
Pagi yang cerah, namun tidak untuk hatinya Bara, yang masih terpikirkan pada obrolan semalam dengan Ana. Mendadak hatinya gelisah tak karuan memikirkan Ana. Padahal Ana sedang baik-baik saja saat ini, pun ia terlihat tengah merapikan buku-bukunya yang akan ia bawa ke kampus hari ini. Canggung, tak seperti biasanya yang mengawali pagi dengan sentuhan-sentuhan romantis dan kata-kata romantis lainnya. Dengan segenap hati, Bara memberanikan diri mendekati Ana dan memeluknya dari belakang.
“Ayang!” Bisik Bara padanya.
“Hm.”
“Kamu kenapa? Kok tiba-tiba berubah dingin. Semalam kita habis mengobrol banyak loh.” Gerutu Bara.
Ana diam tanpa menjawab dan melanjutkan aktivitasnya. Bara terlihat gemas dengan tingkah Ana yang tiba-tiba berubah cuek dan dingin.
“An, kamu kenapa? Aku ada salah sama kamu ha? Ngomong dong sayang!” Celotehnya lagi.
“Aku mau berangkat ngampus!” Ucap Ana singkat. Hambar, itu yang di rasakan Bara saat ini.
“Oke, kalau memang itu mau kamu! Aku minta maaf kalau aku ada salah sama kamu, An. Maaf, aku memang belum bisa bahagia in kamu sekarang. Senggaknya kamu ngomong, apa yang salah sama aku? Supaya aku bisa perbaiki itu semua.”
“Kamu gak salah kok.”
“Terus kenapa kamu berubah dingin gitu? Aku mau kita selalu hangat seperti biasa, An. Lihat aku, Ana!” Ucap Bara sambil memegang wajah Ana dengan kedua tangannya. Pandangan mereka bertemu. Ana masih diam membisu, entah apa yang ia pikirkan sampai berubah sikap begitu terhadap Bara.
“Aku sayang kamu, An. Aku sayang kamu!” Bisik Bara lembut. Spontan ia langsung mencium lembut bibir Ana, dan membawanya ke dalam dekapannya. Meskipun tak ada pergerakan respons dari Ana, Bara tetap memeluknya dan memperlakukannya sangat lembut.
“Aku izin gak ke kantor hari ini. Aku mau menemani kamu seharian ini.” Tutur Bara. Apa pun akan aku lakukan untuk kamu, An, gumam Bara dalam hati. Mendadak ekspresi wajah Ana berubah senang. Apa mungkin bawaan dari baby yang dikandungnya, membuat ia jadi lebih sensitif dan mudah berubah mood.
“Kamu serius?” Tanya Ana tampak antusias.
“Iya sayangku.”
“Gak lagi bercanda kan?” Tanyanya lagi memastikan.
“Kamu lihat aku lagi bercanda nggak?” Ana menggeleng.
Tanpa aba-aba, Bara langsung memeluknya erat.
“Sekarang kamu jelas in ke aku, kenapa kamu berubah tadi?” Tanya Bara penasaran.
__ADS_1
“Aku kesal!” Umpatnya.
“Kok kesal? Memang aku ada salah semalam?”
“Enggak, bukan itu. Aku kesal kalau tiap hari kita ketemunya Cuma pagi dan malam. Aku pengin ditemani kamu seharian.” Katanya.
“Kenapa gak ngomong aja sih sayang?” Tanya Bara sembari bergelayut manja memeluk Ana.
“Aku pikir kamu bakalan peka.”
“Aku gak akan tahu kalau kamu nya juga gak ngomong. Aku kan bukan dukun yang.” Ucap Bara terkekeh. Spontan Ana tertawa kecil.
“He he iya iya, maaf. Aku udah egois sama kamu.” Tutur Ana sembari tertunduk sendu.
“Iya Ana sayang. Lain kali jangan kayak begitu lagi. Aku jadi gelisah kalau kamu tiba-tiba berubah sikap gitu.”
“Iya sayang, gantengnya aku.” Ucap Ana lembut sambil mengelus wajah Bara.
“Yuk berangkat!” Ajak Bara sembari menggandeng pergelangan tangan Ana.
Sementara di kantor, Arya dengan perasaan gelisah menunggu kedatangan Bara. Sudah sesiang ini namun belum juga datang, sedangkan pegawai lainnya sudah kembali aktif bekerja. Sial, jangan-jangan dia izin gak masuk kerja hari ini, gumam Arya. Sampai akhirnya ia sendiri yang bertanya langsung pada bagian administrasi. Dengan cepat ia memasuki lift dan turun ke lantai satu.
“Bara kemana? Sudah siang begini belum juga datang.” Tanya Arya pada dua pegawai wanita itu.
“Maaf, Pak. Hari ini Bara meminta izin untuk libur sehari, tadi pagi ia sudah menelepon saya.”
“Izin? Izin kenapa? Memangnya dia kenapa?”
“Ia bilang harus menemani Istrinya yang sedang hamil tua, Pak.”
Apa Ana sudah mau melahirkan ya? Gumam Arya dalam hati.
“Ya sudah, lanjutkan pekerjaan kalian.” Ucap Arya dan meninggalkan dua pegawai wanita itu.
“Baik, Pak.” Tutur mereka berdua.
__ADS_1
Arya melenggang pergi keluar kantor, lebih tepatnya ke arah parkiran. Pikirannya terus tertuju pada Ana dan Ana, tidak peduli bahwa ia saat ini sudah jadi Istri orang. Sesampainya di parkiran, Arya langsung memasuki mobilnya. Tanpa banyak membuang masa, mobil yang ia tumpangi melaju kencang ke arah rumah kontrakan Bara dan juga Ana. Seorang CEO seharusnya memikirkan perusahaannya agar bertambah maju dan berkembang, sementara yang di pikirkan Arya hannyalah Istri orang.
Tidak membutuhkan waktu lama, hanya memerlukan waktu tiga puluh menit untuknya menyetir sampai di depan halaman kontrakan Bara. Mobil yang melaju dengan kecepatan 150km/jam, seperti orang yang sedang dilandaskan emosi dan kecemburuan. Sesampainya di depan halaman kontrakan Bara, Arya langsung keluar dari mobilnya. Senyum kecut mengembang di wajahnya, melihat sekeliling kontrakan yang terlihat sangat sepi dari biasanya. Arya berjalan melangkahkan kakinya ke depan pintu kontrakan Bara.
“Kok sepi ya, kemana mereka?!” Gumamnya.
Lama berdiam diri sekitar sepuluh menitan ia menunggu di teras pintu, akhirnya ia kembali ke dalam mobilnya.
“Apa jangan-jangan mereka ada di kampus?!” Ucapnya menebak-nebak.
Arya memutarkan mobilnya ke arah kampus, tempat Ana dan juga adiknya Arka menimba ilmu. Terlihat di sekeliling jalan banyak poster yang menampilkan wajahnya. Seorang CEO tampan dan pintar yang sukses di usia muda. Tidak membuang banyak masa, mobil yang ia kendarai sudah terparkir rapi di area parkiran kampus. Melihat sekeliling dari dalam kaca mobilnya, tak tampak batang hidung Ana maupun Bara.
“Sial! Kemana mereka?!” Gerutunya kesal dan membanting stir mobil.
Sementara yang disana, Ana dan juga Bara yang selalu setia menunggunya baru saja selesai dari urusannya. Ana keluar dari kelasnya dengan wajah semringah. Terlihat Bara juga menyambut Ana dengan senyuman yang mengembang di wajahnya. Bara menggandeng Ana untuk mengajaknya untuk segera keluar dari gedung itu. Tapi mereka tidak langsung untuk balik ke kosannya, melainkan pergi untuk makan siang di kantin.
“Gimana kelasnya tadi?” Tanya Bara.
“Alhamdulillah, baik-baik aja. Tapi sebentar lagi kayaknya aku bakal penelitian.”
“Terus kamu ikut penelitian itu?” Tanyanya lagi pada Ana.
“Ya gimana, kalau aku gak ikut, akan berpengaruh sama kelulusanku nanti.” Jawab Ana sedu.
“Aku khawatir sama kamu dan juga bayi kita, An. Kalau kamu tetap ikut penelitian itu, aku juga ikut.”
“Kamu ikut aku?”
“Iya.”
“Tapi kamu bukan bagian dari kelas, apalagi jurusan aku, Bar. Nanti mereka tahu keberadaan kamu disana.” Ucap Ana menatap Bara.
“Aku gak peduli, An. Aku takut kamu kenapa-kenapa. Apa aku salah? Ikut kamu buat jaga in kamu.” Celoteh Bara sambil menatap dalam Ana.
Sementara Ana tak bisa berkata apa-apa. Ucapan Bara ada benarnya, ia sendiri pun juga tak bisa berjauhan dengannya. Apalagi untuk melakukan penelitian membutuhkan waktu yang cukup lama. Terlebih lagi, usia kandungan Ana yang sebentar lagi memasuki masa melahirkan.
__ADS_1
Lalu bagaimana dengan Arya?