
Tuan Brama Kertajaya, presdir Kertajaya Group telah menghembuskan napas terakhirnya. Di salah satu rumah sakit yang ada di Jakarta. Dan tepat pada hari kematiannya. Jasadnya langsung di urus dan di makamkan oleh pihak rumah sakit. Beserta dari bawahannya, yang sudah di perintahkan oleh asisten John. Asisten kepercayaan Kertajaya Group.
Di pemakaman.
Semua orang yang hadir di pemakaman, turut berduka cita. Atas kematian Tuan Brama Kertajaya. Presdir dari Kertajaya Group. Dan sekarang, sudah di alih wariskan pada putra semata wayangnya. Bara Kertajaya Muhammad, yang akan menggantikan posisi Ayahnya sebagai Presdir.
Ana ikut datang dan hadir bersama Gladys serta Arka. Sedangkan Bara masih ikut dengan keluarganya, juga
Sofie.
Singkat cerita, acara pemakaman berjalan dengan lancar. Orang-orang yang hadir satu persatu pergi. Yang tersisa tinggalah pihak dari Kertajaya Group. Serta Ana, Arka, dan juga Gladys. Yang ikut menemani di sisi Ana.
"Ana, udah yuk, kita pulang!" ajak Gladys pada Ana.
Ana melihat ke arah Bara. Seakan ingin kembali bersamanya. Namun sepertinya, Bara masih perlu waktu untuk itu.
"An, Bara kayaknya masih ingin bersama keluarganya. Kita pulang aja yuk! Masalah ini biar Arka aja yang mengatasi." Ujar Gladys lagi seraya menatap mata Arka.
Arka yang ditatap gelagapan.
"Eh.. i.. iya Kak, Kakak tenang aja. Kasihan juga dedek bayinya, pasti capek." Jawab Arka gugup.
'Iya juga ya, aku dari pagi belum ada istirahat sama sekali.' Gumam Ana dalam hati.
Akhirnya Ana mengangguk mau. Menyetujui ajakan Gladys agar pulang lebih dulu. Namun saat Ana dan Gladys berbalik badan. Tiba-tiba...
"Ana!"
Sontak Ana dan Gladys menoleh.
"An, Bara manggil tuh." Bisik Gladys pada Ana.
"I.. iya, Dys. Aku juga dengar, kok." Jawab Ana gugup.
Ana dan Gladys menghentikan langkah kakinya untuk pergi. Tampaknya Bara berjalan mendekati ke arah mereka. Pandangannya terus menatap ke arah Ana. Yang ditatap justru berubah gugup dan agak salah tingkah.
'Duh, kok aku jadi salting begini, sih.' Gumam Ana dalam hatinya.
Dan kini, Bara tepat berada di hadapan Ana. Keduanya tampak saling pandang, satu sama lain.
__ADS_1
"Kamu mau pulang?" ujar Bara lebih dulu menanyakan pada Ana.
Ana menjawab dengan anggukan.
"Kenapa gak bareng aja sama aku? Kan katanya kita Suami Istri. Berarti aku sama kamu, tinggalnya berdua. Iya, kan?" ujarnya lagi.
"pfftt!" Gladys terkekeh menahan tawa saat mendengarnya.
"I.. iya, kamu benar." Balas Ana gugup. Secara alamiah, senyumnya terukir begitu saja.
Manis, eh.
"Terus? Kamu mau pulang kemana?" Bara bertanya.
"Ke apartemen, memangnya menurut kamu?" Jawab Ana berbalik menanyakan.
"Mulai sekarang, kamu ikut tinggal dirumahku."
DUARRR!
Sontak orang-orang yang masih berada di area pemakaman, tercengang kaget mendengarnya. Nyonya Kertajaya maupun Sofie begitu geram. Keduanya saling menatap tajam ke arah Ana.
"Mah, gak bisa begitu dong. Ana Istriku, bahkan saat ini ia sedang dalam kondisi hamil." Bara membantah perkataan sang Ibu.
"Bara, kamu percaya? Kalau dia memang benar Istrimu, hah?! Hamil kamu bilang? Dan kamu juga percaya? Kalau janin yang ada di dalam perutnya itu adalah anak kamu?!" Nyonya Kertajaya mulai berulah kembali. Dengan menghasut Bara agar ikut membenci Ana.
"Nyonya! Saya harap ini yang terakhir kalinya, Anda bersikap begini pada Ana." Sambung Arka yang juga terpancing emosi.
"Heh! Aku tidak ada urusan denganmu! Ingat, Suamiku meninggal, itu karena ulahmu!" Nyonya Kertajaya kembali mengungkit kejadian sebelumnya.
"Oh, Anda lupa? Dengan ucapan saya saat di rumah sakit." Arka menjawab dengan suara normal lagi.
Sontak wajah Nyonya Kertajaya berubah pucat.
"Kamu mengancam saya?! Ingat, kamu itu pembunuh! Kamu yang sudah membunuh Suami saya! Kalau saja kamu dan gerombolanmu tidak datang ke kediaman kami. Suamiku tidak akan mati dengan mengenaskan. Dan putraku, seharusnya ia sudah menikah dengan Sofie. Lalu kamu, datang dan merusak semuanya! Dasar pembunuh! Penghancur! Kamu dan Ibumu memang sama! Sama-sama penghancur!" Umpat Nyonya Kertajaya memaki Arka.
Wajah Arka kian memerah, begitu emosinya dia kali ini. Mendengar celotehan umpatan dari wanita paruh baya itu. Bara yang mendengarnya merasa jenuh. Serta muak dengan drama ini.
"CUKUP!" Ucap Bara dengan suara lantang.
__ADS_1
Nyonya Kertajaya sontak terdiam tanpa berkata lagi. Sementara Arka, mengangkat satu tangannya. Seperti mengisyaratkan sesuatu pada bawahannya.
Lalu...
"Nyonya, Anda bisa dikenai pasal undang-undang. Apabila terus melakukan tindakan diluar batasan. Anda telah memfitnah Tuan muda kami. Dan memakinya di tempat yang tidak semestinya. Kematian yang dialami oleh Suami Anda, itu sebabkan karena adanya penyakit jantung bawaan. Yang sudah lama ada. Dan itu bukan kesalahan dari Tuan muda kami. Baiknya, Anda berpikir logis terlebih dulu sebelum bertindak." Jelas asisten Arka pada Nyonya Kertajaya.
"Oh ya, satu hal lagi. Mengenai kehamilan Ana, bayi itu memang anak kandung putramu, Bara. Pernikahan mereka sudah berjalan selama kurang lebih 4 tahun belakangan. Sebelum Tuan muda Bara mengalami kecelakaan, ia sudah lama tinggal hidup bersama dengan Ana. Di salah satu apartemen yang terletak di tengah-tengah Kota ini." Sambungnya lagi.
Bara beralih pandang ke wajah Nyonya Kertajaya. Seolah ingin meminta penjelasan darinya. Karena telah membohongi putranya sendiri.
"Bar... Bara.. Mama bisa jelaskan semuanya, sayang. Mama..." ucap Nyonya Kertajaya terpotong.
"Apa lagi yang perlu dijelaskan? Semuanya sudah jelas, Ma. Rupanya Mama yang sudah menjebakku!" Ujar Bara.
"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, sayang. Mama melakukan semua itu juga karena kamu, Nak. Demi kebahagiaanmu."
"Demi kebahagiaanku? Kebahagiaanku terletak pada Istriku, Ma. Bukan pada peraturan yang dibuat oleh Mama sendiri. Oh, mungkinkah Mama begitu membenci Ana? Kenapa? Apa dia berbuat salah pada keluarga kita? Atau dia kurang sopan?"
"Bara! Bisa-bisanya kamu membela wanita itu. Jelas terlihat berbeda, antara aku dengan dia. Bagaikan langit dan Bumi. Itu sebabnya dia tidak pantas untuk bersanding dengan keluarga kita." Sanggah Sofie yang tiba-tiba ikut nimbrung.
"Hei, wanita penggoda! Ana memang berbeda dengamu. Bagaikan langit dan bumi kamu bilang? Oh jelas, karena Ana lebih baik darimu." Gladys ikut geram.
'Sialan! Berani-beraninya dia merendahkanku di depan semua orang! Awas kamu!' gumam Sofie dalam hatinya. Seraya menatap tajam ke arah Gladys.
"Dys, udah gak apa-apa. Aku lelah, ayo balik." Ana berujar seraya mengusap punggung Gladys.
"Iya, maaf An. Aku lupa kalau kamu udah begitu capek. Yuk!" Gladys mengajak Ana.
Bara yang menyadari Ana ingin pergi, bergegas langsung mengejarnya.
"Ana!!" panggil Bara. Sontak Ana menoleh, dengan wajah sedunya.
"Aku ikut kamu, ya?" pinta Bara.
"Kamu yakin? Nggak mau balik sama keluargamu?" Ana bertanya padanya. Bara menggeleng pelan. Ana tersenyum senang menatapnya.
"Aku mau ikut kamu aja." Bara berkata lagi. Seraya meraih tangan Ana.
Sofie yang melihat pemandangan itu merasa cemburu. Ia mengepalkan tangannya geram.
__ADS_1
'Harusnya aku yang ada di posisi itu, bukan dia!' gumam Sofie dalam hati.