
Entah bagaimana perasaan Bara. Setelah melihat hasil USG di perut Ana sewaktu masih di rumah sakit sebelumnya. Yang jelas, wajahnya terlihat berbinar penuh keceriaan. Sikap manjanya sedikit berkurang.
Justru sekarang malah Ana, yang jadi lebih manja dari biasanya.
“Sayang... aku agak keberatan, dengan keputusanmu.” Tutur Ana pada Bara, yang akan bersiap untuk pergi ke kantor.
Sebelumnya, Ana sudah memberitahu padanya. Bahwa mulai sekarang, Bara akan bekerja dan mengabdikan dirinya di perusahaan keluarganya. Awalnya lelaki berwajah baby face itu tampak terkejut. Namun, setelah mendengar penjelasan dari Ana, Bara mulai mengerti dan paham akan situasi saat ini.
Itu disebabkan karena benturan di kepalanya. Yang membuat dirinya mengidap amnesia. Namun kini, ingatannya telah kembali lagi. Meski begitu, Bara tetap akan bekerja untuk Kertajaya Group. Tapi bukan berarti ia melupakan kewajibannya sebagai CO Founder sekaligus direktur di perusahaan BARNA.
Alhasil, Bara akan lebih sibuk ke depannya. Mengelola dua perusahaan sekaligus. Makanya, Ana agak keberatan dengan keputusannya. Lantaran, keduanya pasti akan jarang menghabiskan waktu saat-saat berduaan seperti sebelumnya.
“Kamu khawatir kalau kita nggak bisa punya banyak waktu untuk berduaan lagi?” balas Bara diakhiri tanya. Sembari berjalan mendekati Ana. Yang masih berbaju dress tipis dan duduk di tepian ranjang.
Cup!
Bara mengecup lembut kening wanitanya. Ana mendongak menatap dengan tatapan penuh cinta. Detik kemudian, Ana mengangguk pelan.
“Aku nggak mau berjauhan dari kamu,” ujar Ana lembut. Sambil memeluk erat lelaki tampan itu.
Aih, Bara memang tampan, kan? He he he!
“Kamu makin manja ya, sekarang. Tapi aku suka, he he he.” Sambung Bara membalas perkataan Ana seraya menyentuh dagu itu. Dan mendaratkan kecupan di bibir Ana.
“Kenapa? Memangnya Cuma kamu doang, gitu? Yang boleh manja.” Ana mengerucutkan bibirnya. Bara terkekeh pelan sambil mengelus lembut rambut panjang Ana yang berwarna coklat itu.
“Iya, deh. Istriku juga boleh manja sekarang. Tapi... manjanya hanya sama aku aja. Nggak boleh ke yang lain. Ucap Bara.
“Menurutmu? Aku manja ke siapa lagi memangnya? Kan Suamiku Cuma kamu, sayang. Ih, kamu tuh, ya!” Ana mendengus sebal.
“Ada, selain aku, kamu juga bermanja-manja sama Arbi.”
“Pfftt!” Ana terkekeh seketika.
“Kenapa? Aku benar, kan? Kamu manja ke pria kecil itu.” Tutur Bara sembari mengerucutkan bibirnya.
“Sayang... Arbi kan, anakmu. Masa kamu cemburu, sih? Sama anak kecil. Kamu ada-ada aja tahu, nggak.”
“Hm, iya juga, sih. Aku sebal aja tahu, kalau kamu sering cium pria kecil itu.”
“Hei, dia itu anakmu. Wajah kalian berdua bahkan sangat mirip.”
__ADS_1
“Iya mirip, tapi lebih tampan aku ‘kan?” ujar Bara membanding-bandingkan dirinya dengan anaknya. Ana lantas memutar kedua bola matanya. Dan menarik kerah baju Bara.
SET
Wajah keduanya jadi tak berjarak satu senti pun. Napas Bara tampak terengah-engah. Dan detak jantungnya berdebar sangat cepat. Ana mendengar dan merasakannya. Telapak tangan kanan Ana terangkat menyentuh dada bidang Bara yang terlapis kemeja putih.
“Sayang... kamu dan Arbi itu.. sama-sama cintaku. Nggak ada yang bisa terbagi. Baik kamu, atau pun Arbi. Aku mencintaimu, karena itulah Arbi hadir di dunia ini. Dan aku mencintai Arbi. Karena Arbi adalah buah dari cinta kita. Jadi, kalau kamu cemburu padanya, itu sama saja seperti kamu cemburu pada dirimu sendiri. Dan tidak percaya pada cintaku.” Celoteh Ana lembut. Tangannya mengelus lembut dada bidang Bara.
Membuat lelaki berstatus Tuan muda sekaligus Suaminya itu semakin berdebar tak karuan. Ya, wajah Bara begitu merona.
HAP!
Bara membalikkan tubuh Ana menjadi berhadapan dengannya. Wajah Ana begitu jelas di penglihatan Bara. Mata yang indah, bulu mata yang lentik alami meski tak memakai riasan make up di wajahnya. Juga alis yang tebal, meski tak menggunakan pensil alis. Dan bibir berwarna pucat. Karena Ana tak memakai lipstik di bibirnya.
Cup!
Mengecup lembut bibir itu. Lalu menggigitnya pelan.
“Cantik! Ana-Ku memang cantik!” puji Bara. Setelah melakukan itu pada Ana.
Wajah putih Ana berubah merona. Bara tertawa kecil saat menyadari perubahan rona di wajah Ana.
“Kenapa ketawa? Memangnya aku lucu?” Ana mengerucutkan bibirnya ke depan.
“K-kamu serius? Benaran nggak ke kantor hari ini?” tanya Ana memastikan. Bara mengangguk cepat.
“Iya, takut Istriku kenapa-kenapa. Ditambah kehamilan kamu udah mau masuk bulan kelahiran calon anak kita. Aku mau kerja dari apartemen aja, mulai sekarang.” Ujar Bara seraya mengelus lembut rambut panjang Ana.
“Ah, sayang. Aku semakin cinta dan sayang sama kamu.” Balas Ana sembari menyenderkan tubuhnya di bahu Bara. Dan memainkan jari jemari Suaminya.
“Kamu lucu, ya. Main-in jari aku begini.” Bara tersenyum kecil, melihat tingkah Ana yang begitu menggemaskan di matanya.
“Kenapa memangnya? Kamu nggak suka, ya?” tutur Ana bertanya.
“Suka, kok. Suka banget, malah. Kamu menggemaskan. Aku jadi semakin...” ucapan Bara terpotong dengan perkataan Ana yang tak sabar-an mendengar kelanjutannya.
“Semakin apa?”
“Semakin... cin...” lagi-lagi terpotong. Namun bukan karena suara Ana. Tapi suara bel yang berasal dari pintu depan apartemen.
Sepertinya ada tamu, yang datang ke apartemen mereka. Ana dan Bara tampak saling pandang.
__ADS_1
“Siapa, ya? Kamu ada janji sama Pak John?” tanya Ana. Bara menggeleng cepat.
“Aku udah kirim pesan ke beliau, untuk nggak masuk hari ini. Dan mungkin sampai beberapa hari ke depan, hingga satu bulan lamanya. Aku akan bekerja dari sini.” Jelas Bara dengan wajah serius.
“Lalu yang bertamu di depan siapa?” Ana bertanya lagi.
“Entah, aku tidak tahu. Kamu tunggu disini aja. Biar aku yang mengeceknya.” Ucap Bara seraya mengecup lembut kening serta bibir Ana. Wanita itu mengangguk pelan. Dan menaikkan kedua kakinya ke atas ranjang.
Sementara itu, Bara berjalan keluar dari dalam kamar. Dan mendekati pintu depan apartemen itu. Wajahnya di dekatkan pada lubang kecil yang ada di belakang pintu. Untuk melihat, siapa yang ada di depan sana.
Terlihat ada sepasang perempuan dengan lelaki. Mata Bara agak buram melihatnya. Di kucek kedua matanya, dan melihat ke arah dua orang itu lagi. Melalui lubang kecil dari belakang pintu itu.
“Arka? Gladys? Itu mereka, kan?” gumam Bara.
Kriek!
Pintu apartemen di buka, dan...
“Lama banget, sih?! Kita udah menunggu lama, tahu!” gerutu Gladys mendengus sebal dengan ekspresi wajah galak nya.
“Eh, k-kalian udah lama nunggu nya?” ujar Bara terbata.
“Udah! Minggir, aku mau lihat Ana.” Ucap Gladys seraya menyerobot masuk ke dalam apartemen Bara. Arka melongo menatap wanita yang sudah berstatus sebagai Istrinya itu. Lalu membuang napasnya kasar.
“Heh, kusut amat wajah Lo? Kenapa?” Bara menyadari ekspresi wajah Arka yang tampak seperti orang banyak pikiran.
Mendengar itu, Arka mengedipkan kedua matanya berulang kali. Lalu menyentuh kening Bara.
“Ingatan Lo, udah balik lagi?” tanya Arka kaget. Bara mengernyitkan dahinya.
“Emang Gladys nggak ngomong?” balas Bara berbalik menanyakan. Arka menggeleng cepat.
“Pffft! Kasihan, nggak dipercaya sama Istri sendiri. Lo nya nggak terbuka, sih.” Ledek Bara sembari terkekeh kecil.
“Sialan!” Arka mendengus sebal dan membuang muka sesaat. Lalu menarik lengan Bara untuk berdiri agak jauh dari pintu apartemen.
“Apaan sih?!” Gerutu Bara kesal.
“Ada yang mau Gue omongin sama Lo. Tapi soal ini... hanya kita berdua aja yang tahu.” Tutur Arka berbisik.
“Kita? Maksud Lo, Ana dan Gladys nggak boleh tahu, begitu?” tanya Bara seraya mengernyitkan dahi. Arka mengangguk cepat. Kedua matanya tampak celingukan ke kanan dan ke kiri.
__ADS_1
Sebenarnya apa yang ingin di katakan Arka pada Bara?