langsung masuk begitu saja. Namun, Ia dicegah oleh para penjaga disana. Mau tak mau, Bara pun menghentikan langkah kakinya untuk masuk.


“Mau ada perlu apa Mas? Apa sudah ada janji dengan atasan?”


“Saya mau melamar pekerjaan disini, Pak.”


“Sebentar, Pak. Saya mau coba menanyakan langsung ke bagian administrasi saja.”


“Silakan, tapi jangan lama. Takut mengganggu kenyamanan dan ketertiban para karyawan kantor disini.”


Bara pun langsung masuk menuju ke bagian administrasi. Sesampainya disana, sudah ada beberapa pegawai wanita yang berdiri dan menyambut kedatangannya.


“Maaf, Mbak. Saya mau bertanya, apa disini masih ada lowongan untuk saya?” Tanya Bara.


“Masnya lulusan apa kalau boleh tahu?”


“Hm, kalau untuk ijazah masih SMA, tapi saya sudah pernah kuliah. Dan sebelumnya saya pernah bekerja di perusahaan Kertajaya.”


“Kertajaya? Bukannya itu perusahaan besar ya?”


“Iya, Mbak. Saya bekerja di bagian akunting di perusahaan itu.” Jawaban Bara seketika membuat para administrasi itu cengang dan menahan tawa seketika. Seolah tak percaya dengan ucapan Bara barusan.


“Akunting? Kamu aja belum lulus kuliah. Masa iya bisa kerja di bagian itu?”


“Kebetulan saya belajar akunting sejak duduk dibangku sekolah, Mbak. Dan pernah ikut les tambahan juga untuk belajar itu. Jadi bagaimana, Mbak? Apakah masih ada lowongan untuk saya?”

__ADS_1


“Tidak, disini sudah penuh semua. Silakan Masnya boleh pergi dari sini.”


Saat selesai Ia berkata demikian, tertiba saja datang seorang pria dewasa yang menghampiri mereka semua. Sepertinya pria itu telah mendengar semua ucapan Bara. Pria dewasa berperawakan tinggi sekitar 178 cm itu menepuk pundak Bara. Sontak Bara kaget dan menengok ke arahnya. Sementara para pegawai wanita itu tertunduk dan berpura-pura bekerja menyelesaikan tugasnya.


Tadi belagu ya mbak, eh sekarang takut. Eh.


“Maaf, Pak. Saya hanya ingin bertanya tadi sama para pegawai disini mengenai lowongan pekerjaan yang masih tersedia. Tapi ternyata tidak ada, kalau begitu saya permisi, Pak.” Bara berucap seolah tahu apa maksud dari pria itu. Namun, rupanya Ia salah pengertian.


“Tunggu!” Ucap pria itu. Sontak Bara menghentikan langkahnya untuk pergi. Ia berbalik badan dan menghampiri kembali ke arah pria dewasa itu lagi.


“Bapak panggil saya?”


“Iya. Saya dengar kamu pernah bekerja di bagian akunting di perusahaan Kertajaya, betul?”


“Iya, Pak.”


“Kalau begitu, mulai hari ini kamu bisa bekerja di perusahaan ini.” Ucap pria itu dengan enteng. Pria yang berusia sekitar 25 tahunan itu memandang Bara seperti tak asing baginya.


“Bapak serius? Bukankah tadi para pegawai disini bilang tidak ada lowongan untuk saya?”


“Kan itu menurut mereka, dan mereka hanya pegawai disini. Saya CEO di perusahaan ini, jadi kamu lebih percaya siapa?”


“Eh, iya Pak. Maaf sebelumnya, saya lebih percaya dengan Bapak.”


Baru kali ini pertama bagi hidupnya, seorang Bara memohon untuk melamar pekerjaan. Kalau bukan karena Ana, orang yang Ia cintai. Tak sudi Bara memohon-mohon begini. Apalagi hanya untuk bekerja di perusahaan kecil yang tidak setara dengan perusahaan keluarganya, Kertajaya. Kalau saja keluarganya menerima hubungan pernikahannya dengan Ana, mungkin Ia tak akan mengemis pekerjaan begini pada kantor ini.


“Ya, tak apa. Langsung saja ikuti saya untuk ke ruanganmu bekerja. Mulai hari ini kamu bekerja disini.” Ucap pria dewasa itu sambil melenggang pergi, diikuti Bara yang mengekor dibelakanginya.


Mereka masuk ke dalam lift dan menuju ke lantai delapan. Sama sekali tak ada kegugupan dimata Bara. Ia justru terlihat biasa saja, meski dengan penampilan yang berbeda. Namun, Ia tetaplah seorang Bara, ketampanannya tak pernah berubah. Meski ditumbuhi oleh berewok dan kumis di wajahnya.


“Kamu bisa langsung membuat laporan keuangan perusahaan untuk hari ini. Laporan yang kemarin sudah dikerjakan oleh akunting yang lain.”


“Baik, Pak.” Ucap Bara paham.


“Silakan bekerja, ini ruanganmu. Dan ruangan saya ada di lantai 10. Jika perlu bantuan, kamu bisa menanyakan dengan akunting pertama. Itu disana, namanya Pak Tri. Pak Tri yang akan mengajarimu membuat laporan keuangan di perusahaan ini, jika kamu masih belum paham dengan sistem peraturan yang dibuat oleh perusahaan ini. Apa ada pertanyaan?”


“Tidak, Pak. Saya paham.”


“Baiklah, silakan bekerja. Saya akan kembali ke ruangan saya.” Ucap CEO itu dan langsung kembali ke lift dan menuju ke ruangannya yang berada di lantai 10.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2