Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 32


__ADS_3

“Cup, cup, cup. Udah nangis nya, kamu di ketawa in tuh sama dedek bayi. Masa Ayahnya nangis, sedangkan Bundanya kuat. Udah sayang, aku gak apa-apa kok. Ini memang sudah menjadi takdir, takdir kita yang pada akhirnya berjodoh. Kita gak boleh menyesali apa yang sudah terjadi. Coba deh, kamu belajar ikhlas buat menerima semua ini. Aku aja ikhlas, kamu masih belum ikhlas juga dan masih merasa bersalah atas semuanya. Yuk udah an nangis nya, perutku sudah keroncongan nih. He he he.” Ucapan Ana yang terakhir seketika membuat Bara tertawa kecil.


“Aku gak tahu, hati kamu terbuat dari apa. Kamu mau makan apa? Kamu yang pilih ya, aku bantu mengerjakan tugasmu.”


“Iya, terima kasih cintaku. Tadinya juga aku mau pesan makan online, tapi kan gak mungkin abang kurir nya mengantarkan sampai masuk ke dalam kamar. Aku gak kuat berjalan dan susah buat bergerak.” Spontan ekspresi wajah Bara berubah sedu lagi.


“Ah... kamu kenapa jadi nangis lagi sih sayang? Ah.. harusnya aku gak perlu mengatakan apa pun padamu.” Ana mendaratkan kepala Bara di bahunya sambil mengusap-usap punggungnya.


“Perlu, kamu perlu mengatakan semuanya padaku. Agar aku bisa perbaiki semua kesalahanku. Agar semuanya gak akan terulang lagi.” Ucap Bara sambil mendongak ke atas dan menatap mata Ana. Perlahan wajahnya mendekat dan cup. Bara mencium manis bibir Ana, dan lalu m*l*m*t nya.


Author mengumpat di pojokkan. •_•


“Bar, udah. Aku lapar makanan, bukan lapar itu.” Spontan Ana mengakhiri pergumulan itu.


“Ah iya, maaf in aku yang. Kamu tiduran aja, aku pesan makanan kesukaanmu ya?” Ucap Bara.


“Nasi ayam teriyaki?”


“Iya, kamu kan suka banget sama itu.”


“Aku lagi gak ingin makan itu, Bar.”


“Terus makan apa dong? Jangan bilang kamu mau makan yang pedas-pedas.”


“Enggak, aku mau makan ketoprak pake telur komplit.” Ucap Ana sambil memainkan jari jemari Bara. Duh gemasnya kalian berdua. Eh.


“Apa bawaan dari dedek bayi ya? Kamu tiba-tiba kepingin ketoprak.” Tanya Bara.


“Hm, mungkin.” Jawab Ana yang masih sembari memainkan jemari Bara.

__ADS_1


“Kamu jadinya mau makan ketoprak, atau mau makan aku?” Spontan Ana mencubit hidung Bara.


“Udah sini, aku yang pesan makanannya. Kamu dari tadi menunda-nunda terus. Banyak iklannya kayak acara uang kaget.” Tutur Ana kesal.


“Uang kaget ha ha, kamu selain romantis, tapi juga lucu ya.” Ucap Bara sambil bergelayut manja memeluk Ana. Dasar bocah kecil, kira in udah berubah dewasa. Nyatanya tetap sama. Hia!


Ana langsung mengambil alih ponsel yang dipegang Bara dan memilih makanan yang akan Ia pesan. Sementara Bara seperti anak kecil yang sedang ingin ke keloni Ibunya, bergelayut manja dan mendekap erat tubuh Ana disisinya. Dasar manja, muka doang berewok, kelakuan tetap seperti bocil. Beberapa menit setelah memesan via Go-Food, Ana merebahkan dirinya lagi. Alih-alih Bara juga ikutan merebahkan dirinya di samping Ana, dan tak sedikit pun melepaskan pelukannya.


“Kamu tuh ya, aku sesak Bara. Lepas in ih, Bara!!!” Umpat Ana kesal.


“Gak mau ah, aku maunya kayak begini aja yang. Aku kangen kamu, pokonya gak mau jauh-jauh titik.” Dasar cumi.


“Ih, aku pikir kamu dewasanya bakal seterusnya. Gak tahunya cuma sebentar doang.”


“Jadi dewasa itu gak enak sayang. Enak an jadi anak kecil, di manja terus sama kamu. Disayang, di peluk hangat, di cium, di...” Ucapan Bara terpotong setelah Ana menutup mulutnya.


“Cukup, kamu tuh ya.” Ana merajuk dan membalikkan tubuhnya membelakangi Bara. Hahay! Sukur in, lagian pancing terus dari tadi.


“Habis kamu nya bikin kesel terus dari tadi. Aku kan udah lapar, kamu terus aja kayak gitu.”


“Yaudah iya, aku minta maaf sayang. Istriku yang cantik jangan marah-marah lagi. Nanti cantiknya hilang, sini coba balik badannya.” Spontan Ana langsung berbalik badan dengan wajah yang masam. Tumben banget Ana jadi manja. Duh, gemasnya kalian. Eh.


Cup.


Bara mencium lembut kening Ana dan menatapnya penuh cinta. Tak berapa lama, Ana mulai luluh kembali dan mengusap lembut kepala Bara dan mencium keningnya seperti yang dilakukan sebelumnya pada Ana. Alih-alih Bara menjadi salah tingkah dan tak berhenti untuk tersenyum lebar. Sambil menunggu pesanan dari Go-Food datang, Bara bercerita banyak hal pada Ana, tentang hari pertamanya bekerja di perusahaan Arya. Pun juga tak lupa Ia memberitahu gerak-gerik Arya yang penasaran dengan Ana.


“Pokoknya kalau aku belum pulang ke kosan, dan tiba-tiba ada yang ketuk pintu, jangan langsung di buka. Kamu lihat dulu dari jendela, di intip. Kalau yang datang pria dewasa memakai setelan jas hitam, jangan kamu buka.” Ucap Bara mewanti-wanti pada Ana. Karena feeling nya yakin kalau Arya akan kembali ke kosan ini, namun hanya untuk menemui Ana Istrinya.


“Iya sayang, aku gak akan buka pintu kalau bukan kamu yang ketuk pintunya.” Ucap Ana sambil mengelus wajah Bara. Yang di elus kesenangan cengar-cengir gak jelas. Hilih!

__ADS_1


“Jangan cuma di elus aja dong sayang.” Protes aja si cumi.


“Terus? Aku harus bagaimana?”


“Di cium juga, he he he.” Tutur Bara sambil mengedipkan satu matanya. Dasar gurita. Penginnya nempel terus. Eh.


Cup. Ana mencium wajah itu yang penuh berewok.


“Masa wajah nya aja, ini, ini dan ini juga.” Tuturnya sambil menunjuk ke bagian bibir, hidung, dan leher. Lama-lama ngelunjak nih biawak.


Baru sedetik Ana ingin menjalankan kewajibannya sebagai Istri, tertiba saja suara abang Go-Food menggema.


“MISI, DELIVERY GO-FOOD!” Teriak abang Go-Food. Hahay! Gagal maning. Eh.


“Sial! Ganggu aja tuh orang.” Umpat Bara. Spontan Ana melotot menatapnya.


“Eh iya ampun sayang, maaf. Ini langsung di ambil pesanan nya.” Ucapnya cengengesan sambil berlalu keluar mengambil pesanan.


Beberapa saat Bara kembali dengan membawa beberapa bungkusan makanan di kedua tangannya. Ada ketoprak, nasi ayam teriyaki tetap di pesan. Karena Bara pun juga menyukai menu makanan itu. Tak lupa ada rujak buah kesukaan Ana. Minuman rasa greentea untuk Ana, dan tak lupa kopi pesanan Bara.


“Aku suapi ya sayang.” Ucap Bara pada Ana.


“Kamu aja sini yang aku suapi, aku gak kenyang kalau di suapi sama kamu.” Bara menyengir kegirangan.


“He he he, maaf. Asyik, aku jadi anak kecil lagi dong. Di suapi sambil di elus-elus kayak tadi ya yang?” Ana mengangguk.


Mereka berdua pun makan sambil bermanja dan bersuap. Ana memaklumi sikap Bara yang lebih dominan ke kanak an. Karena Bara tak pernah mendapa kasih sayang lebih dari kedua orang tuanya semasa kecilnya dulu. Namun, Ana tak pernah merasa terbebani dengan sikap manjanya Bara padanya. Justru Ia senang kalau Bara bersikap begitu, Ia merasa jauh lebih tenang karena bisa saling mengerti satu sama lainnya.


Sesekali Ana menyuapi Bara, sesekali juga Ia menyuapi dirinya sendiri. Yang disuapi bukannya fokus pada makanan, namun terfokus memainkan game online di ponselnya. Benar-benar bocah kecil, yang harusnya di manja itu Ana yang sedang hamil. Tapi kondisi Ana justru berbalik dengan para Ibu hamil lainnya. Ana harus banyak sabar menghadapi Bara yang ke kanak an.

__ADS_1


Author jadi gemas, huuffttt.


__ADS_2