
Pencarian Bara
Para pengawal yang diutus oleh Tuan besar terus melakukan pencarian Tuan muda. Tak sedikit tempat yang mereka datangi. Sampai suatu ketika, ada seseorang yang memberi kabar mengenai tempat tinggal Bara yang baru. Dengan cepat para pengawal itu mendatangi kediaman rumah Bara dan juga Ana.
Tibalah mereka di depan rumah Bara.
"Apa kau yakin, ini rumah baru Tuan muda?" Tanya ketua pengawal pada bawahannya.
"Yakin, Tuan. Orang yang memberi informasi ini adalah rekan kerjanya sendiri"
"Bagus. Kerahkan semuanya untuk mendobrak pintu itu!"
"Baik, Tuan."
Para pengawal yang berjumlah lebih dari sepuluh orang itu, mulai memasuki halaman rumah Bara. Terlihat sepi dan tak berpenghuni. Namun, dengan paksa mereka mendobrak pintu itu. Dan munculah orang yang sedang mereka cari selama ini.
Bara tampak terkejut melihatnya. Begitu juga dengan
Ana.
"Tuan muda. Kami harus membawa anda menghadap pada Tuan besar. Mohon untuk tidak memberontak." Ucap ketua pengawal itu pada Bara.
"Sa.. sayang? Kamu mau pergi?" Tanya Ana gemetar.
"I.. iya sayang. Kamu tenang aja, aku pasti akan kembali kok." Jawab Bara gugup.
Di sela-sela kegundahan yang terjadi. Tertiba terdengar suara tangis Arbi dari lantai atas.
Hoek.... Hoek.... Hoek....
"Suara bayi siapa itu? Apa kalian dengar?" Tutur para pengawal itu.
"Kami dengar, Tuan." Jawab para bawahannya serentak.
"Tuan muda, apa yang terjadi? Siapa bayi itu?" Tanya ketua pengawal.
"I.. itu anak.. anakku." Jawab Bara disertai rasa takut serta gugup.
"Anak? Jadi wanita ini?" Tanyanya lagi.
"Iya, dia istriku." Jawab Bara yakin.
"Baiklah, kalau begitu, Tuan muda harus ikut kami sekarang. Mari, Tuan." Sambungnya lagi.
Bara tak bisa menahan dirinya untuk tetap tinggal. Karena ia tahu, sejauh apa pun ia melepaskan diri. Ayahnya pasti akan tetap menemukannya. Tak ada kekuatan yang bisa melindungi dirinya. Selain menyerahkan diri pada Ayahnya sendiri.
Karena kemarahan Ayahnya, bisa saja menyakiti siapa saja. Termasuk pada orang terdekatnya Bara.
"Sebentar! Beri aku waktu lima menit untuk bicara dengan istriku!" Ucap Bara tegas.
__ADS_1
"Baik, Tuan muda. Kami akan tunggu anda di luar."
Bara menghampiri Ana, dan memeluknya erat. Tak kuasa melihat wajah Ana yang sedu. Mata sembabnya menandakan. Bahwa sedari tadi terus mengeluarkan air mata. Meski tanpa suara, namun itu berarti
hatinya sangat sakit.
"Sayang..." Tutur Bara sedu. Seraya me ngelus lembut wajah basah itu.
Yang sudah dipenuhi air mata.
"I.. iya sa.. sayang?" Jawab Ana gemetar.
Tak bisa melihat wajah sedu Ana lama-lama. Bara semakin mengeratkan pelukannya. Berbicara tanpa berani melihat wajah orang yang ia cintai. Hatinya sangat sakit, melihat Ana yang lemah dan tak berdaya seperti sekarang
ini.
"Ma.. maafkan aku. Aku gak bisa menahan diri, untuk tetap tinggal disini. Maaf... maafkan aku, Ana." Ucap Bara sedu.
Ana tak menjawab apa pun. Berpura-pura kuat melihat orang yang dicintai pergi. Begitulah wanita, tak bisa menampakkan kelemahannya di depan orang lain. Sekalipun itu adalah orang yang
dia cinta.
"Gak apa-apa kok. Kamu bilang, nanti akan kembali, bukan?" Tanya Ana seraya melepas pelukannya.
Mengusap lembut wajah tampan itu. Menatapnya dalam, dan menampilkan senyum palsu.
"I... iya. Aku.. aku pasti akan kembali. Kamu jaga Arbi baik-baik disini."
Bara mengangguk paham. Satu kecupan lembut ia berikan di kening Ana. Lalu pergi bersama dengan para pengawal itu. Tinggalah Ana di sana seorang diri. Masih menatap mobil yang membawa Bara. Semakin jauh mobil itu pergi.
Tangis Ana pecah.
"Hiks.... hiks... hiks... Ba... Bara.. Mengapa... kehidupanku begitu tidak.. tidak adil, Tuhan? Mengapa?" Ana seketika jatuh terduduk lemah di lantai.
Pernikahan yang di idam-idamkan orang lain. Punya suami yang di cintai dan juga mencintai. Hidup bahagia dengan keluarga kecil. Seketika semua sirna. Pernikahan yang Ana rasakan tak ada bedanya dengan jadi simpanan suami orang.
Pernikahan yang diawali dari kesalahpahaman. Akankah berakhir juga dengan kesalahpahaman?
"Arbi." Ucap Ana.
Ia baru mengingat Arbi, bayi kecilnya yang sedari tadi menangis. Bergegas Ana menaiki tangga dengan cepat. Ana bahkan hampir melupakan anaknya. Pikirannya masih penuh bayang-bayang Bara.
Sesampainya di kamar, Ana langsung menggendong Arbi.
"Arbi haus ya? Maaf ya, sayang. Bunda hampir lupa." Ucap Ana sedu.
Bulir bening itu kembali luruh dari sudut pandang matanya. Setetes demi setetes air yang jatuh mengenai wajah mungil itu. Menimbulkan suara tangis lagi pada Arbi. Mungkinkah ia merasakan sedih yang dialami Ibunya?
................
__ADS_1
Bara telah kembali ke kediaman Kertajaya. Kedatangannya disambut hangat oleh kedua orang tuanya. Putra tunggalnya akhirnya kembali. Penerus pagi Kertajaya Group. Ada rasa senang, namun juga ada rasa sedih, yang dialami Bara.
Senangnya, karena ia bisa kembali ke perusahaan besar milik keluarganya. Sedihnya, ia harus berpisah dengan
Ana.
"Bara, putraku." Panggil Nyonya besar pada putranya.
Yang dipanggil hanya diam tak bersuara. Aura dingin yang keluar dari Bara, membuat Ibunya sendiri enggan untuk memeluknya.
"Bara, syukurlah kamu kembali." Tutur Tuan besar.
"Hm." Jawaban Bara terdengar dingin.
"Maafkan Ayah, Nak. Soal pernikahanmu dengan Farah. Ayah sebenarnya tidak memaksa, agar kamu bisa menikah dengannya. Tapi Ibumu yang membuat keputusan itu. Sekarang dia sendiri yang menyesalinya. Huh!" Jelas Tuan besar.
Bara masih diam tak bergeming sedikit pun.
"Kamu agak kurusan sekarang." Ucap Tuan besar memperhatikan putranya.
"Sudah, sudah. Lebih baik sekarang biarkan Bara untuk beristirahat dulu. Ayo sayang, Mama sudah menyiapkan makanan yang banyak dan enak-enak untukmu." Tutur Nyonya besar pada Bara.
Bara di giring mereka untuk pergi ke ruang makan. Terlihat dari atas, banyak sekali makanan yang di hidangkan. Ada berbagai macam masakan serta makanan penutup. Saat melihat itu semua, pikirannya malah tertuju pada
Ana.
"Ana, kamu pasti belum makan ya?" Ucap Bara dalam hati.
Rasa lapar itu sirna seketika. Tak bernafsu untuk makan. Dan ingin kembali ke rumahnya bersama dengan Ana. Dan hidup bahagia tanpa banyak aturan. Namun realitanya tidak semudah yang dibayangkan.
"Ada apa? Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Tuan Ayahnya.
"Hm, tidak ada apa-apa. Kalian makan saja. Aku akan pergi ke kamar." Jawab Bara dingin.
Tuan besar ingin menahannya pergi. Namun segera di tepis oleh istrinya.
"Biarkan saja. Mungkin ia butuh waktu untuk berpikir. Aku akan meminta pada pelayan untuk membawakan makanannya ke kamar." Ucap Nyonya besar pada suaminya.
"Baiklah, aku serahkan padamu." Jawab Tuan besar.
Dan mereka semua kembali makan.
-
Bara telah berada di dalam kamarnya. Kamar yang sudah lama ia tidak tempati. Tiba-tiba gejolak rindu akan masa kecilnya dulu muncul secara bersamaan. Dengan rindunya saat pertama kali membawa Ana ke kamar ini. Dan di tentang oleh Ibunya agar menjauhi Ana. Lalu timbulah rencana pernikahan yang dibuat Ibunya agar menikah dengan Farah.
Bayangan itu terus menghantui pikirannya. Bara bahkan tak ingin tinggal diam. Tapi mau bagaimana lagi, ia sendiri pun tidak bisa mengelak apa pun. Kekuatan dan kekuasaan yang dimiliki Ayahnya.
Tidak sebanding dengan dirinya.
__ADS_1
Bersambung...