
Tubuh kecil yang sudah rapi berlapis baju seragam. Harum bau dari aroma parfum bayi yang ia kenakan pada kulit mulusnya. Wajah ceria nan semangat itu, begitu semringah ditampakkan. Arbi si pria kecil sudah siap ingin bergegas pergi ke sekolah barunya.
“Kamu sudah siap?” Tanya Ana, yang juga sudah rapi dengan pakaiannya. Memakai balutan baju jas crop berwarna soft purple serta bawahan rok berwarna senada. Dan dalaman t-shirt warna putih. Terakhir pada pashmina putih yang menutupi rambutnya.
“Siap, Bunda!” sahut Arbi bersemangat.
Kedua anak dan Ibu itu berjalan memasuki ke dalam mobil. Yang sudah ada Pak John menunggu mereka. Juga ternyata ada satu orang lainnya. Yakni...
“Sayang?” ucap Ana pada Bara.
Bara tersenyum menyeringai menatap Ana.
“Loh, katanya Ayah sudah berangkat ke kantor?” sambung Arbi.
“Nggak jadi, Ayah mau ikut mengantar kamu juga ke sekolah.” Lanjut Bara berucap.
“Asyik!” Arbi bersorak ria. Tangan kecilnya diangkat ke atas.
“Jalan, Pak!” perintah Bara pada Pak John. Setelah semuanya sudah menduduki kursi mobil itu dengan nyaman.
Di dalam mobil, pandangan mata Bara tidak berhenti menatap Ana. Yang begitu tampil beda hari ini. Bahkan lebih cantik dari biasanya.
“Kamu mau antar Arbi ke sekolah saja, kan?” tanya Bara cemas.
Ana lantas mengangguk pelan. Seraya mengelus lembut wajah Bara.
“Iya, sayang. Memangnya aku mau kemana lagi?” balas Ana.
“Tapi apa tidak berlebihan?”
Ana mengernyitkan dahinya sesaat.
“Maksudnya?”
“Kamu terlalu cantik, Ana. Bagaimana kalau ada pria lain yang melihatmu?” celetuk Bara.
“Menurutku ini biasa kok, sayang. Bukankah sewaktu ke kampus, aku juga sering memakai pakaian seperti ini?” ujar Ana bertanya.
“Tapi...” perkataan Bara terpotong dengan rengekan suara Arbi.
“Bunda... nanti sepulang sekolah, kita beli ice cream ya?” pinta sang malaikat kecil pada Bunda nya.
“Arbi mau beli rasa apa?” sahut Ana menjawab.
“Rasa strawberry, cokelat, vanila, oreo, dan rasa-rasa lainnya.” Celoteh Arbi.
“Kamu mau borong ice cream namanya, bukan beli ice cream.” Sanggah Bara.
“Memangnya kenapa? Ayah tidak suka?” Arbi mendongak menatap sang Ayah muda nya.
“Suka, tapi Ayah harus ikut juga. Bagaimana?” tukas Bara.
Bibir Arbi lantas mengerucut ke depan.
“Bukankah Ayah harus pergi bekerja?” balas Arbi pintar.
__ADS_1
“Sayang, Arbi benar. Akhir-akhir ini waktu kamu sudah banyak dihabiskan untuk kami. Sudah saatnya, kamu harus kembali pada perusahaan. Terlebih lagi, BARNA Corp juga belum pernah kita cek lagi keadaannya.” Sambung Ana. Seraya mengelus lembut jari jemari Bara. Yang jaraknya agak terpisah sedikit karena dibatasi oleh tubuh malaikat kecil Arbi. Berada di tengah-tengah keduanya.
“Kamu benar... aku tidak boleh lengah harusnya. Masalah perusahaan kita, Arka yang lebih tahu untuk saat ini. Aku akan bicarakan lagi padanya.” Balas Bara sembari mendaratkan kecupan di punggung tangan Ana.
Sudah begitu lama, BARNA Corp tidak dikelola oleh Bara maupun Ana. Hanya Arka sendiri bersama para bawahannya yang mengurus itu semua. Patut di apresiasi atas kerja keras Arka selama ini. Karena sudah banyak berkontribusi untuk BARNA Corp.
.
.
SET
Mobil panjang itu terparkir di depan gedung sekolah taman kanak-kanak berbasis internasional. Pria setengah dewasa keluar dari dalam sana. Memakai setelan jas berwarna biru senada dengan bawahan celana nya. Kaki panjangnya menangkap sosok malaikat kecil yang ikut turun setelahnya.
HAP!
Arbi melompat setelah mendapat gendongan hangat dari Ayahnya, Bara. Diikuti Ana, yang juga berjalan setelah keluarnya Arbi tadi. Ketiganya melangkahkan kaki memasuki gedung sekolah itu. Saling bergandeng tangan, menggenggam jari jemari kecil malaikat kecil tak bersayap.
“Kalau ada yang mengganggu kamu, bilang sama Ayah. Oke?” ucap Bara, setelah sampai mengantar Arbi ke depan pintu kelasnya.
“Oke, Ayah!” jawab Arbi bersemangat.
Tubuh kecilnya berjalan memasuki ruang kelas itu. Terlihat begitu bersih dan terawat. Punggungnya menggendong tas beruang. Yang ukurannya lebih besar dari pada tubuh padannya.
Para orang tua lain juga ikut mengantar anak-anak mereka. Ana tersenyum ramah menatap mereka semua.
“Yuk, pulang! Atau kamu mau ikut aku ke perusahaan?” ajak Bara.
Ana lantas menggeleng pelan.
“Nggak bosan? Disini lumayan sepi loh, sayang.”
“Aku nggak tunggu disini, tapi di kantin. Sekalian mau melanjutkan kerjaan ku?”
“Kamu kerja? Kok aku tidak tahu?” tanya Bara tampak terkejut.
“Loh, bukannya kamu juga tahu ya? Aku kan, pernah bilang waktu itu. Aku jadi penulis platform online, sayang.” Balas Ana.
“Kamu bawa laptop?”
Ana menggeleng pelan.
“Ini, bawa ipad keyboard yang kamu belikan itu.” Lanjut Ana berucap. Senyumnya begitu manis menatap Bara.
“Aku jadi tidak tega meninggalkan kamu sendirian di sekolah ini.” Tutur Bara sedu.
“Tidak apa-apa, sayang. Aku kan, juga tidak sendiri. Aku sedang menunggu Arbi.” Balas Ana seraya mengelus lembut wajah taman Bara.
Tidak dirumah, disekolah anak pun masih saja bermesraan.
Aih!
“Aku pergi... kamu telepon aku kalau terjadi sesuatu disini. Mengerti?” ujar Bara pamit.
Cup!
__ADS_1
Sebuah kecupan di daratkan pada kening Ana. Keduanya berpisah untuk waktu sesaat. Ana menatap punggung Bara yang berjalan semakin jauh dari pandangannya. Sampai akhirnya kedua matanya beralih pada sosok kecil cantik. Yang baru saja datang ke sekolah.
Rupanya anak itu terlambat.
“Bunda nya Arbi?” panggil anak itu. Ternyata dia mengenali Ana.
Ana mendelik kaget tak percaya.
“Ah, k-kamu memanggilku? Gadis cantik.” Sahut Ana kebingungan.
Anak itu mengangguk pelan.
“Kamu Bunda Ana, kan? Bunda nya Arbi?” tanyanya lagi.
“I-iya, benar. Kamu siapa?” balas Ana penasaran.
“Masa Bunda nya Arbi tidak mengenaliku, sih? Aku itu, Tasya. Teman barunya Arbi yang pernah bertemu di taman kota.” Jelas gadis itu.
Ana tampak mengernyit dan berpikir sebentar. Sampai akhirnya...
“Ah, iya! Kamu Tasya, ya? Wah, kamu cantik sekali sayang. Bunda nya Arbi hampir lupa mengenali wajahmu. Maaf, ya.” Ana teringat dengan gadis kecil itu.
Tasya mengangguk pelan seraya tersenyum semringah menatap Ana.
“Tidak apa-apa, Bunda.”
“Ah, kamu hampir telat, Nak. Ayo masuk ke dalam! Arbi juga sudah disana.” Tukas Ana sembari mengelus lembut pucuk kepala kecil Tasya.
Gadis itu tersenyum, dan memagutkan kepalanya. Kaki kecilnya melangkah mendekati pintu kelas itu. Sesampainya di depan sana, Tasya menoleh ke belakang. Menatap Ana, sambil melambaikan tangannya. Lalu kembali melanjutkan langkah kakinya berjalan memasuki ke dalam ruang kelas itu.
Takdir baik selalu datang mendekati. Apakah pertemuan Ana dengan Tasya adalah takdir baik untuknya? Atau pula takdir baik untuk Arbi.
Sang malaikat kecilnya.
~ ~
Waktu berjalan begitu cepat. Matahari pagi, kini berubah naik menjadi siang. Dan sekarang sudah pukul 10.30. Waktunya makan siang dan istirahat pulang. Untuk Arbi yang telah menyelesaikan sekolahnya hari ini.
Ana pun juga sudah selesai dengan kerjaan nya. Kakinya berjalan mendekati kelas Arbi lagi. Untuk menjemput sang malaikat kecilnya.
Dari jauh, pandangan mata Ana melihat Arbi sudah berada di depan kelasnya. Rupanya anak itu sedang menunggu Bunda nya. Di sebelah Arbi, ada Tasya juga. Yang berdiri sembari mengintil pada pria kecil itu.
“Bunda!” panggil Arbi bersemangat menyambut Ana yang datang menjemputnya. Tubuh kecilnya memeluk erat sang Bunda.
“Gimana sekolahnya tadi? Ada yang sulit, tidak?” sahut Ana bertanya.
“Tidak, Bunda. Aku bisa mengerjakan semuanya. Tapi dia terus menggangguku!” gerutu Arbi menunjuk pada Tasya.
Ana jadi tidak enak pada gadis kecil itu.
Ketidak sukaan Arbi turun temurun dari sifat Bara yang begitu menonjol. Seperti Bara yang dulu tidak menyukai Arka. Kini malah Arbi bergantian tak menyukai Tasya.
Arbi kecil, minta di gigit.
Eh.
__ADS_1