
"Kalau Om Arka dan Om satu nya tidak berbaikan, aku akan mogok makan." Tutur Arbi nyeleneh.
"Memangnya kamu kuat? Ada banyak makanan enak loh, di rumah utama. Ada ice cream, roti bawang, fried chicken, burger, pancake durian, lasagna, bento, jus alpukat..." celoteh Bara menyebutkan satu persatu makanan pada Arbi. Dia paham betul sifat Arbi yang hobi makan.
Akankah Arbi goyah?
"Kuat! Aku pasti kuat! Aku kan, powerrangers. Ciaaaa!" Tutur Arbi. Sembari memperagakan gerakan powerrangers.
Arya tertawa renyah melihat tingkah lucu Arbi yang menggemaskan.
"Bukan cuma wajah saja yang lucu. Tingkahmu juga lucu, ya." Ujar Arya. Sambil mencubit gemas pipi Arbi.
Arka tampak melengos, tidak berniat menatap ke arah Kakaknya. Arya menyadari itu. Sikap Arka yang masih kekanakan. Karena terbawa situasi masa kecil mereka yang sepertinya tampak kelam di mata Arka.
"Dek, Kakak minta maaf. Kalau Kakak pernah berbuat tidak menyenangkan saat kecil dulu padamu." Ucap Arya pada Arka.
Jadi Arka mempunyai panggilan yang tak kalah gemasnya dengan Arbi?
Bara terlihat menutupi mulutnya. Menahan gelak tawa karena geli mendengar panggilan 'adek' untuk Arka.
Arka masih diam tidak bergeming.
"Apa yang harus Kakak lakukan? Supaya hubungan kita berdua kembali baik." Tutur Arya berkata lagi.
Arka tampak menatap sekilas ke arah Kakak nya.
"Jauhi Gue." Ujar Arka sinis.
"Itu bukan saran, namanya." Balas Arya.
"Orang dewasa ternyata juga sama seperti anak kecil. Sangat ke-ka-na-kan!" Sanggah Arbi menyindir Arka dan Arya.
"Cipung kecil, kamu tahu apa? Tentang orang dewasa." Tukas Arka.
"Hei, jangan menyebut putraku cipung!" Sergah Bara menolak dengan tegas.
"Buktinya, Om-om ini tidak mau berbaikan. Marah berkepanjangan juga tidak baik loh, Om." Lanjut Arbi berucap.
"Wah, kamu pandai sekali." Puji Arya. Sambil mengelus lembut pucuk kepala kecil Arbi.
Di tengah situasi tegang antara Arka dan Arya. Ana mengobrol bersama wanita yang Arya bawa tadi. Namanya, Dinda. Keduanya tampak begitu akrab. Meski baru saja bertemu.
"Aku tadinya hampir kesal, karena Arya sering membicarakan tentangmu. Dan setelah kutahu, ternyata kamu sudah mempunyai anak serta Suami." Tutur Dinda. Seraya terkekeh kecil.
"Membicarakanku?" Tanya Ana bingung.
Dinda spontan mengangguk pelan.
"Iya. Dia bilang, aku mirip denganmu." Jawab Dinda.
Kelihatannya memang hampir mirip. Mulai dari sikap anggun nya yang seperti Ana. Dinda juga memakai hijab. Namun, se-miripnya mereka tak akan pernah bisa menyamakan keduanya. Ana tetap Ana. Dan Dinda tetaplah Dinda.
Ana tersenyum kecil. Tanpa membalas perkataan Dinda tadi. Pandangan Ana lalu beralih pada Arbi. Yang berada di tengah-tengah Arka dan Arya.
"Mau kesana?" Tawar Ana mengajak Dinda menghampiri ke arah mereka.
__ADS_1
Dinda lantas mengangguk pelan.
Keduanya berjalan mendekati masing-masing pasangannya.
"Sayang, kalian sedang apa?" Bisik Ana di belakang punggung Bara. Lelaki itu mendongak menatap Ana.
"Aku juga bingung sedari tadi, sayang." Gumam Bara membalas.
"Aku jadi tambah bingung karena dengar jawaban kamu." Balas Ana.
"Ayo dong, Om-om berbaikan lagi. Kalau tidak, aku akan berteriak di dalam toko roti ini." Tutur Arbi tiba-tiba.
Dalam hati, Ana semakin bertanya-tanya. Sebenarnya ada apa dengan mereka semua?
"Eh, j-jangan dong, Arbi. Bagaimana kalau Om belikan kamu ice cream dan roti bawang?" Bujuk Arka.
Arbi spontan menggeleng cepat.
"Ayah sudah belikan banyak untukku." Sahut Arbi menolak.
Wajah Arka berubah datar.
"Ayolah, Om. Berbaikan lagi dengan Om satu ini. Kalau begitu aku akan mulai berteriak dari sekarang. Satu... dua... ti.." ucap Arbi memulai berhitung.
"B-baik, baik. Tapi ada syaratnya." Balas Arka seraya mendengus sebal.
"Apa itu, Om?" Tanya Arbi penasaran.
"Kamu harus makan sayur, bagaimana?" Usul Arka.
Arka memperhatikan pola makan Arbi yang selama ini kurang sehat. Jarang sekali makan sayur. Meski begitu, Ana memberikan suplemen sayur serta minuman jus buah untuk Arbi. Bukankah itu sama saja?
"Ya sudah, berarti gagal misi nya." Ucap Arka tersenyum menyeringai.
"B-baik! Aku akan makan sayur." Tukas Arbi bersemangat.
"Kamu yakin? Kalau nanti muntah, bagaimana?" Tanya Bara cemas.
"Demi kebaikan para Om-om ini, Yah." Tutur Arbi.
"Anak kecil, aku tidak butuh saran darimu. Apa kamu mengerti?" Sanggah Arka seraya mendengus sebal.
"Aku bukan anak kecil, paman. Aku Arbi!" Sergah Arbi menolak dirinya di cap sebagai anak kecil.
Ana terkekeh menertawakan tingkah lucu Arbi. Begitu juga Dinda yang sedari tadi menggeleng kegelian. Arbi benar-benar bisa membuat suasana tegang menjadi receh karena kelucuan nya.
"Tapi kamu anak kecil. Lihat, tanganmu saja kecil-kecil. Jari jemari ini, sangat imut. Jadi kamu itu anak kecil." Tutur Arka sambil menyentuh jari jemari Arbi. Anak itu langsung mengambil kembali kedua tangannya dari genggaman Arka.
"Kalau begitu, aku akan berteriak. Tolong! Tolong! Tolong!"
Arbi membuat ulah. Berteriak seakan menjadi korban. Padahal tidak terjadi apa pun padanya. Para customer yang semakin banyak berdatangan tampak menggeleng-geleng pelan. Sembari menahan gelak tawa di wajah mereka.
"Hayo! Mau berteriak minta tolong lagi? Ayo lakukan lagi sekarang!" Tukas Arka. Sembari mendekap tubuh kecil Arbi.
"Huaaaa, Bunda!" Teriak Arbi.
__ADS_1
"Arbi..." ucap Ana sambil menggeleng pelan.
Mata Arbi berkaca-kaca. Tiba-tiba wajahnya berubah sedu.
"Wu... wu... wu..." tangis Arbi merengek.
"Kalau kaliam tidak berbaikan, aku akan terus menangis sepanjang waktu disini." Lanjut Arbi berucap.
Arka dan Arya tampak saling pandang satu sama lain. Tangis Arbi pun terdengar semakin keras. Khawatir, akan mengganggu para customer yang lain.
"Huh! Apa boleh buat." Desah Arka malas. Tangannya terangkat, menyodorkan pada Arya. Sebagai bentuk perdamaian di antara keduanya.
Arya terlihat tersenyum kecil. Sambil membalas salam tangan dari Arka.
"Jadi sekarang, kita damai?" Tutur Arya memastikan.
Arka memutar kedua bola matanya malas.
"Tergantung sikapmu padaku." Balas Arka dingin.
"Ehem, udah ganti panggilan nih. Jadi aku kamu. Ehe!" Ledek Bara.
"Berisik!" Sinis Arka sebal. Bara terkekeh kecil disertai gelak tawa.
Arbi tiba-tiba terbangun dan mendorong Arka ke arah Arya. Hingga terjadilah tabrakan di antara kedua Kakak beradik itu.
"Aduh!" Keluh Arka.
Mereka berdua menjadi berpelukan tanpa di sengaja. Dan itu semua karena ulah Arbi. Si cipung kecil yang lucu.
"Arbi, kesini!" Panggil Ana.
Wajah Arbi langsung tertunduk sedu. Kakinya berjalan mendekati Bunda nya.
"Maaf, Bunda." Tuturnya peka. Dengan kesalahan yang baru saja ia buat.
"Sayang, itu bagus untuk mereka. Kamu tid..." perkataan Bara terpotong. Saat melihat ekspresi wajah Ana. Yang melotot gemas menatapnya.
"Eh, i-iya. Aku bersalah." Ucapnya lagi langsung berubah lesuh.
"HA HA HA!" tawa Arka renyah.
"Sialan!" Dengus Bara menatap sahabatnya.
Arka terlihat menjulurkan lidahnya keluar. Dan menunjukkan nya pada Bara seakan meledeknya.
Suasana hangat, serta canda dan tawa. Yang terjadi antara ketiga pria dewasa itu, serta tingkah gemas Arbi. Membuat hubungan Arka dan Arya kembali akur. Setelah bertahun-tahun lamanya bermusuhan.
Dan lagi, Arya sudah menemukan wanita pujaan nya. Dinda, yang ternyata karyawan di perusahaan nya sendiri.
Mungkin karena itu, Bara jadi tidak lagi membenci Arya. Sebab sudah ada wanita di sisinya sekarang, yakni Dinda.
Dan Bara, akan selalu bersama dengan cinta nya. Menjalani hari-hari seperti biasa dengan bahagia.
Yang pada akhirnya, masing-masing dari mereka semua telah menemukan cinta sejati. Dengan kisah dan cerita yang berbeda.
__ADS_1
TAMAT.