Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 38


__ADS_3

Arya bingung dengan ucapan adiknya, mengapa ia menyuruhnya untuk memberitahu Bara agar datang ke rumah sakit? Kenapa dia tidak menyuruh Kakaknya saja yang datang, mengapa harus orang lain? Arya lupa, kalau Bara dan Arka adalah sahabat. Mereka sejak kecil memang selalu bersama, bahkan sudah seperti saudara. Tapi saat ini Bara sedang menjalani hukuman atas perencanaannya sendiri.


“Huh, apa boleh buat.” Ucapnya bergeming.


Arya berjalan keluar ruangannya untuk menemui Bara di meja kerjanya. Kalau bukan karena adiknya, ia tak akan sudi untuk menghampirinya. Apalagi Bara adalah saingannya untuk mendapatkan cintanya Ana. Ia lupa bahwa cinta sejati itu ada. Mau ratusan ribu ataupun juta cara untuk memisahkan, tak akan pernah berhasil sampai kapan pun juga.


Sesampainya Arya di meja kerja Bara, diikuti juga dengan sekretarisnya. Ia memberikan sebuah amplop yang berisi surat izin kerja padanya. Terlihat Bara yang masih serius dengan pekerjaannya dan belum menyadari kehadiran CEO itu beserta sekretarisnya. Arya tampak memberikan kode pada sekretarisnya untuk memberikan surat itu pada Bara.


“Permisi, Pak Bara. Ini surat izin dari Pak Arya untuk Anda hari ini.” Tutur sekretaris itu pada Bara. Sementara Arya hanya memandanginya dengan wajah kesal.


“Surat izin? Saya tidak meminta izin, Mbak.” Bara tampak bingung dengan situasi ini.


“Arka yang meminta saya untuk mengizinkanmu hari ini. Dia sudah menunggumu di rumah sakit cendekia sekarang, datanglah ke sana!” Sambung Arya.


“Arka? Ada apa dengannya?” Gumam Bara dalam hati, dan tiba-tiba pikirannya tertuju pada Ana.


“Mau apalagi? Ayo cepat pergi!” Ucap Arya mengusirnya.


Kalau dia tahu Ana yang masuk rumah sakit pun, pasti Bara tak akan diberitahu. Untung saja Arka tak memberitahu siapa yang sakit. Jadi Arya mengira bahwa adiknyalah yang sakit.


Tak lama dari situ, Bara pergi untuk menemui Arka ke rumah sakit cendekia. Panasnya terik mentari, membuatnya kewalahan mencari angkutan umum yang lewat siang ini. Sampai akhirnya ia menemukan busway yang lewat di area halte, tempat ia berdiri sekarang. Dengan buru-buru ia memasuki bus itu. Bara tak bisa menelepon Ana, sementara teleponnya Ana yang pegang.


Sejak ia kabur dari Australia, semua fasilitasnya berkurang. Hanya tersisa tabungannya yang sedikit, juga ponsel yang ia berikan pada Ana. Jadi Bara tak memegang ponsel selama ia pergi bekerja. Ia pikir Ana lebih membutuhkan ponsel itu. Karena isi ponsel itu berisi saldo mobil banking Bara untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan juga Ana, apalagi ia bekerja dari pagi hingga sore hari.


.........


Setelah dua puluh menit di perjalanan, Bara sampai di rumah sakit yang dituju. Rumah sakit cendekia, itu yang diucap oleh Arya tadi sewaktu di kantor. Benar saja, Arka sudah menunggunya di depan pintu masuk sembari mondar-mandir tidak jelas. Dengan cepat Bara berlari menghampirinya. Arka sadar akan kedatangan Bara langsung buru-buru mengajaknya untuk segera masuk ke dalam ruangan rumah sakit.


“Ada apa sih, Ka? Siapa yang sakit?” Tanya Bara bingung.


“Istri lo!” Jawab Arka malas.


“Ha? Ana? Ana kenapa?” Ucap Bara kaget sambil berjalan cepat.


“Ana melahirkan, bodoh! Lo Suaminya atau bukan sih? Istri mau melahirkan aja gak tahu. Pake acara kerja segala lagi.” Tutur Arka ceplas-ceplos.


Deg.


“A... Ana melahirkan? Bukannya bulan depan? An, maafkan aku. Aku gak siaga jaga in kamu.” Tutur Bara dalam hati sambil mempercepat jalannya.


.........


Sesampainya mereka di depan pintu ruangan tempat prosesi Ana melahirkan, Arka menyuruh Bara sendiri yang masuk ke dalam. Sementara dia sendiri menunggu di depan. Bara memasuki ruangan itu, ia kaget melihat Ana. Darah dimana-mana, suster beserta dokter seperti kewalahan menanganinya. Ternyata bukan hanya Ana yang melahirkan, tapi juga ada pasien lain bersamanya.


Tapi hanya Ana yang ia cari saat ini. Dan akhirnya ia melihat Ana terbaring lemah di ranjang rumah sakit bersama seorang wanita paruh baya. Siapa dia, apa Ana mengenalnya, ucap Bara dalam hati. Tanpa basa basi lagi, ia menghampiri Ana dan menggenggam erat jemarinya. Ana tampak senang dengan kehadiran Bara.


“Bara...” Ucap Ana lemah.


“Iya sayang, ini aku. Maaf in aku, gak siaga jaga in kamu.” Tutur Bara sedu. Sepertinya Bara menahan tangis.


“Dia siapa, nduk?” Tanya Ibu Ana penasaran.


“Saya Suaminya Ana, Bu. Maaf, Ibu ini siapa ya?” Sambung Bara.


“Jadi kamu Suaminya? Ya Allah.. kamu.. kamu yang udah buat anak saya hamil. Lalu di saat mau melahirkan malah ditinggal. Laki-laki macam apa kamu ha?!” Umpat Ibu Ayu pada Bara justru mengundang banyak perhatian pada petugas rumah sakit serta dokter yang berada di dalam ruangan itu.


“Ibu, maaf. Disini situasinya sedang tidak kondusif, Ibu. Kalau mau buat keributan bukan disini tempatnya. Mohon maaf, Ibu boleh menunggu saja di luar. Kami disini akan melakukan yang terbaik untuk pasien disini.” Ucap Dokter kandungan yang tengah menangani Ana.


“Tapi saya Ibunya, dok.” Tutur Ibu Ayu tampak geram.


“Iya, saya tahu. Tapi disini sudah ada Suami pasien yang akan menemani. Jadi mohon maaf sekali, Ibu harus menunggu di luar saja. Mohon maaf sekali, Ibu atas pengertiannya.” Sambung dokter itu lagi.


Ibu Ayu pun keluar dengan wajah kesal.


“Bara.. kamu jangan pergi.” Ucap Ana lemah.


“Iya sayang. Aku gak akan pergi. I’m here right now, okay?” Balas Bara sedu dan mengecup lembut kening Ana dengan satu kecupan.


Ana senang, akhirnya Bara datang. Orang yang ia tunggu-tunggu hanya lah Bara. Bukan Arka, apalagi Arya sang CEO itu. Manusia yang ia cintai setelah kedua orang tuanya. Lelaki yang belum lama menjadi Suaminya, sekarang akan jadi seorang Ayah.


“Aku gak kuat, Bara..” Keluh Ana lemah. Bara menatapnya dengan berkaca-kaca


“Kamu kuat sayang. Kamu harus kuat, aku yakin kamu bisa.. Ana.” Tutur Bara sama halnya lemah seperti Ana.


Berulang kali Bara mengecup lembut kening Ana. Ia takut sekali dengan situasi ini, hanya berani memandangi wajah Ana dan tak berani memandangi keadaan sekitarnya yang banyak peralatan dokter serta darah dimana-mana.


Dokter yang menangani prosesi Ana melahirkan tampak kewalahan menangani Ana. Karena kondisi Ana yang lemah, dan tak kuat mengeluarkan bayi yang ada di dalam perutnya.


“Gimana ini, dok? Pasien sepertinya tidak kuat untuk melahirkan secara normal.” Ucap perawat yang membantu dokter itu pada prosesi melahirkan ini.

__ADS_1


“Kita bantu doa dulu ya, semoga bisa. Kalau memang tidak bisa, terpaksa kami harus melakukan tindakan operasi pada Bu Ana.” Sanggah dokter wanita itu.


“Ya Allah, tolong Istriku. Kuatkan ia ya Allah.. aku tak kuasa melihatnya dengan kondisi seperti ini. Tolong, berikan mukjizatmu ya Allah.” Tutur Bara dalam hati.


.........


Tidak lama setelah itu, Ana berhasil melahirkan dengan normal. Tuhan mendengar doa Bara, yang ia panjatkan meski dari dalam hati. Ana lahir dengan selamat beserta bayinya. Bayi berjenis kelamin laki-laki yang belum diberi nama oleh kedua orang tuanya. Bara tampak senang dan bahagia melihat putranya yang baru saja lahir ke dunia ini.


“Terima kasih, Ana. Sudah berjuang melahirkan anak kita. Aku mencintaimu, sayangku.” Ucap Bara lembut seraya mengecup kening Ana. Dan Ana tersenyum lembut menatap Bara.


“Ngomong-ngomong, kita namai bayi ini siapa ya sayang?” Tanya Bara bingung, setelah ia mengumandangkan azan di telinga putranya.


“Menurut kamu, nama apa yang bagus?” Tutur Ana berbalik tanya. Bara tampak berpikir sebentar.


“Hm, bagaimana kalau.....” Ucapannya terhenti. Karena Ibu Ayu tiba-tiba datang bersamaan dengan Pak Ali, juga Arka.


“Ya Allah, Yah. Cucu kita, Yah.” Sanggah Bu Ayu pada Suaminya Pak Ali seraya menggendong Cucu mereka.


“Iya, Bu. Ganteng ya, Bu. Kayak Kakeknya.” Tutur Pak Ali percaya diri. Masa mirip bapak sih, Pak. Ya mirip Ayahnya lah, Bara kan ganteng. He he he.


“Selamat ya, Kak Ana. Atas kelahirannya.” Sambung Arka yang saat ini tengah berdiri di samping Bara duduk.


“Terima kasih, Ar. Ini berkat pertolonganmu juga, membawaku ke rumah sakit ini dengan tepat waktu.” Ucap Ana lemah.


“Sama-sama, Kak. Kalau perlu apa-apa, Kakak bisa bilang ke aku.”


“Gak perlu, Ana udah ada gua. Suaminya.” Sanggah Bara kesal.


Ucapan Bara tak sengaja di dengar oleh mertuanya yang sedang asyik mengajak anak mereka berbicara.


“Suami mbok ya gak tahu kalau Istrinya mau melahirkan. Tapi malah orang lain yang siaga membantu.” Tutur Bu Ayu memojokkan Bara. Disisi lain Arka merasa kesenangan karena mendapat pembelaan dari Bu Ayu, Ibunya Ana.


“Maaf, Bu. Saya tadinya memang hanya ingin keluar sebentar, untuk memberikan surat pengunduran diri di kantor. Tapi pihak kantor tidak menyetujui, dan menghukum saya dengan memberikan banyak tugas yang harus saya kerjakan saat itu juga.” Ucap Bara menjelaskan. Tapi sepertinya Bu Ayu tampak tak peduli dan tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Bara.


Berbeda dengan Istrinya, Pak Ali justru mempercayai dan melihat kejujuran dimata Bara. Ia senang kalau Ana mendapat Suami yang pekerja keras dan bertanggungjawab. Meskipun di saat genting tak ada di sisi Ana, itu pun karena keadaan yang tak memungkinkan. Seperti yang sudah dijelaskan oleh Bara barusan.


“Sudahlah, Bu. Kan dia sudah menjelaskan alasannya kenapa. Gak perlu diperpanjang, yang penting cucu kita sudah lahir dengan selamat. Dan Ayahnya juga mau bertanggungjawab.” Sanggah Pak Ali di sela-sela Istrinya mengumpat karena emosinya yang tak kunjung reda.


“Iya, Bu. Bara benar, dia tidak berbohong.” Ucap Ana lemah. Bara tersenyum menatap Ana yang membelanya di hadapan mertuanya.


“Tuh kan, apa Bapak bilang. Jangan mudah tersulur emosi, Bu. Lihat kondisi dan situasi. Kita lagi di rumah sakit loh, Bu.” Sambung Pak Ali.


“Kamu makan dulu ya, aku suapi.” Tutur Bara pada Istrinya seraya mengambil makanan yang telah disediakan oleh petugas rumah sakit. Sementara Ana mengangguk paham.


Melihat kemesraan itu, Arka berubah mood. Ia pun pamit untuk pulang lebih dulu, namun dengan baiknya ia menitipkan kunci mobilnya pada Bara. Tapi hal itu keburu di cegah oleh Bara, dan ia pun punya cara lain agar bisa membawa Ana beserta kedua orang tuanya pulang. Bara berpikir akan lebih baik jika mereka menaiki taksi online daripada membawa mobilnya Arka. Seperti sudah menebak kalau Arka hanya cari muka di depan Ana dan juga di depan kedua orang Ana.


.........


Singkat cerita, mereka semua sudah diperbolehkan untuk pulang. Dan saat ini telah berada di dalam kosan. Bu Ayu dan Pak Ali pun juga berada di dalam sana. Sayangnya, Bara jadi tak bisa bermesraan dengan Ana. Karena merasa canggung dengan keberadaan kedua orang tua Ana.


“Kamu kenapa sayang?” Tanya Ana seraya mengelus lembut wajah Bara yang tengah berada di sebelahnya.


“Ah... enggak. Gak kenapa-kenapa kok sayang.”


“Yakin? Kamu gak lagi nutupin sesuatu kan?” Ana curiga. Padahal sebenarnya dia pengin ngebucin berduaan. Tapi terhalang oleh kedua orang tua Ana yang tengah asyik makan sembari mengobrol. Entah obrolan apa yang mereka bicarakan, Bara tak mengerti bahasa daerah mereka.


“Iya sayang. Gak ada apa-apa kok.” Ucap Bara seraya ikut merebahkan tubuhnya bersebelahan dengan Ana.


Sementara bayi kecil mereka sedang tertidur pulas di sisi tengah mereka. Bara tampak memainkan pipinya yang masih sangat halus dan sensitif. Kulitnya yang putih, dan hidung yang mancung seperti Ayahnya. Bara masih tak menyangka kalau ia sudah jadi Ayah sekarang. Buah cinta mereka telah lahir ke dunia ini berkat Tuhan.


“Sayang.” Panggil Bara pada Ana.


“Iya? Kamu mau makan juga?”


“Kok makan sih. Bukan makan sayang, aku udah makan kok tadi.”


“Terus apa?”


“Baby kita belum dikasih nama.” Benar juga. Baru juga lahir ngab, udah buru-buru aja. Gak sabar-an banget.


“Oh iya. Hm, menurut kamu apa? Nama yang bagus buat baby kita.” Tanya Ana.


“Arbi, gimana kalau Arbi? Menurut kamu bagus gak?”


“Hm, bagus sih. Tapi masih kurang.”


“Kurang apanya?”


“Kurang kepanjangannya sayang.” Jelas Ana.

__ADS_1


“Kepanjangannya.... Arbi Bara Muhammad.”


“Namanya ganteng.” Tutur Ana tampak tersenyum menatap Bara.


“Ayahnya lebih ganteng.” Sanggah Bara tak mau kalah. Ana tertawa kecil mendengarnya.


“Kok ketawa sih kamu? Cium dong.” Ucap Bara menggoda. Tapi Ana justru mencium Arbi yang masih pulas tertidur.


“Kok baby nya sih yang di cium. Aku nya enggak.”


“Kamu mau di cium juga?” Tanya Ana meledek. Dasar kalian.


“Hm.. menurut kamu?” Jawab Bara sambil memutar kedua bola matanya malas. Ada yang merajuk nih ceritanya. Ahay!


“Ada Ibu sama Bapak disini, Bar. Aku gak enak sama mereka.” Tutur Ana berasalan. Bara menghela napas panjang.


“Iya, kamu benar. Kita juga belum sempat menjelaskan semuanya pada mereka.”


“Soal itu, biar aku yang mengatakannya langsung pada mereka. Kamu tenang aja. Hm ngomong-ngomong, pekerjaan kamu gimana? Kamu tetap kerja disana?” Ucapan Ana tak sengaja di dengar oleh Pak Ali. Ayah Ana.


“Kamu kerja di perkantoran, nak Bara?” Sanggah Pak Ali yang juga ikut menanyakan pada Bara.


“I.. iya, Pak.” Jawab Bara gugup.


“Wah, bagus ya. Oh iya. Bapak mau menanyakan sesuatu pada kalian berdua.” Tutur Pak Ali.


Bara dan Ana menatap secara bersamaan. Mereka tampak deg degan dengan pertanyaan kedua yang diajukan oleh Pak Ali. Ana terlihat memberi kode pada Bara lewat tatapan matanya. Bara terlihat sekali mencemaskan hal itu. Ia takut kalau Ana akan menceritakan semuanya, terutama tentang keluarga Bara yang tak menerima kehadirannya sebagai menantu bagi keluarga Kertajaya.


“Tanya soal apa ya, Pak?” Ucap Bara hati-hati.


“Soal pernikahan kalian. Bagaimana awalnya kalian berdua bisa tiba-tiba menikah? Apa kamu, sudah lebih dulu menghamili anak saya?” Benar saja. Semua orang yang tidak tahu kejelasan ceritanya pun akan mengira kalau Ana hamil di luar nikah. Maka sebabnya mereka menikah secara tiba-tiba, dan tanpa persetujuan dari kedua orang tua masing-masing.


“Ma.. maaf, Pak. Saya gak mungkin melakukan itu pada Ana. Tapi kita.... kita berdua menikah karena salah paham.” Jawab Bara gugup.


“Maksudnya salah paham itu apa, nak? Bapak masih belum paham.”


“Jadi ceritanya, waktu itu Ana habis selesai mata kuliah dan berniat untuk pulang ke kosan lebih awal. Tapi Ana gak sadar, kalau Bara mengikuti Ana dari belakang.....” Sanggah Ana bercerita kejadian sebenarnya sedari awal.


Tiba-tiba terpotong dan disambung langsung oleh Pak Ali.


“Jadi kalian melakukan itu di luar nikah? Ya Allah.. nduk. Bagaimana bisa kamu berbuat begitu dan mau.” Tutur Pak Ali sedu dan tak menyangka.


Ya ampun, Pak. Belum juga semuanya di jelaskan. Hadeuh, Pak Ali, Pak Ali.


“Sebentar dulu, Pak. Ana belum selesai menjelaskan.” Ana menghela napas. Bara mengelus lembut tangannya.


“It’s okay sayang.” Bisik Bara padanya. Ana mengangguk paham.


“Jadi saya aja, Pak. Yang akan menjelaskan secara detail kejadian yang sebenarnya.” Sambung Bara.


“Saya memang mengikuti Ana dari belakang. Sebenarnya tujuannya hanya ingin tahu dimana letak kosan Ana. Dan gak ada hal lain lagi, Pak. Hanya itu. Tapi ketika saya sudah mengetahuinya, panggilan untuk buang hajat muncul secara bersamaan. Ja..” Ucapan Bara terpotong.


“Jadi benar kan dugaan saya. Kamu masuk ke dalam kosan Ana.” Sanggah Pak Ali.


“Iya, Pak. Hanya ingin menumpang untuk buang hajat.” Tutur Bara.


“Mana ada buang hajat masuk ke dalam kosan wanita? Memang kamu nya aja yang mengambil kesempatan dalam kesempitan.” Pak Ali tidak percaya.


“Enggak, Pak. Saya berkata jujur. Gak ada pilihan lain saat itu, selain menumpang di kosan Ana. Tapi gak tahunya Ibu kos disana pun salah paham. Dan memanggil warga kosan lain beserta Pak RT untuk datang ke kosan Ana.” Jelas Bara.


“Ya Allah, nak. Jadi kalian di gerebek warga? Astagfirullahaladzim. Ya Allah..” Pak Ali menghela napas panjang. Ia terlihat kecewa berat setelah mendengar ceritanya.


“Sudah Ibu bilang apa. Bapak masih saja membelanya tadi, sewaktu dirumah sakit.” Sanggah Bu Ayu yang tiba-tiba ikut nimbrung.


“Sudah Bu, Pak. Bapak sama Ibu salah paham. Bara itu laki-laki baik, dia benar. Bara hanya menumpang ke toilet kamarku waktu itu. Tapi suaranya terdengar sampai ke sebelah kamar Ibu yang punya kosan itu. Dan Ibu itu menggedor paksa pintu kosan Ana. Sampai memanggil semua warga kosan untuk datang menonton Ana dan Bara yang ikut terpojok atas kejadian itu. Mereka semua melihat rambut Bara yang basah karena sehabis di cuci sewaktu di toilet. Tapi mereka berpikir buruk tentang itu. Dan pada akhirnya, mereka semua memaksa kami berdua untuk menikah pada saat itu juga.” Ucap Ana menjelaskan panjang lebar.


Bu Ayu serta Pak Ali pun paham, setelah mengetahui kejadian yang sebenarnya seperti apa.


“Maafkan Ibu sama Bapak, nak Bara. Karena berpikir buruk tentangmu pada anak kami.” Tutur Pak Ali meminta maaf pada Bara.


“Gak apa-apa, Pak. Saya mengerti.” Jawab Bara seraya menampilkan senyumnya yang mengembang.


“Lalu bagaimana dengan orang tuamu, nak? Apa mereka sudah menerima pernikahanmu dengan Ana?” Sambung Bu Ayu.


Deg.


Bara bingung harus menjawab apa.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2