Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 64


__ADS_3

BAB 64


Arka semakin hari semakin sibuk dengan pekerjaannya. Yang mengharuskan dirinya mengelola sekaligus dua perusahaan. Pertama, perusahaan keluarganya. Kedua, perusahaannya Bara yang ia dirikan bersama-sama.


Bahkan urusan kuliahnya pun, ia tinggalkan. Hanya demi membantu mendirikan perusahaan untuk Bara. Arka rela mengambil banyak cuti untuk kuliahnya. Yang membuat dirinya lulus tidak tepat pada waktu yang di tentukan.


WhatsApp:


《Ka, kamu kapan datang lagi ke Jakarta?》 ~ Gladys


Satu pesan baru dari Gladys. Arka melihatnya sebentar. Meski tangan dan otaknya sedang bekerja. Dering suara dari ponselnya tak sekalipun ia abaikan begitu saja. Arka tersenyum kecil saat membaca notifikasi pesan itu.


《Besok, aku akan datang kesana. Kamu tunggu, ya! Adys cantik!》 ~ Arka


Sejak kapan, Arka bisa tiba-tiba berubah romantis? Apa karena tertular virus bucinnya Bara dan Ana? Mendadak jadi sweet pada Gladys. Wanita yang dulu sempat jadi tunangannya, dan gagal karena Arka tidak menyukainya.


Tapi kini, Arka jadi luluh dan mencoba untuk membuka hatinya pada Gladys. Wanita yang dulu ia cinta, perlahan ia lupakan. Ana, wanita yang berstatus sebagai Istri dari sahabatnya, Bara. Semakin kesini, Arka semakin sadar dengan perasaannya.


Namun, tidak dengan rubah yang satu lagi. Arya, Kakak kandung Arka. Putra pertama dari pemilik Buana Group. Meski terlahir dengan adanya priviliege, Arya tak ingin terus bergantung pada perusahaan keluarganya. Ia bahkan sudah menjadi CEO sekaligus Founder bagi perusahaannya berdiri di usia muda, usia 25 tahun.


Tapi, Bara dan Arka pun tak kalah hebatnya dengan Arya.


.........


Di kantor Arya.


Gejolak rindu penuh halu. Semakin gila membara di lubuk hati Arya. Perasaannya kacau balau tak berarah. Hatinya telah berdosa, mencintai wanita yang telah bersuami. Bukannya tobat dan menyadari, Arya bahkan tak ingin menyerah.


“Ana.. kemana dia pergi? Hilangnya Ana dan Bara, juga berhubungan dengan kepergian Arka.” Gumam Arya dalam hati seraya berpikir keras.


Mondar-mandir ia berjalan memutari ruang kerjanya. Beberapa kali duduk, lalu berdiri lagi. Dan mengecek ponselnya. Tak ada jawaban yang signifikan dari Adiknya Arka.


“Sial! Kayaknya dugaanku benar. Arka tahu dimana Ana berada,” ujar Arya sambil menggeprak meja.


Tak sabar dengan jawaban Arka. Ia bahkan langsung menelepon Adiknya.


[Arka!] ~ Arya


Suaranya terdengar melengking di indra pendengaran Arka. Ia bahkan menjauhkan sedikit layar ponselnya.


[Apa? Kita gak ada urusan, ya.] ~ Arka menjawab telepon dengan santainya.


[Jawab dengan jujur, dimana Ana?!] ~ Arya

__ADS_1


Tak ada ekspresi kaget atau pun tercengang di wajah Arka. Kalau pun Kakaknya tahu dimana Ana, ia bahkan tak segan untuk memperketat pengamanan bagi Ana.


[Kenapa memangnya?] ~ Arka


[Jawab iya atau tidak, Arka!] ~ Arya berujar dengan tidak sabarnya.


[Kalau iya, kenapa?] ~ Arka tetap santai menjawab.


[Brengsek! Jadi benar dugaanku. Kamu bekerjasama dengan Bara menyembunyikan keberadaan Ana.] ~ Arya


[Siapa yang menyembunyikan Ana? Gak ada! Dengar Gue! Lo, itu siapa nya Ana hah?! Bukan siapa-siapa nya, kan? Udahlah, lupa-in perasaan gila itu. Dia Istri orang, Ana juga berhak bahagia.] ~ Arka


[Lo gak akan ngerti, Ka! Lo mana ngerti soal cinta?! Lo aja gak pernah menjalin hubungan dengan siapa pun.] ~ Arya mengejek.


[Sialan! Lo bilang Gue gak ngerti soal cinta? Lo bahkan yang gak pernah paham dengan apa itu cinta! Orang yang cinta sama orang lain, dia gak akan memaksakan orang itu supaya jatuh cinta juga sama dia. Yang Lo katakan itu bukan cinta, tapi obsesi! Lo udah terobsesi sama Ana. Lo jadi lupa siapa diri Lo. Ingat, poster muka Lo ada dimana-mana. Jangan bikin malu Buana Group, pewaris putra pertamanya ingin jadi pebinor. Ha ha ha!] ~ Arka terkekeh sendiri dengan ucapannya.


[.....] sambungan telepon masih jalan, Arya tidak mengeluarkan sepatah kata pun.


[Kak, Gue tahu Lo cinta sama Ana. Gue juga sama, bahkan Gue lebih dulu suka sama dia sebelum Lo kenal dia. Gue nyerah, karena Gue tahu hatinya dia buat siapa. Jangan jadi orang bodoh, yang begitu egois hanya karena obsesi dengan seseorang. Mau sejauh apa pun dikejar, kalau tujuannya berbeda, ya gak akan pernah sampai. Mau bertahun-tahun lamanya Lo kejar dia, Lo tunggu dia supaya dia cinta sama Lo, itu gak akan mempengaruhinya. Kalau hatinya Ana Cuma buat Bara. Lupa-in, kalau Lo pernah menaruh hati sama dia. Gue sekarang udah ikhlas, Gue bahkan udah menganggap dia layaknya Kakak perempuan Gue sendiri.] ~ Arka berceramah panjang.


Seorang Adik, menasihati Kakaknya.


TUT!


Arka mengingat ada janji yang harus ia tepati. Untuk datang dan menjenguk Ana di apartemennya. Arka bergegas pergi keluar dari kantor. Mengendarai mobil ferrari nya. Melakukan perjalanan jauh ke apartemen Bara.


Tak lupa ia membawakan beberapa camilan beserta jus buah untuk Ana. Mengingat masa kuliahnya dulu di Jakarta, Arka tiba-tiba rindu akan hal-hal dulu. Yang pernah ia lalui bersama Ana. Arka terkekeh sendiri mengingat-ingat kenangan lama. Sekarang hatinya bahkan sudah ikhlas.


“Semoga Kak Ana bahagia selalu.” Gumam Arka dalam hati seraya menyetir mobilnya.


Singkat cerita, Arka telah sampai di apartemen milik Bara dan Ana. Bergegas ia keluar dari dalam mobilnya setelah selesai memarkirkan di area basement. Arka menenteng sebuah hampers bag berisi makanan yang akan ia berikan untuk Ana. Gak tahu kalau Bara, kayaknya gak ada.


Eh.


TING NONG!


Arka memencet tombol bel di depan pintu apartemen Bara. Setelah menaiki lift dan sampai di nomor apartemen milik Bara. Tak berapa lama bel itu di pencet, pintu terbuka. Menampilkan seorang lelaki tampan bak Jungkook. Iya, Jungkook nya Indonesia banget, deh. He he he.


“Eh, Elo Ka. Gua kira siapa, ha ha” ujar Bara terkekeh.


“Iya, Gue. Memangnya siapa lagi?” tanya Arka.


“Gua kira dokter yang periksa Ana tadi, takutnya datang lagi.”

__ADS_1


“Oh, dokter Galih. Iya, enggak lah. Kan udah datang, ngapain juga datang lagi?”


“Takutnya kan, Istri Gua kan cantik. Elo sih, kasih dokter nya malah laki-laki.”


“Ha ha ha, kenapa? Takut kalah saing, ya?”


“Dih, pede banget Lo. Gua jelas menang dalam segala aspek kehidupan.” Ucap Bara berbangga diri.


Iya deh, iya. Babang tampan memang yang paling top, deh. Eh.


“Yaudah iya. Eh, ini Gue gak di suruh masuk, nih?”


“Bentar, Gua suruh Ana ganti baju dulu. Tunggu 5 menit, oke?”


“Huh! Sudah biasa... oke!” gerutu Arka.


Bara kembali ke dalam apartemennya. Meninggalkan Arka yang masih berdiam diri di depan pintu. Dan tak dibiarkan masuk ke dalam. Ini pasti karena Ana yang belum berganti baju.


“Sayang, ada Arka di luar. Kamu ganti baju dulu ya?” ucap Bara pada Ana.


“Di luar? Kenapa gak di suruh tunggu di sofa aja? Kan kamar nya jauh sayang.... lagian juga dia gak mungkin masuk ke kamar, ini juga kamarnya pake pintu. Ih kamu tuh, kasihan tahu Arka.”


Memang rada-rada nih, Bara.


“Eh, iya juga ya? Aku gak ingat, kalau disini ada sofa. He he he.” Bara terkekeh seraya mengelus lembut rambut Ana.


“Ya udah, sana balik lagi temui Arka. Aku siap-siap ganti baju.”


“Kamu kok jadi ngusir aku sih, sayang?”


“Siapa yang ngusir sayang......? Kamu jadi sensitif banget, ih.”


“Ah tahu ah, malas.” Bara merajuk dan membalikkan badannya untuk pergi. Tapi segera di tepis oleh tangan Ana. Mendadak Ana langsung memeluknya dari belakang.


“Maaf... aku gak bermaksud buat mengusir kamu.” Ujar Ana seraya membenamkan kepalanya di pundak Bara yang tampak tegap itu.


Bara tersenyum kecil, dan membalikkan badannya yang kini menjadi saling berhadapan satu sama lain.


“Aku yang minta maaf harusnya... egoku akhir-akhir ini sedikit over. Maaf ya, sayangnya aku.” Tutur Bara sembari mendaratkan satu kecupan manis di bibir Ana.


“Romantis-romantisnya di pause dulu, Arka udah menunggu lama di luar.”


Bara terkekeh sambil berlalu pergi menutup pintu kamar. Ana tersenyum kecil seraya mengganti bajunya dengan baju panjang, dan tak lupa memakai kerudung instan. Tak berapa lama, Bara kembali lagi ke kamar.

__ADS_1


__ADS_2