Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 80


__ADS_3

Gladys dan Ana begitu menikmati hari ini, menyantap ice cream strawberry kesukaannya. Memborong beberapa camilan dan makanan serta ice cream. Untuk piknik dadakan ala wanita yang sedang patah hati. Dan sekarang, mereka ada di tengah-tengah taman kota.


Sore ini, langit begitu mendukung suasana hati keduanya. Senja yang begitu indah dan terpampang nyata.


“An, gimana perasaanmu sekarang? Apa sudah jauh lebih baik?” tanya Gladys sambil sesekali menyantap ice cream yang ada di genggaman tangannya.


“Aku rasa, iya. Aku jauh lebih ikhlas, baik sekarang atau pun nanti.” Jawab Ana tegar.


“Huh, aku begitu salut sama kamu. Masih bisa bersikap sesabar itu. Kalau aku jadi kamu, udah ku cincang-cincang kedua manusia tadi.”


“Sudahlah, Bara juga tidak sepenuhnya salah.”


“Karena dia amnesia, gitu?”


“Ya memang begitu, terus harus gimana memangnya?”


“Ya meskipun dia amnesia, harusnya kan dia bisa mengingatmu, An. Bukan mengingat wanita jelek tadi. Aku juga gak pernah tahu tentang wanita itu. Aneh, tiba-tiba datang dan jadi perusak hubungan orang.”


“Mungkin wanita itu ada hubungan dengan masa lalunya Bara. Sudahlah, lupakan semuanya. Anggap saja, hari ini kita habis bersenang-senang.” Ana tersenyum tulus menatap ke depan. Tangannya lagi-lagi mengusap perutnya yang belum buncit.


‘Ana memang sulit untuk dimengerti. Pantas saja Bara begitu sayangnya dengan dia. Aih, si Arka pun juga sama. Sudahlah, semua lelaki memang sama!’ gumam Gladys dalam hati.


.........


Setelah pulang menghabiskan waktu bersama. Ana dan Gladys kembali ke apartemen. Mungkin untuk sementara waktu, Gladys akan tinggal dan ikut bersamanya. Sampai bayi yang dikandung Ana lahir dengan selamat.


“An, kamu.. benaran gak sedih? Apakah semudah itu, melupakan seseorang? Ah, aku bingung dengan pikiranmu.” Ujar Gladys bertanya. Saat mereka sudah kembali di apartemen.


“Entah, aku rasa, terlalu banyak membuang masa. Menghabiskan banyak energi, untuk merasakan sedih dan terpuruk. Yang aku inginkan sekarang, agar bayiku bisa lahir ke dunia ini dengan selamat.” Jawab Ana. Suaranya terdengar tidak seperti tadi sewaktu di rumah sakit.


“Kamu begitu tegar, An. Aku ingin sepertimu, punya karakter yang lembut dan sabar. Tapi rasanya terdengar susah. Untukku yang agak emosian ini, aih! Tidak sejalan dengan profesiku sebagai dokter dan psikolog.” Gladys menghela napas kasar.


“Kamu juga sabar dan lembut, Dys. Sewaktu itu kamu merawatku begitu sabar dan perhatian.”


“Eh, kamu masih ingat rupanya. Aih, aku sendiri bahkan sudah lupa.”


“Hm, gak apa-apa kok.”


“Aku memang sabar, dalam menangani pasien. Tapi untuk masalah tadi, apa pun mengenai pelakor, pengkhianatan, aku gak bisa menahan emosiku, An.” Gladys begitu geram mengingat kejadian hari ini di rumah sakit.

__ADS_1


“Udah, jangan di pikirkan lagi. Kamu mau mandi duluan atau aku? Udah gerah nih, seharian ini kita piknik di taman kota.”


“Ha ha ha, iya juga ya. Udah bau keringat, ih gak banget deh. Kamu duluan aja yang mandi. Aku sebagai tamu, mengalah kepada sang empu.” Ucap Gladys terkekeh.


“Kamu bisa aja, Dys.” Ana ikut terkekeh mendengar perkataan Gladys yang agak lawak.


.........


Di tengah-tengah kesibukannya mengurus perusahaan. Arka mencari informasi mengenai dokter di luar negeri. Yang profesional dalam menangani pasien yang mengalami amnesia. Ia memerintah kepada beberapa bawahannya juga untuk memata-matai ke dalam keluarga Kertajaya.


“Cari tahu semua pergerakan mereka.” Perintah Arka kepada beberapa pengawalnya.


“Baik, Tuan muda.”


Arka terus mengawasi setiap gerak-gerik di kediaman Kertajaya. Terlebih lagi pada wanita yang bernama, Sofie. Tidak boleh ada yang terlewat sedetik pun. Dan sekarang, Bara sudah diperbolehkan pulang. Otomatis penjagaan disana lebih diperketat oleh Ayahnya, Brama Kertajaya.


Malam ini, Arka berencana untuk pergi melihat keadaan Bara. Tak lupa membawa beberapa pasukannya juga. Untuk berjaga-jaga bila terjadi sesuatu nantinya. Arka ingin bercakap lebih pada sahabatnya.


Terutama membicarakan tentang


Ana.


Singkat cerita, malam pun tiba. Arka dan yang lainnya mulai melakukan perjalanannya ke kediaman Kertajaya. Ada sekitar 3 mobil untuk membawa beberapa pengawal serta asistennya. Arka tidak tinggal diam membiarkan sahabatnya terprovokasi oleh keluarganya.


‘Kalau dia terprovokasi, lalu bagaimana dengan nasib Ana dan bayinya? Bagaimana pun, aku harus mengembalikan Bara pada Istrinya, Ana.’ Gumam Arka.


Satu jam kemudian, mereka semua sampai. Tepat di halaman kediaman Kertajaya. Melihat banyaknya mobil di area halaman. Sepertinya ada banyak tamu yang berdatangan.


Arka melambaikan satu tangan kanannya. Mengisyaratkan untuk membagi-bagi tugas. Beberapa pengawal ada yang berjaga di area halaman. Ada juga yang memata-matai ke dalam. Serta mengecek situasi keadaan di area pintu masuk.


Arka berjalan melangkahkan kakinya ke dalam rumah itu. Di kawal oleh empat orang pengawal dan satu asistennya. Sisanya sedang merencanakan tugas yang sudah ia perintahkan tadi. Arka melihat banyaknya para tamu tengah menikmati hidangan yang di sediakan oleh sang empu.


‘Aneh, sebenarnya ada apa ini?’ gumam Arka bertanya dalam hati.


Kedatangan Arka sontak mengundang banyak perhatian. Banyak pasang mata yang melihat ke arahnya. Termasuk Tuan Brama Kertajaya sendiri. Yang tengah tertawa riang bersama Istri dan para tamu nya. Juga ada Sofie disana.


“Arka?” ucap Tuan Kertajaya tercengang. Melihat Arka yang datang.


“Eh, siapa itu? Ganteng banget.” Bisik para tamu wanita.

__ADS_1


“Bukannya itu Arka Buana? Pewaris dari Buana Group.”


“Ah, beruntung banget yang bakal jadi Istrinya.”


“Katanya udah punya tunangan sih, dia.”


“Hah, masa? Yah, patah hati dong.”


Dan masih banyak lagi gosip-gosip para tamu yang hadir. Membicarakan Arka yang saat ini mengundang banyak perhatian mereka. Sofie juga tidak sengaja mendengar semuanya. Juga menyadari, kehadiran Arka yang datang secara tiba-tiba.


‘Sial, kenapa Arka bisa ada disini sih?! Gawat kalau dia bisa merusak semua rencanaku!’ gumam Sofie dalam hati.


“Om, apa kabar?” sapa Arka pada Tuan besar.


“Baik, kamu sendiri gimana kabarnya?”


“Aku baik juga, Om. Oh ya, dimana Bara? Aku dengar dia habis pulang dari rumah sakit. Apa itu benar?” tanya Arka berpura-pura tidak tahu.


“Eh.. s-soal itu, hanya hoax. Tidak perlu dipikirkan mengenai gosip itu.” Jawabnya berbohong.


‘Cih! Dia pikir aku tidak tahu hah?!’ gumam Arka dalam hati.


“Oh, berarti itu hanya gosip aja ya, Om? Gak benaran terjadi kan? Ya baiklah kalau begitu. Aku kesini Cuma mau cari Bara. Kebetulan ada beberapa urusan bisnis yang harus dibicarakan secara empat mata dengannya.”


Pintar juga Arka berakting, aih.


“B-Bara? D-dia sedang tidak enak badan hari ini. Mungkin bisa lain waktu, kamu berbicara empat mata dengannya.”


“Yah, sayang sekali rupanya, Om. Secara, saya sudah datang jauh-jauh kesini. Tapi Om tidak mengizinkan saya untuk bertemu Bara.” Ucap Arka dengan suara lantang. Sehingga para tamu pun ikut mendengarnya.


“Wah, ada apa ini?”


“Tuan Brama ini tidak menghargai Tuan muda Buana.”


“Eh, terlihat jelas kalau dia memang sombong.”


“Iya benar, tega sekali dia.”


“Tuan muda Buana yang bernama Arka itu kah? Wah kita kedatangan tamu kehormatan.”

__ADS_1


Semua tamu di dalam ruangan itu membicarakan sikap Tuan Brama. Yang tidak menghargai Arka sebagai tamunya. Merasa malu dan terpojokkan. Akhirnya ia pun menyetujui Arka untuk menemui Bara. Meskipun dengan berat hati menerimanya.


__ADS_2