Dinikahi Bocil

Dinikahi Bocil
BAB 92


__ADS_3

Beberapa menit kemudian, Ana terbangun. Matanya terlihat kebi dan linglung. Masih mengumpulkan nyawa agar bisa sadar sepenuhnya. Bara mengelus lembut keningnya.


"Kita ada dimana?" Tanya Ana bingung.


"Di depan asrama anak kita." Jawab Bara sembari mendaratkan satu kecupan manis di wajah cantik Ana.


"Maksud kamu, Arbi?" Tanya Ana lagi memastikan. Bara menjawab dengan anggukan.


"K-kamu benaran, kan?" Bara mengangguk.


"Iya sayang, kan tadi kamu sendiri yang mau jemput ke asramanya. Kamu lupa, ya?" Ana terkekeh kecil.


5 menit kemudian, Pak John keluar dari dalam asrama. Sambil menggendong seorang anak laki-laki di tangan kirinya. Sementara sebelah tangan kanannya lagi mendorong koper kecil.


SET


Pintu mobil dibuka oleh Pak John.


"Turunlah, Ayah dan Ibumu ada di dalam mobil." Ujar Pak John berkata pada anak itu. Dan anak itu mengikuti arahan untuk masuk ke dalamnya.


"Bunda!" Ucapnya memanggil Ana seraya memeluknya erat.


"Sayangnya Bunda, Bunda kangen!" Ana menciumi seluruh wajah Arbi yang mungil. Bara terkesima melihat perlakuan Ana pada anak itu.


'Dia begitu penyayang pada anak ini. Bagaimana kalau aku yang ada di posisinya?' Gumam Bara dalam hati berimajinasi


"Sayang, kamu kok melamun? Ini anak kita ada disini. Kamu gak mau ngomong apa-apa, begitu?" Tanya Ana seketika membuyarkan imajinasinya Bara.


Wadidaw! Aduh, kacaw! Eh.


"Ayah kok berubah? Ayah gak kenal sama aku? Bunda.. Ayah kenapa?" Arbi mulai curiga. Karena dari awal, ia tidak mengetahui kalau Ayahnya amnesia.


"Kok Arbi ngomongnya gitu?" Ana berusaha meyakinkan Arbi seraya mengelus pucuk kepala kecilnya. Bara yang sedari tadi mendengar obrolan mereka hanya diam sembari memperhatikan keduanya.


"Ayah gak biasanya diam aja. Apa Ayah sakit, Bunda?" Arbi mendongakkan kepalanya menatap Ana dan Bara secara bergantian.


"Ayah nggak sakit, Ayah hanya lelah." Bara mencoba untuk bersuara. Sembari mengecup lembut wajah Ana.


Kok jadi Ana lagi? Arbi nya enggak? Aduh buzet zrepett.. tet.. tet. Eh.


"Ayah sayangnya cuma sama Bunda. Ayah gak sayang sama aku!" Arbi mendesis sebal. Bibirnya mengerucut ke depan.


Selama di perjalanan menuju apartemen. Ketiganya terlihat berbahagia menikmati keharmonisan keluarga kecil mereka. Arbi duduk di tengah-tengah. Diantara Ana dengan Bara yang berada di sisi sebelah kanan kirinya.

__ADS_1


Tangan Ana terangkat mengusap lembut pucuk kepala kecilnya. Arbi begitu nyaman berada di dekat Ana. Lambat laun, matanya terpejam karena rasa kantuknya tak dapat tertahankan.


"Arbi kayaknya lelah banget, kamu di asrama ngapain aja, sayang?" Tanya Ana seolah mengajak Arbi berbicara.


"Mungkin dia banyak kegiatan saat di sekolahnya." Bara tiba-tiba menjawab. Seraya mengecup lembut wajah Ana. Kedua wajahnya bahkan saling berdekatan. Pak John bisa melihat dari kaca spion diatasnya. Namun, ia hanya terkekeh kecil. Dan membuang pandangannya ke arah lain.


Pak John ngintip aja. Eh.


"Sayang... ada Pak John." Ana menyadari bahwa tidak ada mereka bertiga yang ada di dalam mobil. Tapi Pak John juga ada.


"Gak apa-apa, Pak John udah biasa."


"Nona muda tenang saja, anggap saja aku tidak ada." Pak John terkekeh begitu mendengar Ana menyebut namanya.


Ana tersipu malu saat Pak John mendengar ucapannya tadi.


"Jangan lihat Pak John, lihat ke wajahku saja." Bara tidak ingin wanitanya memandangi pria lain.


Sama Pak John saja cemburu. Aih!


.........


Sesampainya mereka di apartemen. Pak John langsung menggendong Arbi. Membawanya masuk ke dalam apartemen. Karena Arbi masih tertidur pulas sejak di perjalanan tadi. Sementara Bara sibuk sendiri memapah Ana berjalan. Memasuki ke dalam apartemen.


"Kamu kan lagi hamil, mana bisa jalan sendirian."


"Iya, tapi kehamilanku belum ada 5 bulan."


"Tetap aja intinya kamu hamil, kan."


"Ya udah iya, terserah kamu aja." Ana mengalah.


Ting!


Pintu lift terbuka lebar. Ketiganya pun masuk ke dalam lift. Bara menekan tombol lift itu. Untuk bisa sampai ke kamar apartemen mereka.


Begitu lift sampai dan berhenti. Pak John langsung membawa Arbi ke dalam kamar. Bara sendiri hanya memedulikan keadaan Ana. Tak sedikit pun ia khawatir pada Arbi.


Ana, Ana, dan Ana. Yang ada di pikirannya sekarang.


Namanya juga lelaki pecinta wanita. Eh.


"Terima kasih, Pak John!" Ucap Ana saat Pak John beranjak pergi dari dan hilang dari balik pintu apartemennya. Pak John hanya menjawab dengan anggukan.

__ADS_1


"Kamu mau kemana?" Tanya Bara saat Ana hendak pergi dari sisinya.


"Ke kamar, aku mau menemani Arbi." Jawab Ana.


"Jangan, biarkan dia tidur. Kamu disini saja, temani aku."


Bara tak menepis keinginan Ana. Walau sebenarnya Ana begitu ingin melihat wajah Arbi saat tidur. Teringat waktu lalu, saat Arbi masih berusia beberapa bulan. Wajah mungilnya begitu meneduhkan hati dan jiwa Ana.


"Kamu mau apa?" Ana to the point.


"Sini!" Bara mengajaknya duduk di sofa sembari menyalakan televisi.


"Menonton film?" Tanya Ana. Bara mengangguk paham.


"Aku ganti baju dulu."


"Eh.. ja-jangan, nanti malam saja. Sekarang kita nonton dulu." Ucap Bara gelagapan menjawab.


"Kenapa?" Ana bingung dengan mimik wajahnya yang tiba-tiba berubah gugup.


"Eng-nggak ada apa-apa." Bara terkekeh seraya menyeringai.


Ana memagutkan kepalanya pelan. Dan ikut terduduk di sisi Bara. Film horor yang Bara pilih. Entah apa yang dipikirkannya. Tiba-tiba mengajak Ana untuk menonton film. Terlebih lagi film horor.


Apakah dia punya niat terselubung? Coba tanyakan pada kerang ajaib. Eh.


...............


Di rumah utama, Nyonya Kertajaya begitu bosan dengan kegiatannya di rumah yang begitu luas dan besar itu. Tidak jauh dari meminum teh, membaca koran, lalu berjemur di pagi hari saat matahari terbit.


Dan lagi, Sofie juga belum juga pergi. Ia masih tinggal dan berada di rumah utama itu. Kemungkinan besar juga ia bisa jadi ancaman untuk Ana. Maupun pada hubungannya dengan Bara. Yang baru saja kembali bersemi.


"Tante, bagaimana dengan Bara? Kapan dia akan kembali lagi ke rumah ini? Aku sudah tidak sabar ingin melihatnya lagi." Tutur Sofie pada Nyonya Kertajaya saat mereka tengah membuat acara minum teh di halaman belakang.


"Soal ini, aku tidak bisa berjanji." Sofie tampak tak senang dengan jawabannya.


"Mengapa? Apa Tante sudah tidak ingin bekerjasama dengan Arsena Group?" Ujar Sofie mengancam.


"Tidak, aku tidak pernah berkata begitu. Tapi, aku mungkin akan susah untuk membujuk putraku kembali." Ucap Nyonya Kertajaya tertunduk sedu.


"Mudah saja bagiku, Tante. Serahkan semua itu padaku." Sofie menganggap enteng.


"Apa yang ingin kau rencanakan? Ku harap, kau tidak menyakiti putraku Bara." Wanita paruh baya itu seakan tahu dan bisa menebak isi hati Sofie. Yang ingin berniat jahat.

__ADS_1


"Tante tenang saja, tidak akan terjadi apapun pada putra kesayangan Anda." Sofie menyeringai seraya mengangkat cangkir tehnya. Lalu meminumnya dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.


__ADS_2