Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 100


__ADS_3

Arka dan orang-orang nya sampai di lokasi tempat Ana di sekap. Mereka semua sudah memberikan aba-aba. Dengan menembakkan peluru ke atas langit. Jadi, suara tembakan itu berasal dari Arka dan orang-orang nya.


"Api! Tuan muda, api!" Teriak asisten Arka.


"Dasar bodoh, kenapa berkata padaku?! Telepon pemadam kebakaran untuk datang kesini! Yang lain ikut denganku masuk ke dalam!" Ujar Arka.


"Ta-tapi Tuan muda, disana api nya cukup besar!" Asisten Arka berusaha menahan.


"Kau ikut denganku atau diam disini?! Gajimu ku potong selama setahun!" Balas Arka mengancam.


"Ti-tidak Tuan muda, ba-baik, aku akan ikut juga."


Arka masuk ke dalam gedung tua itu. Kepalanya ia tutupi dengan karung goni yang sudah dibasahi. Berlari masuk ke dalam sana mendekati kobaran api. Mencari wanita yang ingin dia lindungi.


'Apapun yang terjadi, Kak Ana dan Arbi harus selamat' gumam Arka dalam hati.


Tekad nya sungguh kuat dan tidak main-main. Arka mencari ke sana dan ke sini. Tidak juga menemukan Ana. Ia melihat sebuah tangga di ujung sana. Namun api di tangga itu lebih besar, membuatnya tampak kesulitan. Untuk melewati nya.


"Tuan muda, tidak ada apa-apa disini. Sebaiknya kita harus segera keluar dari tempat ini. Kobaran api nya semakin besar." Tutur asisten Arka membujuk Tuan muda nya untuk keluar.


"Kalau kau ingin keluar, keluar sana sendiri! Tapi setelah ini kau di pecat!" Balas Arka menolak ajakannya. Asisten nya diam terpaku. Merasa serba salah dengan situasi sekarang.


'Aku tidak ingin mati terbakar, tapi Tuan muda yang menyuruhku untuk mati disini' gumam asisten Arka dalam hati.


Arka berjalan mendekati tangga. Ia mendongak ke atas sana. Tubuhnya memberontak masuk melewati kobaran api itu. Yang hanya terlindung oleh karung goni basah. Menutupi sebagian tubuh dan kepalanya.


"Tuan muda!!!" Teriak asisten Arka beserta para orang-orang nya.


Arka nekat menerobos masuk ke dalam sana, menaiki tangga itu. Ia terus berlari tanpa henti. Sesampainya di ujung sana. Pandangannya melihat ke sekeliling. Mata nya tergelak kaget, dengan apa yang ia lihat.

__ADS_1


"Kak Ana!!" Panggil Arka berteriak seraya berlari menghampiri Ana yang terlentang tak sadarkan diri. Di sisinya Arbi terus menggerakkan tubuh nya sembari menangis.


"Hiks... Bunda bangun!" Ujar Arbi menggoyangkan tubuh Ana.


"Arbi.. ayo ikut Om, naik ke punggung Om sekarang!" Arka menyuruh Arbi menaiki punggung nya. Sementara tangannya mengangkat Ana dan menggendong nya. Arbi mengangguk cepat. Karung goni basah itu sekarang di pegang oleh tangan kecil Arbi. Yang melingkar di leher Arka.


"Arbi pegangan yang kuat! Tangan Om sekarang menggendong Bunda nya Arbi. Oke?" Ucap Arka memperingati nya.


"Oke, Om." Jawab Arbi.


"Satu, dua, tiga!" Arka memberikan aba-aba. Dengan hati-hati ia berjalan sembari menggendong Ana. Tak peduli dengan kobaran Api yang semakin besar menghadang nya. Arka lagi-lagi menerobos menuruni anak tangga itu.


"Om, kita udah sampai belum?" Tanya Arbi. Seraya mengeratkan tangannya yang bergelantung memeluk Arka. Kepala dan tubuh kecilnya tertutupi oleh karung goni basah. Yang seharusnya menutupi tubuh Arka tadi.


"Belum, kamu pegang Om yang kuat! Sebentar lagi kita sampai!" Balas Arka dengan tangan dan tubuh yang gemetar. Badannya sudah tidak kuat menahan panas di sekeliling nya.


'Ayo Ka, Lo pasti bisa' gumam Arka dalam hati bersemangat.


Tubuh nya lemas tak bertenaga. Namun tidak bagi Arbi. Pria kecil itu rupanya masih kuat berdiri. Arka dan Ana pingsan. Bala bantuan datang semakin banyak. Termasuk juga dengan Bara dan orang-orang nya. Yang terlambat datang ke lokasi kejadian.


Bara berlari mendekati Ana dan Arka yang tergeletak pingsan di lantai. Ia langsung menggendong Ana dan mengajak Arbi naik ke mobil nya. Membawa nya langsung ke rumah sakit. Sementara Arka di bawa oleh asisten dan orang-orang nya.


Arka terkena luka bakar di bagian tangan dan punggung nya. Ia dilarikan ke rumah sakit. Para petugas pemadam kebakaran berusaha memadamkan api yang masih berkobar.


Lalu polisi dan wartawan datang saat yang lainnya sudah pergi. Kemudian warga setempat ikut berdatangan dan membantu memadamkan api nya.


.........


"Aku dimana?" Ucap Ana bertanya, setelah sadar dari pingsan nya. Matanya celingukan melihat sekeliling. Di sebelah nya ada Bara Arbi yang duduk menemani nya.

__ADS_1


"Kita ada di rumah sakit sayang." Balas Bara, seraya mengecup lembut kening Ana. Tangannya mengelus telapak tangan Ana. Yang terpasang dengan infusan.


"Arbi dimana?" Tanya Ana.


"Aku disini, Bunda." Jawab Arbi dengan senyum yang mengembang. Ana membenarkan posisi nya menjadi duduk.


"Bayi kita.. bayi kita nggak kenapa-kenapa kan, sayang?" Ujar Ana pada Bara.


"Enggak kok, tadi sudah di periksa secara keseluruhan. Bayi kita sehat." Bara tersenyum menatap Ana.


"Lalu tadi.. kamu yang udah menolong aku dan Arbi?" Ana berusaha mengingat kejadian sebelumnya. Wajah Bara tampak bingung ingin menjawabnya. Ia hanya menjawab dengan anggukan. Lalu Ana memeluk nya erat.


"Terima kasih, kamu udah datang tepat waktu. Kalau bukan kamu, mungkin aku dan Arbi sudah terbakar di kobaran api itu." Tutur Ana sedu. Arbi mencoba untuk berkata semuanya. Namun Bara seperti mengisyaratkan Arbi dengan tatapannya. Supaya pria kecil itu tidak menceritakan kejadian detail nya.


Sementara itu, Arka sedang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Dengan perawatan intensif VVIP. Yang diberikan secara khusus untuknya dari pihak rumah sakit. Arka belum juga sadar. Wajah nya ditutupi oleh tabung oksigen.


Di luar sana, asisten Arka mengintip nya dari kaca jendela. Merasa bimbang dengan suasana hatinya.


'Ya Tuhan, selamatkanlah Tuan muda Arka. Kalau dia tiada, bagaimana aku harus menjelaskan pada Tuan dan Nyonya besar' gumamnya dalam hati.


Di tengah kebimbangan nya sebagai asisten. Yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi pada Arka. Tiba-tiba Gladys datang membawa sebuah keranjang buah serta hampers bunga. Untuk diberikan kepada kekasih sekaligus tunangan nya.


Gladys diam terpaku melihat Arka dari kaca jendela. Yang terbaring lemah di dalam sana. Bulir bening menetes dari sudut matanya. Tak terima dengan kondisi Arka yang terbaring kritis.


'Ini pasti karena dia ceroboh untuk menolong Ana! Ka, kamu kenapa sih, sebegitu pedulinya pada dia? Udah cukup untuk hari ini dan seterusnya! Kamu nggak boleh terlibat lagi dalam hal apapun yang berhubungan dengan Ana! Cukup, Ka! Kamu nggak hanya akan menyakiti dirimu sendiri. Tapi juga aku!' Gumam Gladys dalam hati seraya terisak tangis.


Gladys tahu semuanya, itu karena asisten Arka yang menceritakan kejadian detail nya. Saat ponsel Arka berdering. Dia lah yang mengangkat nya.


"Tu-tuan muda Arka kritis, Nona!" Ucapnya tiga jam sebelum nya.

__ADS_1


"Hiks... hiks... hiks.. Arka.." rintih Gladys menangisi kondisi Arka yang kritis.


__ADS_2