Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 130


__ADS_3

Arka bersikeras untuk menahan dirinya, agar tidak mencemburui kemesraan yang dilakukan Bara dengan Ana di depannya dan Gladys. Namun, pada akhirnya ia sendiri pun goyah. Logikanya mulai terkalahkan oleh hati yang berdesir tak karuan.


Cup!


Tiba-tiba Arka mengecup kening Gladys di depan kedua pasangan bucin itu. Sontak membuat Gladys ternganga dengan mata mendelik serta mulut terbuka yang agak melebar.


“S-sayang.. kamu?” ucap Gladys terkejut.


“Iya, kenapa?” balas Arka berbalik tanya.


“Goyah juga, kan?” sambung Bara seraya mengeratkan dekapannya pada Ana.


Dasar, Bara!


“Gimana nggak goyah, kalau di panas-panasi begitu sama kalian berdua!” gerutu Gladys sembari mengerucutkan bibirnya ke depan.


Arka lantas terkekeh melihat wajah gemasnya Gladys. Yang berubah begitu menggemaskan saat menggerutu.


“Maafkan sikap nya Bara, Dys. Dia memang jahil, orang nya.” Sanggah Ana meminta maaf. Sebelah tangannya lalu mencubit wajah Bara.


“Kamu suka banget, ya. Cubit-cubit aku.” Keluh Bara manja pada Ana. Menatapnya penuh cinta.


“Kyaaa! Tatap aku kayak gitu, Ka!” heboh Gladys tak terima, bila Arka berdiam saja.


“Ini.. aku lagi tatap mata kamu, Dys.” Balas Arka lembut.


“Ah... Arka! Aku meleyot, kan.” Tutur Gladys seraya mencubit wajah Arka.


“Cewek kenapa, sih? Kayaknya suka banget, cubit-cubit gitu.” Tukas Bara, memperhatikan tingkah Gladys yang sama seperti Ana.


“Duh, Ayah muda ini bagaimana sih? Masa gitu aja nggak, tahu?!” cerca Gladys.


“Ya—makanya Gue bertanya.” Bara mendengus sebal.


“Sayang...” bisik Ana lembut sembari menggeleng pelan pada Bara.


“Iya, maaf.” Bara menatap Ana sedu.


“Dys, kayaknya kita harus pulang. Nggak enak sama Kak Ana yang sehabis melahirkan, kalau berlama-lama disini.” Sanggah Arka pada Gladys.


“Eh, iya juga ya. Ana butuh istirahat yang cukup. Maaf ya, An.. aku dan Arka malah ganggu waktu kamu.” Ujar Gladys.


“Iya, nggak apa-apa kok, Dys.” Jawab Ana sungkan. Senyum kecilnya terukir mengembang.


“Bingkisan buat Kak Ana dan baby twins nya menyusul, ya.” Sambung Arka tiba-tiba.

__ADS_1


“Iya, maaf ya An. Kita nggak bawa apa-apa kesini.” Tutur Gladys sedu.


“Nggak apa-apa kok, Dys. Kalian datang kesini pun udah senang aku nya. Terima kasih, sudah menjenguk baby twins kami.” Balas Ana.


Bara malah asyik sendiri memainkan jari jemari kecil bayi kembar itu.


“Hm, iya An. Kalau begitu, aku sama Arka pamit ya. Eh, mau cium baby twins nya dulu. Kalau belum di cium, masih penasaran.”


“Sini sayang, baby nya. Gladys mau cium katanya.” Pinta Ana pada Bara. Mengambil bayi yang ada di gendongan Bara ke pelukannya.


“Rusuh banget, dokter satu ini.” Gerutu Bara sebal.


“Bawel banget, kadal muara!” cerca Gladys mengejek Bara.


“Yang penting udah punya Ana, wle!” ledek Bara seraya menjulurkan lidahnya.


“Ih, Arka! Lihat tuh, si Bara. Ngeselin banget dia!” rengek Gladys manja pada Arka.


“Biarkan saja, dia memang setengah absurd orang nya.” Tukas Arka seraya mengecup lembut kening Gladys.


“Absurd-absurd begini, tapi bisa menikah muda, loh. Dapatnya spek bidadari kayak Ana, pula.” Celetuk Bara yang juga tak kalah dari Arka. Mengecup lembut wajah cantik Ana di depan kedua pasangan itu.


“Whuaaa... whuaaaa...” suara rengekan dari kedua bayi kembar itu terdengar tiba-tiba.


Seketika suasana di ruangan itu menjadi panik. Arka merasa tidak enak pada Ana. Ia menyuruh Gladys untuk mendiamkan kedua baby twins. Namun, Bara melarangnya. Akhirnya mereka pun langsung pamit pergi. Karena Ana ingin menyusui kedua bayi kembar itu.


“Kamu kenapa senyum-senyum, begitu?” tanya Ana bingung.


“Enggak kok, sayang. Ehe!” kekeh Bara berdalih.


Tiba-tiba Bara mendekat pada Ana. Jarak keduanya hanya berjarak satu jengkal, sekarang.


SET


Ana kembali menaruh bayi-bayinya di dalam keranjang itu. Setelah keduanya sudah tenang dan terdiam. Kakinya lalu berjalan memasuki ke dalam kamar mandi. Bara tampaknya mengekor di belakang Ana.


“Sayang? Kamu kok, ikut masuk juga?” Ana tersadar, setelah melihat siluet wajah Bara di depan cermin kamar mandi.


“Iya, mau ikut kamu.”


“Aku kan, udah melahirkan... sayang.”


“Memangnya kenapa? Kalau udah melahirkan.”


“Tandanya, aku nggak perlu lagi di mandikan kamu.” Ana mengelus lembut wajah Bara.

__ADS_1


“Tapi biasanya kan, kita memang selalu mandi bareng... sayang.” Tutur Bara sedu.


“Iya, tapi nggak untuk sekarang... sayang.” Balas Ana lembut.


“Kenapa? Aku buat salah lagi, ya?”


“Enggak, kamu nggak salah, sayang. Tapi aku...” ucap Ana terpotong.


“Kamu sakit? Dimana yang sakit, sayang?” Bara memotong ucapan Ana. Wajahnya berubah panik dan gusar. Kedua tangannya terangkat menyentuh wajah Ana. Lalu memeriksa suhu tubuhnya di dahi nya.


“Sayang... aku sehat, kok. Maksud aku... aku itu sedang... mengalami masa nifas. Kamu ingat, kan? Aku sehabis melahirkan.” Jelas Ana.


“Memangnya kenapa? Kalau kamu sedang masa nifas? Kan, aku hanya menemani kamu mandi aja.”


“Ya tetap aja nggak boleh, Bara sayang. Kamu nggak boleh lihat rahasia wanita. Itu hanya aku saja yang boleh melihatnya.” Tukas Ana.


“Memangnya nggak boleh kenapa?”


“Ya pokoknya nggak boleh. Udah, kamu di kamar aja sama baby twins. Yuk, temani mereka. Atau tidak, ajak Arbi bermain.” Ujar Ana sembari mendorong Bara keluar dari dalam kamar mandi.


Klek!


Dengan cepat, Ana mengunci pintu kamar mandi itu. Sementara Bara, harus menahan masa nifas Ana selama beberapa hari ke depan. Wajahnya melemah tak sabar menunggu lama.


Sedikit pemahaman mengenai masa nifas pada wanita. Masa nifas adalah masa pemulihan paska persalinan, hingga seluruh organ reproduksi wanita pulih kembali sebelum kehamilan berikutnya. Masa nifas pada umumnya berlangsung sampai 6-8 minggu setelah melahirkan. Dalam 6-8 minggu tersebut, tubuh wanita akan mengalami perubahan. Yaitu adaptasi dari masa kehamilan dan melahirkan. Sampai berangsur-angsur kembali lagi ke keadaan seperti sebelum hamil.


Hal-hal yang perlu diperhatikan saat masa nifas antara lain, suhu, pengeluaran lochea, payudara, traktur urinarius, dan sistem kardiovaskuler. Selain dari segi klinik ibu, kondisi kejiwaan ibu paska persalinan juga harus selalu dipantau dan diberi dukungan. Tak jarang kondisi kejiwaan ini disepelekan dan menjadi salah satu faktor menurunnya kondisi ibu paska persalinan. Yang berujung pada kematian, seperti kisah RA Kartini.


Karena itu, Bara tak bisa menjauhkan dirinya dari Ana. Walau begitu, Bara tetap harus selalu sabar menunggu.


Tok tok tok!


Bara mengetuk pintu kamar mandi secara berulang kali. Sudah tiga puluh menit lamanya, Ana masih belum keluar juga. Kekhawatiran Bara semakin menggebut.


"Sayang? Kamu nggak apa-apa, kan?" Teriak Bara memanggil Ana.


Beberapa detik kemudian...


Kriek!


Ana membuka knop pintu itu. Wajah nya sudah kelihatan lebih segar dari sebelumnya. Dengan handuk putih yang melilit di tubuh Ana. Sontak, Bara meneguk saliva nya.


"Kamu tadi panggil, aku?" Tanya Ana.


"I-iya, aku khawatir soalnya. Hem... wangi!" Jawab Bara seraya mengendus bau pada tubuh Ana.

__ADS_1


Bara, kamu genit!


Eh.


__ADS_2