
Semenjak Ana menikah dengan Bara, sejak saat itu ia tak pernah lagi untuk berani menghubungi kedua orang tuanya yang di kampung. Ia di landa ketakutan dan juga rasa bersalah atas apa yang sudah terjadi. Apakah aku telah berdosa, Bu? Gumam Ana dalam hati. Ana pun tak pernah lagi meminta sepeser pun uang untuk biaya semesternya. Karena setelah pernikahan itu, Bara yang menanggung semuanya termasuk segala kebutuhan Ana.
Entah apa yang harus ia lakukan, bersyukur karena diberikan lelaki terbaik lewat pernikahan dadakan itu. Atau dihantui rasa bersalah karena telah membohongi kedua orang tuanya atas pernikahan itu. Semakin dipikir semakin kacau pikiran Ana. Kegundahan yang selama ini ia pendam, namun saat ini telah berhasil mengoyak hati dan pikirannya. Pernikahan yang dibangun tanpa ada restu diantara kedua belah pihak dari orang tua Ana maupun orang tua Bara.
Sudah berbulan-bulan Ana menghindari apa pun yang berhubungan dengan keluarganya. Baik itu dari nomor Whatsapp, maupun aplikasi lainnya. Tentu menjadi kekhawatiran bagi setiap orang tua lainnya pada anak yang tengah kuliah rantau. Rindu yang menggebu pada keluarga, namun tak dapat tersampaikan. Entah sampai kapan kebohongan ini akan tersimpan. Tak tahu apa yang akan ia lakukan kalau orang tuanya tahu keadaan Ana yang sekarang seperti apa.
“Bu, maaf in Ana. Ana bingung harus apa sekarang.” Tutur Ana sedu. Air mata itu luruh begitu saja.
Tok
Tok
Tok
Bunyi suara ketukan menghentikan tangis Ana.
“Assalamualaikum.” Terdengar suara salam dari arah pintu depan.
“Siapa ya? Perasaan aku gak pesan paket.” Tutur Ana.
Ana berjalan dengan hati-hati untuk melihat dari bilik jendela, siapa yang datang ke rumahnya pagi ini. Saat ia mengintip sedikit lewat bilik gorden ternyata yang datang ialah...
“Ya Allah.. aku harus apa? Kenapa mereka bisa sampai kesini? Awh... perutku.” Ucap Ana tampak kaget.
“Ya Allah, tolong aku.. awh... ah..... tolong...” Keluh Ana rupanya terdengar di telinga mereka. Orang yang datang bertamu ke kosan Ana.
“Pak ada orang minta tolong dari dalam.” Tutur Ibu itu dengan suaminya.
“Iya, Bu. Benar gak sih ini kosan nya Ana? Tapi kok sepi ya.”
“Iya benar, Pak. Tadi ada temannya Ana yang bilang ini kosan nya. Kan kita tadi ke kampus nya.”
Jadi, siapa mereka sebenarnya?
“Awh... tolong....” Teriakan Ana semakin terdengar di indra pendengaran mereka.
Sampai akhirnya, pintu kosan Ana di dobrak keras oleh kedua orang itu. Dan pintu pun terbuka, terlihat Ana yang sudah terduduk lemas di lantai. Dengan ekspresi wajah yang sulit untuk diartikan, kaget. Kedua orang itu terkaget untuk pertama kalinya melihat Ana. Salah seorang Ibu itu tampak ikut terduduk lemas di samping Ana.
__ADS_1
“Ya Allah.. nduk... hiks hiks hiks.. ini... ini kamu? Apa yang terjadi padamu nduk? Hiks.. hiks.. hiks.. Pantas selama ini perasaan Ibu gak enak.” Lirih Ibu itu berucap dengan tangisan.
Jadi sebenarnya, mereka adalah kedua orang tua Ana. Baru saja tadi Ana tengah terpikir dengan kedua orang tuanya. Tapi sekarang mereka berada disini, dan melihat jelas keadaannya yang tengah hamil besar. Tak tahu apa yang harus Ana lakukan. Ia sendiri pun tengah kesakitan pada bagian perutnya yang besar, padahal usia kandungannya masih berusia delapan bulan.
“Ini, ini kamu nduk?” Tanya Ibu itu sekali lagi dengan nada lembut. Ana pun mengangguk lemah.
“Ya Allah.. nduk.” Ucap Pak Ali. Ayahnya Ana.
Terlihat jelas sekali kalau mereka tampak kecewa dengan kondisi Ana yang sekarang. Namun, nasi sudah menjadi bubur, itulah yang mereka rasakan. Hanya bisa pasrah dengan keadaan Ana yang mereka lihat di depan mata kepala mereka saat ini. Tak ada yang perlu dijelaskan, pikiran buruk tentang Ana terlintas di pikiran mereka. Tapi keluhan Ana membuat rasa iba itu muncul dan meminta pertolongan pada orang sekitar untuk membawa Ana ke rumah sakit terdekat.
Saat sedang panik meminta pertolongan, tak sengaja Arka melihat dari seberang sana. Buru-buru Arka berjalan menghampiri Pak Ali yang terlihat mondar-mandir di depan kosan Ana.
“Maaf, ini ada apa ya? Kok Bapak ini ada di kosan Ana?” Tanya Arka penasaran.
“Kamu kenal Ana?” Tanya Ayahnya Ana.
“Iya, kenal. Saya teman kampus nya.”
“Bapak minta tolong boleh, nak? Ini keadaannya sudah darurat masalahnya.”
“Minta tolong apa ya, Pak? Ana dimana? Baik-baik aja kan dia?”
“Ya ampun, Ana. Ada pak, saya ada kendaraan. Saya ambil dulu kalau gitu di parkiran depan sana. Bapak tunggu disini sebentar.” Tutur Arka cepat.
Dengan panik ia berlari kembali untuk mengambil mobilnya di area parkiran kampus.
Tanpa membutuhkan waktu lama, Arka sudah memarkirkan mobilnya di depan kosan Ana. Buru-buru ia turun dan menghampiri mereka semua untuk masuk ke dalam kosan, dan terlihat Pak Ali yang sudah berdiri menunggunya. Arka masuk ke dalam dan melihat kondisi Ana yang tidak memakai hijab. Terlihat berbeda sekali dengan biasanya yang selalu memakai hijab. Bukannya membantu Ana, justru Arka malah terpesona.
“Awh.. sakit, Bu..” Keluh Ana menyadarkan lamunan Arka.
“Iya nduk, kita ke rumah sakit sekarang ya nduk. Ini ada teman kamu yang mau menolong kamu. Tapi Ibu gak kenal siapa namanya. Bapakmu itu yang datang bawa dia kesini.” Jelas Ibu Ana.
“Arka?!” Ucap Ana kaget. Auratnya dilihat oleh yang bukan muhrim.
“I... iya aku. Kamu tampak beda ya.” Tutur Arka terkekeh.
“Ka.. kamu keluar dulu, Ar. Maaf, kamu gak seharusnya lihat aku dalam keadaan begini.” Usir Ana padanya. Sepertinya Arka pun mengerti apa yang Ana rasakan.
__ADS_1
Arka pun keluar dari dalam kosan dan menunggu di teras sembari duduk. Diikuti Ayah Ana dari belakang sembari menutup pintu depan. Sementara Ana dan Ibunya di dalam untuk bersiap. Lebih tepatnya Ibunya membantu Ana untuk bersiap dan berganti pakaian. Hanya menambahkan cardigan, kerudung instan, dan rok panjang.
“Ayo nduk, mereka sudah menunggu kamu. Hati-hati.” Ucap Ibu Ana sembari memapah tubuh Ana berjalan untuk sampai ke depan.
Sesampainya mereka di depan pintu, Arka dan Pak Ali sudah berdiri dan siaga membantu. Namun, Ana hanya mau dibantu oleh ayah dan ibunya saja. Arka terlihat kecewa dengan sikap Ana, namun disisi lain ia pun paham kalau Ana sudah bersuami. Bayangan aurat Ana yang ia lihat tadi masih terlihat jelas di benak Arka. Rambut indah itu, dan tubuh yang hanya dibalut oleh baju tipis.
Disisi lain, Ana merasa berdosa atas apa yang dilihat oleh Arka. Aurat yang seharusnya hanya dilihat oleh Bara, Suaminya. Tapi juga dilihat oleh temannya. Ya Allah, ampuni aku, gumam Ana dalam hati. Berkali-kali ia menyesali keadaan itu dalam hati.
Tak lama setelah itu mereka sudah berada di dalam mobil. Selama di perjalanan, Ana hanya memalingkan wajahnya ke arah jendela. Namun tetap, ia menahan rasa sakit pada bagian perutnya. Dengan lembut Ibunya mengelus perutnya. Sementara Pak Ali tengah asyik mengobrol dengan Arka di depan. Entah apa yang mereka bicarakan, Ana tak peduli. Ia hanya ingin cepat sampai ke rumah sakit, namun ia juga ingin Bara berada di sampingnya.
“Bara, sayangku. Aku butuh kamu.” Gumam Ana dalam hati.
-
Singkat cerita, mereka semua sudah tiba di rumah sakit. Arka turun lebih dulu untuk memanggil suster agar membawa kursi roda untuk Ana. Sementara mereka bertiga menunggu di dalam mobil. Tak lama setelah itu Arka datang lagi. Diikuti suster perempuan berjumlah dua orang sembari mendorong kursi roda.
“Ayo nak turun.” Ucap Ibu Ayu, ibunya Ana.
Dengan siaga Arka membuka pintu mobil, dan membantu Ana menaiki kursi roda. Namun lagi-lagi Ana tak ingin dibantu olehnya.
“Arka, tolong beritahu Bara. Aku ingin Bara disini.” Tutur Ana padanya sebelum suster itu membawanya masuk ke dalam.
Sakit, Arka sakit hati mendengar penuturan Ana yang masih saja mengingat Bara. Bukankah keberadaannya disini sudah cukup membantu? Pikir Arka. Tapi bagaimana lagi, ini permintaan Ana. Arka pun menghubungi telepon kantor Arya, Kakaknya. Sampai akhirnya tersambung langsung dengan Arya.
(Tumben kamu telepon Kakak.) Sambung Arya dari telepon.
(Berisik. Cepat lo panggil Bara suruh ke rumah sakit cendekia sekarang!) Perintah Arka. Tahu sendiri kalau Arka sangat membenci kakaknya. Jadi maaf kalau ia memang sedikit kasar.
(Kenapa harus dia? Dia lagi sibuk sama urusan kantor.) Tolak Arya untuk memberitahu Bara.
(Dasar gak guna! Kan karyawan lo banyak! Bukan dia doang! Panggil dia suruh datang kesini. Kalo gak juga datang, gua bakal hancur in kantor lo hari ini juga! Paham lo!) Ucap Arka yang tersulur emosi.
Tut.
Arka memutus panggilan sepihak.
Akankah Arya memberi tahu Bara, atau justru tidak.
__ADS_1
Jangan lupa like komen yaa. Beri author hadiah juga kalau boleh hihihihi. 😁😇🥰❤