Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 26


__ADS_3

Sebenarnya, sudah lama Ana mengetahui itu. Sikap dan gelagat Arka yang selalu gugup saat tak sengaja menatapnya, dapat dengan mudah terbaca. Namun Ana belum bisa untuk berpaling dari hati yang pertama. Meskipun lima bulan ini bukan waktu yang sebentar baginya menunggu kembalinya Bara. Tapi hati dan cintanya masih tetap ada padanya, walaupun Bara tak akan pernah datang untuk kembali.


“Lalu bagaimana dengan kelanjutan hidup Kak Ana? Apa Kak Ana tidak berniat untuk menikah lagi? Karena sebentar lagi Kakak akan segera melahirkan. Dan anak itu butuh sosok Ayah di dalam hidupnya.” Tiba-tiba Arka mengatakan hal itu yang membuat Ana kembali murung mengingat Bara.


Ana membayangkan jika suatu hari Bara datang, apakah dia masih mengingat dirinya? Dan juga anak ini.


“Maaf Kak, aku gak bermaksud buat kakak sedih. Kalau Kakak tidak keberatan, aku mau jadi Ayah untuk anak itu. Tapi aku pun tak memaksakan kalau memang kak Ana tidak setuju.” Ucap Arka.


“Tidak apa-apa, Ar. Aku paham dengan maksudmu. Tapi aku belum siap untuk menikah lagi. Aku ingin kembali ke kampung setelah anak ini lahir.” Ucap Ana. Sontak Arka pun terkejut. Author lebih terkejut bang. Eh.


“Terus bagaimana dengan kuliah Kakak? Aku bisa membantu Kak Ana untuk mengurus bayimu Kak. Apa tidak terlalu gegabah dengan kembali pulang ke rumah orang tua Kak Ana? Dalam kondisi yang sehabis melahirkan dengan status kuliah yang tidak tamat. Aku harap Kakak bisa mempertimbangkan ini.” Perkataan Arka ada benarnya.


Bukankah kedua orang tua Ana tidak mengetahui pernikahannya dengan Bara? Apalagi jika pulang ke kampung membawa anak dengan status yang tidak bersuami. Gusti, mengapa jadi bergendang Sye? Duh, Ana. Author jadi puyeng. Eh.


“Hm, ucapanmu ada benarnya juga. Tapi aku bingung jika harus mengurus bayi ini sendirian. Apalagi kesibukan kuliahku yang semakin padat jadwalnya. Belum lagi saat KKN nanti, apa aku harus membawanya juga?”


“Di rumahku ada asisten rumah tangga kepercayaanku, Kak. Kita bisa menitipkannya disana untuk sementara, saat Kakak sibuk dengan kegiatan kampus.” Arka menyarankan agar Ana menitipkan bayinya pada asisten rumah tangga di rumah Arka. Author sih penginnya Ana juga tinggal disana sama babang tampan. Eh.


“Tapi aku tak bisa berjauhan dengan bayiku, Ar. Aku tak ingin pisah dengannya.” Ucap Ana lirih sambil mengusap perutnya yang semakin membesar. Arka tak tega melihatnya.


“Bagaimana jika keduanya tinggal di rumahku? Kebetulan kamar di rumahku lumayan banyak untuk para tamu. Kak Ana bisa tinggal disana untuk sementara waktu.” Usul Arka. Maunya Arka sih, Ana tinggal disana untuk selamanya. Eh.


“Hm, apa tidak menyusahkan Ar? Lalu bagaimana dengan Ibumu? Aku... Aku takut jika Ibumu tidak akan setuju. Sama seperti Ibunya Bara yang tidak menyukaiku.” Ana tertunduk lemah.


Bayangan-bayangan itu muncul lagi. Saat Ibunya Bara memaksa hubungan mereka untuk berakhir sampai disana. Rasanya masih tak menyangka jika Bara lebih memilih kedua orang tuanya. Apalagi saat ini, dia sudah menikah lagi dengan Farah. Wanita pilihan Mamanya. Hati yang sudah lama Ana jaga, namun sekarang harus berlabuh pada orang yang salah.


“Ibuku tidak seperti Ibunya Bara, Kak. Kak Ana tenang saja. Ibuku baik orangnya. Beliau tak pernah memandang rendah siapa pun. Termasuk dari yang bukan golongannya.” Ucapan Arka membuat hati Ana terenyuh seketika.


“Baiklah, Ar. Aku ikut saja. Asalkan aku tak akan jauh dari anakku.”

__ADS_1


Dasar keparat Lo Bara! Lihat saja nanti, Gue akan buat Ana jatuh cinta sama Gue. Gak akan Gue biarkan dia terus menunggu lelaki brengsek kayak Lo. Lo bilang bakal punya rencana supaya bisa lepas dari jerat Mama Lo yang angkuh itu. Tapi mana buktinya, sekarang justru Lo yang ingkar. Lo mau aja kan nikah sama Farah, cewek yang sama brengseknya sama kayak Lo. Gumam Arka dalam hati.


Setelah selesai berbincang-bincang, keduanya memutuskan untuk balik pulang. Seperti biasa, Arka selalu mengantar Ana sampai ke kosan. Saat mereka sudah sampai di depan kosan Ana, ada seseorang yang diam-diam mengawasi mereka dari kejauhan. Apakah itu mata-mata dari keluarga Kertajaya? Lalu untuk apa gunanya memata-matai mereka, apalagi Ana. Sedangkan Bara sendiri sudah mereka bawa ke luar negeri.


Mobil Arka semakin menjauh dari pandangan Ana yang tengah berdiri di depan pintu gerbang kosan. Buru-buru Ana masuk ke dalam kamar dan tak lupa mengunci pintu dari dalam. Saat sudah berada di dalam kosan, bayang-bayang masa lalu itu menghantui kembali. Bayangan saat-saat Ana tengah bersama Bara berada di dalam kamar ini. Rasanya masih tak menyangka sudah selama ini, Bara tidak datang dan kembali.


“Bar, mungkin kamu sudah bahagia dengan Farah disana. Aku baik-baik saja disini. Namun, aku selalu berharap dan berdoa agar kamu datang. Meskipun hanya sekadar mengenali kami, aku senang jika kamu masih ingat.” Ucap Ana lirih sambil mengusap-usap perutnya yang besar.


“Aw.... kamu jangan nakal, Bunda bisa kewalahan jaga kamu.” Ucapnya lagi yang merasa kesakitan tertiba bayi di dalam perutnya menendang-nendang. Andai Bara ada disini, gumam Ana dalam hati.


Aduh Mamae, bilang si Bara suruh cepat pulang. Author jengker nih Bunda. Hu hu hu. Eh lebay amat si ini author. Eh.


Tak lama bergumam sendirian, mata Ana pun terpejam di atas kasur yang empuk. Rasa kantuk pada Ibu hamil memang sering menyerang begitu saja. Apalagi yang di alami oleh Ana adalah kehamilan pertama baginya. Selama Ana hamil, tak pernah Ia memberitahu kepada orang tuanya melalui sambungan telepon mengenai kondisinya yang sekarang. Ia takut jika harus mengatakan lewat telepon.


Perlahan seiring berjalannya waktu, lambat laun mereka pasti akan mengetahuinya. Dua bulan lagi, tibalah saatnya Ana melahirkan. Disaat seperti itu, yang dibutuhkan seorang Ibu adalah Suaminya sebagai penguatnya berjuang melawan sakit saat detik-detik keluarnya malaikat kecil. Buah hati dari buah cinta pernikahan yang dianugerahi oleh Tuhan. Namun, apakah ada keajaiban untuk Ana saat tengah melahirkan tiba-tiba saja Bara datang dan kembali untuknya.


Berkhayal saja dulu, authornya menghalusinasi sambil cengar-cengir membayangkan wajah babang tampan Arka. Eh. Bodo amat dah sama si ujang yang di luar negeri. Eh, maksudnya si Bara.


Duh Mamae, author takut. Ana, bangun atuh. Kumaha ini teh, itu si ujang bisa masuk. Eh.


Perlahan orang itu mulai masuk ke dalam dan tak lupa mengunci pintunya kembali dari dalam. Langkahnya mendekat dan menghampiri Ana yang tertidur pulas, hanya memakai baju daster sejenis lingerie dress tipis dan tak memakai kerudung. Memang semenjak hamil, Ana selalu memakai pakaian itu yang dibelikan oleh Bara waktu itu. Mungkin karena perutnya yang semakin membesar, membuatnya kewalahan dalam memilih jenis pakaian yang pas untuknya. Namun hanya pakaian itu yang pas di perutnya.


Orang itu semakin berani menyentuh perut Ana, dan tak segan untuk menciumnya. Apakah itu Arka, lalu untuk apa Arka melakukan itu pada Ana? Bukankah dia tahu kalau Ana belum bisa menerima cintanya. Apalagi dia sampai berbuat lancang masuk ke dalam kosan Ana, dengan memakai kunci yang sering dipakai untuk para maling yang menerobos masuk ke dalam rumah target. Masih tidak bisa dipercaya kalau orang itu adalah Arka.


Perlahan topeng maskernya dibuka, serta hoodie yang Ia kenakan juga dibuka. Tunggu, sepertinya dia memang bukan Arka. Dia mempunyai kumis tipis dan juga sedikit berewok. Saat ia tengah menatap Ana intens sambil tersenyum mengembang, perlahan mata Ana terbuka. Sontak Ana terkaget dengan kehadiran orang yang tidak dikenal tiba-tiba sudah berada di dalam kamar itu bersamanya.


Bagaimana dia bisa masuk, sedangkan pintu sudah ku kunci tadi, pikir Ana dalam hati dengan kondisi yang ketakutan serta berkeringat dingin.


“Si.. siapa kamu? Mau apa kamu ha?! Jangan dekat-dekat!” Ucap Ana sedikit berteriak.

__ADS_1


Namun orang itu tak berbuat apa pun. Ia memandang Ana dengan tatapan yang sulit diartikan. Sepertinya dia menangis, untuk apa dia menangis?


“Hei, jawab aku! Jangan perkosa aku, kumohon. Aku sedang hamil, jangan berbuat apa pun padaku. Aku mohon!” Ucap Ana memohon dengan raut wajah yang ketakutan. Perlahan orang itu maju mendekat, dan dia mendekap erat tubuh Ana. Sontak Ana berontak ketakutan.


“Lepas! Lepaskan aku bedebah! Jangan berani menyentuhku! Akan ku adukan pada Suamiku, kalau kamu berusaha memperkosaku. Aku.. aku akan berteriak minta tolong pada warga kosan disini! Tolo.....” Ucapan Ana terpotong saat orang itu dengan nekat mendaratkan bibirnya di bibir Ana. Sontak Ana langsung mendorongnya kasar.


“Siapa kamu ha?! Apa kamu tidak merasa kasihan pada Ibu hamil sepertiku? Jawab aku brengsek! Jawab aku bedebah! Jawab!!!!” Ucap Ana emosi. Bulir bening luruh begitu saja saat Ana selesai memaki orang itu. Perlahan orang itu mulai berani bicara.


“Aku...” Tunggu, sepertinya Ana mengenali suara ini. Tapi siapa? Pikirnya.


“Aku Suamimu.” Deg, Suami? Berani sekali dia mengaku-ngaku Suami Ana. Hei, ferguso! Suami Ana ya si ujang Bara. Kamu teh saha?


“Tidak! Kamu bukan Suamiku! Suamiku ada di luar negeri. Kamu siapa?! Jangan sampai aku menusuk pergelangan tanganku, cepat jawab aku dengan jujur! Katakan!” Ucap Ana dengan nekat dia mengambil gunting yang ada di dekatnya.


“Jangan lakukan itu sayang, aku memang Suamimu. Aku Bara! Suamimu yang brengsek itu.” Sontak Ana melepaskan guntingnya. Ana tercengang mendengar penuturan orang itu yang mengaku sebagai Bara.


“Bu.. bukan! Kamu bukan Bara! Dia tidak punya kumis dan berewok.” Ucap Ana gugup.


“Aku memang Bara, kamu Istriku. Cintaku.” Wait, dia tahu panggilan sayang Bara pada Ana. Apakah dia memang Bara? Author masih ragu. Eh.


“Apa buktinya kalau kamu memang Bara?”


“Aku yang menikahimu saat kejadian di gerebek waktu itu. Aku juga yang menghamilimu, dan selalu bersikap manja padamu.” Ya Tuhan, apakah dia memang Bara? Kalau iya, syukurlah dia sudah kembali. Gumam Ana dalam hati.


“Jadi.. kamu.. kamu Bara? Tapi kenapa kamu ada kumis dan berewok?” Tanya Ana yang masih belum sepenuhnya percaya.


“Aku sengaja tidak mencukurnya, agar tidak ada yang mengenaliku.”


“Bukannya kamu sedang berada di luar negeri? Bukannya kamu sudah menikah dengan Farah? Iya kan?! Lalu kenapa kamu bisa disini? Apa kamu mau menipuku ha?! Kamu bukan Bara kan? Kamu pasti bukan Bara! Baraku tidak akan pernah datang lagi untuk kembali! Hiks.. Hiks.. Hiks..” Ucap Ana emosional dan diakhiri tangisan yang menggebu-gebu.

__ADS_1


Sontak Ana langsung lemas dan merasakan sakit di bagian perutnya.


__ADS_2