Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 45


__ADS_3

“Bara! Ih kamu bikin aku jantungan!” Ucap Ana seraya memukul pelan dada bidang Bara.


Rupanya Bara. Yang memanjat ke atas kamar Ana.


“Hehe, maaf. Tadi aku ketuk pintu berkali-kali gak ada jawaban. Aku khawatir kamu kenapa-kenapa. Yaudah, aku panjat deh lewat samping. Supaya bisa masuk ke kamar dan lihat keadaan kamu.” Jelas Bara seraya memeluk Ana dari belakang.


Romantisnya mereka.


“Maaf.. aku tadi ke capek an mengurus Arbi.” Tutur Ana sedu dan mengelus lembut telapak tangan Bara.


“Ssssttt! Kamu gak perlu minta maaf, aku yang salah.” Ana mengangguk paham. Bara benar-benar pengertian.


“Terus rencana kamu gimana tentang menyewa pengasuh baby buat Arbi?” Tanya Bara.


“Hm, sebenarnya aku masih ragu juga. Buat menitipkan Arbi pada pengasuh. Tapi mau gimana lagi?”


“Aku ngerti kok. Gimana kalau kamu ambil kelas online aja? Jadi kamu kuliahnya dari rumah. Gak perlu bolak balik buat datang ke kampus.” Usul Bara.


“Iya juga ya, kamu pintar deh.” Ucap Ana. Bara senyum kegirangan.


“Iya dong. Terus mana hadiahnya?”


“Hadiah apa?” Tanya Ana bingung.


Mulai lagi deh..


“Ah kamu, masih aja bingung. Hadiah ini...” Tutur Bara seraya memberi kecupan lembut di wajah Ana.


Ana tertawa kecil dengan tingkahnya Bara.


“Kok ketawa sih?”


“Kamu lucu lagian. Aku pikir hadiah apa.”


“Kamu nya gak peka. Malas ah.” Ucap Bara kesal dan memilih merebahkan tubuhnya di sebelah Ana. Ehem, Bara merajuk nih.


Mau tak mau Ana pun berinisiatif membalas kecupan Bara.


Cup.


Bara merasa senang, tapi ia masih saja berpura-pura merajuk. Tak ada respons apa pun dari Bara. Ana berinisiatif memberi kecupan lagi. Kecup sana kecup sini. Dan semakin mengeratkan pelukannya pada Bara.


Bara tersenyum puas. Akhirnya ia sendiri pun tidak tega dengan Ana. Bara membalikkan badannya yang berhadap hadapan dengan Ana. Memandang mata indah itu, mata sayu yang terlihat kelelahan. Tiba-tiba timbul gejolak iba padanya.


Merasa kasihan dan bersalah karena Ana telah mengurus Arbi seorang diri. Seharusnya ia sebagai Ayah juga ikut mengurus Arbi dalam hal apa pun. Memandikan, memberi makan, serta menggantikan popoknya.


“Maaf.” Ucap Bara seraya mengelus lembut wajah Ana.

__ADS_1


“Maaf untuk apa?” Keheranan dengan sikap Bara yang terus menerus meminta maaf.


“Untuk semuanya.” Jawabnya. Tangannya masih ada di posisi yang sama.


“Aku gak apa-apa kok, sayang.” Tutur Ana sembari menatap wajah tampan itu. Meskipun masih ada imut-imutnya. Huh!


Yang di tatap tersenyum menyeringai.


“Kamu udah makan?” Tanya Bara mengalihkan topik. Ana menggeleng.


“Sebentar, kamu tunggu disini.” Sambungnya lagi.


Bara beranjak bangun dan berniat pergi.


“Kamu mau kemana? Baru juga pulang, udah di tinggal lagi.” Ucap Ana berbalik tanya. Ia sedih jika melihat pergi lagi.


“Aku gak pergi kemana-mana kok, sayang. Kamu disini aja, temani Arbi.”


“Jawab dulu mau kemana?” Ana bersikeras bertanya lagi.


“Nanti kamu juga tahu kok.” Tutur Bara seraya menutup pintu kamar.


Entah apa yang dia lakukan. Bara turun ke lantai bawah dan pergi ke arah dapur. Melihat stok persediaan makanan serta sayuran yang ada di kulkas. Masih ada beberapa sayur mayur serta beberapa seafood dan makanan freezer.


Satu persatu ia ambil dan sisihkan. Memotong beberapa sayur brokoli dan beberapa butir bakso serta satu buah wortel. Disisi lain, ia juga mengambil ayam beku dalam bentuk kemasan. Lalu menggorengnya di wajan yang sudah terisi minyak panas.


Dan jadilah makanan ini.




Bergegas Bara merapikan semuanya kembali. Dan membawa masakannya ke atas untuk di santap bersama dengan Ana. Ia berharap Ana menyukai masakannya.


“Sayang, tolong buka pintunya.” Ucapnya memanggil Ana.


Tampaknya Bara kesulitan untuk membuka pintu.


Krek.


Ana membuka pintu kamar.


“Sayang! Kamu masak? Ya ampun, kenapa gak bilang sih?” Tanya Ana antusias dan mengambil alih makanan yang telah dibawa Bara.


“Kalau aku bilang, nanti kamu nya makin kelaparan dong? Yaudah yuk! Makan.” Ajak Bara pada Ana.


Mereka berdua menyantap makanan yang telah dimasak oleh Bara sendiri. Ana kelihatannya sangat suka dengan masakannya. Atau memang karena dia lagi lapar. Makannya seperti orang yang belum makan dua hari.

__ADS_1


Hiya hiya hiya!


“Gimana masakan aku?” Tanya Bara di sela-sela ia menelan makanannya.


“Enaaaaaaaak banget! Terima kasih ya, sayang.” Jawab Ana senang.


“Gitu doang? Ucap-in terima kasih nya?” Lagi-lagi dia begitu. Huh!


Ana hampir lupa dengan tindakannya. Ia pun mencium lembut bibir itu. Tapi Bara justru mengambil kesempatan. Ana tercengang dengan perbuatan suaminya. Ana pun mendorong pelan Bara.


“Bara stop!” Tutur Ana menghentikan permainan itu.


Bara tertawa kecil, dan kembali menyantap makanannya. Begitu pun dengan Ana. Sembari makan sembari saling bertatap tatapan.


Romantisnya mereka!


“Kamu kok gak pernah bilang aku kalau kamu bisa masak?” Tanya Ana setelah menghabiskan makanannya.


Cepat sekali ya bun, makannya.


“Kamu gak pernah tanya.” Jawab Bara seraya menyuap suapan terakhirnya.


“Ih kamu!” Anat tampak kesal.


“Aku apa? Hayo mau apa?” Ucap Bara bertanya.


Semua makanan yang dimasak dan di sajikan sudah habis tak tersisa. Ayam goreng, maupun tumis capcai tak ada sisa sedikit pun. Hanya tinggal tulang belulang dari ayam itu. Serta piring kotor beserta sendok yang telah dipakai saat menyantap tadi. Bara terlihat kelelahan, Ana berinisiatif membawa piring-piring kotor itu ke dapur.


“Eh, aku aja. Kamu disini aja.” Cegah Bara. Ia tak ingin Ana mencuci piring.


“Enggak apa-apa kok. Aku bisa kok, sayang.”


“Aku aja yang, kan aku yang masak tadi. Jadi, aku yang kembali bereskan semuanya.”


“Justru itu, kamu kan sudah masak. Terus capek kan, jadi sekarang aku yang membersihkan piring-piring ini.”


“Sssstttt! Udah, aku aja ya. Kamu menurut apa kata suamimu.”


Sejak kapan dia mulai berubah jadi dewasa? Ana tercengang pada perkataan Bara barusan. Mau tak mau, Ana pun menurut apa yang diucapkan oleh Bara. Namun Ana bersikeras ikut turun mengikutinya dari belakang. Lagipula, Arbi masih terlelap dalam tidurnya.


Sesampainya di dapur, Ana melihat keadaan yang tampak bersih-bersih saja. Tak berantakan sedikit pun, aneh sekali. Biasanya kalau sehabis memasak, pasti dapur akan jadi berantakan.


Mungkinkah Bara yang sudah membereskannya? Sebelum ia membawa masakan itu ke atas, Pikir Ana.


Memang benar, semua peralatan kotor itu sudah dirapikan oleh Bara. Karena itu, dapurnya tidak meninggalkan bekas masakan apa pun. Maupun tanda-tanda percikan minyak panas yang mengotori area sekitar kompor. Wajan beserta spatula maupun peralatan masak lainnya sudah lebih dulu ia bersihkan. Benar-benar suami idaman.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2